BLUES MAN, HANTU, DAN JIM MORRISON*

 

* adaptasi “ghosttown-Bob Wayne & The Outlaw Carnies”

Kota itu kiranya terletaknya di seberang sebuah sungai dekat dengan perbatasan kota ini. Untuk mencapainya kamu harus melewati padang savana yang cukup luas. Waktu itu kami – aku dan teman-temanku – sedang mengendarai motor kami (masing-masing mengendarai satu motor), tujuan kami tidak jelas, hanya mengendarai motor saja dan berhenti disuatu tempat untuk ngobrol, menjauhi kota yang membosankan ini. Aku tidak tahu dengan pasti bagaimana kami bisa sampai di kota itu, tapi aku tidak akan pernah melupakan kejadian di kota itu.

Kami menepi di sebuah bar, yang di depannya ada sebuah hotel kecil yang menampilkan kesan suram. Tampaknya hotel itu pernah menjadi yang terbaik di kota ini. Sekarang, temboknya sudah mulai menguning dan di bebrapa bagian catnya sudah mulai mengelupas, rumput tumbuh liar di taman buatan yang masih menyisakan sedikit keanggunan masa silam. Di sebelah konter resepsionis yang tak ada penjaganya tampak seorang ibu tua sedang duduk merajut di sebuah kursi goyang. Kami masuk ke bar itu – di dalam terkesan suram karena matahari sangat sedikit yang masuk meski matahari masih bersinar di luar – kemudian memesan bir dingin, dan mulai berbincang ringan, “Kita minum-minum disini saja”, kata seorang teman. “Ya, kita akan memanah rembulan dari sini”, sahut yang lain. Kami tidak menyadari kalau kami tersesat, dan kota itu berusaha membunuh kami. Kalian tidak akan percaya apa yang menyelamatkan hidup kami, aku yakin, kalian tidak akan percaya, bahkan aku sendiri tidak bisa mempercayainya sampai sekarang!

Kami memesan berbotol-botol bir. Bartender bar – entah mengapa – mulai memandang kami dengan pandangan tidak suka. Aku pikir, kami akan membayarnya, kami punya cukup uang untuk itu. Di pojok bar yang tak tersentuh sinar matahari, beberapa orang sedang duduk minum dengan sepi mengelilingi sebuah meja bundar. Di sudut yang lain dua orang dengan tubuh sedikit besar, kumis yang melintang, serta tattoo yang memenuhi lengan berbincang dengan suara yang tak bisa kami dengar. Joe Louis Walker yang menyanyikan Bad Luck Blues terdengar pelan mengalun dari dua buah speaker yang dipasang cukup tinggi di langit-langit bar.

Seorang teman mulai mabuk, dan bernyanyi mengikuti Joe Louis Walker yang saat itu terdengar lirih menyanyikan Trouble On Wheels “…there is something about me, womaan. That you don’t realize…” Suaranya cukup keras, orang-orang disana mulai memandang kami dengan tatapan tidak senang. Aku sendiri tidak memedulikan tatapan itu, karena tempat ini memang untuk minum-minum, kan? Jadi wajar saja kalau ada orang mabuk, dan menyanyi? Aku pikir itu bukan masalah besar, semua orang boleh bernyanyi, apalagi kalau sedang mabuk. Seseorang dengan tatttoo memenuhi lengan mendekati kami, ia membawa sebotol bir. Ia meneguk isinya kemudian memegang leher botol dan memecahkan botol itu dipinggiran meja. Aku tersentak kaget. Ada apa? pikirku. Ia mendekati kami dengan tatapan tidak suka, seorang teman mencium bahaya mendekat. Tangannya bergerak pelan mencekik leher botol bir dan memberi tanda padaku untuk melakukan hal yang sama. Pelan-pelan aku mencekik leher botol dan yang lain juga melakukan hal yang sama, tapi kami tetap bersikap wajar. Orang itu mendekat dan mengayunkan botolnya ke arah teman yang masih menyanyi. Untungnya meleset. Dengan reflek yang tidak pernah aku sangka, aku balik melempar botolku ke arah orang itu, dan tepat mengenai mata kanannya. Seorang teman yang posisinya lebih dekat mengayunkan botolnya ke arah kepala. Botol itu pecah berantakan, sementara kepala dan mata orang itu yang terkena botol tidak mengucurkan darah sama sekali.

Saat itulah aku mulai merasakan keanehan. Kenapa kepalanya tidak mengucurkan darah sama sekali? Tiba-tiba orang-orang di bar itu mulai berdiri satu persatu. Suasana begitu mencekam. Mata semua orang itu menyala merah, dan suasana tiba tiba menjadi dingin, kami menggigil. Lolongan anjing terdengar di kejauhan dan perlahan suara Joe Louis Walker mulai menghilang. Kami merapatkan tubuh kami, bersiaga dengan botol di tangan kami. Tanpa kami sadari botol kami pegang menjadi dingin sedingin es. Seorang teman dengan suara yang gemetar mulai memanjatkan doa. Aku berbisik, siap-siap lari! Saat itulah aku menyadarinya, kami tersesat! Ketika kami bersiap untuk kabur, orang-orang itu mulai bergerak mengelilingi kami. Selanjutnya, kalian tidak akan percaya apa yang terjadi, tapi aku bersumpah demi kubur nenek ku kisah ini benar adanya.

Orang-orang itu mengelilingi kami dengan mata yang semuanya bersinar merah, tubuh mereka meleleh dan menebarkan bau busuk. Beberapa dari mereka kini hanya tulang dengan sedikit daging yang menempel dan berbelatung. Dengan sangat ketakutan kami berlari menerobos keluar, diluar kami terperangah – ketika itu matahari sudah keperaduan dan gelap menyelimuti malam – langit tiba-tiba berubah menjadi gelap, sangat gelap, dan terdengar suara-suara seperti kereta api yang mendekat ke arah kami. Kami tak mampu menggerakkan kaki barang sejengkal pun, dan hantu-hantu dengan tubuh meleleh itu mulai mendekat. Aku mulai berpikir ini adalah hari terakhir ku, aku baru mengatakan suka pada seseorang dan aku belum mendengar jawaban apapun dari dia, dan sekarang aku akan mati ditangan hantu-hantu sialan ini, sial! Tiba-tiba langit berubah, awan-awan menggumpal begitu dekat dan cerah, dari sana keluarlah hantu Jim Morrison. Kalian tidak akan percaya, kami tersesat, hampir dibunuh hantu-hantu itu, dan tiba-tiba hantu Jim Morrison datang menyelamatkan kami. Ya, Jim Morrison menyelamatkan kami :)

 

ketha

Share


Leave a Reply