Tags

Related Posts

Share This

Tentang Angka 2200 dan 22200


Jika memang Tuhan senang bermain-main dengan tanda, maka tiada yang lebih membahagiakan-Nya selain melihat hambanya mencoba mengeja, menguak, memecahkan, dan setelah itu merenungi tanda-tanda yang dibuat-Nya.

Seperti biasa, langit malam terlanjur muram, aku sendiri tak sanggup menghalau keinginannya, awan-awan menggumpal tak bergerak sama sekali, seakan-akan mereka sedang asyik berguyub mendiskusikan sesuatu, atau mungkin sedang berkumpul menunggu sesuatu (menunggu Godot misalnya?) atau mungkin juga sedang berkerumun menyaksikan seonggok mayat korban tabrak-lari, atau apa lah, yang jelas mereka kini adalah segerombolan awan pekat nan muram.

Ku letakkan tubuh yang rapuh ini di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu di teras rumah, kucoba meluruskan sendi-sendi yang kaku lantaran kegiatanku di kantor tak hanya menguras otak di kepalaku, tapi menguras segalanya, bahkan seluruh jiwa dan raga! (begitu kira-kira bila didramatisir). Ku baringkan tubuhku seutuhnya, dan, ah..kini tulang-belulangku telah menyatu dengan pembaringan itu layaknya sebuah puzzle yang saling menggigit.

Hari ini “tanggal muda” sebuah istilah yang terdengar aneh bagiku, entah siapa yang begitu tega merumuskan istilah seperti itu, entahlah, yang jelas aku hanya bisa berdoa supaya istri tercintaku tidak berniat untuk mengajakku pergi belanja malam ini, yah, hanya malam ini, pintaku pada Tuhan.

Belum usai doa ku panjatkan, ternyata harapan tak seindah kenyataan dan mungkin saja doaku tadi masih dalam perjalanan dan harus menunggu antrian triliunan doa-doa yang lainnya. Istri semata wayang mengajakku (“memaksa” tepatnya) keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga (“kebutuhan dia” tepatnya). Sialnya, Permintaan itu tentu tak bisa terbendung lagi walaupun mataku yang kuyu dan muramnya langit bersinergi menyatu untuk  membentuk sebuah “alasan”, namun nyatanya aku harus menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. Ya sudahlah (seperti kata Bondan and Fade to Black).

Sebenarnya aku tidak terlalu suka berkunjung ke mal, swalayan atau konco-konconya, selain sering mual melihat tingkah laku orang-orang di sana, aku juga menganggap tempat-tempat yang dibangun oleh kaum kapitalis itu telah terlampau melindas, menindas, dan menginjak-injak perekonomian rakyat kecil, lihat saja pasar-pasar tradisional kini telah sepi ditinggalkan, ada saja alasan orang yang enggan ke sana, becek lah, bau lah, tidak higienis lah, dan segudang alasan yang mereka buat untuk berlindung dari kata “gengsi”.

Pemikiran ini sudah kerap kali kuungkapkan kepada istriku, namun entah mengapa ada saja alasan yang dibuatnya, “sayuran, cabe, bawang, gula, buah-buahan di super market kan dibeli juga dari petani? Sama saja kan?”Tandasnya sambil menggerak-gerakan tangannya seperti conductor paduan suara dan gaya bicaranya seperti Mama Dedeh sang daiyah kondang. Tadinya aku ingin mendebatnya, karena kupikir siapa yang tak kenal diriku sewaktu kuliah, “si macan diskusi” atau “Mr. Argumentasi”, tapi nyatanya, kalau di depan sang istri, tentu saja aku hanya bisa menjalani takdir. Takdir seorang suami.

Tadinya aku, istriku, dan anakku berniat pergi ke Super Market besar, berhubung waktu sudah menunjukan pukul 20:45 WIB, akhirnya kami memutuskan pergi ke Mini Market, sebuah tempat perbelanjaan yang tidak terlalu besar, yang tentu saja juga sudah banyak merampas lapak rezeki pedagang kecil, dan melumat-lumat basis perekonomian rakyat. Entah mengapa kehadirannya bagai Jamur, Laron, dan Bekicot di musim hujan. Saat itu aku sangat muak, mau marah, menumpahkan segala ketololan ini, namun, tentu saja tidak bisa, karena aku hanya bisa menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. (memandang langit sambil menggigit kuku empat jari).

Dengan leluasa bak panglima perang yang telah menguasai medan perang, istriku mulai bereksplorasi, badannya tegap bak perwira yang baru tiga bulan masuk angkatan, matanya tajam melirik,

Sambil berkata “Jangain Faris yah Pa.. gak lama kok” bagai kilat istriku meninggalkan kami berdua, sejenak kami saling memandang, ia tersenyum mungkin bermaksud meledek, entah kata apa yang dilukis dihatinya sehingga ia begitu senang dan lalu secepat kilat ia lari  lima langkah dari hadapannku. Lagi-lagi, aku hanya menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami.

Ku biarkan perlakuan anakkku yang mengobrak-abrik susunan barang-barang yang terdisplay. Susunan produk mie instan menjadi sasaran brutalnya, sebuah mie instan yang dibandrol dengan harga 2200 rupiah dirobeknya dengan napas kepuasan, sepuas makan makanan di waktu berbuka puasa, lalu seperti kereta malam anak itu berlalu dari pandangan, ekor mataku tak mampu mengikutinya. Melihat perlakuannya tadi aku hanya terkekeh-kekeh, biarlah.. semua ini kan produk kapitalis, dan nyatanya saat ini aku berada di tempat kapitalis yang aku benci, pikirku enteng. Senyum spontan muncul membelah kedua bibirku, tiba-tiba aku teringat dulu, setiap kali ke supermarket, pasti ada saja barang yang sengaja kurobek kemasannya, atau kuhancurkan isinya dari luar, membuka tutup botol kemudian menumpahkan isinya, dan segala teknik jitu yang kulakukan untuk memenuhi hasratku sebagai “pembenci kapitalis!!”.

Lamunanku luluh menjadi bubur ketika tiba-tiba aku mendengar suara yang mirip dentuman meriam, hatiku berdebar-debar, menebak-nebak apa yang terjadi “mana Faris, anakku?” aku berlari ke arah suara itu, sambil berdoa “semoga ini bukan sesuatu yang buruk” dan, astagfirullah kudapati Faris sedang tertawa lepas melihat pecahan botol besar minuman beralkohol di depannya. Tangannya mengepal, mulutnya terkatup-katup, sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Segera kurampas haknya sebagai manusia merdeka yang baru saja merayakan kemerdekaannya (kemerdekaan memecahkan botol), kuangkat tubuhnya yang sedikit basah dan lengket, kudekap dadanya, terdengar detak jantung tak berarturan, detak yang bergantungan temponya, seperti tempo metronom Mike Portnoy, bau tidak sedap mampir ke pencimanku, lelehan busanya terjun keparit-parit keramik membentuk arus mencari tempat yang paling rendah. Orang-orang berdatangan dari segala arah, mungkin ingin sekadar melihat kejadian ini dari dekat, atau juga hanya ingin ikut berpartisipasi melihat aku malu. Luar biasa terkejutnya aku menyaksikan kejadian itu. Lebih terkejut lagi saat kudapati sosok tubuh yang tak asing di mataku datang sambil bertolak pinggang seraya menitipkan mata yang tidak menyenangkan. Iya, dialah istriku yang berdiri bak rambo yang siap memuntahkan peluru dari senapannya. Aku tak dapat berkata apa-apa, namun sesaat setelah itu kerumunan itu pecah setelah seorang penjaga toko datang bak Musa yang membelah laut, namun bedanya ia tidak membawa tongkat, tapi alat pel dan seember air sebagai mukjizatnya. Oh Tuhan, ia memang benar-benar nabi bagiku!!

Kutinggalkan nabi itu, maksudku penjaga toko itu, sesegera mungkin aku ambil langkah seribu, meninggalkan bayangan istriku yang kini mengekor di belakang.

Kuceritakan apa adanya kejadian yang baru saja terjadi kepada kasir toko, ia tampak mengangguk-angguk dan memaklumi apa yang telah dilakukan anak sekecil anakku itu. Dengan sedikit senyum, kasir itu berkata “Oh, iya, tidak apa-apa pak, namanya juga anak kecil.” yap, jawaban seperti itu memang sudah aku prediksi. “Berapa saya harus membayar ganti ruginya mbak?” tanyaku sambil merogoh dompet di kantong belakang celana jeansku. “22.200, Pak” seperti tersambar listrik ribuan Volt aku mendengar jawaban sang kasir. Mendadak ruang  flashback kejadian anakku yang merobek bungkus mie instan hadir di kepalaku.

 

Mulla Hijrah

Jika memang kata-kata

mampu membawamu ke sana

maka jamahlah ia

lalu pulanglah

dan biarkan kau nikmati

bunga kamboja yang berguguran

mengikat ingatan mereka dengan tali kecil

rincis air matamu tampak lebih dingin

mungkinkah kau dapat menyeka kalimat

yang terlampau meninggalkan

dirimu

sendiri. []

Hezra Ahmad

hezraahmad@yahoo.co.id

Tentang Angka 2200 dan 22200

Jika memang Tuhan senang bermain-main dengan tanda, maka tiada yang lebih membahagiakan-Nya selain melihat hambanya mencoba mengeja, menguak, memecahkan, dan setelah itu merenungi tanda-tanda yang dibuat-Nya.

Seperti biasa, langit malam terlanjur muram, aku sendiri tak sanggup menghalau keinginannya, awan-awan menggumpal tak bergerak sama sekali, seakan-akan mereka sedang asyik berguyub mendiskusikan sesuatu, atau mungkin sedang berkumpul menunggu sesuatu (menunggu Godot misalnya?) atau mungkin juga sedang berkerumun menyaksikan seonggok mayat korban tabrak-lari, atau apa lah, yang jelas mereka kini adalah segerombolan awan pekat nan muram.

Ku letakkan tubuh yang rapuh ini di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu di teras rumah, kucoba meluruskan sendi-sendi yang kaku lantaran kegiatanku di kantor tak hanya menguras otak di kepalaku, tapi menguras segalanya, bahkan seluruh jiwa dan raga! (begitu kira-kira bila didramatisir). Ku baringkan tubuhku seutuhnya, dan, ah..kini tulang-belulangku telah menyatu dengan pembaringan itu layaknya sebuah puzzle yang saling menggigit.

Hari ini “tanggal muda” sebuah istilah yang terdengar aneh bagiku, entah siapa yang begitu tega merumuskan istilah seperti itu, entahlah, yang jelas aku hanya bisa berdoa supaya istri tercintaku tidak berniat untuk mengajakku pergi belanja malam ini, yah, hanya malam ini, pintaku pada Tuhan.

Belum usai doa ku panjatkan, ternyata harapan tak seindah kenyataandan mungkin saja doaku tadi masih dalam perjalanan dan harus menunggu antrian triliunan doa-doa yang lainnya. Istri semata wayang mengajakku (“memaksa” tepatnya) keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga (“kebutuhan dia” tepatnya). Sialnya, Permintaan itu tentu tak bisa terbendung lagi walaupun mataku yang kuyu dan muramnya langit bersinergi menyatu untukmembentuk sebuah “alasan”, namun nyatanya aku harus menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. Ya sudahlah (seperti kata Bondan and Fade to Black).

Sebenarnya aku tidak terlalu suka berkunjung ke mal, swalayan atau konco-konconya, selain sering mual melihat tingkah laku orang-orang di sana, aku juga menganggap tempat-tempat yang dibangun oleh kaum kapitalis itu telah terlampau melindas, menindas, dan menginjak-injak perekonomian rakyat kecil, lihat saja pasar-pasar tradisional kini telah sepi ditinggalkan, ada saja alasan orang yang enggan ke sana, becek lah, bau lah, tidak higienis lah, dan segudang alasan yang mereka buat untuk berlindung dari kata “gengsi”.

Pemikiran ini sudah kerap kali kuungkapkan kepada istriku, namun entah mengapa ada saja alasan yang dibuatnya, “sayuran, cabe, bawang, gula, buah-buahan di super market kan dibeli juga dari petani? Sama saja kan?”Tandasnya sambil menggerak-gerakan tangannya seperti conductor paduan suara dan gaya bicaranya seperti Mama Dedeh sang daiyah kondang. Tadinya aku ingin mendebatnya, karena kupikir siapa yang tak kenal diriku sewaktu kuliah, “si macan diskusi” atau “Mr. Argumentasi”, tapi nyatanya, kalau di depan sang istri, tentu saja aku hanya bisa menjalani takdir. Takdir seorang suami.

Tadinya aku, istriku, dan anakku berniat pergi ke Super Market besar, berhubung waktu sudah menunjukan pukul 20:45 WIB, akhirnya kami memutuskan pergi ke Mini Market, sebuah tempat perbelanjaan yang tidak terlalu besar, yang tentu saja juga sudah banyak merampas lapak rezeki pedagang kecil, dan melumat-lumat basis perekonomian rakyat. Entah mengapa kehadirannya bagai Jamur, Laron, dan Bekicot di musim hujan. Saat itu aku sangat muak, mau marah, menumpahkan segala ketololan ini, namun, tentu saja tidak bisa, karena aku hanya bisa menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. (memandang langit sambil menggigit kuku empat jari).

Dengan leluasa bak panglima perang yang telah menguasai medan perang, istriku mulai bereksplorasi, badannya tegap bak perwira yang baru tiga bulan masuk angkatan, matanya tajam melirik,

Sambil berkata “Jangain Faris yah Pa.. gak lama kok” bagai kilat istriku meninggalkan kami berdua, sejenak kami saling memandang, ia tersenyum mungkin bermaksud meledek, entah kata apa yang dilukis dihatinya sehingga ia begitu senang dan lalu secepat kilat ia larilima langkah dari hadapannku. Lagi-lagi, aku hanya menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami.

Ku biarkan perlakuan anakkku yang mengobrak-abrik susunan barang-barang yang terdisplay. Susunan produk mie instan menjadi sasaran brutalnya, sebuah mie instan yang dibandrol dengan harga 2200 rupiah dirobeknya dengan napas kepuasan, sepuas makan makanan di waktu berbuka puasa, lalu seperti kereta malam anak itu berlalu dari pandangan, ekor mataku tak mampu mengikutinya. Melihat perlakuannya tadi aku hanya terkekeh-kekeh, biarlah.. semua ini kan produk kapitalis, dan nyatanya saat ini aku berada di tempat kapitalis yang aku benci, pikirku enteng. Senyum spontan muncul membelah kedua bibirku, tiba-tiba aku teringat dulu, setiap kali ke supermarket, pasti ada saja barang yang sengaja kurobek kemasannya, atau kuhancurkan isinya dari luar, membuka tutup botol kemudian menumpahkan isinya, dan segala teknik jitu yang kulakukan untuk memenuhi hasratku sebagai “pembenci kapitalis!!”.

Lamunanku luluh menjadi bubur ketika tiba-tiba aku mendengar suara yang mirip dentuman meriam, hatiku berdebar-debar, menebak-nebak apa yang terjadi “mana Faris, anakku?” aku berlari ke arah suara itu, sambil berdoa “semoga ini bukan sesuatu yang buruk” dan, astagfirullah kudapati Faris sedang tertawa lepas melihat pecahan botol besar minuman beralkohol di depannya. Tangannya mengepal, mulutnya terkatup-katup, sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Segera kurampas haknya sebagai manusia merdeka yang baru saja merayakan kemerdekaannya (kemerdekaan memecahkan botol), kuangkat tubuhnya yang sedikit basah dan lengket, kudekap dadanya, terdengar detak jantung tak berarturan, detak yang bergantungan temponya, seperti tempo metronom Mike Portnoy, bau tidak sedap mampir ke pencimanku, lelehan busanya terjun keparit-parit keramik membentuk arus mencari tempat yang paling rendah. Orang-orang berdatangan dari segala arah, mungkin ingin sekadar melihat kejadian ini dari dekat, atau juga hanya ingin ikut berpartisipasi melihat aku malu. Luar biasa terkejutnya aku menyaksikan kejadian itu. Lebih terkejut lagi saat kudapati sosok tubuh yang tak asing di mataku datang sambil bertolak pinggang seraya menitipkan mata yang tidak menyenangkan. Iya, dialah istriku yang berdiri bak rambo yang siap memuntahkan peluru dari senapannya. Aku tak dapat berkata apa-apa, namun sesaat setelah itu kerumunan itu pecah setelah seorang penjaga toko datang bak Musa yang membelah laut, namun bedanya ia tidak membawa tongkat, tapi alat pel dan seember air sebagai mukjizatnya. Oh Tuhan, ia memang benar-benar nabi bagiku!!

Kutinggalkan nabi itu, maksudku penjaga toko itu, sesegera mungkin aku ambil langkah seribu, meninggalkan bayangan istriku yang kini mengekor di belakang.

Kuceritakan apa adanya kejadian yang baru saja terjadi kepada kasir toko, ia tampak mengangguk-angguk dan memaklumi apa yang telah dilakukan anak sekecil anakku itu. Dengan sedikit senyum, kasir itu berkata “Oh, iya, tidak apa-apa pak, namanya juga anak kecil.” yap, jawaban seperti itu memang sudah aku prediksi. “Berapa saya harus membayar ganti ruginya mbak?” tanyaku sambil merogoh dompet di kantong belakang celana jeansku. “22.200, Pak” seperti ters

Tentang Angka 2200 dan 22200

Jika memang Tuhan senang bermain-main dengan tanda, maka tiada yang lebih membahagiakan-Nya selain melihat hambanya mencoba mengeja, menguak, memecahkan, dan setelah itu merenungi tanda-tanda yang dibuat-Nya.

Seperti biasa, langit malam terlanjur muram, aku sendiri tak sanggup menghalau keinginannya, awan-awan menggumpal tak bergerak sama sekali, seakan-akan mereka sedang asyik berguyub mendiskusikan sesuatu, atau mungkin sedang berkumpul menunggu sesuatu (menunggu Godot misalnya?) atau mungkin juga sedang berkerumun menyaksikan seonggok mayat korban tabrak-lari, atau apa lah, yang jelas mereka kini adalah segerombolan awan pekat nan muram.

Ku letakkan tubuh yang rapuh ini di atas kursi panjang yang terbuat dari bambu di teras rumah, kucoba meluruskan sendi-sendi yang kaku lantaran kegiatanku di kantor tak hanya menguras otak di kepalaku, tapi menguras segalanya, bahkan seluruh jiwa dan raga! (begitu kira-kira bila didramatisir). Ku baringkan tubuhku seutuhnya, dan, ah..kini tulang-belulangku telah menyatu dengan pembaringan itu layaknya sebuah puzzle yang saling menggigit.

Hari ini “tanggal muda” sebuah istilah yang terdengar aneh bagiku, entah siapa yang begitu tega merumuskan istilah seperti itu, entahlah, yang jelas aku hanya bisa berdoa supaya istri tercintaku tidak berniat untuk mengajakku pergi belanja malam ini, yah, hanya malam ini, pintaku pada Tuhan.

Belum usai doa ku panjatkan, ternyata harapan tak seindah kenyataan dan mungkin saja doaku tadi masih dalam perjalanan dan harus menunggu antrian triliunan doa-doa yang lainnya. Istri semata wayang mengajakku (“memaksa” tepatnya) keluar rumah untuk membeli beberapa kebutuhan rumah tangga (“kebutuhan dia” tepatnya). Sialnya, Permintaan itu tentu tak bisa terbendung lagi walaupun mataku yang kuyu dan muramnya langit bersinergi menyatu untuk  membentuk sebuah “alasan”, namun nyatanya aku harus menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. Ya sudahlah (seperti kata Bondan and Fade to Black).

Sebenarnya aku tidak terlalu suka berkunjung ke mal, swalayan atau konco-konconya, selain sering mual melihat tingkah laku orang-orang di sana, aku juga menganggap tempat-tempat yang dibangun oleh kaum kapitalis itu telah terlampau melindas, menindas, dan menginjak-injak perekonomian rakyat kecil, lihat saja pasar-pasar tradisional kini telah sepi ditinggalkan, ada saja alasan orang yang enggan ke sana, becek lah, bau lah, tidak higienis lah, dan segudang alasan yang mereka buat untuk berlindung dari kata “gengsi”.

Pemikiran ini sudah kerap kali kuungkapkan kepada istriku, namun entah mengapa ada saja alasan yang dibuatnya, “sayuran, cabe, bawang, gula, buah-buahan di super market kan dibeli juga dari petani? Sama saja kan?”Tandasnya sambil menggerak-gerakan tangannya seperti conductor paduan suara dan gaya bicaranya seperti Mama Dedeh sang daiyah kondang. Tadinya aku ingin mendebatnya, karena kupikir siapa yang tak kenal diriku sewaktu kuliah, “si macan diskusi” atau “Mr. Argumentasi”, tapi nyatanya, kalau di depan sang istri, tentu saja aku hanya bisa menjalani takdir. Takdir seorang suami.

Tadinya aku, istriku, dan anakku berniat pergi ke Super Market besar, berhubung waktu sudah menunjukan pukul 20:45 WIB, akhirnya kami memutuskan pergi ke Mini Market, sebuah tempat perbelanjaan yang tidak terlalu besar, yang tentu saja juga sudah banyak merampas lapak rezeki pedagang kecil, dan melumat-lumat basis perekonomian rakyat. Entah mengapa kehadirannya bagai Jamur, Laron, dan Bekicot di musim hujan. Saat itu aku sangat muak, mau marah, menumpahkan segala ketololan ini, namun, tentu saja tidak bisa, karena aku hanya bisa menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami. (memandang langit sambil menggigit kuku empat jari).

Dengan leluasa bak panglima perang yang telah menguasai medan perang, istriku mulai bereksplorasi, badannya tegap bak perwira yang baru tiga bulan masuk angkatan, matanya tajam melirik,

Sambil berkata “Jangain Faris yah Pa.. gak lama kok” bagai kilat istriku meninggalkan kami berdua, sejenak kami saling memandang, ia tersenyum mungkin bermaksud meledek, entah kata apa yang dilukis dihatinya sehingga ia begitu senang dan lalu secepat kilat ia lari  lima langkah dari hadapannku. Lagi-lagi, aku hanya menjalani takdirku sendiri. Takdir seorang suami.

Ku biarkan perlakuan anakkku yang mengobrak-abrik susunan barang-barang yang terdisplay. Susunan produk mie instan menjadi sasaran brutalnya, sebuah mie instan yang dibandrol dengan harga 2200 rupiah dirobeknya dengan napas kepuasan, sepuas makan makanan di waktu berbuka puasa, lalu seperti kereta malam anak itu berlalu dari pandangan, ekor mataku tak mampu mengikutinya. Melihat perlakuannya tadi aku hanya terkekeh-kekeh, biarlah.. semua ini kan produk kapitalis, dan nyatanya saat ini aku berada di tempat kapitalis yang aku benci, pikirku enteng. Senyum spontan muncul membelah kedua bibirku, tiba-tiba aku teringat dulu, setiap kali ke supermarket, pasti ada saja barang yang sengaja kurobek kemasannya, atau kuhancurkan isinya dari luar, membuka tutup botol kemudian menumpahkan isinya, dan segala teknik jitu yang kulakukan untuk memenuhi hasratku sebagai “pembenci kapitalis!!”.

Lamunanku luluh menjadi bubur ketika tiba-tiba aku mendengar suara yang mirip dentuman meriam, hatiku berdebar-debar, menebak-nebak apa yang terjadi “mana Faris, anakku?” aku berlari ke arah suara itu, sambil berdoa “semoga ini bukan sesuatu yang buruk” dan, astagfirullah kudapati Faris sedang tertawa lepas melihat pecahan botol besar minuman beralkohol di depannya. Tangannya mengepal, mulutnya terkatup-katup, sesekali ia menggeleng-gelengkan kepalanya. Segera kurampas haknya sebagai manusia merdeka yang baru saja merayakan kemerdekaannya (kemerdekaan memecahkan botol), kuangkat tubuhnya yang sedikit basah dan lengket, kudekap dadanya, terdengar detak jantung tak berarturan, detak yang bergantungan temponya, seperti tempo metronom Mike Portnoy, bau tidak sedap mampir ke pencimanku, lelehan busanya terjun keparit-parit keramik membentuk arus mencari tempat yang paling rendah. Orang-orang berdatangan dari segala arah, mungkin ingin sekadar melihat kejadian ini dari dekat, atau juga hanya ingin ikut berpartisipasi melihat aku malu. Luar biasa terkejutnya aku menyaksikan kejadian itu. Lebih terkejut lagi saat kudapati sosok tubuh yang tak asing di mataku datang sambil bertolak pinggang seraya menitipkan mata yang tidak menyenangkan. Iya, dialah istriku yang berdiri bak rambo yang siap memuntahkan peluru dari senapannya. Aku tak dapat berkata apa-apa, namun sesaat setelah itu kerumunan itu pecah setelah seorang penjaga toko datang bak Musa yang membelah laut, namun bedanya ia tidak membawa tongkat, tapi alat pel dan seember air sebagai mukjizatnya. Oh Tuhan, ia memang benar-benar nabi bagiku!!

Kutinggalkan nabi itu, maksudku penjaga toko itu, sesegera mungkin aku ambil langkah seribu, meninggalkan bayangan istriku yang kini mengekor di belakang.

Kuceritakan apa adanya kejadian yang baru saja terjadi kepada kasir toko, ia tampak mengangguk-angguk dan memaklumi apa yang telah dilakukan anak sekecil anakku itu. Dengan sedikit senyum, kasir itu berkata “Oh, iya, tidak apa-apa pak, namanya juga anak kecil.” yap, jawaban seperti itu memang sudah aku prediksi. “Berapa saya harus membayar ganti ruginya mbak?” tanyaku sambil merogoh dompet di kantong belakang celana jeansku. “22.200, Pak” seperti tersambar listrik ribuan Volt aku mendengar jawaban sang kasir. Mendadak ruang  flashback kejadian anakku yang merobek bungkus mie instan hadir di kepalaku.

 

Mulla Hijrah

Jika memang kata-kata

mampu membawamu ke sana

maka jamahlah ia

lalu pulanglah

dan biarkan kau nikmati

bunga kamboja yang berguguran

mengikat ingatan mereka dengan tali kecil

rincis air matamu tampak lebih dingin

mungkinkah kau dapat menyeka kalimat

yang terlampau meninggalkan

dirimu

sendiri. []

ambar listrik ribuan Volt aku mendengar jawaban sang kasir. Mendadak ruangflashback kejadian anakku yang merobek bungkus mie instan hadir di kepalaku.

Mulla Hijrah

Jika memang kata-kata

mampu membawamu ke sana

maka jamahlah ia

lalu pulanglah

dan biarkan kau nikmati

bunga kamboja yang berguguran

mengikat ingatan mereka dengan tali kecil

rincis air matamu tampak lebih dingin

mungkinkah kau dapat menyeka kalimat

yang terlampau meninggalkan

dirimu

sendiri. []

Share