A Untuk Anarki

Berhentilah untuk berpikir bahwa anarkisme hanyalah sebuah bentuk lain “tatanan dunia” atau sebuah sistem sosial. Dari mana kita semua berdiri – dari dunia yang penuh dominasi dan kontrol – tidaklah mungkin untuk membayangkan untuk hidup tanpa kekuasaan, tanpa hukum, atau pemerintah. Tidak heran jika anarkisme tidak pernah dianggap sebagai program politik skala besar atau program sosial yang serius: tak seorang pun yang bisa membayangkan akan seperti apa jadinya, atau bagaimana mencapainya – tidak juga para anarkis itu sendiri.

Daripada itu, cobalah untuk berpikir bahwa anarkisme adalah orientasi individual untuk diri kita sendiri, sebagai sebuah pendekatan personal pada kehidupan. Itu tidak mustahil untuk dibayangkan, bukan? Pahami dalam peristilahan ini, seperti apakah anarkisme itu? Ia mungkin adalah sebuah bentuk keputusan untuk berpikir demi dirimu sendiri dibandingkan dengan menjadi pengikut secara membabi-buta. Ia mungkin juga sebuah penolakan pada suatu hirarki, sebuah penolakan pada kuasa negara, hukum, atau kuasa lain yang terberi tanpa pernah kita pertanyakan, dibandingkan kuasa diri kita atas diri kita sendiri. Ia mungkin adalah sesuatu yang berjarak pada siapa pun yang mengklaim dirinya memiliki status paling tinggi dibandingkan dengan orang-orang disekitarnya, dan ia mungkin juga keengganan untuk mengklaim diri sendiri sebagai pemilik status tertinggi dibandingkan dengan orang lain. Diatas semuanya, ia mungkin adalah sebuah penolakan untuk meletakkan tanggung jawab diri sendiri di tangan orang lain: ia mungkin adalah sebuah tuntutan bahwa setiap dari kita tidak hanya bisa memilih takdir kita, tapi juga bisa menjalaninya.

Kebanyakan orang, ketika mereka memikirkan hal itu, ingin memiliki hak mengenai bagaimana mereka menjalani hidup mereka, untuk berpikir dan bertindak yang cocok untuk diri mereka sendiri. Kebanyakan orang mempercayai diri mereka untuk bisa membayangkan apa yang bisa mereka lakukan tanpa didikte oleh kuasa tertentu. Hampir setiap orang frustasi ketika mereka menemukan diri mereka sedang bergerak melawan arus kuasa yang tanpa wajah dan impersonal.
Kita tidak ingin dikasihani oleh pemerintah, birokrat, polisi, atau kuasa di luar diri kita, bukan? Tentu saja kita tidak ingin mereka mendikte seluruh kehidupan kita, bukan? Tidakkah kita ingin melakukan sesuatu yang ingin kita lakukan, mempercayai apa yang ingin kita percayai? Pada kehidupan sehari-hari kita, kita semua adalah anarkis. Kapan pun, ketika kita membuat keputusan untuk diri kita, mengambil tanggung jawab atas apa yang kita lakukan daripada tunduk pada kuasa yang lebih tinggi, kita telah mempraktekkan anarkisme.

Jadi, jika kita adalah anarkis secara alamiah, kenapa kita selalu berakhir dengan menerima dominasi atas yang lain, bahkan membuat (dan mendukung) kekuatan dan atau kuasa yang mengatur diri kita sendiri, yang menjauhkan diri kita dari diri kita sendiri? Bukankah lebih baik jika kita mengira-ngira bagaimana caranya untuk hidup berdampingan dengan semua orang dengan langsung bekerjasama dengan mereka dibandingkan mengandalkan sekumpulan aturan di luar diri kita? Sistem yang mereka setujui adalah sebuah sistem dimana kita harus tunduk padanya: jika kita menginginkan kebebasan kita, kita tidak bisa menentukan untuk orang lain apakah mereka memerlukan kontrol atas hidup mereka atau tidak.
APAKAH KITA BENAR-BENAR MEMBUTUHKAN TUAN UNTUK MEMBERIKAN KOMANDO DAN MENGONTROL HIDUP KITA?
Di peradaban barat (dimana hampir seluruh dunia mencari pembenarannya), selama ratusan tahun telah dijejali kuasa negara yang tersentralisasi dan hirarki yang secara umum menjadi dasar pemikiran bagaimana kita bertindak. Kita semua berpikir bahwa tanpa polisi kita akan saling bunuh; bahwa tanpa bos tidak akan pernah ada kerja yang terselesaikan; bahwa tanpa pemerintah peradaban ini akan hancur berkeping-keping. Apakah semua itu benar?

ketha

Share


Leave a Reply