Tags
Related Posts
Share This
Nadine Menonton Teve
“Nadine.. Mama pergi arisan dulu ya nak. Makanan ada di kulkas, kamu nanti tinggal minta Mbak Sum panasin. Dag, Nadine.”
Mama Nadine mencium ubun-ubun anaknya sekilas. Yang dicium mulutnya manyun. Ia sebenarnya ingin bertanya kapan mamanya pulang, tapi merasa sia-sia. Paling-paling, seperti kemarin, Mama akan bilang we’ll see. Nadine tahu dalam Bahasa Inggris itu artinya ‘lihat nanti’.
Nadine memeluk bantal kucingnya lebih erat. Ia bersila di atas sofa. Di depan Nadine, sebuah tivi layar datar ukuran limapuluhdua inci berkedip-kedip tanpa suara. Volumenya dikecilkan Nadine sampai angka nol.
“Dag, Nadine!” Mamanya berseru sekali lagi, melintas dari dapur ke ruang tamu sambil membenahi anting. Ia baru saja memberi pengarahan buat Sum mengurus Nadine. Biar bagaimanapun Mama Nadine sangat sayang pada anaknya, maka itu Sum harus merawat Nadine sebaik-baiknya sementara dia pergi.
“Dag, Ma.” lirih Nadine. Ia mengikuti langkah Mama dengan ekor matanya, lalu mendengus sebal melihat di pintu depan sudah ada segerombol tante-tante yang berceloteh ributnya minta ampun.
“Jeng, tahu enggak, Sabtu sore ini arisannya di rumah si Tari lhoo…” sebuah suara cempreng berseru menyebalkan.
“Ah, masak?? Bukannya dia nggak pernah mau rumahnya kita kunjungi?” kali ini suara Mama Nadine.
“Iya, kan katanya karena suaminya galak banget, dia nggak suka kalau ada teman istrinya main ke rumah! Eh kok sekarang tahu-tahu mau!” kata yang lain.
“Jangan-jangan…” suara cempreng itu berhenti sebentar untuk memberi efek dramatis.
“Jangan-jangan apa, Jeng??”
“Jangan-jangan Tari sudah cerai sama suaminya yang galak ituuuu!”
Seruan heboh bersambut celoteh gosip riang membuat Nadine spontan menutup telinga. Untunglah suara-suara yang mengganggu itu segera hilang ketika Mama Nadine menutup pintu.
Sepi lagi.
Nadine menoleh ke kanan. Sebuah lemari kayu hitam berisi buku-buku milik Papa Nadine menjulang tinggi. Semuanya masih bersampul bagus karena jarang dibaca. Papa Nadine sering keluar negeri. Nadine rasa buku-buku itu juga kesepian karena Papa jarang membaca mereka. Setelah disampul hanya diletakkan begitu saja. Nadine mengangguk kecil sebagai tanda simpati pada deretan buku yang bisu.
Di tengah-tengah lemari kayu hitam itu ada sedikit ruang menjorok ke dalam untuk memajang foto keluarga: Papa mengenakan jas coklat muda, Mama berkebaya putih, dan Nadine umur lima tahun memakai gaun putih berenda.
Mereka semua tersenyum. Nadine ingat, saat itu fotografernya menyuruh mereka tersenyum lepas seperti bintang iklan pasta gigi sambil bilang ‘cheese’. Di sebelahnya ada juga foto dari sesi pemotretan yang sama, hanya kali ini mereka bertiga tertawa. Tapi, Nadine sudah lupa kenapa.
Ganti Nadine menoleh ke kiri. Sebuah piano hitam teronggok di sudut ruangan, di dekat harimau yang diawetkan. Nadine tidak bisa main piano, meski Mama sudah memaksanya les piano klasik dua kali seminggu. Nadine tidak suka ekspresi wajah harimau yang mulutnya menganga itu, jadi dia buru-buru mengalihkan pandangan.
Sepi. Nadine melamun.
“Nadine, Nadine, pe-ernya sudah dikerjakan?” tiba-tiba Mbak Sum muncul dari belakang sambil membawa sapu.
“Sudah, Mbak.” jawab Nadine, malas.
“Kok cepat? Kapan kamu bikinnya?” Mbak Sum mulai menyapu.
Nadine menghela napas. “Tadi pagi. Gampang kok.” ia memberi penjelasan sekenanya. Sesungguhnya Nadine tidak mengerti kenapa Mbak Sum ingin Nadine duduk lama-lama di meja belajar untuk mengerjakan pe-er, sebab bagi Nadine pe-er pe-er itu gampang sekali. Kadang kelewat gampang sampai Nadine menguap saking bosannya.
“Kamu kelas berapa hayo Nadine?” Mbak Sum menatap Nadine. Yang ditatap mengernyitkan dahi.
“Dua.” jawabnya.
“Nah, makanyaa.. kamu sudah harus mulai rajin belajar, ya!” Mbak Sum mengedip kenes seperti artis sinetron, lalu kembali menyapu, kali ini sambil bersenandung.
oh mengapa harus terjadiiii
mengapa kau tinggalkan diriku sendiriii
Nadine mengerjapkan mata.
***
Mbak Sum pergi ke belakang membersihkan kolam renang, sementara di ruang tengah jam dinding masih berbunyi tik-tik-tik-tik.
Nadine menguap. Sepi. Begitu sepi sampai kuap Nadine pun terdengar jelas, dipantulkan oleh dinding-dinding yang putih.
“Ihhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” jerit Nadine sebal. Bantal kucingnya dilempar, kena ujung lemari.
Tak ada komentar, barangkali karena tak ada yang mendengar.
“Ck!”
Nadine meraih remote teve, lalu menekan tombol volume ke kanan. Ia terus menekan dan menekan dan menekan sampai volume teve jadi luar biasa besar.
Ia memindah-mindah saluran teve.
“SAKSIKANLAH CINTA PITRA SESSION TIGA HANYA DI EX-CE-TE-VE!!!!!!!!!!!!!!!!!!!” seorang bintang sinetron pria mengedip genit.
“MAU MASAK, YA MASAK-LO!” iklan bumbu masak.
“KENAPA! KENAPA KAMU TINGGALKAN AKU DEMI PEREMPUAN ULAR ITU! ISTIGHFAR, MAS, ISTIGHFAR! KAMU AKAN KENA AZAB!!!!” adegan sinetron yang banyak belatungnya.
“DENGAN SLIMMING SUIT INI, ANDA AKAN TAMPAK LANGSING, PAYUDARA ANDA NAIK HINGGA LIMA SENTI, PINGGUL ANDA RAMPING, BOKONG ANDA NAIK HINGGA DUA SENTI…” iklan buat orang-orang yang gendut.
“KAU MEMBUAAAAT KU BERANTAKAAAAAAN..” video klip grup musik yang lagunya selalu sedih.
“MAU KAYA? KETIK REG SPASI KAYA, KIRIM KE SEMBILAN DUA DUA DELAPAN! KAYA HARUS DIPERJUANGKAN!” iklan buat orang miskin yang kehabisan akal.
“Nadine! Nonton tivinya jangan besar-besar!” Mbak Sum muncul dengan terengah-engah. Celana kainnya setengah basah kena air kolam. Ia hanya mengenakan bra yang terbuat dari kain warna coklat tua.
Nadine memandang bra Mbak Sum. Lalu celana kainnya yang setengah basah. Nadine tidak tahu kalau membersihkan kolam renang orang harus memakai bra, tidak berpakaian lengkap.
“Ada apa, Sum?” seorang lelaki tiba-tiba muncul dari belakang Mbak Sum. Sama seperti Mbak Sum, ia hanya memakai celana pendek yang juga basah. Hanya saja ia tidak memakai bra. Tapi, Nadine tidak heran. Mama Nadine pernah bilang bahwa bra memang hanya untuk perempuan. Laki-laki tidak pakai bra.
“Sontoloyo! Ngapain kamu ke sini??” Mbak Sum memelototi laki-laki yang tampak masih muda itu. Si laki-laki cengengesan, lalu mengusap-usap dadanya sendiri yang kurus.
“Aku kan sudah bilang, tetap di kolam renang!” Mbak Sum marah.
“Aku cuma pingin tahu ada apa, Sum. Tak pikir ada yang gawat.” laki-laki berambut gondrong itu menjawab sambil tersenyum-senyum.
“Sontoloyo!” Mbak Sum berseru lagi. Nadine mengernyitkan dahi. Apa itu sontoloyo? Apakah nama laki-laki itu sontoloyo? Nama yang aneh, Nadine manggut-mangut, tapi orangnya sepertinya baik. “Sana balik!”
Si laki-laki tersenyum pada Nadine. “Halo, Nadine.”
“Heh! mBalik sana!” Mbak Sum menjadi kalap. Ia memukuli laki-laki tadi dengan tangannya. Si laki-laki mengaduh pura-pura, lalu bergegas lari. Sedetik kemudian terdengar bunyi orang mencebur ke kolam.
“Nah, Nadine, nonton tivi yang baik ya.” Mbak Sum memandang Nadine dengan muka merah.
“Ya.” jawab Nadine pendek, lalu memindah-mindah channel lagi, kali ini sambil mengecilkan volume. Mbak Sum kembali lagi ke belakang.
Mata Nadine berhenti pada sebuah stasiun teve yang menayangkan acara mengenai kehidupan anak-anak seusianya di berbagai pelosok negeri.
“Sahabat, sekarang ikut aku yuk. Kami mau mandi di air terjun. Seru lho, tapi brrr… airnya dingiiiiiin sekali!” terdengar suara anak laki-laki, sementara ia dan kawan-kawannya berlari-lari menyusuri hutan sambil tertawa-tawa.
Sesampainya di air terjun, mereka membuka baju, dan langsung menceburkan diri. Byurrrrr! Saling menciprat air. Berenang lincah serupa ikan. Seorang anak salto dari atas batu ceper dengan punggung membelakangi air terjun. Dressssss! Ia terjun diiringi derai tawa kawan-kawannya. Yang seorang lagi setengah jongkok di bawah air terjun, membiarkan kepalanya seperti dipijat aliran air yang deras. Kedua telapak tangannya ditangkupkan di depan dada. Matanya terpejam. Seperti pendekar. Beberapa detik kemudian ia melompat sambil nyengir, berseru-seru dalam bahasa yang asing bagi Nadine.
Alangkah seru. Nadine sampai tak berkedip melihatnya.
“Nah, Sahabat, capek bermain, kami jadi lapar. Sekarang aku dan teman-teman mau bikin rujak dulu ya. Bumbunya kami bikin sendiri lho!” di layar tampak gambar gula merah, cabai dan garam yang diulek di atas batu ceper. Seorang anak berambut coklat kemerahan mencuil buah berkulit merah tua di tangannya. Buah itu dagingnya putih, dan tampak kenyal. Si anak lantas mencocolnya dengan bumbu yang sudah halus. “Hmmm…. segar.”
Nadine manyun. Apapun yang dimakan si anak laki-laki berkulit hitam itu, Nadine mau. Pasti enak sekali. Buktinya, wajah mereka begitu riang, tidak seperti muka Nadine yang mengernyit ketika dipaksa Mbak Sum makan brokoli rebus.
Iklan. Nadine beranjak dari sofa, lantas mengintip Mbak Sum dan laki-laki kerempeng di kolam renang lewat sekat kayu. Tampak Mbak Sum dan laki-laki kerempeng berenang sambil tertawa-tawa. Si laki-laki menciprati Mbak Sum dengan penuh semangat sehingga bra Mbak Sum basah, dadanya basah, wajahnya basah, dan rambutnya basah. Si laki-laki tertawa girang. Mbak Sum tertawa girang.
Tiba-tiba mereka berhenti tertawa. Laki-laki kerempeng menubruk Mbak Sum, memepetnya ke pinggir kolam renang, lalu menempelkan wajahnya ke wajah Mbak Sum. Nadine mengerutkan dahi. Dari sini Mbak Sum dan laki-laki kerempeng terlihat seperti sedang beradu muka. Tapi mulut mereka membuka dan menutup dengan ritmis bagai dikomando.
Nadine ingin terus mengintip, tapi jingle acara yang tadi ditontonnya terdengar dari televisi. Gadis kecil itu buru-buru kembali ke ruang tengah. Ia duduk bersila di atas sofa.
“Sahabat, sekarang kami mau belajar memainkan alat musik dulu ya! Sebelumnya kita bikin dulu alat musiknya, dari bambu yang tumbuh liar di hutan.” si anak lelaki menebang bambu pendek dengan parang. “Setelah dilubangi, jadi deh alat musiknya. Begini cara memainkannya…”
Nadine melihat anak lelaki itu meniup-niup bambu berlubang, sehingga keluar nada-nada tinggi yang halus. Kawan-kawannya berseru-seru sambil memukuli bambu bulat berlapis kulit. Tung tung tung. Yang seorang lagi menggesek-gesek sesuatu yang mirip bambu dengan senar. Ngit ngit ngit. Keluarlah nada yang menyayat hati tapi riang.
“Oi! Oi! Oi!” seru mereka ritmis.
Seorang anak yang lebih kecil bernyanyi dengan suara bening dalam bahasa yang lagi-lagi tidak Nadine pahami. Ia berjoget-joget dengan kedua tangan dilipat ke belakang. Di pojok kelompok itu, seorang lelaki seumur Papa Nadine mengamati orkestra mungilnya sambil mengayun-ayunkan tangan, sesekali berseru menyemangati.
Indah betul. Nadine memejamkan mata. Apakah Mama akan marah kalau Nadine bilang, ia ingin belajar memainkan alat musik bambu itu saja? Ia tidak suka piano, terlalu besar. Lagipula bau kayu bercampur cat yang selalu menyengat hidung Nadine setiap ia mengangkat tutup tuts piano juga membikin pusing.
Dan lelaki guru alat musik bambu itu tampak begitu ramah, tidak seperti guru piano Nadine yang bibirnya selalu cemberut.
***
Mama Nadine pulang pagi, pukul dua. Malam minggu macet dimana-mana, demikian ia menyiapkan alasan kalau Nadine bertanya.
Sambil menenteng high heels, ia bersijingkat memasuki kamar putri tunggalnya. Matanya mengerjap, membiasakan diri dengan penerangan lampu tidur berbentuk hati yang lembut sinarnya. AC berdengung pelan.
Mama Nadine berjalan melintasi kamar, lalu duduk di samping tempat tidur. Ia tersenyum. Sebentar lagi ketika keningnya diusap, Nadine pasti akan terbangun lalu berceloteh riang tentang apa saja.
Anaknya itu memang selalu menyambutnya kepulangan ibunya dengan gembira, berapapun lamanya dia ditinggal sendirian.
“Sayang….” sapa Mama Nadine sambil menyingkap selimut. Betapa kagetnya ia ketika Nadine tak ada di sana. Hanya ada bantal guling dan bantal kepala.
“Sayang? Nadine? Nadine?” Mama Nadine memanggil-manggil putrinya. High heels diletakkanya di lantai. Ia menuju kamar mandi pribadi Nadine. Barangkali putri mungilnya itu di kamar mandi. Atau di kamar Sum, pikir Mama Nadine, sebab kalau tengah malam bermimpi buruk memang Nadine jadi takut tidur sendiri.
Mama Nadine masih tenang hatinya, sebab ia belum membaca sepucuk catatan di atas meja belajar Nadine. Sepucuk catatan di atas kertas sobekan buku tulis yang harum baunya. Sepucuk catatan yang di bawahnya ada tulisan ‘tuntutlah ilmu sampai ke negeri Cina’. Sepucuk catatan yang ditulis dengan pensil ukuran 2B. Sepucuk catatan dengan tulisan khas anak-anak yang besar-besar dan agak acak-acakan.
Dear Mama,
Nadine mau pergi. Belajar alat musik bambu yang ditiup, makan buah merah pakai sambal, dan mandi di air terjun (kayaknya lebih seru daripada kolam renang). Nadine nggak tahu apa nama tempatnya, tapi nanti Nadine tanya sama orang yang juga senang nonton teve kayak Nadine. Mereka pasti tahu.
Mama nggak usah cari Nadine, soalnya Nadine belum tahu kapan pulang. We’ll see.
Love,
Nadine.
Semarang, November 2008
Andina Dian Dwifatma (andina_dwifatma@yahoo.co.id)



















mas di kasih salam tuh sama si handoko udah lama ga ketemu katanya
Like or Dislike:
0
0