Tags

Related Posts

Share This

Upacara Utara Kota

Di penghujung musim dingin, bulan desember, utara kota menjadi begitu memilukan, ribuan orang, jutaan orang menangisi upacara perpisahan, upacara yang baru kali ini diselenggarakan oleh penduduk kota.

Dunia memang mempunyai misteri yang sangat besar, setiap engkau berharap dapat melihatnya, kerikil-kerikil tajam akan siap menghantammu.Upacara perpisahan, taburan doa-doa dan air mata mengiringi jalannya upacara, bunga-bunga seakan layu, kata-kata begitu menyesakkan, puisi-puisi menjadi teriakan, doa-doa menjadi air mata.

Terkadang kesedihan menjadi begitu bising, memuakan, orang-orang seakan tak mau tau entah dengan apa harus mengartikan hidup ini, bahkan mereka kini tak lagi lancar membicarakan hal-hal yang tidak berguna, hanya sedikit bahkan sampai tak ada lagi kata yang bisa keluar dari bibir mereka. Yang mereka tau hanya menangisi saudaranya, yang mereka tau mereka mencintai saudaranya. Burung-burung camar seakan memeluk senja yang murung lantaran umpatan-umpatan mereka yang bersedih dalam doa.

Dua bulan yang lalu mereka sempat tertawa, tersenyum, berkata-kata, betapa indahnya senja, purnama, malam, awan, deru ombak, kapal-kapal kecil, lentera malam pinggir pantai yang dibawa para nelayan, dan seorang penyair yang merasa bebas dengan angin menulis, kemudian membacakan puisinya dengan sisa-sisa suara dalam tenggorokannya.

 

“Ada teriakan yang sangat lantang dari sela-sela kehidupan. Malam dengan kejora di ambang langit, serta ratusan bintang mengangkasa sesekali tertiup keheningan.”

Sang penyair pun merebahkan tubuh kurusnya bersama ribuan pasir di hatinya, di angan-angannya dengan tertawa, tersenyum, berkata-kata.

Utara kota, utara kepedihan, utara kata-kata yang kemudian menjadi kesedihan, utara doa-doa yang kemudian menjadi umpatan, utara segala utara, hingga langit tak sempat utarakan rindunya pada bumi, pada awan, bahkan bintang yang meredup karna pilu.

Para penduduk kota berjalan dengan dengan tali mengikat di leher mereka, mereka mencaci hari. Upacara yang paling aneh yang belum pernah terjadi selama ratusan tahun. Hari-hari kemudian menjadi begitu menjemukan.

Kemarin masih aku ingat orang-orang berlari seakan kakinya tertembak peluru, meraung, menjerit, mereka berlari sekuat mereka, mereka, mereka hanya bisa berlari dan berlari.

“Mama.. hanya ini yang bisa kita lakukan, berdoa dan berdoa, berharap untuk bisa lagi merasakan hari-hari.” lirih sekali seorang lelaki setengah baya berbisik pada istrinya yang tak henti-hentinya menangis. “Anak kita pak! Anak yang kita sayangi”. Seakan memuisikan kata-katanya, seakan tegar terhadap ujian ini, terseok-seok memanggil nama-Nya. Tuhan menulis takdir mereka di atas daun lontar yang telah mengering dengan pena dan tinta emas. Dia menuliskan segalanya tentang mereka, dengan cinta, dengan karunia, dengan kuasa, dengan kekuasaan, tulisan, dengan nama-nama kebesaran-Nya, dengan takdir , dengan garis, gurat, dan gelombang. Tuhan memberi kabar kepada mereka melalui surat yang setiap harinya ia kirimkan ke alamat cinta mereka, alamat hati, jantung, Dia selalu datang dalam mimpi mereka, cumbu mereka.

Musim adalah warna yang kian hari semakin memudar, bumi adalah kata yang kian hari semakin serak, langit adalah muram yang kian hari semakin jalang. Ah, kota dengan upacara ribuan jenazah, dengan doa, dengan tangisan tak henti-hentinya. Seorang ibu dengan sesak nafas di ujung paru-parunya, menahan tangisan yang mulai mengering, terbaring anaknya di pangkuannya, anak yang dengan segenap jiwa dan raganya, dengan hati dan sanubarinya ia kasihi, kini pergi. Malaikat memluk ruhnya. Malaikat mengikat takdirnya.

Sebelum meninggalkannya, sang anak sempat merayakan hari ulang tahunnya dengan ibu dan ayahnya. Kenakan topi kerucut dan terompet kecil, tertawa, tersenyum, berkata-kata, dan kini seakan semuanya menjadi hanya catatan kecil dalam sejarah yang sulit mereka percaya dan pahami sama sekali.

Kenyataan pahit bukanlah terletak pada bagaimana kepergian menjadi begitu memilukan, kenyataan pahit bukanlah pada mengapa kepergian menjadi begitu getir, kenyataan pahit adalah harus dengan apa kita mengartikan semuanya ini. Kepergian akan datang kepada kita ketika kehidupan berjalan. ini cukup “adil” untuk kita.

Di penghujung bulan tahun ini, mereka tak bisa lagi mempercayai siapa pun, apa pun, orang-orang, bulan, debu, matahari, serta malam-malam yang pernah menemani mereka dulu, kini bahkan tak lagi mereka percayai. Mereka kini adalah lelaki dan perempuan yang rapuh yang telah terluka ribuan kali, lukanya adalah deburan ombak yang mustahil akan terhenti. Kata-kata terus saja terlontar dari mulut mereka. Mereka tidak lagi bisa menangis, mereka tertawa dalam kegetiran, mereka berkata-kata, namun hati mereka seolah tak bisa lagi meraba sebuah perasaan, perasaan bagi mereka mungkin telah lama meninggalkan mereka. Para kekasihnya telah tiada, adik-adik mereka, ibunya, ayahnya, segalanya. Yang gila yang kehilangan.

Kenangan minggu lalu yang sangat romantis. Seorang gadis tersipu malu cium tangan kekasihnya, tanyakan hatiku, disapanya dengan dengan mata yang basah, diusap dahinya dengan hujan, disimpan matanya di sela-sela bibirnya, diraih hidungnya, dilemparkan pada keadaan yang mengherankan, direngkuh bibir manisnya.. dibuka satu-persatu emosinya, dimakan rambutnya, tanyakan hatinya, tanyakan hatinya. Begitu indah, namun itu emosi sejarah yang hilang dan tak ada lagi saat ini.

Di peluk senja yang makin menghilang mereka kembali ke tepi pantai, tanyakan kepada ratusan pasir, tanyakan pada awan yang mulai berganti hitam, ke mana kebahagiaan akan diraih? Apakah bersabar adalah bahagia? Apakah berdoa adalah kebahagiaan? Sisa-sisa suara ombak meneteskan air mata, lelehannya seakan terasa panas, dua garis linang yang tak pernah turun dari titik mata-mata mereka. Mereka jeritkan ketidaksetujuannya pada kenyataan. Seperti Socrates yang tetap bersikeras bahwa keberanian terletak bukan hanya pada kesatria yang gugur di medan tempur.

Waktu memang selalu menikam kita siang dan malam, menghukum keadaan dengan emosi detik-detiknya. Memaksa hari-hari menjadi begitu munafik, di ujung persimpangan di dalam kisi-kisi empat dimensi. Lalu semuanya menjadi batu, tak lagi bisa bicara, tak lagi bisa berkata-kata..

Seluruh penduduk kota menjerit lantang, mengapa? Apakah ketika kebahagiaan direnggut alam, kami bisa lagi mengartikan kehidupan? Apakah ketika linangan air mata berganti simbahan darah, kami bisa mengganti setiap detik yang pahit? Apakah ketika doa menjadi gemuruh yang sangat menyakitkan, kami bisa lagi tau arti sebuah cinta?

Seorang ibu meratapi anaknya, seorang suami meratapi istrinya, seorang kakak menangisi adiknya, seorang kakek merindukan cucunya, seorang sahabat menantikan sahabatnya, seorang paman menangisi keponakannya, seorang kekasih mangharapkan kekasihnya. Apakah mereka yang harus menanggung semua ini?

Dua hempasan badai yang begitu mencekam, menikam, puing-puing keresahan, menyesakkan, memilukan. Lalu dengan takdir, kota menjadi begitu riuh, ribuan orang datang dari segala penjuru, menyesaki jalannya upacara ini, mereka berbaris seakan tak perlu lagi mendapat aba-aba, mereka menangis mengikuti tangisan yang ada, seakan menjadi lagu kebangsaan mereka. Langit terbuka lebar, burung-burung terbang ke sana ke mari, deru ombak menjadi kutukan, deru ombak seakan menjadi tempat sampah yang dikucilkan, sebagian orang menyelam mencari secercah cahaya impian, sebagian orang meniupkan angin keresahan ke pesisir utara, membanjirinya dengan air mata yang mengering.

Puluhan mata kamera berbaris untuk meneriakkan kesedihan mereka yang mendalam menyampaikannya ke pelukan kita. Kita yang hanya bbisa menatap mereka di televisi, mendengar mereka di radio, dan membicarakan kemalangan mereka di sela-sela makan siang kita.

Ribuan kata-kata duka di setiap seminar, penggalangan dana, pertemuan doa bersama, bank-bank seakan sibuk dengan transfer puluhan miliar rupiah di rekening-rekening dunia. Bukan, bukan ini yang mereka nantikan, bukan, bukan ini yang bernama kebahagiaan, bukan ini yang mereka rindukan.

Kita ingat betapa indahnya langit ketika ribuan kembang api dinyalahkan ke udara, kita ingat betapa senangnya orang-orang berdansa mengikuti alunan lagu-lagu tentang cinta, tentang kesenangan, kita ingat betapa riuhnya kota dengan suara-suara terompet, kita ingat bahwa esoknya adalah hari libur yang dinantikan semua orang, namun kini semua menghilang, seakan semuanya tak lagi pernah berlaku, kota-kota kini mengikuti jalannya perayaan awal tahun dengan upacara perpisahan di utara kota itu. Perayaan yang sangat aneh, perayaan kota dengan keheningan, dengan ribuan orang-orang yang seakan bisu, tak tau harus melakukan apa mereka, hingga malampun membiru menahan haru. Hari-hari menjadi begitu membingungkan.

Sisa-sisa kenangan telah tersimpat rapat dalam dimensi yang lalu, kata-kata dan tangisan seakan menjadi ombak besar yang kembali kepada laut dan menyampaikan salam perpisahan, pesan-pesan kerinduan akan penantian kelak di kehidupan selanjutnya.

Perasaan mereka entah ke mana, meninggalkan masa lalu yang menyesakkan hati mereka, seorang ibu menyerahkan segalanya pada kerelaan, seorang suami mencoba menghadapi takdirnya dengan kepalan tangan di dada kirinya, seorang kakak kembali tersenyum melihat mainan adiknya, seorang kakek mencoba berkata-kata menceritakan kecerdasan cucunya, seorang kekasih kembali yakin dengan potret wajah kekasihnya di dompetnya, semuanya harus kembali pada hidup mereka, cinta mereka, jiwa mereka, dan apa pun yang telah melintasi jalan takdir mereka.

Matahari bersinar di ufuk timur, lalu meninggalkan hari di ufuk barat. Bumi, langit, awan, udara, pohon-pohon, air, bunga-bunga, batu, burung-burung, pagi, siang, malam, bintang, bulan, angkasa, dan hati-hati yang ditinggalkan, semua berkabung!

Bandung 2 Maret 2005
Untuk para saudaraku yang terkena musibah Tsunami Aceh, Desember 2004

 

Mulla Hijrah

Hezra Ahmad

hezraahmad@yahoo.co.id

Share