Tags
Related Posts
Share This
@GEROBAK TEMPAT MATI
Pemulung dilarang masuk, Koruptor jalan terus bebas hambatan!!
Keringat asin bercampur dengan rasa lelah, tapak jejak kaki menyisahkan bekas mengelilingi Ibu kota. Kedua tungkai tangan tidak menengadah tapi sebaliknya berbalik ke belakang untuk meraih bahagia bersama bocah kecil cantik yang masih berumur enam tahun. Tangan kokoh menarik gerobak impian, tertawa mengejek laju jalan sang bapak di ikuti sang anak yang merengek di dalam gerobak ingin mendengarkan dongeng Aladin dan Sinbad. Laju alur ban selalu berpindah dari terowongan kecil, bantaran kali yang berbau busuk, sampai pinggiran perkampungan kumuh pemulung kaleng-kaleng bekas dan sampah plastik. Bila musim hujan datang, aroma terapi langsung menghampiri hidung dengan berbagai macam bau busuk, asam, anyir dan langsung membuat pusing kepala apabila kita menghirupnya terlalu lama. Pagi harinya matahari menyinari bagai bukit persembunyian para kuman, binatang kecil berwarna hijau yang mempunyai sungut akan datang menghampiri setiap bilik gubuk kardus, menempel di tiap makanan dan luka borok para pemulung pemilik gerobak impian.
Gerobak dorong eksekutif dengan roda dua dilapisi cat berwarna putih mengenai pinggiran ban.Warna sisi gerobak merah, kuning dan hijau. Papan triplek dan kardus sebagai pembatas antara dinding gerobak untuk penahan dingin dan bila hujan datang didalam gerobak tidak berbau karat. Aksesoris gerobak sungguh menarik bergelantungan sebagai hiburan bagi si kecil, boneka beruang, alat-alat masak, kipas angin bekas dan bermacam-macam wig rambut menjadi permainan si bocah perempuan. Lumayan bagus gerobaknya kalau saja dilihat dari jauh, bersih dan terang sekali warna cat-nya, seperti pengembara yang mencari kebahagiaan sementara dalam proses perubahan hidup yang lebih bagus atau cara kematian yang lebih baik. Sebagai bentuk perasaan sederajat untuk berkesempatan menghirup udara kebahagiaan yang sangat panjang waktunya.
Botol-botol plastic menjadi bahan interior ruangan gerobak 3X1,5 meter dan dibelakangnya terdapat plat nomor motor yang sudah di ubah angkanya menjadi huruf yang bertuliskan B4501DEH(red.Jakarta asoi deh) lalu ada tulisan wong cilik. Merk-merk botol plastic menjadi pelajaran ingatan sejarah kehidupan tersendiri bagi si kecil, sungguh mengenaskan belajar membaca dari botol dan kaleng. Hingga tidak pernah melihat gambar presiden dan para menteri yang berkuasa atas hidupnya di negeri bernama Indonesia.
“Ayo jalan terus pak”teriak si kecil tersenyum cantik, sambil tertawa polos melihat ulah bapaknya yang sedang mengoyangkan pantatnya beraksi menarik gerobak. Melenggak lenggok ke kanan dan kiri seperti penyanyi dangdut. Suara nyanyian seadanya mengiringi langkah sang bapak menarik gerobak yang entah kemana tujuan akhirnya, mengajak dunia menjadi sahabat terbaik dalam hidup bukan sebaliknya berubah menjadi penjara kehidupan.
Kalau hari sedang beruntung, si kecil cantik akan mendapatkan boneka-boneka Barbie miss Universe yang sudah terendam banjir, bantal warna-warni dan perlengkapan makan. Biasanya barang-barang ini ditemukan di komplek perumahan Jakarta yang terendam banjir musiman. Kardus-kardus mie menjadi alas untuk berbaring tidur melihat jutaan bintang berkerlip, pertunjukan bagi pemulung yang bukan pengamat astronomi. Rintikan hujan merupakan berkah bagi bumi, panas matahari bersinar terang untuk berganti malam. Gerobak tua tetap merambat di kebisingan malam, saling berlomba dengan mobil dan motor memakai badan jalan untuk kesebuah tempat peristirahatan yang lebih baik agar tidak terkena hujan.
Sang bapak kesulitan menemukan tempat berteduh untuk menepi agar anaknya bisa tertidur lelap merasakan lelahnya perjalanan hidup mencari sampah metropolitan.Dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju base camp pemulung karena siang tadi ia mencari sampah di daerah barat Jakarta. Terowongan Grogol biasanya menjadi hotel peristirahatan sementara, kavling-kavling pemulung keranjang dan gerobak sudah berdiri sehabis adzan maghrib berkumandang. Mereka ada yang menjemur dan mencuci pakaiannya dan sebagian memisahkan sampah-sampah metropolitan untuk di tukarkan uang. Gerobak disandarkan ke dalam terowongan gelap, selimut terpal digunakan untuk menutupi atas gerobak dijadikan atap penutup. Sang bapak lantas melompat ke dalam gerobak berbagi tempat untuk terlelap bersama dengan si kecil.
“Tidurlah dengan sejuta impian anakku”
“Pejamkanlah matamu, banyak cahaya bintang yang dapat kau raih sayangku” sambil mengusap kening si kecil cantik yang sedang tertidur pulas mengeluarkan air liur membentuk noda-noda putih di badan boneka beruang.
Angin berhembus perlahan pada awalnya, lama kelamaan menjadi udara dingin yang tidak menyenangkan. Berhimpit sejajar mencari kehangatan malam, si kecil cantik terbangun oleh dinginnya malam.
“Bapak sayang, aku dingin”
“Bapak, aku dingin”
Terbangun sang bapak mendengar suara anaknya meminta.
“Anisa Sayang, bapak ambilkan kain sarung ya”
Bocah kecil cantik bernama Anisa, menganguk polos mengisyaratkan kepada sang bapak yang tampak pucat kekurangan tenaga, setelah seharaian menapaki jalan-jalan raya dan puluhan lampu merah juga bak sampah perumahan. Hanya selembar kain sarung berwarna biru kotak-kotak putih terselip rapi ditumpukan kardus mie instant, peninggalan dari almarhumah ibunda Anisa kecil. Ibunya meninggal 2 tahun yang lalu, menurut kisah sang bapak, ia meninggal karena sakit paru-paru yang sudah menyiksanya selama 3 tahun. Cuaca dingin dan kondisi kesehatan tubuh tidak dapat lagi mempertahankan roh yang bersemayam menemani raga yang lapuh karena penyakit.
Saat malam itu memang tidak bersahabat, hujan bertambah deras dan lebat,butitran air hujan berjatuhan mengenai bagian gerobak tua, tubuh Anisa kecil terasa panas sekali. Kepanikan dan ketakutan tersirat dengan jelas dari wajah pak Kardi, hati bertanya dengan logika. Ada apakah gerangan yang akan ia lalui untuk merasakan kehidupan berbeda. Cepat bertindak atau akan terlibat dengan perubahan nasib?.
“Anisa anakku, bapak akan mencari tempat yang lebih hangat untukmu sayang”sambil mengelap keringat yang menetes dari keningnya dan leher.
Bangkit dari ketakutan, bergerak menyelusuri dinginya malam agar tampak istana kehangatan bagi Anisa. Dia adalah harta keluarga pak Kardi yang paling berharga untuk menemani hidup berbagi suka dan duka, setelah itu gerobaknya yang tidak pernah mengeluh mendengarkan cerita hidupnya. Gerobak kayu seperti suara tank tempur memecah keheningan malam,laju ban karet roda dua yang berbenturan dengan batu jalanan menjadi tanda irama tersendiri di tambah lagi suara kaleng-kaleng yang bergelantungan di sisi gerobak, membuat Anisa tertidur pulas di dalam gerobak. Pak Kardi mencari kelompok cahaya terang, agak jauh lagi ia mendapatkan kerumunan pemulung yang sedang membuat api untuk menghangatkan badan sekaligus mengusir nyamuk. Lantas Pak Kardi menurunkan Anisa dari dalam gerobak dan membuat api kecil, berharap suhu badan anaknya menurun. Biasanya Pak Kardi hanya menepikan gerobak di pinggiran pohon asem dekat kali penghubung sawah perbatasan desa dan perkotaan. Sebelum ibunda Anisa meninggal, mereka mendirikan rumah kardus di bawah terowongan jalan tol jagorawi. Kalau malam hari datang, mereka mendapatkan kehangatan sedikit dari beton-beton penyangga jalan sebagai penahan angin.
Nyala api ungun menjadi hiburan bagi semua golongan umur pemulung, mereka disana dapat berkumpul dan berbagi makanan bersama teman-teman gerobak yang lain sehabis berjuang melawan hidup. Bocah-bocah kecil berlarian diantara orang dewasa yang sedang bercakap-cakap, beberapa anak besar berumur 8 tahun mencari kegiatan menghafalkan nyanyian untuk mengamen di jalanan dengan alat-alat musik sedapatnya yang mereka buat sendiri hingga mengeluarkan nada. Malam bertambah sunyi, satu persatu merebahkan tubuhnya beralaskan kardus, terbuai dalam dunia impian masing-masing.
Pagi hari mulai menampakan sinarnya, kendaraan di jalanan sudah ramai mengangkut penumpang yang ingin pergi ke pasar dan berangkat ke kantor. Gerobak perlahan-lahan bergerak menghilang menuju tempat pemukiman yang lebih mapan, berharap mendapatkan barang yang masih bagus untuk ditukarkan menjadi uang agar dapat makan untuk hidup. Pak Kardi menarik gerobaknya ke arah Rawamangun, dari tempatnya berangkat ia sampai kira-kira jam 13.00 wib. Keadaan Anisa bertambah buruk, suhu badannya tidak mengalami perubahan. Suara bising kota menambah lambat laju gerobak, langkah kaki berlomba dengan bayangan sinar matahari. Asap-asap kota menjadi aroma perangsang, debu jalanan menjadi masker awet muda.
“Bapak, Anisa minta minum air putih”Pak Kardi segera mengambil air putih dari samping gerobak.
“Minum yang banyak, Anisa sayang”
“Anisa mau main di taman kecil”
“Sebentar lagi kita berdua sampai disana”Pak Kardi kembali menarik gerobaknya menuju taman kecil.
Sebuah taman berumput hijau di tumbuhi bunga berwarna warni, berkembang merekah di pingiran pagar pembatas trotoar jalanan. Biasanya ada pohon palem menjuntai dihiasi lampu kecil berkelip-kelip, kalau siang hari tempatnya sangat sejuk. Banyak para pemilik gerobak merebahkan tubuhnya untuk melepaskan lelah.
Anisa terbangun dari mimpinya, dan berdiri di dalam gerobak.
Ia bercerita sendiri dengan bapaknya seperti mengigau, ia menceritakan bagaimana gerobak tumpangannya sekarang ini dapat terbang kemanapun Anisa inginkan. Sebuah gerobak kencana yang dihiasi bermacam-macam boneka cantik dan bantal-bantal warna-warni, baju-baju bagus yang berbau harum sudah siap berada di dalam gerobak. Anisa senang sekali menceritakan mimpinya itu kepada sang Bapak yang hanya menganguk menyakinkan bahwa Anisa akan mempunyai gerobak kencana setelah ia sembuh dari sakitnya.
“Nanti bapak tidak usah menarik Anisa lagi”
“Karena Gerobak Anisa bisa terbang mengeluarkan sayap putih yang besar”Katanya bersemangat menyakinkan bapaknya.
“Bapak hanya menceritakan dongeng saja buat Anisa”
“Iya sayangku Anisa, bapak akan bercerita sampai kamu tertidur”
Lalu Anisa terdiam kembali melihat laju jalan gerobak.
Gerobak tetap berjalan dengan kecepatan standar dalam keadaan jalanan yang cukup ramai. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah pinggiran desa, jalan pintas yang paling dekat untuk menuju taman kecil.
Perjalanan tinggal beberapa kilo meter lagi untuk bersandar melepas lelah. Pak Kardi melewati sekolah SD lalu Anisa minta berhenti sejenak untuk melihat anak-anak seumurnya berlarian bermain di taman sekolah. Ia turun dari gerobaknya dan meminta pak Kardi menemaninya bermain ayunan. Canda tawa terpancar dari wajah cantik Anisa, hati sedih menghampiri perasaan Pak Kardi melihat anaknya begitu bergembira setelah tadi malam ia mengalami demam.
“Bapak, Anisa mau bermain disini terus”
“Nanti setelah kamu besar Anisa”
Setelah ia mulai bosan dengan permainan di taman sekolah, mereka melanjutkan perjalannya menuju taman kecil. Jalanan aspal mulai tampak terlihat, trek perjalanan bonus bagi Pak Kardi karena jalanannya lebih mulus dari pada jalan desa yang banyak batu, licin dan becek apabila hujan sudah membasahi daerah itu. Anisa melihat seorang penjual arum manis berwarna merah muda, sungguh mengoda ingin mencicipinya.
“Bapak, aku mau arum manis”katanya
“Kamu mau berapa arum manis Anisa”
“Satu saja yang warnanya ada dua macam”
Pak Kardi menghampiri tukang penjual arum manis yang kebetulan teman nobrolnya di taman kecil.
“Cak aku beli satu Arum manisnya untuk Anisa”
“Anisa ayo kesini”pinta Pak Rustam penjual arum manis.
“Anisa sedang sakit Pak Rustam”
“Sudah di bawa ke dokter Pak Kardi”
“Mana cukup uang saya untuk berobat”
“Nanti pasti juga sembuh, maklum penyakit anak jalanan”
“Bawa saja, arum manis ini untuk Anisa”
“Terima kasih Pak Rustam”
“Anisa, Pak Rustam kasih yang paling besar ya”sambil mengelus keringat yang ada di keningnya.
“Hore, hore, terima kasih Pak Rustam”
“Cepat sembuh cah ayu”
Mereka berdua dan gerobak impian kembali meneruskan perjalanan, sambil terceletuk sebuah nyanyian baru untuk Anisa dari bibir Pak Kardi menghibur.
“Cah Ayu makan arum manis”
“Selalu tersenyum di jaman krisis”
“Anisa sayang dalam hati bapak”
“Tidak bersedih juga menangis”Pak Kardi sambil memperlihatkan goyang pantatnya. Tawa keras Anisa membuat energi baru untuknya menghadapi absensi kehidupan.
“Bapak makan arum manis juga ya”sambil menyuapi Pak Kardi yang sedang menarik gerobak.
“Terimakasih cah ayu manis”sambil terus bernyanyi
“Anisa mau tidur ya Bapak”
“Nanti arum manisnya Anisa simpan dulu”
“Biar bisa dimakan di taman kecil”
“Anisa, sayang sekali sama bapak”sambil memeluk lehernya dan mencium pipi bapaknya.
“Bapak juga sayang sekali sama Anisa”
“Nanti pasti Anisa ketemu sama gerobak terbang”sambil bercerita sendiri
Hari ini begitu indah, semua mempunyai hal yang tidak terduga. Manusia hanya menjalani kehidupan tapi hanya Dia yang mempunyai kehendak untuk memutuskan. Perjalanan Pak Kardi dan Anisa sudah cukup jauh dari barat ke timur seperti arah mata angin yang ingin berhembus kemana saja. Setelah mereka berbagi canda dan tawa kebahagian, Anisa tertidur pulas di dalam gerobak. Sebentar lagi akan tampak deretan hijau di samping kali, sangat rimbun sejauh mata melihat. Laju langkah bertambah cepat menarik gerobak, perlahan tapi pasti akan bersandar. Sampailah mereka bertiga di taman kecil, Pak Kardi melepaskan pakaiannya yang penuh keringat dan menjemurnya dekat pagar pembatas. Ia membiarkan Anisa tertidur hingga sore hari, lalu ia jalan ke warung untuk membeli nasi bungkus. Ketika lampu-lampu kota taman kecil sudah menyala, ia tidak melihat Anisa berlari menghampirinya. Gerobak tetap menepi pada posisinya tidak bergeser sedikitpun.
“Anisa, Bapak bawa nasi bungkus kesukaan kamu sayang”
Tidak ada jawaban dari dalam gerobak, hanya terdengar suara pemulung lainnya yang sedang bercakap-cakap. Pak Kardi langsung berlari kearah gerobak dan mengendong Anisa keluar dari dalam gerobak.
“Anisa, ayo bangun sayang”
“Bapak bawa makanan, biar kamu cepat sembuh”
Terkejut Pak Kardi yang melihat anaknya sudah tergolek lemas di tanah pertiwi.
“Innanlilahi rojiuun”
“Semua kembali hanya kepada-Mu”
Pak Kardi menangis terisak-isak melihat putri kesayangannya telah meninggal. Semua teman-temannya hanya melihat dan turut berduka atas musibah yang dihadapinya, karena keadaan mereka tiap hari selalu melawan kondisi yang akan mereka alami kapanpun dan dimanapun untuk sebuah pengorbanan hidup yaitu kematian. Jenazah Anisa digendong dengan tangan penuh kasih sayang, ia berjalan menuju rumah-rumah besar untuk meminjam sedikit uang untuk biaya penguburan. Dari pagar besi besar, sampai benteng batu semuanya terbisu tak berkata dan bertindak. Hanya lolongan anjing pengusir tamu yang menyambut, tanpa terasa Pak Kardi telah berkeliling jauh di seputar perumahan kota. Ia kembali menuju taman kecil dan menshalatkan puterinya dan membacakan doa agar ia bertemu ibunya di sorga dengan menaiki gerobak kencana impian Anisa.
Takbir adzan subuh mulai terdengar perlahan, hawa sejuk embun dari pepohona berjatuhan tertiup angin pagi. Bunga-bunga mengeluarkan aroma wangi, kembang kamboja jatuh berguguran. Jenazah Anisa dikuburkan di tempat impiannya taman kecil, Pak Kardi membungkusnya dengan kain sarung peninggalan Ibunda Anisa. Sebuah pemakaman sederhana yang dilakukan untuk penghormatan kepada Anisa tercinta, kuburan kematian tanpa batu nisan, identitas kelahiran, keturunan dan jaman. Tempat istirahat tidur panjang yang sangat nyaman, hanya diketahui sebatas cerita dari percakapan-percakapan pemulung gerobak tempat mati. Tanah Ibu Pertiwi lebih siap menerima dan mengenal siapa nama Anisa, seorang bocah perempuan kecil yang masih penuh canda dan tawa.
Hari terus berlalu, waktu tak terasa beranjak perlahan. Umur kehidupan semakin tua untuk tempat melepas semua lelah dan penat, tapi tidak putus asa. Pak Kardi tetap berjuang menjalani profesinya sebagai pemulung gerobak. Sebuah tempat kematian yang akan dijadikan tidur panjang!?
@pay, menjangan no 25.
peybalibli@rocketmail.com


















