Tags
Related Posts
Share This
metamorfosis
saya mirip ibu saya. entah kenapa akhir-akhir ini saya mulai berpikir demikian. dulu, waktu saya masih remaja, saya sangat membenci ibu saya. dia adalah perempuan paling keras yang pernah saya tau. dan tentu saja, saya tidak ingin menjadi apapun yang berkaitan dengannya.
saya tidak ingin menjadi ibu yang suka memaki dan memukul anaknya.
saya tidak ingin menjadi perempuan yang suka bertengkar keras dengan pasangannya.
saya tidak ingin gagal dalam pernikahan.
bahkan, saya mungkin tidak ingin menikah.
itu, dulu…
semakin usia saya bertambah, saya mulai memahami ibu saya. mengerti kenapa dia menjadi sedemikian rupa menyebalkan. akhirnya saya paham rasanya hidup sendiri dan terbebani tanggung jawab yang tidak sedikit.
saya mengerti perihnya kesepian. saya mengerti artinya menjadi posesif. saya juga mengerti menjadi sakit, tersakiti dan menyakiti.
awalnya saya tidak sadar, ketika saya mulai menjelma seperti ibu saya. saya merasa saya hanya mencoba tumbuh menjadi diri sendiri. walaupun seringkali saya sendiri tidak mengerti siapa diri saya. saya mulai menjadi orang yang keras kepala, sok tau, egois, banyak maunya, dan menikmati drama.
duh, merepotkan sekali menjadi pribadi yang seperti ini. “it’s not easy for being a human, especially if you’re a woman”, begitu kata seorang feminis. hm, mungkin dia belum mengenal ibu saya.
akhir-akhir ini saya jadi sering bingung memilih, mana yang bisa saya jadikan karakter saya dan mana yang tidak. saya jadi harus selalu waspada, mana yang karakter ibu saya dan mana yang karakter saya sendiri. mungkin orang-orang berlatar belakang psikologi mengerti kesulitan ini. ditambah lagi, saya benar-benar gemini. dan coba tebak, yup, my mother is a gemini as well.
manusia di persimpangan atau perempuan di persimpangan? demikianlah saya, demikianlah ibu saya.

















