Tags
Related Posts
Share This
Salju
Desa itu kecil saja, tak juga luas. Sejauh mata memandang yang kau lihat hanya sesawahan, sesawahan, dan sesawahan belaka. Seolah kau dihadapkan pada sepotong besar karpet hijau tebal. Matamu jadi berkunang-kunang dibuatnya. Segerumbulan semut seperti merayapi matamu sambil memancarkan sinar kuning kehijauan, atau barangkali hijau kekuningan? O, betapa kau tak akan pernah tahu.
Desa tersebut memancarkan harum wangi padi yang abadi. Keharuman ini sudah tercium sejak pertama kali kau melangkahkan kaki di perbatasan desa, dan akan terus mengikutimu sampai sebelah kakimu sudah keluar dari desa pula. Cuping hidungmu lalu mengembang, dadamu sesak karena harum wangi pepadian, perasaanmu haru karena teringat kata nenek moyangmu bahwa padi adalah tanda kemakmuran.
Dan memang desa itu makmur jua. Orang-orangnya sejahtera, cukup makan dan cukup sandang, semua orang pun punya rumah meski sederhana. Bertemu di jalan selalu saling menyapa. Bagi orang-orang desa ini memang keramahan adalah segalanya.
Sampai tibalah sang pengembara.
***
Orang bilang dia seniman. Ada yang bilang ia guru jiwa. Ada yang bilang ia pertapa. Tapi ada pula yang bilang ia sekadar orang gila biasa.
“Jangan dekat-dekat padanya,” demikian bisik orang-orang tua pada anak-anak mereka bila sang pengembara kebetulan lewat di depan rumah. Anak-anak mereka akan memandang sang pengembara dengan mulut menganga, seolah sang pengembara adalah seaneh-aneh manusia di dunia. Dipandangi begitu rupa, sang pengembara akan tertawa memamerkan gigi geliginya yang putih belaka.
Tak ada yang tak mengakui bahwa sang pengembara memang aneh. Rambutnya setengah panjang, kulitnya kuning dan bercahaya seperti kulit perempuan-perempuan negeri Cina, kuku-kuku dan pakaiannya bersih bersinar, dengan sepasang mata yang berkilat.
Ia suka membikin-bikin kelakuan yang mengundang gelak tawa. Sedang berjalan tahu-tahu melompat ia. Kanak-kanak geli dibuatnya. Pernah suatu kali, tengah duduk tiba-tiba bersyair dia.
Sudah dulu lagi, sudah dulu lagi
Jari tidak bakal teranjak dari petikan bedil¹
Sang pengembara juga suka memainkan banjo mungil yang ia ikat pada kain di dadanya. Ia gemar membuat melodi-melodi aneh yang membuat resah orang tua yang kebetulan mendengar. Ah, betapa manusia menjadi mudah curiga ketika ia beranjak dewasa.
“Kau dengar musik itu?”
“Ya, darimana ia berasal?”
Suara bisik-bisik itu sesaat hilang, seperti ragu.
“Dari banjo orang gila.”
“Maksudmu, sang pengembara?”
“Ya! Siapa lagi? Tapi toh ia gila juga?”
“Sudah, sudah, tutup saja kaca jendela. Merinding aku mendengarnya.”
Bisik-bisik itu meski dilakukan di dalam rumah, terdengar jua oleh sang pengembara yang hanya tersenyum saja. Seolah karena terlalu asyik dengan dirinya sendiri, ia memang tak pernah marah. Tak pernah geram. Malah, ia jarang berkata-kata.
Sampai tibalah ia di sebuah desa.
***
Entah karena perut lapar, atau Sang Tangan Besar menuntunnya, dalam perjalanannya entah darimana menuju ke entah apa, sampailah sang pengembara ke sebuah desa dimana aroma padi menguar dengan kuatnya. Ia tersenyum. Ia terharu. Rasa damainya bangkit. Wangi padi di hidungnya terasa bagai aroma paling harum seharum-harum aroma yang pernah dicecap hidung manusia.
“Hai Ki Sanak, dari mana sesungguhnya aroma ini berasal?” tanya sang pengembara kepada seorang petani yang kebetulan lewat naik sepeda.
“Dengan hormat, Ki Sanak, selamat datang di desa kami.” Jawab sang petani ramah. Ia diam sejenak, memperhatikan sang pengembara. “Ayoh, silahkan Ki Sanak mengaso di rumah kami.”
Maka sang pengembara itu pun ikutlah. Makin berjalan, makin ia terpesona. Karpet tebal kehijauan memenjara matanya dengan sebagus-bagus pemandangan yang pernah dinikmati manusia. Harum padi tercium dengan begitu kuatnya. Petani hanya tersenyum simpul melihat keheranan tamu asingnya.
“Ya, memang begitu di desa kami, Ki Sanak. Yang Maha Tinggi memberkahi kami dengan padi yang tumbuh begitu subur. Aroma padi adalah harum andalan di desa ini,” ia memandangi sesawahan. “Di situlah, Ki Sanak, di antara bulir-bulir padi yang padat berisi, yang merunduk rendah hati, di situlah terletak penghidupan kami. Urat nadi kami dan nafas kami mengalir di situ.”
Sang pengembara tersenyum lalu mengangguk tanda mengerti. Ia berjalan tenang-tenang mengikuti sang petani yang telah turun dari sepedanya, menuntunnya agar sejajar dengan tamunya.
“Jadi di sini semua orang bertani?” tanya ia.
“Ya, dan ada yang menjadi pedagang pula. Itu pun berdagang beras.” jawab petani.
Segera sang pengembara bertemu dengan penduduk desa lain. Dan untuk pertama kalinya, sang pengembara tidak dipandang sebagai orang asing yang berbahaya. Semua orang di sana ramah padanya. Bahkan para orangtua mengizinkan anak-anak mereka bermain dengan sang pengembara. Kanak-kanak sama berseru senang ketika sang pengembara mengajari mereka bagaimana membuat mobil-mobilan dari kulit jeruk, kapal-kapalan dari batok kelapa, dan aneka mainan lainnya.
Suatu kali, sang pengembara mengajari anak-anak berpuisi.
“Tahukah kalian, apa puisi itu?”
Kanak-kanak berpandangan. Salah satu ada yang mengacungkan tangan. “Puisi adalah kata-kata indah, Ki Sanak.”
Sang pengembara tersenyum menatap wajah polos sang anak.
“Ya, benar. Puisi memang berisi kata-kata indah,” sang pengembara diam sejenak. Kanak-kanak memperhatikan. “Tapi tak sekadar kata-kata, Anak-anak. Puisi adalah ungkapan jiwa yang gelisah, yang senang, yang tenang, yang berpikir, yang menggugat. Maka itu kalian harus ingat, cintailah puisi, sebab dari sana lahir kekuatan yang akan membangun bangsamu, juga mengingatkannya ketika ia lalai atau tertidur terlalu lama…” sang pengembara kini menerawang, tiada menyadari bahwa kata-katanya mungkin terlalu sulit dimengerti oleh kanak-kanak itu.
“Ayoh berpuisilah Ki Sanak,” suruh si anak yang tadi mengacungkan jari.
Sang pengembara memejamkan mata. Dan kanak-kanak itu turut memejamkan mata pula, berusaha memahami kesedihan yang muncul dari suara sang pengembara ketika mengucapkan larik-larik puisinya dengan penuh perasaan. Sepuluh anak kecil, laki perempuan, duduk bersila di bawah pepohonan rindang, sama memejamkan mata.
Lain waktu, ia terlibat pembicaraan dengan pemuda-pemuda desa dan bapak-bapaknya. Mereka bertukar cerita dengan seru, sang pengembara bertutur mengenai tempat-tempat yang pernah dikunjunginya, padang-padang gurun dan danau-danau yang ganas, perkampungan yang liar, gunung-gunung yang menjulang gagah seolah ia ditancapkan begitu rupa oleh Sang Tangan Besar pada titik poros sumbu bumi.
“Kau dakikah gunung itu, Ki Sanak?” tanya seorang bapak.
“Ya, meski tak tuntas pula.” sang pengembara menjawab.
“Benarkah ada manusia salju, Ki Sanak?” tanya salah seorang pemuda.
Sang pengembara tertawa. “Ada, tentu ada. Tapi tak mungkin di desa ini, sebab di desa di mana pepadian tumbuh begitu suburnya, dengan aroma padi yang mewangi begitu hebatnya, tak bakal ada salju yang berani turun.”
“Mengapakah begitu, Ki Sanak?”
“Karena… karena..” sang pengembara terdiam sejenak. “Karena perbedaan musim, hai anak muda. Sudah menjadi ketentuan bahwa di belahan bumi yang subur, salju enggan turun. Demikian sebaliknya.”
“Ketentuan siapa?”
“Dia Yang Maha Menentukan.”
Tapi sang pemuda rupanya keras kepala.
“Salju mungkin turun dimana saja, pada musim apa saja, sebab siapakah yang bisa mengatur karunia Yang Maha Tinggi bila ia menghendaki?”
“Pernahkah kau melihat salju?” tanya sang pengembara.
Sang pemuda menggeleng. Pengembara tersenyum.
“Nah, nanti kalau kau sudah melihat salju, mungkin di gambar-gambar, kau akan tahu bahwa salju tidak turun di desa ini.”
Tahu-tahu ada tangan lain teracung. “Aku setuju dengan pendapat Bedu tadi, Ki Sanak. Kami memang belum pernah melihat salju, hanya melihat saja di buku-buku, dari situ kami tahu mengenai manusia salju, tapi menurutku salju serupa karunia Tuhan, tentu dapat Ia jatuhkan di mana saja, kapan saja Ia ingin.”
“Dan tak ada satu manusia pun yang bisa menentukan di mana turun karunia itu.” timpal yang lain.
Beberapa suara bergumam-gumam setuju. Sang pengembara menggaruk kepala.
“Tetapi….” katanya, lalu terdiam.
Melihat pengembara terdiam, pihak pemuda seperti mendapat angin. “Ya, ya! Salju mungkin turun di desa kita!”
“Salju mungkin saja turun di desa kita!”
“Tidak bisa tidak mungkin!”
“Bukankah begitu, Ki Sanak?”
“Ya, kan? Ya, kan, Ki Sanak?”
“Betulkah begitu?”
“Tidakkah kami benar?”
Sang pengembara memejamkan mata. Ketika ia membukanya, belasan pasang mata memandangnya penuh harap. Dalam mata mereka sang pengembara merasa bahwa entah bagaimana salju telah berubah dari sekadar fenomena alam biasa menjadi sebuah karunia besar Tuhan yang akan mengubah hidup mereka. Ah, betapa aneh. Diam-diam sang pengembara memperingatkan dirinya sendiri. Jika benar salju muncul di desa ini, tentu kiamat berarti.
“Ya.. ya.. baiklah Salju mungkin saja turun di desa ini.” Akhirnya sang pengembara menyerah. Sengaja ia memberi penekanan pada kata ‘mungkin’.
Riuh rendak sorak sorai sontak terdengar. Para pemuda sama mengacungkan tangannya.
“Salju turun di desa kita!”
“Salju turun di desa kita!”
“Salju turun di desa kita!”
“Salju turun di desa kita!”
Para bapak pun turut tertawa bahagia. Sang pengembara tersenyum cemas.
Malam harinya, ia bermimpi tentang singa.
***
Maka ketika persis keesokan harinya salju benar-benar turun di desa itu, tidak ada orang yang lebih kaget daripada sang pengembara. Ia membuka matanya lebar-lebar, mengucek-uceknya, lalu membelalak. Benarkah apa yang ada di hadapannya ini?
Tua muda, besar kecil, lelaki perempuan, gemuk kurus, semuanya ternganga heran, tergaga-gaga, terbata-bata, bahkan ada beberapa yang di antara rasa herannya itu mulutnya sampai terbuka dan mengeluarkan suara ‘haaaaaa’ yang panjang.
Tampak oleh sang pengembara butiran-butiran salju sebesar-besar bola kapas berjatuhan dari udara. Sebagian yang telah jatuh ke tanah bercampur dengan warna coklat sempurna, terinjak-injak oleh warga yang berlarian ke sana kemari.
“Salju!”
“Salju!”
“Salju!”
Di mana-mana orang hanya meneriakkan satu kata: salju. Sang pengembara melangkah seperti terhipnotis. Segera saja butiran-butiran salju berjatuhan ke atas kepalanya. Dingin. Lembut. Ia mengambil segenggam, lantas meraupkannya ke wajah. Sejenak daerah pipi dan dahinya seperti mati rasa. Ya, ini memang benar salju. Tapi darimana datangnya salju?
“Ha ha ha! Ha ha ha!”
Kanak-kanak dan pemuda ramai tertawa. Timpuk menimpuk terjadi seputar muka. Sang pengembara melangkah berkeliling desa dengan kedua kaki telanjang, sorban di atas kepalanya terlepas tanpa disengaja. Matanya panik menyapu karpet hijau tebal pepadian yang mengelilingi desa. Kini, bulir-bulir padi diselimuti kapas-kapas putih salju. Dalam penglihatannya, sang pengembara merasakan pepadian itu sama menangis, seolah tak rela keindahannya yang hangat diberangus dingin tiba-tiba.
Ceprot!
“Kena kau!”
Pengembara menoleh. Tampak olehnya kanak-kanak bermain lempar-lemparan salju sambil mengelilingi ia.
Ceprott!
“Ha! Punyaku lebih besar!”
Ceprot! Ceprot!
“Punyaku ada dua! Rasakan, kena dua pipimu!”
Sang pengembara panik. Sang pengembara resah. Maka ia mulai berlari ke arah balai desa. Ia harus menemukan kejelasan dari kepala desa, kemudian memikirkan apa yang harus dilakukan dalam keadaan luar biasa seperti ini.
“Ki Sanak, hendak kemana?”
“Ayoh kita bermain salju!”
Sang pengembara menggeleng-geleng, menghindari tatapan polos dari kanak-kanak kecil itu. Dalam hati sang pengembara terharu, betapa mereka, kanak-kanak itu, dengan tawa yang abadi mampu menikmati sesulit apapun keadaan. Itu barangkali karena mereka belum mengerti benar apa makna sulit sebenarnya.
Ia mempercepat langkah, sementara salju terus turun dari atas.
“Ki Sanak!”
“Ki! Ki! Ki Sanak!”
Betapa terkejutnya sang pengembara ketika yang dicarinya ternyata ditemuinya di tengah jalan. Kepala desa sedang bermain bola salju! Di sekelilingnya ada bapak-bapak dan pemuda yang sama girang bermandi butiran kapas seputih salju. Sang pengembara menghentikan langkahnya. Ia terdiam menatap pemandangan itu. Tawa dan senyum ceria yang menghiasi wajah para penduduk desa itu memaku hati sang pengembara.
Ah, betapa bodohnya ia telah berkata-kata sembarangan dalam pembicaraan tempo hari.
“Ki Sanak! Mengapa berlari-lari? Mengapa terburu-buru?”
“Ya, Ki Sanak! Mampirlah dulu! Nikmati ini!”
“Lihat, Ki! Salju, Ki! Salju akhirnya sungguh-sungguh turun di desa kita!”
Sang pengembara terkesiap. Ia teringat kata-katanya sendiri.. jika benar salju muncul di desa ini, tentu kiamat berarti.
“Kepala desa! Kepala desa!” sang pengembara terburu-buru berlari. Setelah mendapatkan lelaki tua yang tengah kegirangan bermain salju itu, sang pengembara langsung berkata dalam helaan nafasnya yang masih satu-satu.
“Kita harus pergi dari sini, hai kepala desa! Aku sudah mendapatkan firasat buruk! Seperti yang sudah kubilang tempo hari, harusnya tak ada salju yang turun di desa seperti desa kalian! Desa kalian terlalu hangat, terlalu kaya, terlalu ramah untuk hawa dingin tak bersahabat seperti ini!” seru sang pengembara di antara gemeletuk geliginya.
“Bicara apa kau, hai Ki Sanak? Kita semua sepakat bahwa hal itu bukan tak mungkin..” kepala desa menyentil butiran salju dari ujung hidungnya. “Bukankah kau sendiri yang mengatakan hal itu, heh?”
“Iya! Iya! Tapi katakanlah aku salah!” sang pengembara mendongak ke atas. Salju turun semakin deras. Kini alirannya bagaikan ditumpahkan begitu saja dari langit, semakin banyak, semakin deras, terus terus dan terus mengalir seperti ada yang memutar shower penghasil salju ke kanan. “Lantas apa yang akan terjadi?”
Para bapak dan pemuda perlahan berdatangan dari segala penjuru. Mereka mengerumuni Ki Sanak dan kepala desa yang tengah berdiri berhadapan.
“Tidak akan terjadi apa-apa!” seorang pemuda menyeruak dari kerumunan. Sang pengembara mengenali sang pemuda sebagai si pencetus ide datangnya salju. “Tidak akan terjadi apa-apa!”
“Darimana kau tahu?” sang pengembara membalas.
“Aku membaca, aku mendengar, aku merasa!” teriaknya. “Salju tidak berbahaya!”
“Berbahaya bila datang ke desa iniiiiiiiiiiiii….” sang pengembara kehilangan kesabarannya.
Suara gumaman berdengung. Was wes wos.. was wes wos.. Penduduk mulai terdiam, sebagian mempercayai kata-kata sang pengembara dan sebagian lagi percaya sang pemuda.
“Lantas apa usulmu, hai Ki Sanak?” tanya kepala desa.
Sang pengembara diam sejenak. “Kita tinggalkan desa ini.”
“Apa?”
“Apa?”
“Tidak mungkin!”
“Tidak bisa!”
Warga murka. Sang pengembara berdiri dengan kukuhnya. Ia yakin ia benar. Seluruh desa harus pindah, atau mereka semua akan mati tertimbun salju.
“Tidak bisa! Kami mencintai desa ini!” kepala desa berkata penuh wibawa.
Sang pengembara mendongak lagi. Butiran salju terus turun, makin lama makin deras, ada yang turun sebagai gumpalan-gumpalan, ada yang kecil-kecil seperti tahi kambing, ada yang saking halusnya sampai bisa ikut terhirup oleh kedua lubang hidung. Derasnya kini bagai air hujan.
Ini jelas bukan salju biasa.
“Kalian bisa membangun desa seperti ini lagi, kalian semua petani hebat. Lagipula, padi toh tidak bisa tumbuh dengan salju terus turun seperti ini.” kata sang pengembara.
“Kalau begitu, kami akan berhenti jadi petani. Kami akan melakukan pekerjaan yang lain.”
“Ya, ya, lagipula siapa yang butuh padi-padi itu? Salju ini lebih hebat, lebih dahsyat, kami lebih menyukainya!”
Gumaman setuju terdengar di mana-mana. Sang pengembara terkejut. Sebegitu cepatkah warga desa ini melupakan darimana mereka berasal? Sebegitu lekasnya orang-orang ramah ini berubah menjadi begitu tinggi hatinya? Hanya karena salju? Hanya karena salju?
Rupanya inilah kiamat itu, pikir sang pengembara.
“Tolonglah, dengarkan aku. Apa pula bagusnya salju? Menurutku padi-padi kalian jauh lebih berarti!” ia masih berusaha.
Pemuda yang sama mengangkat dagunya. “Aku membaca buku, kau tahu, bahwa salju turun di negeri-negeri kaya, negeri-negeri modern dengan peradaban yang membuatnya menjadi pusat dunia. Kau tahu, Ki Sanak? Kau tahu? Bila di desa ini turun salju, seluruh dunia akan melihat kami! Kami akan sejajar dengan bangsa-bangsa itu, kami akan berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan mereka! Kau tahu? Ki Sanak, kau tahu?”
“Mengapa pula kau ingin sejajar dengan mereka, bangsa dengan negeri bersalju itu? Kau kira kau rendah bila dibandingkan dengan mereka?” seru sang pengembara.
“Apa hendak dikata, Ki Sanak, mereka dianggap dunia lebih tinggi daripada kita!”
“Dan oleh karenanya, kita harus berusaha agar sejajar dengan mereka!”
“Kami ingin nampak putih seperti mereka!”
“Seputih salju!”
“Salju yang tengah diturunkan Yang Maha Memberi di desa ini!”
“Ya! Ya! Putih, seputih salju!”
Sang pengembara tercenung. Kesombongan lahir dari butiran salju, pikirnya. Tingginya hati warga desa ini rupanya tak bisa dibendung lagi.
“Jika kalian tak mau pergi, baiklah aku yang pergi.”
“Ya, pergilah!”
“Kau toh orang asing belaka!”
“Di perjalananmu nanti, bolehlah kau katakan pada dunia, di desa ini telah turun salju!”
“Ya, salju putih seputih-putih warna putih yang pernah dikenal manusia!”
Kemudian mereka kembali tertawa-tawa sambil bermain butiran salju. Tak ada yang berusaha mencegah sang pengembara. Mereka telah larut dalam hasrat mendapatkan kemashyuran. Sang pengembara menyeret langkahnya dengan sedih keluar dari desa. Angin menerbangkan butiran salju menutupi kedua mata sang pengembara. Tanah cokelat yang tadi berbaur dengan putihnya salju, kini telah tertutup sempurna. Lapisan salju yang makin meninggi menimbulkan bunyi clap clap clap di bawah kaki-kaki sang pengembara.
Ia menoleh sedih ke belakang. Pohon tinggi besar tempatnya biasa mengajar kanak-kanak, kini tertutup oleh salju. Daun-daunnya yang hijau kini putih. Demikian pula dengan rumah-rumah warga. Genting dan lantai pekarangannya serba putih. Sawah-sawah membisu dalam hamparan serba putih. Mati.
Terdengar suara-suara melengking.
“Ki Sanak, kenapa pergi?”
“Jangan pergi, Ki. Bermain lagi dengan kami..”
Kanak-kanak itu memanggil-manggil sang pengembara dengan tangan-tangan melambai-lambai gelisah. Sang pengembara memalingkan wajah. Dalam hati ia berduka, satu lagi bangsa yang tenggelam karena lupa jati dirinya.
Aku menyeru – tapi tidak satu suara
membalas, hanya mati di beku udara.²
Bertahun kemudian, ketika sang pengembara mulai menua dan keriput mulai nampak di kedua belah teduh matanya, ada didengarnya legenda tentang sebuah desa yang tenggelam tertimbun salju.
Entah apa yang terjadi.
Kaligarang-Ciputat-Kaligarang, 2007-2008
¹ dari puisi Chairil Anwar, Sudah Dulu Lagi (1948)
² Chairil Anwar, Nocturno(fragment) (1946)
Andina Dian Dwifatma (andina_dwifatma@yahoo.co.id)


















Mantap! kritik sosial yang hebat! gak coba kirim ke media?
Like or Dislike:
0
0
Kenapa mesti salju? Padahal sebelumnya desa itu damai dengan apa yang mereka miliki, tak ada kesan mereka menyukai salju, atau tendensi ke arah situ?
“Dalam hati ia berduka, satu lagi bangsa yang tenggelam karena lupa jati dirinya.”
Kalimat tersebut masih terkesan tak kuat, sebab “jati diri” yang dimaksudkan juga tidak diceritakan. Dan ketika dialog antara pemuda dengan pengembara terlalu singkat menjelaskan kekaguman desa tentang salju, ditambah “kebanggaan” petani atas kehijauan desa. Jadi seakan-akan mereka “tersirap” kata “salju”.
kekuatan cerita ini ada pada daya khayalmu yang menggambarkan alam raya.
Sedangkan para tokohnya, saya suka sama pengembara.
Meski konflik dalam cerita ini melompat terlalu jauh dari yang sebenarnya ada dalam diri para tokoh.
Like or Dislike:
0
0
Marah identik dengan api, sedang salju kesombongan… Hanya saja optimisme penduduk desa yang hangat itu ketika mendapati salju sangat menyenangkan sebenarnya ya… Tidak apatis dan benci….
Like or Dislike:
0
0