PADA SEBUAH RUANG
Aku berjalan gontai, menerawang saat yang aneh hari ini, rokok di tangan kiriku mengepulkan asap ke mata, terasa pedih, kuusap sesekali mata yang perih sambil memaki liuk angin yang membawa asap itu ke mataku, kuhisap sekali lagi, lalu kulempar jauh-jauh dan kuhampiri puntungan itu untuk sekedar kuaniaya ia dengan sandal jepitku. Kutatap sekelilingku, kebun tanaman milik Tuan Sugani memang sangat luas.
Mata ini terus berputar, mengikuti intruksi yang diberikan otak. Selintas aku melihat dua orang yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Namun aku tak tahu dengan pasti siapa dua orang itu sebenarnya. Kucoba picingkan mata dan mengangkat satu persatu kakiku untuk melangkah, semakin lama tubuh dua orang itu semakin membesar di mataku. Kulihat salah satu dari mereka berdua mengacung-acungkan tangannya, seperti memarahi atau mengintrogasi orang didepanku.
Aku hafal betul bagaimana perasaan orang yang sedang diinterogasi, akupun jadi ingat ketika masih menjadi mahasiswa dulu, belum usai demonstrasi yang kami lakukan, kami digiring di bawa ke kantor polisi, diinterogasi habis-habisan, dan akupun tahu betul bagaimana perasaanku saat itu, mungkin saja orang yang ada di hadapanku ini merasakan hal sama. Namun Lamunanku tiba-tiba buyar ketika aku dapati kedua orang yang ada di hadapanku ternyata Tuan Sugani dan Ayahku sendiri.
Jantungku seakan berhenti ketika lagi kudapati orang berada di posisi terintrogasi itu adalah ayahku. Kepalanya tertunduk takut, tubuhnya coba ia tahan dengan gagang pacul yang bertumpu pada tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia lipat mencengkram erat tangan kanannya. Keringatnya mengucur deras, dahinya dikerutkan rapat-rapat, mirip parit-parit yang menampung air keringat dari batas kulit rambutnya. Bibirnya mengatup disembunyikan ke dalam mulut, mungkin saja kini bibir itu sedang membagi ketakutannya pada gigi-gigi, lidah dan air liur yang terus saja lari menuju tenggorokannya.
Ketakutan yang luar biasa yang pernah aku saksikan. Seketika darahku terasa mendidih, tubuhku menjadi panas, tatapanku berubah menjadi tajam, kupicingkan mataku seadanya, tanganku terkepal dengan sendirinya. Darahku semakin mendidih ketika aku melihat wajah ayah dihantam tangan kanan Tuan Sugani kuat-kuat.
Aku berteriak seadanya, dua orang dihadapanku kaget mendengar teriakanku. Aku gelap mata, kulangkahkan kaki dengan cepat, kuraih benda dari genggaman tangan kanan ayahku, begitu mudahnya benda itu terlepas, mungkin tangannya terlalu lemah, atau barangkali aku yang begitu kuat meraih benda itu. Tanpa pikir panjang, kuhantamkan benda itu kuat-kuat kearah kepala Tuan Sugani, ia menghindar seadanya, namun benda itu terlanjur tepat mengenai kepala bagian kanannya, ia terkapar kesakitan, ayah menahan tubuhku dari belakang, ia dekap kuat-kuat tubuhku yang terbakar emosi, kupalingkan wajahku, menatap sejenak wajah ayah, namun justru rasa benci yang aku rasakan, kubongkar sekencang-kencangnya lingkaran tangan ayah, begitu kuat, sekuat masa kaum buruh yang protes terhadap kapitalisme, fantasi perjuangan kaum proletar menghadapi das capital yang selama ini aku rasakan hanya ketika membaca buku-buku perlawanan, kita terasa nyata di relung-relung emosi jiwa yang membuncah, begitu membeludak, fantasi it uterus terus berlanjut saat kuhempaskan tubuhnya dengan punggungku, kubiarkan ia jatuh di atas tanah yang lembab, rasa hormat dan ibaku kini mungkin tak mampu menandingi tumpukan bara api yang menyala di rongga urat syaraf otakku.
Tuan Sugani, di mana dia? Tanyaku dalam hati, mataku liar mencari, dimana ia? Nah, di situ rupanya, tidak begitu jauh kudapati ia sedang terserok-serok berjalan dengan menyeret pahanya, kepalanya berlumuran darah segar, aku hanya tertawa kecil, kuburu ia dengan langkah yang santai, kau tak akan kemana-mana, gumamku dalam hati, kuhampiri ia sembari mengumpulkan seluruh tenaga di tanganku, kuangkat tinggi-tinggi benda di kedua tangan ku, kuhujami ia dengan kata-kata makian sejenak, lalu kuhantam kepalanya berkali-kali, teriakan dan percikan darah di sandalku membuat aku merasa tenang, dingin darah yang membutir di sekitar kakiku bagai embun pagi, ada getar kepuasan di sana, begitu menggebu-gebu, begitu mars, aku menikmati setiap detik engahan nafasnya yang semakin lama semakin hilang dibawa angin.
Kuhentikan perlakuan kejiku, kulempar jauh-jauh benda itu, kedua telapak tanganku merekah, menjadi begitu dingin tertiup angin, kuperhatikan wajah Tuan Sugani yang telah menjadi entah apa nama dan istilahnya, mungkin Bubur atau Perkedel, candaku dalam hati, yang pasti ia tak bergerak lagi, kusentuh tubuhnya dengan kaki untuk memastikan kalau ia benar-benar sudah tak bernyawa. Perlahan kutarik nafasku yang berat, bau anyir darah mampir di kedua lubang hidungku. Mampus kau! Makiku untuk terahir kali.
Tidak begitu lama tiba-tiba kepalaku tertimpa sesuatu. Seperti sebuah benda keras menghantam kepala bagian belakangku, keras sekali, aku terjatuh tersungkur ke tanah, hidung dan mulutku menghantam bumi, tanah-tanah kini menghuni sekitar mukaku, kuputar sedapatnya tubuhku yang tersungkur perlahan, aku ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku, samar-samar kudapati wajah ayah yang beringas, telingaku kedap, nampaknya telingaku tak lagi berfungsi, kulihat ayah menggerakkan terus mulutnya, nampaknya ia sedang memakiku, fikirku. lalu ia mengangkat tinggi-tinggi benda di tangannya, dan menghantamkan benda itu berkali-kali ke arah kepalaku, berkali-kali, tiba-tiba semuanya gelap.
Mataku tiba-tiba saja terbuka, keringat hangat mengucur di seluruh tubuhku, sendi-sendi tulang seperti usai dipukuli, seperti biasanya kulirik samar jam dinding pemberian salahsatu partai tahun lalu, pukul satu pagi ucapku lirih, aku tatap langit-langit kamar, semuanya begitu samar, kuregangkan semua otot-ototku yang kaku, kuusap sisa keringat yang membanjiri kening dan pelipis mataku, kupejamkan kuat-kuat mataku, kucoba mengingat-ingat mimpi buruk yang terus saja berulang di malam-malamku, dalam hati aku hanya bisa bertanya-tanya, gerangan apa maksud mimpi yang selalu datang padaku.
Ayah, lagi-lagi aku mimpi bertemu mendiang ayah dan Tuan Sugani di kebunnya, kejadian itu seakan nyata dan benar-benar terjadi, bahkan kebencianku pada Tuan Sugani di dalam mimpi, masih saja terbawa saat aku terjaga. Aku bangkit seadanya, mulai kuburu sapu tangan yang biasa kugunakan untuk menyeka darah yang keluar dari hidungku setiap kali selesai bermimpi, dan aku tahu setelah ini pasti kepalaku sakit dan sialnya lagi aku takkan bisa memejamkan mata dan tertidur lagi.
Kulempar jauh-jauh sapu tangan simbahan darahku, kubanting kuat-kuat tubuhku ke atas kasur, kupandangi langit-langit yang sudah tak samar, kueja satu persatu kemungkinan yang akan terjadi, tentang sebuah misteri dan teka-teki, sambil tak sebentar menatap wajah keriput isteriku. Kekasih hati yang telah menjadi saksi beberapa puluh tahun lalu, betapa inginnya aku hidup bersamanya, kini janjiku yang usai mempersuntingnya adalah tiang lentur yang berdiri di antara hitam dan putih. Entah mengapa aku merasa selalu bahagia hidup dengannya, padahal selama hidupku, aku hanya mampu menghadiahkan seorang anak laki-laki dan pertengkaran-pertengakaran kecil.
Pada akhirnya aku harus menyakini, bahwa hidup adalah memilih. Jalan yang berliku adalah aturan baku, dan masing-masing orang harus melewati semua itu walaupun boleh memilih jalan apa saja untuk menjalani hidupnya.
Namaku Jurjani, mulanya aku adalah orang yang selalu dirundung keragu-raguan. Entah mengapa aku selalu terjebak di hari yang berlalu, hari ini dan hari yang akan datang. Aku dilahirkan seorang diri, tak mempunyai kakak dan adik, ayahku dulu seorang penjaga kebun milik Tuan Sugani, seorang kaya raya di desa kami. Ayah selalu memiliki keinginan untuk menyekolahkan aku setinggi-tingginya, mungkin lantaran aku anak semata wayangnya.
Ia selalu berharap aku takkan pernah merasakan hidup yang kini ia alami. Sikapnya selalu tegas padaku, terkadang ia dapat begitu saja marah besar kepadaku kalau aku melakukan kesalahan. Tadinya aku berfikir kalau ayah sama sekali menyesal mempunyai anak sepertiku, namun ibu selalu melarangku untuk berfikiran seperti itu, menurutnya apa yang ayah lakukan adalah semata-mata karena ia begitu sayang kepada anaknya, dan nasihat itulah yang selalu merebahkan emosiku yang deras seperti hujan menghujam bumi. Kuingat hal itu selalu ketika aku dan ayah bertengkar.
Semua kehendak ayah ternyata tak menjadi kenyataan, keinginan ayah dikalahkan garis hidupku yang ternyata hanya menjadi seorang penjaga karcis honorer di gedung museum perjuangan tua di pinggiran kota ini, kota dimana aku dibesarkan, kota yang selalu mengajarkan aku selalu bersikap was-was dan membuat kepercayaanku hanya kuberikan pada orang-orang yang tertentu yang kuanggap tidak membahayakanku.
Di gedung tua itu aku habiskan masa pengabdianku selama ini, namun entah mengapa orang-orang merasa enggan mengunjungi gedung itu, mungkin saja kini mereka merasa tak perlu mengenang sejarah, karena kehidupan yang mereka alami saat ini lebih berarti, dan mereka tak pernah merasakan pahit di masa lalu, mungkin. itu pikirku.
Pagi ini, sinar panas mentari menerobos di celah-celah rindang daun, aku memutuskan untuk tidak menjaga karcis hari ini, selain kondisi badanku yang kurang baik, hari ini aku ingin melepaskan ruang-ruang penat dalam kepalaku. Kupandangi halaman rumah dusun peninggalan almarhum ayah, tampak di sebelah kanan halaman terdapat tumpukan potongan-potongan kayu yang usai kupecahkan menjadi bahan bakar memasak di dapur, karena aku tahu menjadi budak minyak tanah sangatlah melelahkan, ditambah lagi aku tak mengenal bahan bakar gas, pernah sesekali kami diberi seperangkat kompor gas, dengan membayar sejumlah uang, namun isteriku terus saja mengeluh, karena ia sama sekali tidak mengerti bagaimana menggunakannya. Ya sudahlah akhirnya, benda itu kami jual kepada tetangga, tentu dengan harga yang berbeda.
Kutatap sebuah sumur tua dan kamar mandi yang hanya ditutupi dengan bilik bambu. Aku ingat sekali di sana Ibu memandikan aku setiap pagi dan sore. Aku jadi rindu Ibu, aku duduk di bangku panjang, di atasnya menjuntai tali-tali jemuran yang terpancang di kandang ayam, bau apek bekas-bekas kayu dan bau sampah yang habis dibakar oleh isteriku tadi pagi, membawa suara angin yang teduh di pelipis mata dan hidungku. Pagi ini terik, setelah sebelumnya hujan begitu deras.
Aku beranjak dari bangku panjang, kugapai sebilah kapak dan aku mulai memotong-motong kayu, sedangkan isteriku begitu asyik menampih beras. Kutatap wajahnya sejenak, belum kusapa ia rasanya hari ini, kubenarkan letak kaca mataku yang miring.
“Aku mimpi buruk lagi bu tadi malam.” kubuka pembicaraan dengan sisa rasa sakit di sekitar kepalaku.
“Lalu gara-gara mimpimu itu, kamu jadi tidak masuk kerja hari ini?” tanyanya. Aku hanya terdiam.
“Tentang bapakmu lagi pak?” tanyanya lagi sedikit enggan, mungkin sudah bosan, karena sudah berkali-kali.
“Aku masih heran bu, sebenarnya apa yang ingin disampaikan Tuhan lewat mimpi itu padaku.?” tanyaku serius.
“Apa mungkin tuhan menginginkan aku menjadi seorang pembunuh bu?” kataku lagi.
“Mana ada tuhan macam itu pak! kau berfikir tentang apa yang tak pernah difikirkan kebanyakan orang pak.”
“loh.. aku kan cuma tanya bu.. boleh kan ?”
“Ya, boleh tapi jangan tanyakan itu padaku…! aku kan buka paranormal!”
“Alah.. bilang saja kalau kamu malas bicara!”
“Dasar laki-laki ! bisanya cuma su’udzan! Terserahlah!”
Tampaknya Marwiyah sedikit marah padaku, aku hanya tertawa geli, beginilah keseharian kami, pertengkaran kecil bukan hal yang asing lagi bagi kami, namun tiba-tiba suasana menjadi beku, kami seakan sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing, ingin sekali aku bicara tentang banyak hal pada isteriku, namun aku yakin semua itu hanya berujung dengan perdebatan yang lucu. Namun bagiku semua itu harus aku lakukan, karena aku merasa sepi, dan hanya isteriku lah yang mampu membuncah rasa sepi itu. Perlahan kuhampiri tubuh bungkuknya, kuperhatikan setiap jengkal seonggok tubuh yang dulu kuidamkan, namun kini sudah tidak, bisikku dalam hati. Kusiapkan kata-kata untuk memulai pembicaraan.
“Ada kalanya manusia harus menerima dirinya sebagai makhluk yang sadar, bahwa dirinya itu tidak akan bisa sepenuhnya menjadikan apa yang dicita-citakannya dapat terwujud secara sempurna.” aku mulai percakapan itu setelah sejak tadi terdiam. Marwiyah Mendengarkan tidak serius, lalu sesekali memicingkan matanya cukup lama tapi tidak komentar. Aku melanjutkan ucapannya tanpa ada aba-aba dari siapa pun.
“Alam sengaja diciptakan oleh Tuhan, bukan untuk dikucilkan sebagai anugerah atau masalah. yang pasti, Dia hanya berupaya memfasilitasi ciptaannya yang diberi ruh itu, untuk berjibaku dengan alam tersebut, untuk hidup, berfikir, belajar dan pada akhirnya dia mampu menghormati makhluk yang lainnya.” lanjutku dengan nada yang berat, Marwiyah melirikku, lalu membunyikan suara dari tenggorokannya untuk isyarat.
“Perhormatan bukanlah apa yang selama ini menjadi tujuan dibuatnya dunia ini pak.” balas Marwiyah, ia menghentikan sejenak pekerjaannya lalu kembali bekerja.
“Terkadang perhormatan malah menjadi biang dari segala hal bentuk kesombongan dan dosa.” Lanjutnya. Aku tertawa kecil, sambil meledek. Karena mungkin sifat kelaki-lakianku yang agak sombong membuat segala pemikiran isteriku lucu di mataku.
“Mulutmu itu bu, hanya bisa mewakili pengalamanmu yang sekecil kelingking, bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu?” Bantahku sedikit mengejek.
“Kau pikir pengalamanmu itu lebih dari sekedar bersandar pada papan sejarah dan makanan yang setiap hari kau makan dan membuatmu tetap hidup sampai saat ini?” Marwiyah nampaknya kesal.
“Kalau saja bukan takdir yang mempertemukan kita.” lanjutnya dengan nada kesal, awan hitam sejenak tepat berada di atas ubun-ubun kami berdua, kami menatap langit, namun hanya sebentar, sorot matahari kembali pada kami.
“Dasar cuaca! Tak jauh beda dengan hati!” ucapku sembari menurunkan kepala dari langit. Lalu mataku tertuju lagi pada wanita renta yang telah lama menapaki alur hidup sepiku.
“Bicara takdir bicara keihklasan bu, bagaimana bisa kau membicarakan takdir, tapi kau terus saja mengungkit-ungkit masakan dan makanan. Hah! hari ini baru kutemukan ada orang yang sudah dua kali salah berkata-kata.” Kembali Aku meledek.
“Kesalahan tidak bisa kamu robek dari kodrat manusia pak.” balas Marwiyah tambah kesal.
“Aku tau,” potongku.
“Kesalahan dan manusia itu, ada pada kertas yang sama, aku hanya geli saja melihat kau terus berlindung pada hal yang sukar dijelaskan, sudahlah, lagipula, antara potongan-potongan kayu ini dan berasmu itu bu, kan tak ada hubungannya, bukan begitu?” ucapanku sedikit memburu.
“Ah, kau mulai ngelantur lagi orang tua!” Marwiyah hanya menjawab dengan kesal. Ia tampak telah selesai menampih berasnya, ia kesal mendengar aku yang tertawa geli dan sesekali batuk, ia segera masuk ke dalam rumah lantaran tidak mau lagi berdebat denganku.
“Bu!” teriakku, kuhentikan pekerjaanku, kuletakan kaca mataku di atas kayu-kayu.
“Apa yang selama ini kita lakukan, adalah apa yang selama ini orang-orang cita-citakan, mereka bahkan tidak tahu, termasuk kita dulu, bahwa tujuan tidak harus sama dengan apa yang didambakannya.”
“Sudahlah, lain kali saja kita bicarakan itu, saat ini aku cuma kebelet mau banyak-banyak ibadah sama tuhan, malah kalau boleh aku mau sembahyang seharian penuh, biar pahalaku terus bertambah.” Katanya.
“Kamu itu bicara apa bu? orang itu harus bisa menyisakan tempat untuk hal-hal yang lainnya, kita harus memberi sedikit ruang untuk pekerjaan lainnya bu, contohnya, kalau kita makan terus, nggak minum, nggak tidur, nggak mandi, nggak ganti baju, nggak..”
“Mikir kaya kamu!” potong Marwiyah sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela, lalu masuk lagi.
“Nah termasuk yang itu, maksudku nggak mikir! Loh, loh, loh aku kan mikir bu.” Aku nampak linglung dibuatnya. Marwiyah bicara dari dalam sambil keluar membawa segelas teh dan sepiring singkong.
“Aku juga tau pak, kita harus menyisihkan beberapa ruang untuk kepentingan yang lainnya, tapi aku takut umurku tak lama lagi pak.” menyodorkan kopi dan sepiring singkong, aku jadi berhenti memotong kayu.
“Umur adalah tenggang waktu yang dibatasi dengan yang namanya kematian oleh Tuhan pak!” Marwiyah melanjutkan.
“Manusia bahkan tidak pernah tau kabar tentang waktu itu pak! Manusia hanya diberi ruang kesadaran bahwa semuanya pasti akan mati, dan nyatanya lagi, manusia pasti akan menerima kepastian itu, tanpa harus tau kapan akan terjadi, hari ini, besok, lusa, bulan depan, tahun depan, atau entah kapan”. Kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut isteriku tiba-tiba saja membekukan suasana, aku terdiam sejenak, dan tertegun melihat istriku sesekali melahap singkong.
“Ah! Sudahlah, hari hampir siang, aku mau masak dan sembahyang!” tegas Marwiyah sambil masuk ke dalam rumah. Aku Menahan nafas sejenak.
“Ya, ya, ya, kau harus masak bu, kau juga harus sembahyang. Ya, lakukanlah tugasmu bu! paling tidak….”
“Paling tidak aku telah memberi ruang lain dalam hidupku dengan memasak untuk mu! Begitu kan maksudmu?” potong Marwiyah yang membalas ucapannya dari dalam. Aku tertawa.
“Paling tidak kini kau mengerti tentang sebuah penghargaan pada ruang-ruang yang lain bu.”
Aku terdiam sejenak sambil sedikit memikirkan kata-katanya yang sekilas nampak benar di ruang fikirku. Ah, aku memang laki-laki sombong, bisikku dalam hati, kusantap kopi dan singkong di hadapanku, sesekali kutatap kosong langit yang mulai silau. Kuhela nafas, tapi malah batuk. Di dalam benakku, usia senja adalah pemberhentian paling terakhir yang kusinggahi, bagiku waktu adalah rotasi roda yang terus berputar tanpa ujung, tanpa batas, waktu bahkan tidak pernah membagi rasa kasihannya pada siapapun yang tertinggal di putaran-putaran yang lalu. Waktu tidak akan pernah memberi kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya pada siapa saja yang meremehkannya.
Tanpa sadar aku terus melakukan pengembaraan alam pikiranku, sesekali sedikit mempertanyakan diriku sebagai manusia, aku bermain-main di alam khayal. Bagiku, manusia hanyalah bayangan semu dari Tuhan, semakin ia menjauh dari Tuhan, maka semakin sedikit pula cahaya bayangan yang terpancar dari Nya, begitupun juga sebaliknya. Keberadaan manusia, sepenuhnya bergantung pada keberadaan sang Tuhan. Setelah lama aku termenung, aku dikagetkan oleh bunyi bel sepeda yang semakin lama semakin mendekat. Kubalik arah pandanganku dan kucari asal suara itu. Tiba-tiba saja suara itu semakin terdengar keras dan nampaklah seorang pengantar surat dengan sepedanya, turun dan menyapaku.
“Permisi pak, Apakah benar ini rumah bapak Hidayat?” Tanya pengantar surat, sambil melihat ke sekeliling depan rumah, Aku picingkan mata, lalu mengambil kacamatanya yang diletakan di atas kayu-kayu.
“Iya betul sekali, maaf, kebetulan saya Jurjani, ayah dari Hidayat, ada surat untuk anak saya atau..” Tanyaku.
“Oh, kebetulan sekali, rupanya alamat rumah bapak ini yang saya cari, sebentar pak.” pengantar surat membuka tas, mencari surat di dalamnya, Aku penasaran.
“Nah, ini dia suratnya! surat panggilan ke pengadilan.” ucapnya.
“Apa? pengadilan? Mungkin saya salah dengar, atau mungkin bapak salah membaca, coba ulangi lagi.” Aku kaget, pertanyaanku memburu.
“Surat panggilan pengadilan.” Pengantar surat membacanya lagi dengan lantang. Tiba-tiba aku panik, tubuhku gemetar dan seakan tidak bisa berkata apa-apa.
“Astagfirullah! memangnya anak saya salah apa pak? Anak saya tidak maling ayam kan pak? anak saya tidak garong kan pak? anak saya tidak pernah melawan pemerintah kan pak? anak saya..” Aku kalap, si Pengantar surat memotong.
“Saya tau, sabar dulu pak, biar saya jelaskan.” Pengantar surat tersenyum kecil lalu mencoba menenangkan aku yang sedang panik.
“Bapak, tidak semua orang yang dipanggil ke pengadilan itu, berarti ia terlibat kasus pidana pak, seperti yang bapak baru katakan tadi, bisa saja anak bapak dipanggil untuk hal yang lain misalnya..” Pengantar Surat menahan nafasnya.
“Misalnya apa pak?” Tanyaku memburu.
“Misalnya surat penghargaan dari pengadilan, diminta kesaksiannya untuk suatu kasus, atau apa saja pak.” tegas pengantar surat dengan tenang.
“Yang jelas, coba bapak buka dulu suratnya, nah! Kalau sudah dibuka, pasti itu akan lebih memperjelas, atas dasar apa anak bapak dipanggil ke pengadilan.”
Usai menyelesaikan kata-katanya nampaknya si pengantar surat ingin pamit, aku masih terdiam, seakan-akan penjelasan yang baru saja diutarakan si pengantar surat, tidak berarti apa-apa bagiku. Sejak tadi yang terlintas dalam fikiranku hanyalah jeruji besi, ruang sidang, hakim, jaksa, makanan yang tidak enak, terompet besar yang membangunkan para narapidana, toilet kotor, dan sekian banyak lagi kesengsaraan-kesengsaraan yang akan anakku dapatkan.
“Pak, pak, pak!” panggil si pengantar surat yang bingung melihatku mematung di hadapannya. Tiba-tiba saja aku tersadarkan.
“Baiklah kalau begitu pak, saya permisi, karena masih banyak surat lagi yang mesti saya sampaikan.” ucap si pengantar surat.
“Surat dari pengadilan juga?” tanyaku dengan nada yang memburu. Pengantar surat tertawa geli. Aku sama sekali tidak sadar kalau pertanyaan itu membuatnya tertawa. Aku jadi malu sendiri.
“Bapak ini bagaimana sih, saya ini pengantar surat dari kantor POS, bukan dari pengadilan” tegasnya masih dalam keadaan tertawa.
“Jadi isi tas saya ini penuh dengan berbagai macam surat dari siapa saja, untuk siapa saja, dan tentunya disampaikan hanya oleh saya pak!” Pengantar surat menaiki sepedanya, membunyikan belnya dan segera pamit kepadaku.
“Selamat tinggal pak tua! semoga kabar baik menyertai anda.” teriaknya lalu pergi. Aku hanya bisa melambaikan tangan yang kosong, aku masih merasa bingung.
“Terima kasih pak POS..” ucapku lirih tanpa sengaja, rasa panik masih mengepungku, kuperhatikan surat di tangan, keadaannya memang sudah tidak bagus lagi, nampaknya surat ini sudah lama berada di suatu tempat penampungan atau barangkali sudah lama berada di dalam tas si pengantar surat, tulisannya tidak terlalu jelas, sepertinya ada yang sedikit pudar, tapi yang jelas, nama dan alamatnya memang benar ditunjukan ke rumahku.
Ada apa sebenarnya ini? ucapku dalam hati. Ingin rasanya cepat-cepat kubuka isi surat itu, tapi belum sempat kubuka surat itu, dari kejauhan tampak seseorang datang dari arah yang bersamaan dengan kepergian si pengantar surat, sembari mengumpat, tampaknya baju sepatu dan tasnya kotor terkena cipratan air lumpur. Aku kaget dan cepat-cepat menyembunyikan surat itu.
“Tukang pos Edan!” umpat anak muda itu, tak lain dan tak bukan adalah Hidayat anak semata wayangku. Watak pemarahnya mungkin diwariskan dariku. Kuperhatikan tubuh anakku sendiri. Kusam, kurus kering.
“Punya mata, tapi tidak dipakai, edan!, dia pikir di dunia ini, dia yang paling penting dan berjasa!” kuperhatikan terus tingkah dan umpatannya, mungkin dia belum sadar kalau sedari tadi ada yang memperhatikan.
Dengan wajah yang lesu, ia memandangku. Tatapan sepadan dengan dendam, dengan kesinisan. Hatiku miris jadinya, kutahan seadanya, ingin sekali kuludahi mata tajam itu, tapi kutahan sebisanya, tidak lama ia pergi begitu saja dan masuk ke dalam rumah.
“Perusahaan apa lagi hari ini yang menolak lamaranmu, Hidayat?” Tanyaku.
“Bapak, apakah saya boleh sebentar istirahat dulu, sebelum menjawab pertanyaan bapak?” nadanya sedikit kesal.
“Hidup ini berjalan terus dengan keletihan yang tak terhingga, Hidayat. Tanpa istirahat! Aku tegaskan kata-kataku.
“Apakah kamu tidak malu. Mengatakan letih, lalu kau menyandarkannya pada kata istirahat?”
“Dan apakah kamu tau, apakah aku pernah menyerah?”
“Saya bukan menyerah pak, saya cuma mau istirahat!”
“Istirahat yang kamu maksudkan adalah kata menyerah!”
“Saya ini manusia pak!”
“Apa bapak ini kamu anggap bukan manusia, Hah? Sejak dulu kita selalu hidup dengan apa adanya! Aku menyekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan untuk mengeluh, letih dan menyerah!”
“Apakah bapak ingin aku menjadi robot?
“Robot bahkan lebih baik dari kamu!”
“Baik, kalau begitu, pergi saja ke toko, beli saja robot, dan puaskan hati bapak!”
“Lancang, omongan kamu Hidayat!”
“Bapak yang mulai!”
“Cukup! Minggat dari rumahku!” teriakku mulai naik pitam.
“Puaskan hatimu orang tua!”
Tiba-tiba Marwiyah keluar dari dalam rumah, ia masih lengkap mengenakan pakaian sembahyangnya.
“Sudah, sudah cukup!” Ucapnya sambil mendekap Hidayat.
“Semua urusan pasti ada jalan keluarnya, janganlah kita ini terus-terusan mau diperbudak oleh amarah!” lanjutnya.
“Bu, tolong kamu ajarin anakmu ini, aku tidak mau melihat anak ini lagi!” Aku kesal sejadinya, tak kuasa kutahan emosiku, aku putuskan untuk ke dalam rumah.
Panas tubuhku memuncak, dahiku berkeringat, aku hanya bisa mengepalkan tangan. Aku dan Hidayat anakku, memang sering bertengkar, hal ini berawal dari keinginanku untuk menyekolahkan Hidayat tinggi-tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya, lantaran Hidayat belum mendapatkan pekerjaan setelah ia lulus sebagai sarjana hukum dari kuliahnya beberapa bulan yang lalu, aku jadi takut kalau nasibnya sama seperti mendiang ayahku dan aku. Memang aku pahami kenyataan pahit yang dialami oleh Hidayat bukanlah hal yang asing di negeri ini.
“Sudahlah Dayat..” ibunya coba menenangkan. Aku mendengarkan pembicaraan mereka dari balik jendela kamar. Marwiyah adalah satu-satunya orang yang mampu sedikit meredam amarahku. Apalagi kalau ia sudah mengeluarkan air mata. Rasanya aku ini kembali menjadi seorang bayi di matanya. Sedikit kutahan rasa kesalku. Kulanjutkan mendengar pembicaraan mereka.
“Jangan kamu kesalkan ucapan bapakmu itu, jaga emosi kamu, tidak baik marah-marah sama orang tua.”
“Bagaimana saya tidak marah bu? bapak selalu saja tidak mau mengerti keadaan anaknya, cari kerja tidak gampang bu, apalagi sekarang ijazah sarjana bukan lagi lembar keramat dan terhormat. Ijazah sarjana sekarang cuma ada di bawah tumpukan-tumpukan map paling bawah di meja perusahaan, malahan kadang-kadang belum sempat dibaca, sudah dilempar ke tong sampah.” Seperti petir samar suara itu masuk ke liang telingaku, sangat mengagetkan dan menusuk relung hati.
“Sudahlah Dayat, manusia itu kan hanya berusaha, tuhanlah yang menentukan segalanya. Lagipula, Tuhan itu tidak akan menguji umat-Nya, melebihi dari batas kemampuan yang dipunya. Lain hari kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan asal kamu mau bersabar.” Aku tersenyum mendengar pembicaraan itu, aku seperti merasakan ada ketenangan dalam kata-kata itu.
“Manusia itu punya batas kesabaran bu, saya malah curiga sekarang, Tuhan memang sengaja hanya memberikan batas kesabaran yang tidak setara dengan ujian yang diberi untuk manusia.”
“Hei, tidak baik berburuk sangka sama Tuhan, ah, sudahlah, kamu mungkin sangat kelelahan hari ini.”
“Kenapa bajumu ini kotor sekali Dayat? sekarang kamu mandi, waktu sembahyang Dzuhur sudah dimulai sejak tadi.”
“Ayahmu hanya sedang kesal sekarang, jadi jangan kamu anggap ucapannya yang tadi” terus terang aku tersinggung mendengar perkataan Marwiyah, namun aku tahan seadanya. Kutarik nafas, mencoba untuk melupakan sejenak kata-kata itu.
“Pohon-pohon pasti akan merasa segar dan mampu untuk mengembangkan dirinya sendiri, setelah disiram dengan air. Nah! Begitupun juga halnya dengan manusia, Dayat, manusia juga butuh siraman-siraman untuk menjadikan dirinya mampu mengatasi setiap masalah yang membelitnya.”
“Lalu ia tumbuh dan mampu menyerap apa yang diajarkan oleh dunia ini” kata-kata Marwiyah semakin menarik aku dengarkan, aku jadi bingung jadinya, padahal belum kering kemarahanku pada Hidayat, namun kini seakan kejadian itu sudah lama sekali terjadi.
Baru ku sadar, kudapati sebuah amplop di tanganku. Aku baru teringat pada seorang Pengantar surat tadi. Kubuka perlahan surat yang masih aku anggap sebagai surat panggilan pengadilan itu. Kukeluarkan isinya. Dua lembar kertas putih. Kuambil kaca mata yang kuletakkan di atas meja kecil dekat radio tua milik ayahku dulu. Mulai kubaca huruf-huruf ciptaan komputer itu.
“Bu, kalau memang benar kata ibu, bahwa manusia itu harus belajar pada dunia ini, lalu apa yang akan kita dapatkan nanti, bila semua manusia nyatanya akan mati?” Tanya Hidayat. Aku membaca surat itu dengan seksama.
“Maksudku begini bu, kalau memang kita harus belajar pada dunia ini, lalu untuk apa pelajaran itu kita pelajari? Kalaupun untuk diajarkan lagi kepada orang lain, apakah kita punya cukup waktu untuk hal itu, sedangkan masa tenggang kehidupan yang diberi Tuhan kepada kita, belum jelas adanya?” lanjut Hidayat. Surat itu mengagetkanku. Jantung seakan terhenti. Lalu bergerak lagi dengan tempo yang sangat lambat sekali.
“Panggilan kerja?” teriakku dalam hati. Namun bibirku sama sekali tak bisa tersenyum. Hatiku berat. Kepalaku pening. Tak mampu aku membendung derasnya air mata dari mataku. Namun yang jatuh hanya tetesan-tetesan. Kemana yang lainnya? Apakah mereka langsung menuju relung hatiku? Tanyaku pada air mataku sendiri.
“Dayat, semua pelajaran yang kita dapatkan, adalah untuk memperbaiki diri kita sendiri dan orang lain. Kalau kita telah menjadi orang baik, hidup atau matipun, kita akan tetap menjadi sebuah pelajaran untuk orang lain, jadi jangan kamu khawatir pada batas kehidupan.” Kata-kata Marwiyah terdengar lebih lirih di telingaku. Kini dadaku terasa sesak. Jani telah mendapatkan pekerjaan. Ucapku dalam hati. Semua persendianku terasa linu. Aku tak bisa bergerak. Sementara air mata kini deras mengalir.
“Tapi bu, bagaimana kalau ketika kita sedang mempelajari dunia ini, tapi belum sempat menjadi orang baik, lalu ajal menjemput kita bu?” suara percakapan mereka terus kudengar. Aku ingin melangkah keluar. Aku ingin memanggil mereka. Aku ingin apa saja dengan mereka. Namun kesedihan menahan gerakku. Aku sekarat. Aku..
“Dayat, dayat..Tuhan itu maha adil dan maha tau.”
“Maksud ibu?”
“Maksud ibu adalah, paling tidak kamu itu sudah berusaha untuk belajar baik, dan itu salahsatu nilai tambah buat kamu di mata-Nya” selesai kata itu diucapkan, begitu kaget kudengar gemuruh dari ketinggian langit. Aku tak mampu lagi menahan semua ini. Tiba-tiba aku teringat Ayah, ia tersenyum padaku. Ayah datang padaku. Aku seperti menemukan telaga air di tengah gurun pasir panjang.
“Kau sama sekali tak membunuhku Jani.” Tiba-tiba sosok imaji ayah berkata-kata padaku.
“Yang kau bunuh adalah ketidaksiapanmu akan sebuah kenyataan.” Lanjut sosok itu.
“Yang kau bunuh adalah rasa ketidakinginan kamu melihat anakmu sengsara.” Begitu rindang kata-kata itu terdengar, lalu tiba-tiba semuanya redup, redup dan gelap.
Matahari bergeser ke arah timur, awan-awan melangkah zig-zag membentuk lukisan-lukisan sesaat, pohon-pohon bergesek dan sesekali terpaksa merunduk karna angin-angin nakal mendorongnya hingga memaksa pohon-pohon untuk ruku’ untuk memberi penghormatan pada dunia.
Langit terik berubah menjadi kelam, awan-awan berkumpul membentuk lingkaran, membentuk labirin, angin bertiup kencang sekali, bumi bergetar, anak-anak kecil yang sedang asyik main bola, berlarian, memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing, kilat-kilat seperti retakan tembok, ada suara dari utara, dan bising dari arah selatan, kini timur tak lagi bercahaya, barat pun tak lagi gelap. Semuanya berbondong-bondong untuk pergi dan merenungi rahasia-rahasia pada sebuah ruang, entah ruang apa itu. Dan akhirnya semuanya reda, dan reda, dan reda.
Hezra Ahmad















Mantapss.. ilustrasinya…
Keep Spirit….
Like or Dislike:
0
0