Perempuan di Tepi Jalan

Perempuan itu terus saja memandang ke Utara.

Malam itu, di tepi jalan ia berdiri. Pandangan matanya cemas. Baju terusannya yang bermotif bunga-bunga hijau dan merah muda sesekali berkibar tertiup angin. Berkali-kali ia menggigit bibir, lantas membasahinya dengan ujung lidah. Aroma kekhawatiran menguar begitu kuat dari tubuhnya.

“Cepatlah.. cepatlah.. cepatlah..” ia terus bergumam, lirih mirip bisikan. Tangannya menggenggam erat-erat bungkusan plastik hitam. Mendekapnya penuh sayang seolah tanpa bungkusan plastik hitam itu, dirinya lenyap.

Sementara kendaraan-kendaraan terus lewat tanpa peduli. Jalan itu adalah ruas jalan antar kota, barangkali bisa menjelaskan kenapa orang-orang jadi merasa harus menyetir dua atau tiga kali lipat lebih kencang dari biasanya. Mobil dan motor melaju serupa bayangan seperti berlomba-lomba sampai ke tempat tujuan.

Dan perempuan itu tetap tertinggal sendirian, di tepi jalan.

***

“Cepatlah.. cepat…” ia terus bergumam.

Di belakang perempuan itu, lebih ke belakang dari tempat ia berdiri, ada sebuah warung. Tentu saja karena saat itu malam hari buta, warung tutup. Pintunya terkunci lengkap dengan sebuah gerendel gembok. Temboknya yang terbuat dari papan dicat biru langit juga tampak membisu. Tak ada tanda-tanda kehidupan.

Namun, bagi sang perempuan, warung itu menjelma dari sekadar onggokan kayu menjadi sebuah harapan baru. Ia membalikkan tubuh. Matanya berbinar menyadari adanya sebuah kemungkinan. Dengan sebelah tangan (sebelah lagi digunakannya untuk menggenggam bungkusan plastik hitam) ia mengetuk-ngetuk pintu warung yang tertutup.

“Permisi… permisi… Pak, Bu…”

Hening. Perempuan itu lantas menempelkan telinga kirinya ke daun pintu. Tak didengarnya suara apapun. Hanya dinding yang bernapas.

“Pak, Bu… permisi, permisi…”

Mula-mula pelan saja ia mengetuk, namun karena tak kunjung berjawab ia segera menjadi panik. Ia mulai mengetuk dengan frekuensi yang begitu sering, begitu tak wajar. Orang yang mendengarnya mengetuk seperti itu tidak bisa tidak akan merasakan sebuah urgensi yang begitu kentara, dan mau tak mau akan berpikir yang bukan-bukan. Apakah ada yang melahirkan? Ada yang kecelakaan? Ada yang terbunuh?

Tetapi tetap sepi. Dan kediaman warung ini membuatnya semakin kencang mengetuk pintu, nyaris menggedornya.

“Buka… buka…”

O, lihatlah betapa ia jadi begitu panik. Tubuhnya terguncang-guncang seiring dengan gerakannya mengetuk pintu warung yang tertutup itu. Rambut ikalnya yang terikat ekor kuda ikut bergoyang-goyang. Kakinya yang beralaskan sepasang sandal jepit dengan warna yang berbeda, terasa lelah. Pada titik tertentu akhirnya ia menyerah dan membiarkan sebelah tangannya mengusap pintu warung dengan lemas.

Tidak adakah yang bisa menolongnya?

***

Di sebelah warung bercat biru itu, ada toko permak jins. Meskipun tampak tak masuk akal kenapa di ruas jalan antar kota ada orang yang ingin merenovasi celana, toh toko itu memang ada di sana. Berdiri dengan penuh ketenangan. Barangkali pemiliknya tidak memperhatikan kaidah-kaidah pemasaran. Barangkali ia mendirikan toko hanya sekadar mengisi waktu luang, ketika tidur seharian sudah jadi begitu membosankan. Bagaimana nasib toko itu, apakah lantas punya pelanggan atau tidak, saat ini tidak menjadi soal. Malam-malam begini tentunya toko itu juga tutup. Yang menjadi penting adalah di depan toko itu ada sebuah bangku panjang. Perempuan itu sekarang melirik-lirik si bangku dengan cemas. Ia ingin duduk di atasnya, tetapi takut kalau hal-hal buruk terjadi. Bagaimana kalau ketika ia duduk, tiba-tiba pintu warung terbuka sesenti karena orang yang tinggal di dalamnya ingin mengintip si pengetuk pintu, dan momen itu hanya terjadi sepersekian detik? Ia tak bakal punya cukup waktu untuk melompat dari bangku panjang dan memperkenalkan diri agar diajak masuk. Kalaupun ia berhasil melompat sambil berteriak “..jangan ditutup dulu!” orang yang berada di dalam rumah tentu akan ketakutan dan berpikir ia gila.

Atau, bagaimana kalau ketika ia tengah duduk tiba-tiba ada orang lain yang ikut duduk di sebelahnya? Ia akan ditanya-tanya, dan cepat atau lambat deretan pertanyaan itu akan sampai ke bungkusan plastik hitam yang dibawanya. Apa isinya, hai Perempuan? Ia akan kesulitan menjawabnya. Kalau ia bilang isinya barang berharga, jangan-jangan ia lalu dirampok. Kalau ia bilang isinya bukan apa-apa, orang akan semakin penasaran. Bukan tak mungkin orang yang duduk di sebelahnya itu kebetulan bertipe pemaksa, dan akan melakukan apa saja untuk menuntaskan kepenasaranannya itu.

Ia bergidik, lantas mendekap bungkusan plastik hitamnya lebih erat. Ditempelkannya ke dada, lantas memejamkan mata. Seperti ingin mendengar detak jantung si bungkusan, kalau ada.

Sedetik kemudian ia kembali memandang ke Utara.

***

Seorang pemuda lewat di depan perempuan itu, melirik sekilas dengan acuh tak acuh. Pemuda itu wajahnya segar seperti baru selesai mandi. Ia mengenakan kaus putih bergaris horisontal merah, celana jins abu-abu, dan sepasang sandal jepit yang tidak jelas warnanya. Tangannya menggenggam sebuah buku dan pulpen bertutup biru.

Sang perempuan diam-diam mengikuti langkah pemuda itu dengan ekor matanya. Jantungnya berdebar-debar. Pemuda macam apa yang malam-malam masih berkeliaran? Tentunya bukan pemuda baik-baik, meski ada dilihatnya si pemuda membawa buku. Ia takut pemuda itu akan melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, misalnya mengajaknya bicara, atau merampoknya, meski ia tak punya apapun untuk dirampok kecuali bungkusan plastik hitam yang ia dekap erat-erat.

Tetapi pemuda itu kelihatannya bukan tipe perampok. Ia berjalan tenang-tenang lantas duduk di atas bangku panjang di depan toko permak jins. Wajahnya menunjukkan ketidakpedulian terhadap sekitar, seolah-olah ia lahir ke dunia memang cuma untuk duduk di bangku kayu itu. Segera setelah pantatnya mendarat dengan selamat, ia mendongak, menatap lampu neon yang tergantung di atas kepalanya, lantas mengangguk-angguk sendiri. Dibukanya buku pada halaman yang ditandai dengan lipatan, dan membuka tutup pulpen. Menit berikutnya ia segera tenggelam dalam permainan mengisi teka teki silang.

Perempuan itu berdiri tercenung, tidak mengerti apa yang dilakukan si pemuda. Ia tahu yang ada di tangan si pemuda adalah sebuah buku, tetapi bukankah buku harusnya dibaca, dan bukan ditulis?

Ia menggeleng-gelengkan kepala, seolah ingin menegaskan bahwa itu bukan urusannya, lantas kembali memandang ke Utara.

“Apakah ia akan datang….” tanyanya, lirih pada angin.

***

Jam demi jam berlalu.

Fajar mulai nyata. Matahari memandang dunia dengan matanya yang masih segaris.  Kuap ditahannya. Udara yang tadinya dingin mencekam mulai berubah sejuk. Embun-embun bergelantungan di pucuk-pucuk daun, saling memandang dan terkekeh seolah ingin bersaing siapa yang paling bening. Ibu-ibu dengan dagangan buah dan sayur yang digendong di pundak mulai bermunculan. Ada yang seorang diri, ada yang berkelompok. Mereka ramai berceloteh. Sesekali tertawa kalau ada yang dirasa lucu.

Lelaki-lelaki tua lewat menaiki sepeda tua dengan roda yang selalu saja tampak terlalu besar. Mereka mengenakan tutup kepala, ada yang berupa caping, ada yang berupa ikat, ada yang sedikit modern mengenakan topi dengan lambang sebuah perguruan tinggi. Mereka mengayuh dengan santai, sesekali membunyikan bel sepeda ketika melewati ibu-ibu dengan gendongan di punggungnya sambil berseru, “Mari, Mbok!” Yang diseru akan menjawab balik, “Mari!” atau hanya tertawa sambil menutup mulutnya dengan kain lurik.

Di tengah denyut kehidupan yang baru mulai menggeliat, ruas jalan antar kota itu masih selalu dilewati kendaraan. Motor dan mobil seperti mengalir entah dari mana menuju ke entah apa. Meski tak seramai tadi malam, sudah ada bau sisa knalpot yang seperti sengaja berkompetisi dengan segarnya bau pagi. Asap abu-abu, kadang hitam, selalu tertinggal sekian detik di belakang kendaraan, mengada sebentar, lantas menguar bersama udara. Sebenarnya menyebalkan. Kesegaran pagi yang tak seberapa itu dikalahkan oleh kentutnya kendaraan bermotor.

Namun, tak ada yang protes, karena di ruas jalan antar kota seperti ini, orang-orang datang dan pergi. Hanya persinggahan. Tak ada yang benar-benar merasa memiliki.

***

Dalam keremangan pagi, warung bercat biru dan toko permak jins sama-sama belum menunjukkan tanda-tanda akan buka. Mereka masih berdiri membisu, seperti dua orang sahabat yang bergandengan tangan menunggu matahari terbit dalam diam.

Tapi, lihatlah, di depannya masih berdiri perempuan yang sama. Ia masih mengenakan baju terusan yang sama. Bunga-bunga hijau dan merah muda. Kakinya masih beralas sandal jepit yang kiri dan kanan warnanya berbeda.

Ia tetap memandang ke Utara dengan kecemasan yang itu-itu juga.

“Cepatlah… cepatlah… cepatlah…” O, rupanya ia pun tak punya kalimat lain untuk diucapkan. Bungkusan plastik hitam masih didekapnya di dada, sekali-sekali dikecupnya penuh sayang.

Tak ada sesiapa lagi yang menemaninya di tepi jalan itu. Pemuda yang beberapa jam sebelumnya nampak segar seperti habis mandi, duduk di bangku panjang di depan toko permak jins sambil menulisi sebuah buku, kini entah di mana.

Barangkali ia kehabisan teka-teki untuk dipecahkan.

Semarang, Oktober 2008

Andina Dian Dwifatma (andina_dwifatma@yahoo.co.id)

Share