Tags
Related Posts
Share This
CEMOOH BENDERA

Alam indah yang permai, damai, sejahtera, dan harmonis
Kekuatan alam Indonesia dilihat dari keragaman bentuk lautan dan hijaunya alam
Dengan hasil kekayaan alam untuk dinikmati oleh semua masyarakat
Tengadah, tangan terbuka lepas melihat langit kepada Sang Hyang Pencipta
Setetes berkah jatuh dari langit untuk Indonesiaku
Setetes darah kebudayaan merubah Indonesiaku
Setetes racun ideologi membakar Sang Saka Indonesiaku
Setetes air mata duka, luka lama tanah airku
Setetes embun sebagai penyejuk Garuda yang perkasa
Indonesiaku telah menjadi buta hati nuraninya, matanya tidak dapat lagi melihat dalam lingkaran bola dunia, tangannya tidak dapat meraih kehidupan, kakinya terdiam tidak dapat melangkah dalam pertiwi, telinganya yang berbudaya telah menghardik kebudayaannya sendiri. Semua organ mati tidak dapat berfungsi oleh kibaran warna-warni yang mulai meracuni otak dari penduduk bangsa yang beradab. Rasa kepercayaan terhadap bangsa untuk menjalani hidup tentram, damai, sejahtera, telah hilang dari negara besar penuh canda, dan tawa. Rasa manis dari cara bernegara telah dilupakan oleh sebagian manusia berperut tambun tanpa memikirkan manusia sebagai makhluk hidup. Dalam kehidupan di ruang yang berbeda masih memasak jagung sebagai bahan bakar untuk hidupnya. Ketika kulit tubuh hampir sama melekat erat dengan rangkaian tulang belulang penyanggah kulit sebagai hiasan hidup dari kekejaman manusia ciptaan Tuhan, manusia ini mengeram marah tapi hanya bisa diam melakoni kehidupan dengan ketidakadilan yang telah disuguhkan oleh parade drama manusia berkuasa.
Apakah ini pekerjaan manusia di dunia, yang kuat menjadi pemimpin tanpa melihat kehidupan di lingkarannya, hanya mementingkan golongan dari semua lapisan warna-warni. untuk memperkaya kehidupan sehari-hari memenuhi tuntutan jaman seperti mereka?
Tragedi pementasan sandiwara baru saja dilakukan oleh manusia-manusia lapar, merengguk haus kebahagiaan. “Hallo selamat pagi tuan puteri merah!! “ teriak salah satu manusia gembel yang saat pagi tadi menunggu kedatangannya dari rumah mentereng dengan atap baja sebagai penahan panas agar rumah indahnya tidak di makan rayap.
Senyum kebahagiaan terlihat sangat menawan dalam kendaraan mengkilat kelas yahud tiada banding yang menutupi wajah tamaknya. Melangkah perlahan penuh percaya diri, sambil melambaikan tangan kanannya dengan aksesoris mewah.
“Selamat pagi untuk kebahagiaan rakyat ”balasnya tak mau kalah dengan para gembel
“Taik kucing, dengan celoteh nada sumbangmu” Berteriak salah seorang dari kerumunan
Berpaling wajah mukanya, matanya melirik sumber suara yang mengusik pikirannya.Dengan tatapan sinis di lihatnya sekelompok orang yang sedang duduk di pojok gedung, bergerombol menggunakan pakaian serba hitam dari bawah kaki sampai ujung rambut. Dahinya mulai mengeryit ketika suara itu terdengar kembali, dalam pikirannya mulai terlintas sejumlah musuh-musuh politiknya dan beberapa aktivis LSM yang menjegal manuver-manuver politiknya untuk menuju kursi kepemimpinan, langkah jalannya menjadi resah, ketakutan-ketakutan mulai muncul dalam diri.
“ Nanti akan saya beritahukan, tentang permasalahan di negeri kita” jawabnya enteng sambil berlalu memasuki Loby gedung
“ Wuuu..payah kagak bermutu” jawab teman-teman pers dan para demonstran .
Mereka masih melihat reaksi dari tuan puteri merah, sambil menghisap sebatang rokok yang terselip dibibir, sambil memainkan jari telunjuknya memperhitungkan langkah selanjutnya, berfikir keras untuk menjatuhkan posisi yang sedang dinikmatinya .
“Apa saja kerja mereka Kardi” Tanya Satria kepadanya teman sejawatnya “Anjing-anjing korup yang selalu menjulurkan lidahnya kepada investor asing yang nantinya akan merugikan kita “ jawab ketusnya.” Bagaimana kasus HAM yang dahulu sangat merugikan pemuda bangsa kita, apakah warna-warni sudah melupakan janjinya untuk mengusut siapa pelaku kejadian tragdy mengenaskan di semanggi !?” Tanya Satria
“Mereka sudah melupakan peristiwa tersebut untuk keadilan negeri kita, jangankan kasus besar seperti itu, kasus yang ringan saja tentang permasalahan penyelundupan kayu dan hasil sembako untuk rakyat yang katanya diberikan harga murah malah di salah gunakan oleh antek-antek korup dalam pemerintahan” jawab Kardi
Satria terdiam sebentar mendengar pembicaraan temannya tentang negerinya yang sudah lama ia rasakan kemerdekaannya, tetapi malah menjadi terpuruk karena moral bernegara yang di lakukan pemimpin dalam negerinya sangat bobrok dan rakyat dapat mecium kehadiran mereka sebagai bau borok yang sudah lama mengakar dalam negara yang kaya raya oleh sumber daya alam. Lamunan tentang negerinya terkejut ketika ada salah seorang dari kaum Guhava berteriak keras.
”Wooii, mau kemana lu bangsat !?” teriak para demonstran yang merasa sudah kenyang dengan janji-janji para penguasa negara yang semakin mencekik leher.
“Hidup di negara kaya raya, tetapi mencari pekerjaan saja susah untuk apa kami mempunyai pendidikan tapi tidak di hargai oleh instansi pemerintahan dalam negeri sendiri” teriak seorang pemuda gaek yang tidak pernah mendapatkan pekerjaan setelah menyelesaikan masa studinya.
Tidak begitu lama mereka meluapkan kekesalan terhadap warna-warni yang berkibar, terlintas mobil berwarna mencolok kuning metalik, sangat terlihat oleh mata sangar memendam kebenciam yang terpendam . Kepala berputar melihat beberapa pejabat teras pemerintahan dengan seragam warna kebesarannya turun dari mobil dinas (mobnas) kepunyaan rakyat sambil tertawa dengan rekan kerjanya.
Hari semakin panas, kami semua bergerak terus untuk bertemu dengan orang paling penting dinegara Indonesia. Air liur sudah menjadi kecut, susah ditelan oleh tenggorokan, perut berbunyi seperti genderang perang yang berirama setiap saat dalam hitungan menit terasa pedih, bola mata memandang liar pada setiap manusia berdasi, berperut tambun mengunakan aksesoris berglamor, mereka melintas dengan mobil mewah. Keringat tubuh berubah menjadi kering dan terasa kesat seperti garam menempel pada kulit ari. Kepala tidak lagi berfikir dingin, hanya aksi protes agar keadaan lapar tidak berkepanjangan untuk tetap hidup Bendera-bendera dari beragam jenis corak warna sudah berdiri tegak untuk berceloteh tentang harapan yang akan diberikan kalau warna benderanya akan menjadi juara dalam negara rakyat. Ada beberapa bendera dengan angkuhnya berkibar lebar tidak seperti bendera lainnya. Apakah bendera itu tidak lepas dari cemooh para rakyat?
Hari ini adalah waktu yang tepat untuk mengajukan beberapa tuntutan yang harus didengar oleh pemimpin bangsa, agar bangkit dari kemelaratan dan reformasi moral untuk generasi pemimpin bangsa.
” Kardi aku akan memberi pelajaran kepada mereka semuanya agar tidak menyepelekan nasib rakyat kita sendiri!?” berbicara perlahan kepada sahabatnya. “Apa yang dapat kamu lakukan sahabatku, baru beberapa hari kamu datang di tanah air !?”
“ Aku sudah muak melihat aksi para politisi negaraku sendiri”titah Satria
“Kamu mau mengebom gedung ini sahabatku” jawab Kardi
“Aku tidak sebodoh itu kawan, berapa banyak rakyat berada dalam gedung ini akan berkorban nyawanya untuk kesalahan yang aku lakukan”
“ Sahabatku, kita sudah berteman cukup lama berkiprah di semua pergerakan tanah air. Jangan bertindak bodoh, aku tidak mau kehilangan dirimu dalam problematik nasional yang sedang terjadi saat ini” pinta Kardi
“ Aku dilahirkan di Tanah airku, darahku menjamin bangsa ini akan hidup seperti bangsa lainnya. Sudah banyak aku melihat tragedy seperti ini dalam bangsa lain tapi bukan di tanah air tempat aku saat ini berpijak…”
“ Cukup, aku tidak mau mendengarkan alasan yang kamu bicarakan Satria” potong Kardi.
“ Dengarkanlah pembicaraanku untuk terakhirnya, aku merindukan sosok negarawan seperti Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka bisa menyatukan bangsa ini dari Ideologi dan Nasionalis melebur menjadi satu untuk membangun negeri ini” Ungkap Satria
“ Aku sepakat dengan pendapatmu, tetapi yang terjadi saat ini memang sudah tidak berjalan dengan baik tidak seperti dahulu, semua pemimpin menginginkan tapuk kekuasaan untuk mementingkan perutnya sendiri, jaman sudah berubah di negaramu Satria. Rakyat miskin sekarang bertambah miskin tidak akan secuilpun merasakan kenikmatan seperti manusia di negara lain, manusia kaya semakin borjuis dengan keadaan saat ini !?” Kardi menambahkan kondisi sosial yang terjadi
“ Negarawan kita tidak belajar dari perjalanan sejarah bangsa kita sendiri, aku akan memberinya ingatan segar kepada mereka , Kardi !?”
“ Sudahlah, kita simpan rencana ini untuk ulang tahun Negeri ini. Biarlah mereka melakukan progaram pemerintahan yang baru, Satrio”jawab Kardi
Janji tinggal janji, impian menjadi harapan tidak akan terbukti, hanya kenangan untuk menguburkan impian, kisah klasik seperti buntelan kentut yang hilang dan tidak meninggalkan bekas hanya bau sampah organik dari para pemilik bendera berperut tambun.
“ Cuiiih, tidak ada perubahan dalam kepemimpinan mereka. Hanya menimbulkan konflik-konflik baru “ Jawab Satrio sambil meluapkan kekesalannya.
“ Ayolah…kita pergi dahulu dari tempat neraka ini, menghirup udara segar ke ruang yang lain. Pikiranmu semakin panas melihat kondisi bangsa kita saat ini” Pinta Kardi
Sambil menarik tangan Satrio yang masih mau melihat perkembangan dari ruang tengah gedung rakyat. Mereka beranjak dari tempatnya melangkah keluar dengan menyimpan seribu pertanyaan yang harus di jawab para pemimpin negara.
“Setelah aku pulang dari negeri seberang aku dapat pelajaran banyak untuk kita terapkan di tanah air, Kardi”
“ Tapi asal kamu tahu sahabatku, rasa kopi dan pisang goreng Bu Juleha masih sama rasanya, sama harganya, sama kenyangnya. “ Celetuk Kardi
“ Hahaha…” Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, mengingat kenangan warung Bu Juleha.
Warung Juleha memberikan pengetahuan cukup banyak dan informasi yang tidak kita dapati di tempat pendidikan pemerintahan, untuk menghasilkan pemuda-pemudi berpikiran kritis untuk bangsa . Semua akademitas berkumpul menjadi satu tanpa membedakan Ras, agama dan golongan . Pemikiran pemuda waktu itu berhasil menjatuhkan rezim pemerintahan yang korup, cacat dari hukum dan dapat membebaskan rakyat dari pembodohan yang di lakukan pemerintahan dalam segala aspek pendidikan.
Ketika warung Juleha dianggap pemerintahan saat itu sebagai kekuatan yang menggoyangkan posisi kekuasaan, semua pemuda berbaris rapat menyatukan ide pikiran, mengalahkan pentungan kayu dan senjata gas air mata.
“ Bayangkan Kardi, kamu masih ingat kejadian pengepungan di dalam kampus !?” Tanya Satrio.
“ Ingat dengan jelas, saat itu semua orang berteriak menyanyikan lagu kemerdekaan” jawabnya.
“ Warung kecil berisi jajan tradisional dalam negeri dapat membuat gerah kekuasaan perut tambun !?”
“Banyak korban ketika para manusia besi menyerang kita!” Kardi mempertegas kembali kenangannya.
“ Senjata api meraung-raung memecahkan lapisan langit, derap langkah kaki merobek pertiwi, dimensi udara menjadi sesak oleh perbuatan manusia yang ada di negeri kita sendiri” Jawab Satrio.
“ Teman-teman semua tetap bertekad untuk mengalahkan mereka, semangat aksi bergerak rapat menembus barikade besi biarpun kita kalah jumlah dan senjata”
“ Luka dan cucuran darah, aku ingat jelas dalam ingatanku” Kardi menambahkan
“Tapi ada satu hal lucu, yang tak akan aku bisa lupakan sampai saat ini. Kamu ingat Che Satrio !?” Tanya Kardi sambil tertawa geli sendiri.
“ Sebentar aku ingat-ingat, mungkin ketika teman kita si Rantas, Stephen, dan Wen choi mengambil perlengkapan manusia besi lalu di buangnya kedalam comberan dekat kampus” Jawabnya.
“ Hahaha…, aku ingat kejadian itu tapi bukan yang satu itu. Pasti kamu mengingatnya dengan jelas” Bantah Kardi
“ Hahaha, waaaaahaha…huhuhu, aku ingat kejadiannya” Satrio melompat kegirangan sambil memegang perutnya tidak dapat menahan tawa.
“ Hahaha, ketika Rambut Kribon berlari ke belakang !?” jawab Kardi
“ Lantas Kribon mengeluarkan Plastik hitam dari dalam tasnya” sambung Satrio saling melengkapi.
“ Saat itu juga ia nongkrong di pojok pohon beringin “ Sambung cerita dari Kardi saling berbalas.
Secara bersamaan mereka mengatakan “ Kribon buang hajatnya di plastik, lalu di lempar di kerumunan manusia besi”
“ Huahahaha” Tawa mereka lepas
Tanpa terasa mereka hampir sampai di depan warung Bu Juleha. Keadaan sekarang sudah sedikit berubah, pelayannya bertambah banyak dan cantik-cantik, bisik kami dalam hati.
Walaupun warung itu hanya menjajakan makanan tradisional tapi suasana yang diberikan sungguh berbeda dari warung-warung besar. Tempatnya bersih, rapih dan sejuk. Tanaman-tanaman hijau di biarkan tumbuh besar hingga sekeliling warung menjadi rimbun. Bangku bambu membuat interior warung menjadi lebih enak di pandang mata, tv kecil hitam putih masih bertengger di atas rak buku berjejer dengan buku sejarah Bung Karno, perjalanan hidup Bung Hatta, tragedy G 30S, dan beberapa buku barat Ernesto Che Guevara, Ernest Hemingway dan buku percintaan Shakespeare in love. Di temani radio butut model jepang yang dengan setia mendendangkan berita-berita nasional, lagu-lagu daerah, dangdut, rock, pop sampai qasidah.
Bu Juleha menghabislkan waktunya dengan membaca buku-buku, kursi kekuasaanya yang terletak di pojok ruangan kecil tetap mengkilap, warnanya tidak pudar di makan jaman. Tetapi kursi goyangnya banyak melihat peristiwa ketidakadilan para penguasa, yang pada waktu itu mereka ingin membongkar warung tuannya secara paksa karena menggangu kegiatan belajar mengajar menurut mereka. Tubuh-tubuh besar dan tangan memegang alat penghancur menindas tanpa belas kasihan. Meskipun semua surat kepemilikan telah sah di tanggannya tetapi berbagai alasan untuk menghancurkan warung tetap saja di lakukan.
Semua berdiri tegak, mengepalkan tangan, berbicara lantang. Inikah hasil dari kemerdekaan yang di rebut dari tangan penjajah, pengorbanan jiwa, raga dan darah rakyat untuk waktu yang lama terulang kembali tertindas di negeri sendiri ?
“ Selamat siang… Bu !” teriak Satrio dan Kardi. Sudah lama mereka tidak berkunjung ke tempat itu
“ Selamat siang anak muda, mau pesan makanan atau minuman ?”
“ Kopi hitam 2 jangan terlalu manis dan pisang goreng dengan gula Jawa cair” Pinta Kardi.
“ Sepertinya Ibu mengenal kalian anak muda, soalnya pesanan seperti itu hanya nak Satrio dan Kardi di warung Ibu !?” Tanya Ibu Juleha
“ Hihihi… benar Ibu, kami mampir sebentar untuk mengisi perut yang dari tadi sudah keroncongan” Kardi dan Satrio berjalan menghampiri Ibu Juleha sambil mencium tangan dan pipi.
“ Den Satrio dan nak Kardi, Ibu hampir tidak mengenali kalian. Sekarang rambutnya sudah rapih dan badannya bertambah besar”
“ Alhamdulilah, kami sehat-sehat tapi kantong masih saja selalu tipis “Jawab Kardi
Ibu Juleha tertawa mendengar canda Kardi yang dari dahulu pintar ngebanyol.
“ Ibu Juleha juga bertambah sehat dan tempat ini semakin laris banyak pengunjung !” Ungkap Satrio, sambil mengambil sebatang rokok dalam toples.
“ Namanya rejeki tidak kemana, ada saja yang datang untuk membeli pisang goreng atau hanya sekedar ngopi segelas dan bercakap-cakap sampai seharian. Mirip seperti kalian dahulu bersama teman-teman untuk merencanakan aksi” Jawab Ibu Juleha mengungkapkan kangennya.
“ Hahaha…” Satrio dan Kardi tertawa malu “ Tapi kami selalu membayar kopinya bu. Biasanya Kardi yang suka ngebon” Sela Satrio.
“Hihihi…” Kardi tertawa.
Mereka senang dengan suasana yang hadir dalam kehidupannya, pisang goreng hangat di tambah gula Jawa cair dan kopi telah tersedia di meja. Perut yang sudah dari tadi kriuyk-kriuyk senang mendapatkan rejeki hari ini. Pembicaraan dari elite politik sampai minyak tanah tidak lupa di bahas oleh mereka bertiga. Hari semakin sore matahari sudah mulai bergeser sedikit-sedikit, Satrio dan Kardi segera pamit ingin segera pergi ketempat pertemuan gedung rakyat mendengarkan hasil rapat dari para penguasa negeri ini. Entah hasilnya dapat menimbulkan dampak positif bagi rakyat atau sebaliknya ?
“ Ibu… kami pamit dulu, masih ada tempat yang akan kami kunjungi” ungkap mereka berdua.
“ Hati-hati dalam melangkah nak satrio dan nak Kardi. Semoga cita-cita kalian untuk negeri ini akan terlaksana”
Sambil mencium tangan dan pipi Ibu Juleha yang sudah mereka anggap sebagai orang tua sendiri. Satrio berbisik “ Ibu…aku akan memberi pelajaran pada penguasa negeri ini, demi bangsa tercinta walaupun nyawa sebagai taruhannya aku tidak takut untuk mati di bumi pertiwi ini”
“Selamat jalan anak bangsa, Tuhan selalu melindungi kalian untuk kepentingan rakyat” Jawab Ibu Juleha
“Assalammualaikum”mereka mengucapkan pamit
“Waalaikumsalam”
“Hidup rakyat merdeka, selalu di nanti oleh seluruh manusia. Penguasa kejam di negeri tercinta haruslah di matikan. Harapan akan kebahagiaan akan tetap ada, seribu rintangan di depan mata akan kami terjal. Kami bersatu, kami melawan tak dapat di kalahkan” senandung nyanyian rakyar mengiringi langkah mereka dan perlahan-lahan Satrio dan Kardi hilang dari pandangan mata. Ibu Juleha menangis haru melihat mereka mengingat pengorbanan dan perjuangan anak muda untuk mengisi kemerdekaan bangsa.
“ Ibu… siapakah pemuda-pemuda tadi, aku baru melihatnya sekarang” Tanya Dahlia pelayan Warung
“Anak-anak ibu…, Satrio dan Kardi yang selalu berjuang untuk rakyat kecil seperti kita-kita” Jawab Ibu Juleha dengan bangga.
“ Semoga Tuhan selalu melindungi langkah-langkah mereka” Doa Dahlia kepada Satrio dan Kardi.
“ Ibu kebelakang dulu mau beribadah, kamu sudah shalat Dahlia?” Tanya Ibu Juleha.
“Sebentar lagi Ibu…,aku mau membereskan piring dan gelas” Jawab Dahlia.
Pemuda pendiam yang bernama Raden. Castro Satrio, di besarkan dalam keluarga yang sangat demokrasi. Orang tuanya memberikan kebebasan berpikir dalam kehidupannya. Sejak kecil Satrio sudah menyukai buku-buku sejarah politik, setelah dewasa ia sekolah di jurusan Sospol setelah lulus dengan cum lude(lulus dengan nilai terbaik). Berangkat ke luar negeri bersama teman yang ia dapatkan di internet melalui percakapan-percakapan politik dan kesamaan pemikiran, sahabatnya Raul AlbertoAleida seorang peranakan Amerika-Kuba. Di negeri Amerika Selatan Raden Satrio belajar ilmu politik revolusioner rakyat bersama aktivis dari berbagai negara. Satrio menguasai 3 bahasa dunia hafal di luar kepala, selama 4 tahun ia tinggal di propinsi Cordoba persisnya di Alta Gracia. Kepiawaiannya dalam filsafat, sastra dan politik mengundang teman-teman aktivis untuk mengenal dan menghargai tanah airnya, perjalanan fantastis yang ia lalui dan perkembangan politik dari berbagai negara di tuliskan dalam surat. Lalu Satrio mengirimkannya ke alamat Kardi untuk pergerakan politik dalam negeri.
Muhammad Sudirman. Kardi, seorang pemuda gaek asli dalam negeri yang alam semesta adalah sekolahnya, gurunya setiap orang yang ia jumpai, tempat tinggal adalah tempat bumi ia berpijak. Lahir di keluarga biasa-biasa di daerah Blitar mempunyai 3 saudara. Sejak melangkah dewasa Kardi nama panggilanya, sudah meninggalkan tempat kelahirannya untuk mencari kesejatian diri dan pengalaman hidup. Rasa lapar, tidak memandang kemewahan sebagai sesuatu hal yang penting, menghilangkan sifat gengsi membuat ia bisa bertahan hidup lebih lama di kota Jakarta. Hanya dengan kebulatan tekad, hati yang di persembahkankan untuk kepahitan dan kesediaan mengorbankan diri sendiri untuk orang lain membuat dia dapat menyelidiki kondisi kepermukaan manusia, yang sedihnya merupakan kalangan terbesar di dunia miskin. Kardi menemukan sosok sahabat Raden Castro Satrio ketika sama-sama sekolah di jurusan Sospol tapi sayang ia drop out karena kesulitan biaya yang terlalu mahal. Untuk mengatasi kekhawatiran keluarganya, Kardi memberitahukan kehidupannya yang sudah mapan agar orang tuanya tidak berpikiran macam-macam. Kesulitan dan kepahitan hidup membuat ia survive dengan pemikiran-pemikiran cerdas.
Sebelum Satrio berangkat berkelana ke luar negeri, Kardi sudah berhasil mendirikan LSM yang berisikan anak-anak jalanan. Penggerak rasa nasionalis berkembang dalam kehidupan mereka, untuk membahagiakan rakyat atas negeri yang tertindas. Sumpah berjalan beriringan bersama rakyat membuat kekuatan dalam jiwa anak bangsa bertambah solid untuk menghancurkan kesewenang-wenangan di negeri tercinta.
Bertambah dekat dengan gedung rakyat, suara yang terdengar dari kejauhan bertambah riuh. Satrio dan Kardi melihat ratusan orang yang berdemonstrasi, berteriak tentang keadilan, hak-hak yang di rampas dan pelecehan atas hukum di praktekan oleh penguasa. Kasus yang seharusnya penguasa itu di masukkan dalam bui ternyata pemerintah membebaskannya begitu saja tanpa sanksi-sanksi hukum yang berlaku di negeri tercinta. Apakah negeri ini berjudul negeri bohong ?
Satrio dan Kardi mendekati para pemimpin pemegang bendera yang paling besar berkibar di angkasa raya, terlihat jelas raut wajah pemuda Indonesia yang masih mempunyai harapan untuk membangun negeri rakyat tercinta. Tetapi kekecewaan dan dendam yang tidak bisa lagi dimaafkan olehnya terlintas dalam hatinya, sudah bertahun-tahun dendam yang ia rawat dalam hatinya membusuk ditengah kerumunan para elite-elite politik negara. Berjalan sambil merunduk dan menghitung dosa-dosa para pemimpin negeri yang korup, lari dari supremasi hukum, pelecehan terhadap sejarah negara , berperan aktif dalam pembodohan untuk rakyat, memakan hasil rakyat untuk kepentingan individu dan golongannya. Dalam hati kecil sudah ingin menghakimi mereka dengan keadilan rakyat, untuk segara mungkin menyingkirkan manusia peminpin negara yang tidak sama sekali mencerminkan sikap dan perilaku masyarakatnya.
“Bagaimana menjadi teladan bagi masyarakatnya apabila pemimpin itu selalu berkelit dari hukum” Teriak Kardi di tengah kerumunan para demonstran.
“ Bunuh saja, rakyat tidak kehilangan manusia seperti itu” Teriak beberapa orang dari lingkaran demonstran.
“ Apakah rakyat bertambah bodoh untuk tidak mengambil sikap” Teriak Satrio
“Mata kami sudah terbuka lebar, kami bosan dengan janji” Jawab sebagian orang Bertambah riuh suasana di gedung rakyat, semua bersorak sorai.Rakyat menjadi satu rapat dalam barisan terus berteriak yel-yel kemerdekaan. Penguasa yang merasa bersalah takut bukan main, kocar kacir berlarian kedalam gedung. Ada beberapa penguasa yang tidak lari kedalam gedung tapi mau meninggalkan tempat kejadian karena keadaan sudah menakutkan.
“Tret..tet..tet..tet..tet..tet” Suara senjata mesin keluar dari kotak peluru manusia besi. Pasukan keamanan sibuk memukuli para demonstran yang tidak bersalah hanya mau menuntut haknya.
“Buk..buk..buk” manusia satu persatu terlungkup jatuh kebumi
“Ampun, pak. Jangan sakiti kami” teriak salah satu korban
“Sakit…sakit….sakit” Sudah jangan pukuli saya
“Bunuh saja saya pak!”
” aparat bangsat kamu menipu kami sebagai rakyat kecil”
“Saya rakyat tertindasjangan pukul kami dengan senjata ”teriak bapak-bapak tua, tetapi pukulan tetap mendarat telak walaupun mereka tidak melawan.
Semua konsentrasi masa berhamburan tidak dapat di atasi kembali. Terlihat beberapa korban tergeletak mengeluarkan darah segar tidak bergerak.Rakyat terpaksa melawan dengan tangan kosong menghadapi pasukan yang sudah terlatih.
Satrio sudah banyak belajar dari situasi seperti ini.”Kita bertemu lagi di tempat pertemuan, Bung Kardi”
“Apa yang akan kamu lakukan Satrio, aku ikut bersamamu apapun yang akan terjadi”pinta Kardi.
“Satu nyawa atau tiga nyawa telah jatuh dari pihak rakyat”jawab Satrio
“Darah telah tumpah di tanah air kita”
“Nyawa di bayar nyawa, pukulan kita akan bertambah keras sahabatku. Cepat kamu pergi dari sini dan beritakan hal ini kepada seluruh rakyat” Teriak Satrio.
“Baiklah, Bung Satrio. Salam merdeka untuk rakyat sampai bertemu”Jawab Kardi.
“Merdeka untuk rakyat” Teriak Satrio lantang
”Berdiri tegak melawan penindas”
Demonstrasi bertambah ramai mendengar teriakan semangat persatuan.
“Rapatkan barisan”
“Jangan ada yang keluar dari lingkaran”
“Bersatu untuk kebenaran”
“Lawan ketidakadilan”teriak rakyat membangun barikade pertahanan
Ketika itu Satrio melihat beberapa penguasa yang lari dari keramaian untuk segera pulang dan melupakan peristiwa malam menetaskan darah, dengan langkah seribu pria berseragam menyala terang lari menuju mobil mewahnya. Mungkin nasib keberuntungan hukum sedang berpihak pada pria berperut tambun.
“Hahaha…rakyat bodoh, kalian pikir aku tidak dapat lolos dari cengkraman tangan kalian yang kotor, hahahaha…” teriak penguasa sombong ketika ia sudah dekat dengan mobil mewahnya.
”Hey…bastard where are you going now !!” Teriak Satrio yang sudah berada di belakang penguasa berseragam .
Penguasa yang dari tadi merasa dirinya aman dari cengkeraman rakyat, berubah menjadi ketakutan yang teramat sangat. Ia kaget melihat seorang pemuda gagah berdiri tegap dihadapannya.
“Apa-apaan ini, kamu kira aku takut dengan gertakanmu anak muda !!”
“Jangan banyak bicara ingatlah perbuatanmu terhadap rakyat” Jawab Satrio
”Ingat kamu dengan kasus-kasus yang kamu lakukan di Aceh,Irian Jaya, Maluku”
“Hai anak muda,negara kita mempunyai hokum yang sudah jelas tentang ketidakadilan “ teriak perut tambun mengertak Satrio
“ Kamu mau uang yang ada dalam dompetku, ambillah berapapun yang kamu mau !!” mencoba untuk merayu agar Satrio tidak berbuat macam-macam padadirinya
“ Bangsat, Anjing pengecut .Tidak sudi aku menerima sepeserpun dari kantongmu, hanya satu yang aku inginkan ” Balas Satrio
“ Lalu maumu apa anak muda” Tanya penguasa yang sudah kehabisan akal.
“ Pengorbananmu untuk bumi pertiwi “
“ Sudahlah, aku harus pulang sampai jumpa lagi anak muda”Sambil menghempaskan sejumlah uang ke muka Satrio
. Penguasa masuk kedalam mobilnya, nyala suara mobil sudah terdengar tapi suaranya tetap kalah dengan keramaian para demonstran yang berteriak semangat.
Satrio mendengar rentetan suara senjata mesin meraung-raung untuk menakuti sahabat-sahabatnya.Satu korban jatuh merengkuh dalam pelukan pertiwi, dua korban menelungkup mengeluarkan darah merah merdeka.
“Hasta La Vista bastard, go to hell”.
“ Jangan-jangan lakukan itu aku masih mau hidup”
Senjata laras pendek keluar untuk membalas kematian, seperti Hanoman yang akan menghancurkan Dasa muka
“Door..Door..Door”
Suara letusan tepat mengenai kepalanya, jantung dan tembakan terakhir mengenai perutnya yang berisi uang rakyat
Gajah mati meninggalkan gading, Manusia korup mati meninggalkan…
DuaRibuempatyangberisilantang—
by pey kue
peybalibli@rocketmail.com

















