DI MEJA MAKAN


Pagi hari,

suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah maka suaranya akan menggema hingga keseluruh sudut rumah. Dan siapapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, dingin yang membuat bulu roma berdiri walau sudah memakai pakaian berlapis sembilan sekalipun.

Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan perempuan bertubuh besi memakai pakaian pelayan mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.  Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun menata perabot, menyiram pot bunga, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketukan langkah dari si tubuh besi ini yang sedang berjalan berat menuju satu tempat ke tempat yang lain.

Terlihat di sebuah meja makan yang terbuat dari kaca tebal sepanjang 15 langkah orang dewasa sudah terhidang makanan lezat dari ujung hingga ujung meja, pelayan bertubuh besi secara hilir mudik menaruh piring-piring dan mangkuk-mangkuk  yang berisi makanan di atas meja, dari satu mangkuk, dua mangkuk, tiga mangkuk hingga puluhan mangkuk berjajar sepanjang meja makan. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berperangai gagah duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuah cincin emas putih, pun jari si perempuan.

Si lelaki               : apakabar malammu?

Si perempuan     : baik

Si lelak                  : apa kau tidur dengan nyenyak?

Si perempuan    : tentu saja ( sambil tersenyum )

Si lelaki                : aku ingin mengajakmu keluar hari ini

Si perempuan    : baik

Si lelaki                : baiklah, setelah ini kau bersiap-siaplah

Si perempuan    : baik

 

Siang hari,

suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah maka suaranya akan menggema hingga keseluruh sudut rumah. Dan siapapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, dingin yang membuat bulu roma berdiri walau sudah memakai pakaian berlapis sembilan sekalipun.

Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan perempuan bertubuh besi memakai pakaian pelayan mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.  Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun menata perabot, menyiram pot bunga, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketukan langkah dari si tubuh besi ini yang sedang berjalan berat menuju satu tempat ke tempat yang lain.

Terlihat di sebuah meja makan yang terbuat dari kaca tebal sepanjang 15 langkah orang dewasa sudah terhidang makanan lezat dari ujung hingga ujung meja, pelayan bertubuh besi secara hilir mudik menaruh piring-piring dan mangkuk-mangkuk  yang berisi makanan di atas meja, dari satu mangkuk, dua mangkuk, tiga mangkuk hingga puluhan mangkuk berjajar sepanjang meja makan. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berperangai gagah duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuah cincin emas putih, pun jari si perempuan.

Si lelaki               : apa kamu sudah siap?

Si perempuan    : iya

Si lelak                 : baiklah, kita akan berangkat setelah makan

Si perempuan    : baik

 

Di malam hari

suasana sangat hening di sebuah rumah yang sangat besar. Terlalu besar hingga kau dapat memasukan beberapa gajah ataupun jerapah kedalamnya, seperti kapal Nabi Nuh yang menyelamatkan manusia dan binatang saat bandang datang berjuta tahun yang lalu. Lalu jika kau melangkah maka suaranya akan menggema hingga keseluruh sudut rumah. Dan siapapun akan mendengar langkahmu mendekat ataupun menjauh dari rumah yang seperti istana itu. Kau juga dapat merasakan dingin yang sangat, dingin yang membuat bulu roma berdiri walau sudah memakai pakaian berlapis sembilan sekalipun.

Rumah sudah mulai ramai, pelayan – pelayan perempuan bertubuh besi memakai pakaian pelayan mulai sibuk mengerjakan berbagai pekerjaan rumah tangga.  Ada yang membersihkan kaca, mengepel, memasak, membersihkan tempat tidur ataupun menata perabot, menyiram pot bunga, suasana sibuk sudah terlihat. Namun hening…, yang terdengar hanya suara dentingan wajan, dengungan mesin penyedot debu, aliran air, atau ketukan langkah dari si tubuh besi ini yang sedang berjalan berat menuju satu tempat ke tempat yang lain.

Terlihat di sebuah meja makan yang terbuat dari kaca tebal sepanjang 15 langkah orang dewasa sudah terhidang makanan lezat dari ujung hingga ujung meja, pelayan bertubuh besi secara hilir mudik menaruh piring-piring dan mangkuk-mangkuk  yang berisi makanan di atas meja, dari satu mangkuk, dua mangkuk, tiga mangkuk hingga puluhan mangkuk berjajar sepanjang meja makan. Seorang lelaki muda berumur sekitar 30an berperangai gagah duduk di ujung meja sambil memandang ke depan dengan mata berbinar dan senyum mempesona. Dilihatnya seorang yang sudah duduk di ujung meja hadapanya. Terlihat di jari lelaki itu melingkar sebuah cincin emas putih, pun jari si perempuan.

Si lelaki               : bagaimana hari ini?

Si perempuan    : baik

Si lelak                 : apa kau senang?

Si perempuan    : tentu saja ( sambil tersenyum )

Si lelaki               : aku senang mendengarnya. Apakah kau besok mau pergi lagi denganku?

Si perempuan    : mau

Si lelaki               : baiklah, besok kita akan pergi beberapa hari, jadi siapkan pakaianmu

Si perempuan    : baik

Si lelaki hanya tersenyum melihat si perempuan di balut gaun merah berkerah V. bibirnya terpoles gincu merah merekah, mengkilat seperti tubuhnya. Si perempuan hanya duduk diam sambil memandangi si lelaki yang sedang lahap memakan santapan malam.

 

23 mei 2011

20:24

 

Siti Anisah

anizt_sukidasuki@yahoo.com

Share


Leave a Reply