Tags
Related Posts
Share This
MALAM MALAS SEEKOR KUCING
Cerpen oleh Berto Tukan
Seekor kucing mencuri dua ekor ikan lele yang kusantap beberapa jam lalu sehinga tersisalah lapar yang tak terperikan pada pukul 02.00 dini hari ini.
Tak ada keramaian yang berarti di sekitar tempat tinggalku sehingga mencari makanan pada waktu seperti ini sungguh butuh usaha keras, jika tak mau disebut sia-sia. Kuburkanlah anganmu bertemu sepiring nasi. Semangkuk indomie rebus pun terkadang menjadi komoditi berharga. Double indomie pasti lebih dari cukup jika demikian; terkadang kita harus belajar untuk tak memanjakan perut.
Angin malam biasa-biasa saja, langit malam pun tak mau kalah. Aku berjalan sendirian ke arah warung indomie. Gang malam hari di kampung ini pun biasa-biasa saja; dua ekor tikus gemuk nan sehat berkejar-kejaran di samping parit. Seekor yang lebih kecil—kau tentu saja tak akan menemukan dua makhluk hidup dengan kesamaan yang sangat di dunia ini; jika itu terjadi, percayalah matamu yang salah—meloncat dari samping parit ke pagar putih sebuah rumah berbatu bata hitam. Memanjat sedikit, ia kini mendekam di dalam pot putih, rumah sebuah bunga palem kecil. Tikus yang lain dengan mata menyala mengikutinya. Mereka bergumul di sana; sebatang palem patah, bergelayutan, kehilangan keindahannya.
Aku berjalan terus. Semakin terbiasa engkau berjalan malam di tempat ini, semakin tahulah engkau bahwa dua ekor tikus yang tertangkap mata adalah petanda baik. Tinggal satu kelokan lagi dan sampailah di warung indomie tujuan. Bulan tak terlihat, apalagi galaksi Andromeda.
Hei, tahukah kau bahwa setiap kali memandangi langit malam yang kau lihat adalah hamparan masa lalu? Jarak setiap bintang oleh para astronot kita diberi satuan tahun cahaya. Tahun cahaya! Misalkan saja bintang yang tepat di atas kepalaku ini berjarak 1.000 tahun cahaya dari bumi. Nah, yang kulihat saat ini adalah cahaya yang terpancar dari bintang itu sejak 1.000 tahun yang lalu.
Hem, itu jaman ketika, kira-kira, di Eropa kekristenan tengah menjadi momok menakutkan bagi para pemikir bebas dan di Nusantara para pedagang Islam dari India tengah bercinta dengan gadis-gadis pribumi bergigi hitam berkulit legam. Mungkin saja, saat ini, bintang itu tengah hancur berkeping-keping lantaran sebuah perang saudara antar planet di tata surya asing itu. Mungkin saja. Dan dengan sedikit imajinasi tak penting maka aku akan membayangkan beribu tahun lagi makhluk yang tersisa di sana mencapai bumi. Betapa kecewanya mereka ketika menemukan kondisi bumi yang lebih menakutkan dari pada The Book of Eli atau The Road.
***
Spanduk kampanye pemilihan presiden dua tahun silam yang sudah kumal jadi penutup jendela berterali kawat warung itu. Ketika masuk ke dalamnya, kudapati seekor kucing asik menyantap dua ekor ikan lele yang ditata rapi di piring putih. Si Kucing tak menyadari kehadiranku. Rupanya parfum yang kubeli dari tukang daging mantan majikan Jean-Baptiste Grenouille cukup mujarab. Ah, orang Perancis bodoh! Gadis perawan cantik delapan belasan tahun hanya diaromai tanpa ditiduri. Jarang kutemukan lelaki sebodoh dia.
Kuletakan pantat di samping Si Kucing. Bulu-bulu putihnya sedikit basah. Tercium aroma Lux bercampur susu basi dari sela bulu-bulunya.
“Hey, memang Mang Usman sudah nambah menu baru?”
“Oh tidak. Ini saya bawa dari rumah. Tak asik makan di rumah karena istri dan anak saya sedang karaokean.”
“Hem, ketahuan. Anda tipe kucing yang suka jajan.”
“Sayangnya, kami tak kenal uang. Jadi saya tak mengerti apa yang anda maksudkan dengan jajan.”
Mang Usman sudah muncul dari pintu belakang. Pembicaraan yang berpotensi perdebatan itu tak berlanjut; Mang Usman langsung menghantamkan gagang sapu ijuk ke arah Si Kucing. Kucing itu kabur. Ia melompat, sedikit menggelayut pada spanduk kampanye presiden kumal itu, lantas menyelip lewat kaki bangku dan menghilang lewat pintu warung samping kiri. Separoh lele kedua ditinggalkannya.
Tiba-tiba, keinginan untuk sakit kepala menghinggapiku.
Sambil membersihkan tulang-tulang lele yang berceceran di meja, Mang Usman coba mengajak bicara perihal Timnas yang tak juga mempersembahkan kebanggaan. Aku enggan menimpali. Bukan lantaran tak suka bola atau tak nasionalis, namun kehilangan dua ekor lele yang sudah berhasil masuk ke dalam perut masih merupakan pukulan telak di malam hari yang tak bisa dilupakan begitu saja.
Mang Usman tak mau menyerah.
“Eh, tau ngga. Ada tiga pemain lagi yang mau dinaturalisasikan. Aneh ya. Coba jaman 70-an dulu. Tinggal taro orang Papua Ambon bek, Jawa di tengah, sayap Sulawesi, depan Batak, udah deh. Menang kita.”
Mang Usman menatap dalam-dalam mataku yang mulai berat. Hah, begitu dengusku.
“Lu Ambon kan? Bisa bola dong?”
“Ga. Dibolain ia. Eh, mie goreng double-nya cepatan dong.”
Sehabis menyantap indomie, aku melangkah pulang. Sebatang Djarum Super untuk pagi yang menjelang cukup baik bagi otak yang buntu. Ternyata ia sama sekali tak membantu. Tetap saja otak ini buntuh; tak tahu apa yang harus dilakukan tubuh. Tidur? Mata belum lelah. Tak tidur? Tubuh terlampau ringkih untuk berjaga. Sedangkan kehilangan dua ekor lele yang telah kusantap masih saja menjadi pemecah batu yang menghentak-hentak di dalam kepala.
Ah yah. Berkunjung saja ke rumah kucing itu. Selain perdebatan yang terputus tadi bisa dilanjutkan, ada kemungkinan untuk meminta ganti rugi atas lele yang dicuri dan yang telah disantapnya tadi. Memang masih tersisa separoh yang ditinggalkannya di warung tadi. Namun kondisinya sudah tak laik untuk dikembalikan ke perut. Pertanyaan berikut adalah harus kemanakah kaki ini melangkah untuk menemukan rumah kucing itu?
Hem, tentu saja tak ada tetangga yang dengan rela menjawab pertanyaan itu baik-baik lantas tidak menyarankanku untuk pulang ke rumah dan mencoba tidur saja. Bisa jadi mereka membekali dengan dua tablet obat tidur pula.
Bayangkanlah diri anda ada pada posisi tetanggaku itu. Ketika anda tengah bercinta, tiba-tiba pintu depan diketuk dengan nada tergesa-gesa. Aku percaya, anda orang baik sehingga setelah mengenakan celana dan baju kaos, anda akan bergegas ke depan dan membukakan pintu. Dengan sedikit sebal yang terpancar dari mata dan garis bibir, anda lantas berkata, “ya, ada apa? Bisa dibantu?”
“Maaf, tahu kira-kira ke mana kakiku seharusnya melangkah sehingga kucing yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap tadi bisa kutemukan?”
Hem, aku tentu saja tidak bisa secara sepihak mengatakan bahwa anda akan membanting pintu dengan keras lalu berteriak dari dalam rumah demikian, “orang gila! Angkat kaki sekarang dari depan rumahku!”
Tidak. Ada baiknya kita membeberkan beberapa kemungkinan tanggapan anda.
Kemungkinan I: Anda termasuk orang yang mau menyibukkan diri dengan hal seremeh apa pun meski itu sangat tidak menguntungkan anda bahkan merugikan. Jika demikian, anda pasti akan menyuruhku menunggu sebentar atau mempersilakanku masuk. Ah, mari kita ambil yang terakhir. Anda mempersilakanku masuk dan membuat dua gelas kopi. Setelah itu kita terlibat dalam perbincangan seru; entah tentang Kaum Ahmadiyah yang hidup dalam kecemasan tiap hari, entah kemungkinan pertarungan antara Sri Mulyani dan Ani Yudhoyono pada pemilihan presiden kali depan. Ternyata dua topik itu tidak membuat kita larut dalam perbincangan hangat; kita mungkin tipe kelas menengah kota yang apatis dengan politik dan merasa dengan pendapatan per bulan dan segala kemudahan dari instansi tempat kita bekerja kita sudah tak butuh manusia lain lagi untuk hal-hal yang penting.
Kita lantas berpindah pada Let The Right One In dan Harry Potter yang pada akhirnya membawa kita pada perbincangan seputar Holly Grail dan pemujaan setan di Bavaria.
Perbincangan tersebut membawa kita kembali memandang matahari yang selalu menanti pandangan kita kembali. Anda lantas tak masuk kerja dan setelah mempersilakan dengan sangat sopan sekali padaku untuk pulang, masuk lagi ke kamar dan kembali tidur. Lima menit kemudian anda sudah nyenyak lagi. Dan aku kembali berpikir tentang bagaimana cara menemukan alamat Si Kucing pencuri itu. Ternyata anda tak membantu apa-apa walau pun anda memang bisa dilabeli sebagai orang baik.
Kemungkinan II: Anda tipe pekerja kantoran yang tak mau sedikitpun terganggu ritme kerjanya. Apalagi, kantor anda termasuk tempat bekerja yang tak mentolerir kemalasan pekerjanya. Namun sebagai pekerja sukses dengan segudang angan-angan akan menjadi tokoh masyarakat di perumahan yang bahkan banjir pun enggan melirik ini, anda dengan sangat sabar menenangkan kegondokan hati. Anda membuka pintu dengan perlahan, bertanya padaku tentang keperluan apa yang membuatku bertamu di dini hari ini. Aku tentu, demi menghormati sopan santun yang anda tampilkan, akan bertanya dengan penuh sopan santun apakah anda tahu ke mana harus melangkah agar bisa menemukan Si Kucing yang mencuri dua ekor ikan leleku. Dengan sopan anda menjawab tidak tahu dan menyarankanku untuk bertanya pada Mang Usman. Kita semua tahu, di jam seperti ini Mang Usman sangat senang mendapatkan teman bicara.
Kemungkinan III: Bebunyi dengan irama SOS yang membahana menghatam pintu rumah anda. Bahkan Paul Lafargue sekalipun, jika ada di sana, pasti akan segera terbangun mendengarnya. Anda memakai celana cepat-cepat dan melangkah ke pintu depan, membukanya, memakiku sebagai orang yang tak tahu sopan-santun. Lantas, seribu kata kotor berhamburan bak buang air besar setelah dua belas jam ditahan. Sakit perutnya bukan karena sudah makan, justru karena terlambat makan.
Tak ada alasan untuk tak marah. Setelah puas, anda menutup kembali pintu dan kembali ke kamar tidur. Sebelum kepala kembali menyentuh bantal, bunyi lemparan batu diikuti jatuhnya kaca ke lantai menambah murka anda. Berjalan ke depan, sebuah batu kembali melayang ke kaca jendela. Lagi-lagi pecahlah kaca itu dan berhamburan di lantai ruang tamu. Anda membuka pintu hendak mengeluarkan sejuta kata kotor lagi—dalam beberapa film Hollywood tentang masa awal kehidupan orang Eropa di benua Amerika, adegan ini biasanya diikuti dengan seorang lelaki melangkah ke dinding dan mengambil senapan yang tergantung di sana—namun batu ketiga tepat mengenai dahi anda dan terjatuh tak sadarkan dirilah anda.
Begitulah. Tentu bukan tiga kemungkinan saja. Masih banyak lagi. Bahkan dari satu kemungkinan dari tiga kemungkinan di atas, bisa dibuat berbagai variasi lain. Aku tahu itu. Dan malam tidak lantas menjadi menyenangkan dan lantas Si Kucing pencuri hilang begitu saja dari kepalaku, tidak. Memang, tak ada yang bisa membantu di malam ini.
Batang kedua Djarum Super sudah mengabu di asbak. Filternya penyot dengan bara api yang hanya menunggu waktu untuk kalah. Menyedihkan. Lapar semakin menjadi, bayangan Si Kucing pencuri membuat mual namun perut yang tak terisi apa-apa membuat mual tak menjadi muntah. Rasa asing yang mencekam menghinggapi malam sedangkan bunyi rintik hujan di luar sana terasa di kulit bagaikan permukaan sandal reumatik yang dililitkan di sekujur tubuh.
Tom Waitz bernyanyi malas-malas tentang keinginannya berhenti bekerja sekarang juga. Ah, aku teringat kantor dan besok harus bekerja lagi. Tetapi bayangan Si Kucing pencuri yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap membuatku berpikir seribu kali untuk masuk kantor enam jam lagi. Hem, maka, sebelum kita benar-benar bertemu matahari, Si Kucing itu harus kutemukan. Ah, tak perlulah kau membantu. Aku sudah sangat senang menemukan seorang pendengar yang mau mendengar ocehanku. Kau tahu, tak ada kawanku yang sesabar dirimu menghadapi ocehan-ocehanku. Yah, barangkali kau juga sesakit aku.
***
Djarum Super batang ketiga bertengger di mulutmu kini. Dengan sedikit memicingkan mata, kau nyalakan geretan dan membakar ujungnya. Kau buka pintu kamar, turun dari lantai dua ke lantai satu. Tiga orang menatapmu curiga; yang satu di depan tivi, yang lainnya membolak balik koran terbitan tiga hari yang lalu, sedangkan yang terakir tengah meletakan gelas di samping tivi. Kau membuka pintu depan dan berjalan ke luar. Gerimis masih saja seperti tadi dan tubuhmu kini seperti ditusuk-tusuk garputala. Kau melangkah dan tiga orang yang menatapmu curiga mulai kasak kusuk; mungkin tengah membicarakanmu, mungkin menggosipkan tetangga sebelah.
Seakan malam ini akan segera berakir. Kaki melangkah perlahan-lahan. Yang kuharapkan, dua ekor tikus yang bermain-main di parit tadi bisa membantu menemukan alamat Si Kucing. Impian itu membuat aku berbelok ke arah kiri di pertigaan pertama yang kutemui. Zat cair dalam tubuh tak mau kaki melangkah perlahan-lahan. Oleh karenanya, ia mengirim tujuh pleton pasukannya ke kantong kemih. Frase paling indah tentang kenestapaan malam pun tak mampu membuatmu berjalan pelan. Rahang kau katupkan, tangan kau kepalkan. Enyahlah keinginan membalas dendam, walau pun lapar masih mengganggu ulu hati. Namun rongga kloset jongkok di toilet rumah menjelma surga tiba-tiba. Ini malam laknat karena kantuk tak juga muncul. Aku sadar, malam seperti ini adalah malam yang mesti dilalui entah setahun sekali entah dua tahun sekali.
2011


















