<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>laritelanjang</title>
	<atom:link href="http://laritelanjang.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://laritelanjang.net</link>
	<description>berlari bertelanjang bersenang senang</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 04:14:52 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>&#8220;Who are you? What are you?&#8221;</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who-300x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="who" title="who" /></p>Dua minggu terakhir saya terbebani oleh beberapa pernyataan yang berkaitan dengan identitas kebangsaan. Pernyataan ini demikian menohok karena keluar dari beberapa kenalan baru yang non-Indonesia. &#160; Saya pun jadi teringat waktu masih sekolah dulu, mulai dari SD, SMP, sampai SMA, betapa saya -kita atau kami- terdoktrinasi nilai nilai pekerti yang konon adalah identitas bangsa Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who-300x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="who" title="who" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/who/" rel="attachment wp-att-1010"><img class="aligncenter size-full wp-image-1010" title="who" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who.png" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p>Dua minggu terakhir saya terbebani oleh beberapa pernyataan yang berkaitan dengan identitas kebangsaan. Pernyataan ini demikian menohok karena keluar dari beberapa kenalan baru yang non-Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya pun jadi teringat waktu masih sekolah dulu, mulai dari SD, SMP, sampai SMA, betapa saya -kita atau kami- terdoktrinasi nilai nilai pekerti yang konon adalah identitas bangsa Indonesia yang menganut budaya Timur. Sebut saja misalnya kejujuran, ramah tamah, toleransi, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, sopan santun, etika, dst. Nilai nilai ini biasanya diajarkan oleh guru saya pada pelajaran PMP/ PPKN, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Sosiologi (SMA jurusan IPS). Maka tak heran, tolok ukur kenaikan kelas ada pada pelajaran pelajaran tersebut (biasanya ditambah juga pelajaran Agama, tapi saya tidak akan membahas itu), karena pelajaran mengenai identitas kebangsaan adalah penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu, saya suka sekali pelajaran pelajaran itu, bukan hanya karena mudah mendapat nilai yang bagus (walaupun hampir semua murid nyaris mendapat nilai yang sama: 8), tetapi sebagaimana juga anak anak pada umumnya, berbudi pekerti yang baik memang lebih mudah dijalankan sewaktu kecil. Saya bisa dengan mudah mempraktekkan ajaran guru saya maupun cerita dalam buku buku pelajaran. Jika Budi senang membantu bersih desa di lingkungan Desa Suka Makmur, maka saya pun kerap beberapa kali turut membantu gotong royong di komplek rumah saya. Jika ayah Budi kerap mendatangi rapat musyawarah desa, saya juga sering menerima undangan rapat Rt untuk orang tua saya. Intinya, waktu saya masih kecil, pendidikan nilai nilai itu terasa begitu nyata, alami dan penuh kesadaran, bukan hanya teori atau doktrinasi. Bagaimana pentingnya kejujuran, keramahtamahan, toleransi, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, sopan santun dan etika, secara nyata diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari, yang pada saat itu bisa jadi cita cita menjadi bangsa yang bermartabat masih ada dalam diri setiap orang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dua dekade telah berlalu, hanya dalam rentang waktu itu nilai nilai yang saya pikir telah tertanam dan berakar dengan kuat kini dipertanyakan. Bukan hanya oleh saya, tetapi juga oleh orang asing yang seringkali mendengar kebaikan orang Indonesia dari pengalaman orang orang yang pernah ke Bali (bisa jadi kebaikan adalah bagian dari pariwisata).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di lingkungan kecil saya, tempat dimana saya mengaktualisasikan diri, nilai nilai ini semakin tidak kentara. Suatu ketika kami membuat proyek yang berskala internasional, kami pun mengundang beberapa rekan dari berbagai negara di dunia. Terlepas dari persoalan klasik hingga moderen, proyek tersebut ternyata membuahkan satu masalah besar, yakni kekecewaan rekan rekan internasional tersebut terhadap sikap kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pernyataan pertama muncul dari seorang rekan asal Jepang, yang tidak habis pikir bagaimana orang Indonesia yang terkenal dengan keramahtamahannya bisa menjadi begitu tidak beretika dan tidak menghargai keberadaannya. Saat itu saya hanya bisa menjawab, bahwa yang ia temui disini adalah orang Jakarta, tidak berarti semua orang Indonesia seperti itu. Orang Jakarta mungkin sama halnya dengan orang orang di kota besar lainnya di seluruh dunia (meskipun saya sendiri kurang paham bagaimana sebenarnya orang orang di kota besar lain di seluruh dunia). Lantas pernyataan pernyataan lainnya pun bermunculan dari rekan rekan dari berbagai negara, masih seputar kekecewaan mereka terhadap kami. Mereka menyesali bagaimana kami tidak menghargai waktu, tidak menghargai komunikasi, tidak ringan tangan terhadap kesulitan mereka, tidak melibatkan mereka dalam pembahasan masalah dan mencari solusi, lamban menangani masalah, tidak dapat dipercaya, dan segalanya semakin memburuk dengan tidak ada satu kata maaf pun tersampaikan secara resmi dari pihak kami, yang mana sikap tersebut seperti pecundang di mata mereka. Karena sebagaimana acara yang berskala internasional, mungkin mereka mengharapkan kami bersikap layaknya representatif kolektif dari bangsa Indonesia yang terkenal dengan budi pekertinya yang baik itu. Terlebih lagi proyek yang kami jalani masih terkait dengan dunia seni dan budaya, maka pernyataan atau pertanyaan kritis perihal identitas kebangsaan pun menjadi mudah terlempar dari benak mereka sebagai penggiat seni dan budaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaan semacam &#8220;Who are you? What are you?&#8221; memang tidak pernah mudah untuk dijawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menerima pernyataan dan pertanyaan mereka, saya lumayan tertohok, dan dengan insting kesoktahuan saya, saya berpikir mungkin ada baiknya kita membuat deklarasi.</p>
<p>&#8220;Kami orang Indonesia.</p>
<p>Dulu, saat kalian menyebut kami dengan sebutan negara berkembang yang menjadi bagian dari dunia ke-3, kalian akan mudah mengenali kami, kemanapun kami pergi dan dimanapun kami berada, melalui cara kami berpikir, berbicara dan bersikap. Kalian pelajari identitas kami melalui kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur kami, dan kalian &#8216;menempatkan&#8217; kami di sisi Timur karena kulit kami sawo matang, dan kalian &#8216;melabeli&#8217; kami terbelakang karena saudara kami masih telanjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, kami mengirim anak anak kami sekolah di luar negeri, kami pelajari bahasa persatuan kalian dan bahkan kami menguasai bahasa bahasa lain di dunia. Kami mengoleksi sepatu dan tas rancangan kalian, kami mampu membeli teknologi yang kalian buat. Kami berbulan madu keliling dunia dan memasang fotonya di akun Facebook kami. Kami mempelajari seni tinggi dan peradaban tinggi. Kami mengerti ilmu pengetahuan kalian dan mengadaptasikannya di tanah kami yang basah. Kami membangun gedung gedung tinggi dan mal mal untuk bersosialisasi atau sekedar mempraktekan budaya minum anggur dan kopi.</p>
<p>Ya, kami orang Indonesia, yang telah mampu bukan hanya merebut tetapi juga menyerap dengan seksama kebudayaan kalian dan apa yang kami kenali sebagai identitas kalian. Dan ya, sepertinya kami bangga menjadi ter-Baratkan atau ter-asingkan. Sepertinya kami bangga menjadi tercerdaskan dan berbicara mengenai kepintaran kami di ruang ruang publik. Sepertinya kepentingan kami jauh lebih penting ketimbang &#8216;gotong royong&#8217; sebagai label kekuasaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin, kami adalah bangsa yang dinamis, dan bukanlah pohon yang tertanam dan berakar kuat, yang tanahnya hancur oleh gempa bumi atau hanyut dalam lautan lumpur. Dalam tubuh kami mengalir darah darah biru sisa koloni, atau sekedar suntikan vitamin C agar kami menjadi putih dan enak dilihat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, sepertinya kami merasa lebih baik seperti saat ini, bukan yang dicita citakan para guru SD kami beserta buku buku PMP/ PPKN. Kebebasan bagi kami adalah menjadi diri sendiri, kemerdekaan bagi kami adalah mencari identitas yang sejalan dengan jaman. Lalu kalian mempertanyakan dengan heran, bagaimana bisa kami semenjadi ini? Maka jawabnya, kenapa tidak?&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Krisis identitas, rasanya istilah itu begitu akrab ketika saya masih SMP dan hobi menonton MTv. Tapi sekarang istilah itu muncul lagi di benak saya saat menghadapi orang orang asing itu. Kekecewaan mereka mungkin saja hanya kepada beberapa gelintir orang yang mereka anggap tidak profesional (katakanlah, semuanya menjadi mudah tersampaikan dengan istilah tidak profesional, bukan perkara identitas kebangsaan). Tapi bodohnya saya, saya malah menganalogikan lingkungan kecil tempat saya mengaktualisasikan diri ini sebagai republik kecil, miniatur dari NKRI. Karena bukan tidak mungkin, gejala gejala itu juga terjadi di pelosok NKRI lainnya, sebagaimana sering saya lihat di televisi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Indonesia, siapakah kamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>mawwar_berduri@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lazyday</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 04:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[typo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="211" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday-211x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="lazyday" title="lazyday" /></p>&#160; font by tups click to download&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;lazyday.ttf or download at &#8212;    http://www.dafont.com/lazyday.font]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="211" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday-211x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="lazyday" title="lazyday" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/lazyday/lazyday/" rel="attachment wp-att-1001"><img class="aligncenter size-full wp-image-1001" title="lazyday" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday.jpg" alt="" width="595" height="842" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>font by tups</p>
<p>click to download&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;<a href="http://laritelanjang.net/2012/lazyday/lazyday-ttf/" rel="attachment wp-att-1002">lazyday.ttf</a></p>
<p>or download at &#8212;  <a href="http://www.dafont.com/lazyday.font">  http://www.dafont.com/lazyday.font</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Kakakku Kecelakaan</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 03:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=995</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="194" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan-300x194.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kakak-kecelakaan" title="kakak-kecelakaan" /></p>Tahukah kalian berapa banyak orang baik hidup di dunia ini? Terlalu banyak untuk dihitung!   -Sherman Alexie     Beberapa tahun lalu di satu siang pada bulan Mei tahun 1998. Tubuh kakakku terpental sejauh lima meter setelah tertabrak sebuah mobil boks, di depan hidung ibuku. Aku baru saja pulang sekolah saat itu dan hendak mengganti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="194" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan-300x194.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kakak-kecelakaan" title="kakak-kecelakaan" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/kakak-kecelakaan/" rel="attachment wp-att-996"><img class="aligncenter size-full wp-image-996" title="kakak-kecelakaan" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan.png" alt="" width="800" height="519" /></a></p>
<p align="right"><em>Tahukah kalian berapa banyak orang baik hidup di dunia ini? Terlalu banyak untuk dihitung!</em></p>
<p align="right"><em> </em></p>
<p align="right">-Sherman Alexie</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Beberapa tahun lalu di satu siang pada bulan Mei tahun 1998. Tubuh kakakku terpental sejauh lima meter setelah tertabrak sebuah mobil boks, di depan hidung ibuku. Aku baru saja pulang sekolah saat itu dan hendak mengganti seragam merah putihku ketika kemudian terdengar pekik keras Ibu. Aku berlari ke pintu dan mendapati ibuku sedang menangis dalam pelukan seorang perempuan tetangga rumah. Ayah langsung melarikan tubuh kakakku ke Rumah Sakit dengan angkutan umum ditemani dua pria warga desa, sementara Santoso (kami kemudian memanggilnya Pak Santo), laki-laki keturunan Cina berusia 40 tahun pengendara mobil boks tersebut mengikuti dengan mobilnya dari belakang. Beberapa tahun kemudian ayahku kembali menceritakan, sesampainya mereka di Rumah Sakit, kakakku sempat dirawat di ruang UGD beberapa jam, kemudian dibawa ke ruang radiologi untuk difoto <em>rontgen</em> sebelum akhirnya ditempatkan di ruang perawatan biasa.</p>
<p>Berkali-kali Pak Santo meminta maaf atas tragedi tersebut. Sudahlah, sudah takdir, semuanya memang mesti terjadi, kata Ayah menanggapi permintaan maaf laki-laki itu.</p>
<p>”Sebaiknya Bapak cepat-cepat pergi sebelum polisi datang dan menambah ruwet urusan. Pergilah sekarang juga. Kami bisa mengurus semuanya.” Ayah berbicara seraya memandangi tubuh kakakku yang tak berdaya di atas ranjang perawatan. Namun Pak Santo tidak menghiraukan ucapan itu. Ia akan tetap berada di Rumah Sakit sampai keadaan lebih baik dan ia berjanji akan menanggung semua biaya perawatan. Mendengar perkataan itu, ayahku berpura-pura marah padanya dan mengatakan bahwa ia juga mampu untuk membayarnya. Tetapi lagi-lagi pria baik hati tersebut bersikeras dengan pendiriannya.</p>
<p>Sore harinya aku bersama Ibu menyusul ke Rumah Sakit. Kami mendapati Ayah didampingi oleh Pak Santo duduk di samping ranjang tempat kakakku terbaring tak sadarkan diri. Dua warga desa yang tadi ikut menemani ayahku ke Rumah Sakit sudah pulang. Setangah jam yang lalu, kata Ayah. Aku dan Ibu masuk, berdiri di samping ranjang, memandangi tubuh kakakku yang separoh tertutup selimut putih bergaris-garis biru. Di tangannya terpasang selang infus, dari hidung menjulur selang oksigen dan tangan kirinya terbalut kain kasa putih. Di tembok di atas kepalanya sebuah monitor terpasang: memperlihatkan garis-garis warna  hijau disertai bunyi monoton. <em>Tut..tut..</em>Sebuah televisi 17 inchi ditaruh di atas meja di samping ranjang.</p>
<p>Menjelang malam kami berempat duduk di teras belakang ruang perawatan. Ayah dan Ibu duduk di dekat pintu agar tubuh kakakku masih bisa diawasi. Dari pembicaraan mereka akhirnya aku bisa mengetahui kalau Pak Santo tinggal di Jakarta dan kebetulan sedang melintas di kota kami ketika akhirnya kemalangan itu terjadi.</p>
<p>Rumah tinggalku berada di pinggir jalan utama yang menghubungkan antara Jakarta dan Yogyakarta. Oleh karena itulah maka jalan raya di depan rumahku tidak pernah sepi dari lalu lintas kendaraan. Raungan truk-truk besar atau bus-bus antar kota selalu mengisi ruang tamu rumah. Ketika musim mudik menjelang lebaran tiba, aku biasa duduk di teras rumah bersama kakak, memandangi jalan raya yang dipadati begitu banyak kendaraan.</p>
<p>Malam itu akhirnya kami menjadikan teras Rumah Sakit tersebut sebagai tempat makan malam, dengan menu yang didapat ibuku dari kantin Rumah Sakit. Berempat kami duduk melingkar di atas lantai beralaskan tikar yang ibu bawa dari rumah tadi sore. Di depan kami masing-masing terdapat kardus putih berisi nasi, ayam goreng serta saus yang dikemas dalam plastik. Seperti yang biasa kami lakukan di rumah sebelum makan, kami memejamkan mata terlebih dahulu untuk berdoa di hati masing-masing. Pada kesempatan kali itu, aku tidak memejamkan mata, aku terpukau oleh cara Pak Santo yang menurutku saat itu aneh dalam melakukan ritual sebelum makan. Ia menggenggam telapak tangan beberapa saat di depan dada setelah itu menyentuhkan jemarinya ke jidat dan menyilangkan ke pundak kanan dan kiri. Dari situ pula aku kemudian memperhatikan warna kulitnya yang begitu putih dan matanya yang hanya seperti garis melintang di balik kaca mata serta rambutnya yang pasti selalu disisir rapi.</p>
<p>Selama beberapa saat tidak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing karena disibukkan oleh makanan. Diam-diam aku selalu mencuri kesempatan untuk memandang ke arah Pak Santo, memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama seolah sedang melihat jenis manusia aneh. Kadang tanpa disengaja tatapan kami bertemu, dan laki-laki itu akan tersenyum ke arahku hingga aku tertunduk malu.</p>
<p>Ibu hanya menghabiskan separuh makanannya, dan sisanya dilimpahkan kepadaku. Tidak begitu lapar, katanya. Aku menggeleng namun ia tetap membujukku dan  menyuapkan makanan itu ke mulutku.</p>
<p>Selesai makan. obrolan pun berlangsung.</p>
<p>“Aku memiliki seorang anak perempuan, baru dua tahun umurnya.” kata Pak Santo sambil mengelap jemarinya dengan tisu setelah ditanya ibuku tentang keluarganya. “Vina namanya.” Ia menghentikan ucapannnya dan menyeruput air mineral dari gelas plastik, lalu bangkit dan berjalan ke tepi lantai teras dan  menyiramkan sisa air mineral ke jari-jari bekas makan. Air bergemericik jatuh di atas rerumputan taman. Kemudian ia kembali ke tempat duduk semula dan mengambil dompet di kantong belakang celananya, mengeluarkan selembar foto berwarna yang masih terlihat jernih meskipun ada garis putih melintang di sudutnya karena bekas lipatan. Ia memperlihatkan foto itu kepada Ayah, kemudian Ibu mengulurkan tangan untuk melihatnya.</p>
<p>“Tidak ada suara yang lebih merdu di dunia ini daripada suaranya.” ucapnya dengan tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi-giginya yang putih. Kuperhatikan foto yang ada ditelapak tangan ibuku, gambar anak kecil berkulit putih bersih, memakai gaun putih dengan bagian bawah yang melebar seperti bunga mawar terbalik. Usianya mungkin 2 atau 3 tahun lebih muda dariku. Di bagian kepalanya diikat semacam kain tipis juga berwarna putih. Hampir tidak bisa dibedakan apakah ia malaikat kecil atau seorang anak manusia. Ia duduk di atas kursi kayu bergaya Jawa klasik. Tersenyum, matanya begitu sipit hingga kelihatan seperti sedang terpejam. Hidungnya mungil, pipinya bulat dan rambutnya hitam lurus diikat dengan pita di atas kedua telinga.</p>
<p>“Cantik sekali, Pak Santo. Anda sungguh diberkati.” puji ibuku.</p>
<p>“Terima kasih. Begitu pula kalian.” ucap Pak Santo sambil mengelus rambutku.</p>
<p>“O ya, maaf belum kenalan. Siapa nama kamu?” tanyanya padaku dengan lembut.</p>
<p>“Wulan.”</p>
<p>“Nama yang cantik sekali, secantik wajahnya. Kelas berapa?”</p>
<p>“Satu.” jawabku sambil mengangkat telunjuk di depan muka.</p>
<p>Kemudian kembali ia menghadap ke Ayah.</p>
<p>“Kalau yang itu, siapa namanya?” tanyanya sambil menunjuk ke arah kakakku.</p>
<p>“Lintang.” jawab Ayah.</p>
<p>”Ia kelas dua SMP sekarang.” sahut Ibu.</p>
<p>Pak Santo mengangguk. ”Seharusnya aku sudah memiliki dua anak,” ucapnya kemudian, “Anak pertamaku laki-laki. Namanya Daniel. Cuma sayang, ia ditakdirkan lain, hanya bertahan hidup selama enam jam selepas dari perut ibunya.”</p>
<p>”Maafkan kami.” kata Ibu.</p>
<p>“Tidak apa-apa.” kata Pak Santo menanggapi ungkapan bela sungkawa ibu.” Kalau masih hidup mungkin seusia anak ini.” Laki-laki itu menghadap ke arahku dan kembali mengelus rambutku.</p>
<p>Obrolan berlanjut ke masalah pekerjaan. Pak Santo bercerita bahwa ia memiliki toko alat-alat elektronik di Jakarta. Tidak besar tetapi lumayan ramai. Sementara itu ia juga menjadi pemasok dari salah satu produk elektronik di beberapa kota di luar Jakarta. Sewaktu kejadian kemarin, ia baru saja mengantarkan barang ke kantor agen di kota kami.</p>
<p>Terdengar pintu depan terbuka dari luar, lalu muncul di baliknya dua orang perawat; laki-laki dan perempuan, keduanya masih muda, memakai seragam putih bersih. Perawat laki-laki mendorong kereta tempat obat-obatan, berjalan di belakang perawat perempuan. Kami serempak bangkit dan masuk. Dua perawat itu berhenti di dekat ranjang yang ditempati kakakku, mempersiapkan suntikan dan membuka tutup botol berisi obat dan menyedot isinya dengan suntikan. Kami diam menyaksikan dua perawat itu bekerja; menyuntikan obat ke dalam selang infus dan mengusapnya dengan kapas yang telah dibasahi cairan alkohol. Kemudian mengulanginya lagi sampai tiga kali. Setelah semuanya selesai, mereka mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan. Kami masih terdiam ketika perawat itu pergi. Ayah berjalan ke kamar mandi dan Ibu membetulkan selimut yang menutupi tubuh kakak sementara Pak Santo memandangi layar monitor yang hanya selalu menampilkan garis-garis.</p>
<p>Pukul setengah delapan kami kembali berkumpul di teras, kali ini teras depan ruang perawatan. Di depan kami terdapat taman yang tidak begitu luas dengan lampu berbentuk bulat menerangi tengahnya.</p>
<p>Meskipun disediakan kursi juga meja namun kami tetap memilih duduk di lantai, disamping karena kursi yang tersedia kurang mencukupi juga untuk memudahkan pengawasan terhadap tubuh kakakku. Aku duduk di pangkuan Ibu menghadap ke arah Ayah dan Pak Santo, menikmati elusan jemari Ibu di rambutku dan pelukan lengannya yang melingkar di perutku.</p>
<p>Seorang laki-laki sebaya dengan Pak Santo, yang dari tadi kulihat merenung sendirian di kursi teras ruang perawatan sebelah ruangan kakakku, datang menghampiri dan duduk bersama kami.</p>
<p>“Nampaknya masih sangat muda dia.” kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah kakakku, mencoba meleburkan diri dalam pembicaraan kami.</p>
<p>“Benar, kelas dua SMP.” sahut ibuku.</p>
<p>“Kelas dua SMP.” Laki-laki itu menggumam.”Masih sangat panjang jalan ke depan.”</p>
<p>Kami terdiam sesaat. Begitu juga laki-laki itu.</p>
<p>“Kecelakaan?” tanyanya kembali.</p>
<p>“Ya.” jawab Ayah. Sempat kulirik Pak Santo ketika ayahku menjawab pertanyaan laki-laki itu dan kulihat ada sorot penyesalan yang dalam di matanya.</p>
<p>“Siapa yang sakit, Pak?” tanya Ayah kepada laki-laki itu.</p>
<p>“Bapakku.” jawabnya.”70 tahun lebih usianya.”</p>
<p>“Sudah berapa hari dirawat?” tanya Ibu.</p>
<p>Laki-laki tersebut diam sejenak memikirkan sesuatu, ”Satu minggu.” jawabnya.</p>
<p>“Sakit apa?” kembali ayahku bertanya.</p>
<p>“Menurut dokter ada tumor kecil di dalam sini.” katanya sambil meraba lambungnya sendiri. ”juga ada luka dalam. Dan mungkin juga faktor keletihan setelah bertahun-tahun menjalani hidup.”</p>
<p>Ayah mengangguk pendek.</p>
<p>“Terlalu keras dia bekerja sewaktu mudanya dulu.” lanjut laki-laki itu.”Hingga sekarang tubuhnya ambruk.”</p>
<p>“Semoga lekas diberi kesembuhan, Pak.” ucap ibuku.</p>
<p>“Ya, terima kasih.” kata laki-laki itu. ”Aku pun sangat berharap begitu, diberi kesembuhan dan diberi kesempatan yang lama lagi untuk menjalani hidup. Inilah saat bagiku untuk menghapus dosa-dosaku. Bertahun-tahun aku tidak pernah mempedulikannya. Hidupku saat itu hanya untuk cita-cita diri sendiri. Aku begitu egois. Dan sekarang, aku sangat menyesal.”</p>
<p>“Usia 19 tahun aku pergi dari rumah.” Laki-laki itu mulai bercerita.”Tidak pernah memberi kabar atau menengok atau apapun. Aku benar-benar menghilangkan diri selama 9 tahun. Ketika usiaku mencapai 28, aku pulang. Itu pun hanya sebentar, hanya untuk urusan pernikahan, pernikahan yang hanya bertahan seumur jagung dan tak menghasilkan apa-apa selain kepedihan. Setelah itu kembali menghilang selama bertahun-tahun. Hingga ketika ibuku meninggal pun aku tidak tahu, kemudian adikku yang selama itu mengurusi orang tua, juga meninggal, pun aku tidak mengetahuinya. Baru sekitar satu bulan yang lalu aku tersadar, disadarkan oleh perasaan yang sangat sepi. Benar-benar sepi, baru kali itu aku mengalaminya dalam hidup. Lalu aku memutuskan untuk pulang.” ia menghembuskan nafas sejenak. ”Kudapati rumah sudah begitu usang, dan bapakku kelihatan jauh lebih tua dari yang aku bayangkan. Sejak kepergian adikku, ia hanya ditemani oleh seorang keponakan perempuan. Itu pun tidak setiap waktu, hanya saat-saat tertentu saja. Sejak kedatanganku kembali, semua tugas kuambil alih. Aku merawatnya dengan sepenuh hati. Aku selalu berharap semoga ia diberi umur panjang agar aku bisa mengurusnya lebih lama lagi. Satu bulan setelah aku di rumah, ia jatuh sakit dan mesti dirawat inap.”</p>
<p>Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut kami setelah laki-laki itu berhenti bercerita. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di keremangan sudut-sudut taman dan teras ruang perawatan terlihat orang-orang sedang ngobrol. Di jalan di samping taman tiga perawat sedang mendorong ranjang yang ditempati seorang pasien.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar erangan dari dalam ruangan. Kami spontan bangkit dan berjalan ke arah tubuh kakakku. Sementara kami masuk, laki-laki itu hanya berdiri di pintu selama beberapa saat, kemudian pergi. Di atas ranjang kepala kakakku menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang ada mimpi buruk dalam tidurnya, dari mulutnya terus terdengar desahan. Baru saja Pak Santo hendak berlari keluar untuk memanggil perawat, kakakku kembali terdiam tak sadarkan diri.</p>
<p>Aku duduk bersama ibu di dekat pintu, sementara ayah dan Pak Santo duduk di kursi menyalakan televisi tanpa ada suara.</p>
<p>“Kalian carilah makanan ringan untuk kami,” suruh Ayah kepada Ibu, “juga kopi. Bapak mau kopi atau teh?” tanya ayahku kepada Pak Santo.</p>
<p>“Teh.” jawab laki-laki itu.</p>
<p>Aku berjalan tertatih di samping ibu menuju kantin. Melewati jalanan selebar tiga meter dengan tiang-tiang yang berjajar rapi di tepinya. Melangkah di antara pengunjung, perawat ataupun dokter yang memakai seragam warna putih. Melintas di depan pintu-pintu ruang perawatan dan menyaksikan tubuh-tubuh yang tertutup selimut putih terbaring di atas ranjang, hingga aku merasa begitu banyak orang sakit di dunia ini. Sementara ibuku terus berjalan seolah tidak peduli sama sekali dengan sekitarnya.</p>
<p>Tiba di kantin ibuku langsung menuju ke arah makanan yang berjajar di atas rak.</p>
<p>“Bu, Pak Santo lucu.” kataku.</p>
<p>“Lucu kenapa?” ia menyahut tanpa memalingkan wajahnya.</p>
<p>“Caranya berdoa sebelum makan begini.” Aku memperagakan apa yang kulihat ketika makan malam tadi.</p>
<p>“O.” Barulah saat itu ia berpaling dan tersenyum ke arahku.” Setiap orang bekerja dengan caranya sendiri-sendiri buat mencari uang. Begitu juga dengan berdoa.”</p>
<p>Setelah itu ia kembali tenggelam dalam kesibukannya memilih makanan; dua bungkus kacang goreng, dua bungkus kripik pisang, satu bungkus makanan ringan untukku, teh dan kopi yang masing-masing ditaruh di gelas plastik, lalu menyerahkan semuanya ke kasir kemudian keluar.</p>
<p>Ketika telah kembali di tempat kakakku berada, aku merasakan sesuatu yang ganjil melingkupi ruangan. Kakakku masih terbaring dengan posisi semula. Ayah dan Pak Santo sekarang berada lebih dekat dengan televisi yang volume suaranya telah sedikit diperbesar. Wajah mereka terlihat sangat tegang menatap layar tv yang sedang memperlihatkan gambar orang-orang berlari di tengah keremangan jalanan sambil membawa tongkat. Api berkobar dari ban yang dibakar di tengah jalan raya. Kaca-kaca gedung berantakan dan mobil-mobil telah berubah menjadi barang rongsok.</p>
<p>“Apa yang terjadi?” tanya ibuku yang ikut memperhatikan kejadian yang sedang ditayangkan di televisi.</p>
<p>“Ada kerusuhan di Jakarta.” jawab Ayah tanpa menoleh dari layar tv.</p>
<p>Di tengah-tengah kebisuan itu tiba-tiba kakakku kembali mengerang. Perhatian mereka teralihkan ke tubuh kakak, televisi langsung dimatikan. Kali ini erangannya lebih hebat, kepalanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku tak mampu untuk tetap berada di dalam ruangan. Aku berlari keluar dengan air mata yang tanpa sadar telah menetes di pipi. Terlihat Pak Santo juga berlari keluar ruangan untuk memanggil perawat. Beberapa saat kemudian kembali lagi bersama dua orang perawat di belakangnya.</p>
<p>Aku sudah tidak mempunyai keberanian lagi untuk masuk ruangan. Di teras ruang perawatan aku duduk menggenggam erat lengan kursi, mendengarkan erangan kakakku, mendengarkan isak tangis ibuku, mendengarkan suara sepatu perawat yang mengetuk lantai, mendengarkan denting botol obat. Seorang perawat laki-laki berjalan cepat keluar dari ruangan kakakku, dan berbelok ke sebuah gang. Tidak lama kemudian datang lagi diikuti seorang dokter laki-laki bertubuh agak gemuk.</p>
<p>Terdengar dari luar ruangan suara roda yang bergesekan dengan lantai. Dua orang perawat mendorong ranjang beserta tubuh kakakku ke satu tempat, dibantu oleh Pak Santo dan Ayah. Ibu meraih tanganku dan kami berjalan tertinggal beberapa meter di belakang rombongan. Sampai di ruang ICU, ranjang itu dimasukkan. Hanya ayah yang diperbolehkan menengok. Sementara ibu, Pak Santo dan aku disuruh menunggu di luar. Pak Santo nampaknya masih diliputi kecemasan oleh berita kerusuhan tadi. Ia memberitahukan kebetulan kerusuhan tersebut terjadi di daerah di mana ruko miliknya berada. Ruko tersebut selain untuk berjualan juga sebagai tempat tinggal, dan ia belum mengetahui kabar tentang keadaan istri dan anaknya saat ini. Kemudian ia berpamitan pada ibu untuk mencari telefon umum.</p>
<p>“Ya, cepat carilah kabar keluargamu.” kata Ibu.</p>
<p>Laki-laki keturunan Cina tersebut berjalan cepat meninggalkan kami berdua, menghilang di lorong bangunan. Terlintas bayangan di pikiranku seorang anak balita menangis dalam pelukan ibunya yang sedang dilanda ketakutan di sebuah ruangan dengan kaca-kaca hancur berantakan. Tak lama kemudian ayah muncul dari balik pintu dengan wajah lesu dan langsung ditanyai Ibu,”Bagaimana, Pak?”</p>
<p>Ayah merangkul pundak ibuku dan membimbingnya menuju kursi panjang di depan ruangan ICU.</p>
<p>“Kita tunggu keputusan Dokter.” jawab Ayah sambil menggenggam erat jemari Ibu.</p>
<p>Kami diam membisu beberapa saat hingga kemudian Ayah angkat bicara, ”Kalian pulanglah. Besok masih bisa kemari lagi. Tidak ada tempat istirahat di sini, jangan sampai kalian jatuh sakit.”</p>
<p>Akhirnya aku dan Ibu memutuskan untuk pulang malam itu. Sebelum pulang, ibu membawaku ke ruang perawatan semula untuk mengambil beberapa barang. Sementara ia sedang berada di dalam ruangan kosong tersebut, aku tetap berdiri di luar. Mencoba menghilangkan jenuh, aku berjalan-jalan hingga di depan pintu ruangan sebelahnya. Di situ aku melihat seorang pasien yang terbaring kaku, sementara dua orang perawat sedang mengikatkan kain putih di rahang pasien tersebut menuju atas kepala, setelah itu kedua lengannya dipertemukan di depan dada dan diikat di bagian pergelangan, terakhir kedua kakinya diikat di atas mata kaki. Kain batik warna coklat diselimutkan di sekujur tubuh pasien tersebut. Berdiri di sampingnya seorang laki-laki yang tadi sempat ikut ngobrol bersama Pak Santo dan orang tuaku tadi di teras ruang perawatan kakak.</p>
<p>Tanpa disadari Ibu telah berdiri di sampingku, memandangi ruangan yang sama dengan yang sedang kulihat. Pasien tersebut telah di tutup kain warna hijau setelah itu di dorong keluar, melintas di samping aku dan ibuku. Mengikuti di belakangnya laki-laki tadi dengan mata berair dan wajah lesu, berjalan tanpa menoleh ke arah kami.</p>
<p>“Ada apa dengan orang itu?” tanyaku pada Ibu menunjuk ke pasien yang tertutup kain warna hijau.</p>
<p>Ibuku hanya mengangkat bahu, ”tertidur mungkin.” katanya.</p>
<p>“Kenapa mesti diikat di bagian sini.” kataku sambil meraba rahang, pergelangan dan kaki. ”Kenapa mesti ditutupi kain?”</p>
<p>“Mungkin agak lama ia akan tertidur. Sudahlah, cepat kita pulang sebelum kemalaman.”</p>
<p>Di tengah perjalanan tiba-tiba aku membayangkan kakakku yang mesti diikat di rahang, di pergelangan tangan dan di kakinya kemudian ditutupi kain. Tubuhku gemetaran dan kugenggam erat-erat tangan ibuku. Terlintas kesadaran yang datang entah dari mana, aku bertanya dalam hati, apakah itu yang disebut dengan kematian? Rasa takut mulai menjalariku, bukan oleh kematian itu tetapi karena membayangkan kakakku akan menjadi seperti itu. Dan aku menangis.</p>
<p>Dua bayangan sekaligus datang silih berganti dalam perjalanan pulangku. Bayangan Kakak dan Vina, anak perempuan Pak Santo. Terngiang di telingaku anak perempuan itu terus saja menangis dalam dekapan ibunya, terperangkap di ruangan yang hancur berantakan.</p>
<p>Sampai di rumah, ibu menyalakan televisi dan menyaksikan berita kerusuhan yang semakin mengganas disertai dengan penjarahan toko-toko. Esok harinya ketika aku dan ibuku kembali ke Rumah Sakit, kami mendapati Pak Santo dengan muka pucat dan mata sembab. Sebentar ia duduk di kursi sambil memegangi rambutnya kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir setelah itu kembali menempati tempat duduknya semula. Keluarganya tidak ada yang bisa dihubungi, kata Ayah, dan akses menuju Jakarta ditutup untuk sementara sehingga Pak Santo tidak bisa menjenguk keadaan anak istrinya dalam waktu dekat.</p>
<p>Jakarta berada dalam siaga 1. Gedung-gedung pertokoan terbakar, beberapa kendaraan di jalan raya hancur, penjarahan terjadi di mana-mana.</p>
<p>Menjelang siang, Pak Santo sudah tidak bisa lagi bertahan. Ia nekad untuk pulang saat itu juga, dan ayahku tidak mampu menahannya. Sebelum berangkat Pak Santo masih sempat berkata bahwa ia pasti akan menepati janjinya untuk menanggung semua biaya perawatan kakakku. Sudahlah, tidak usah dipikirkan, kami bisa mengurusnya sendiri, kata ayahku menanggapi ucapan Pak Santo.</p>
<p>Siangnya kami makan di depan ruang ICU. Seperti biasa duduk melingkar di atas tikar. Ibu sempat membeli makanan di jalan menuju Rumah Sakit tadi. Ayam goreng kecap, nasi dan jus mangga khusus untukku. Aku duduk merapat di samping Ibu. Mendadak melintas kerinduan pada sosok Pak Santo dan pada wajah anaknya di dalam foto kemarin. Selagi ayah dan ibu memejamkan mata untuk berdoa, aku menggenggam jemari tangan di depan dada beberapa saat kemudian menyentuhkan ke jidat dan menyilangkannya ke bahu kanan dan kiri. Aku berdoa untuk anak dan istri Pak Santo di Jakarta serta untuk keselamatan Pak Santo sendiri. Kemudian aku menutup mata, berdoa untuk kakak, untuk Ayah, Ibu dan Aku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"><a href="mailto:miftahrahman12@yahoo.com" rel="nofollow" target="_blank">miftahrahman12@yahoo.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quotable Magnet</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 03:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="226" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth-226x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="magnet-mouth" title="magnet-mouth" /></p>&#8220;Happiness is a journey, not a destination&#8230;&#8221; &#160; Demikian yang tertulis pada quotable magnet di hadapan saya. Isinya sederhana, malah akhir akhir ini saya sering membaca atau mendengar kalimat yang sama dimana mana. Mungkin, kesadaran tentang makna &#8216;kebahagiaan&#8217; sedang marak diminati. Lantas, apa benar kesadaran tentang makna &#8216;perjalanan&#8217; dan &#8216;tujuan&#8217; juga telah dan sedang diminati? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="226" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth-226x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="magnet-mouth" title="magnet-mouth" /></p><div id="yui_3_2_0_1_1325039509373215"><a href="http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/magnet-mouth/" rel="attachment wp-att-981"><img class="aligncenter size-full wp-image-981" title="magnet-mouth" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth.jpg" alt="" width="642" height="850" /></a></div>
<p><em>&#8220;Happiness is a journey, not a destination&#8230;&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian yang tertulis pada quotable magnet di hadapan saya. Isinya sederhana, malah akhir akhir ini saya sering membaca atau mendengar kalimat yang sama dimana mana. Mungkin, kesadaran tentang makna &#8216;kebahagiaan&#8217; sedang marak diminati. Lantas, apa benar kesadaran tentang makna &#8216;perjalanan&#8217; dan &#8216;tujuan&#8217; juga telah dan sedang diminati?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perjalanan&#8230;</p>
<p>Perjalanan seperti apakah yang sedang saya jalani saat ini? Mengutip sebuah judul film, saya namakan perjalanan ini &#8216;Lost in Translation&#8217;. Rasa &#8216;hilang&#8217; ini melebihi ketidakpahaman saya ketika saya berada di tengah tengah rekan kerja yang semua berbahasa Bali. Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa ketika kita berbicara dengan bahasa yang sama dengan lawan bicara, tetapi seakan yang terdengar olehnya adalah hal yang sangat jauh dari maksud yang ingin disampaikan. Atau, sama sekali tidak terdengar. Bagaimana bisa komunikasi menjadi suatu hal yang sedemikian sulit di tengah kehidupan kota besar yang kaya teknologi dan arus deras informasi. &#8216;Mendengar&#8217; menjadi sebuah kata kerja yang sama efeknya dengan kata &#8216;menunggu&#8217;. Terlebih bagi orang yang selalu merasa dirinya tau. Pada akhirnya, bagi saya perjalanan &#8216;Lost in Translation&#8217; ini sungguh melelahkan, karena saya bagai berjalan tanpa arah, pun terarah perjalanan saya hanya berputar putar dalam sebuah kotak. Macam kecoak yang terperangkap di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan&#8230;</p>
<p>Memang benar bahwa masing masing orang memiliki tujuan yang individual, tapi bukankah pada prosesnya semua berjalan bersama individu lain? Maka terjadinya friksi pasti tidak terhindarkan, demikian juga chaos. Demi tujuan yang ada di depan mata, saya menyaksikan terjadinya friksi hingga kekacauan seperti saat ini. Saya memilih diam, karena ketika tujuan sudah ditetapkan saya percaya bahwa ada sistem tertentu yang telah dibentuk dan akan melalui perjalanan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan di awal. Maka saya berbahagia saja dengan perjalanannya, seperti kata kutipan di awal tadi. Tapi pada titik ini, detik ini, saya sudah muak dengan perjalanan ini. Tujuannya sudah sedemikian tidak jelas lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepertinya saya sadar bahwa saya tidak sedang membangun sebuah istana dengan kartu kartu yang disusun sambil menahan nafas dan tangan yang gemetaran. Sepertinya saya sadar bahwa saya tidak sedang berkendara sendirian. Sepertinya saya sadar bahwa tujuan yang telah ditetapkan bersama dan mengikat saya untuk melalui perjalanan bersamanya akan menghadirkan kebahagiaan yang lain. Namun ketika saya juga sadar bahwa membangun kesadaran itu di antara orang orang yang tidak sadar adalah proses yang luar biasa sulit dan melelahkan, saya bahkan mempertanyakan kesadaran saya sendiri. Kekacauan ini -sepertinya- tengah menjelma menjadi semacam manic depression yang bersifat massive.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlepas dari tujuan menganalisa sebuah kutipan pada selembar magnet yang saya dapatkan bulan Oktober lalu, saya melihat kutipan lain yang lebih relevan. Saya lupa dari novel apa, kira kira begini kata si Dostoyevsky:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;But you&#8217;re a poet, and I&#8217;m a simple mortal, and therefore I will say one must look at things from the simplest, most practical point of view. I, for one, have long since freed myself from all shackles, and even obligations. I only recognize obligations when I see I have something to gain by them. You. of course, can&#8217;t look at things like that, your legs are in fetters and your taste is morbid. You yearn for the ideal, for virtue. But, my dear friend, I am ready to recognize anything you tell me to, but what shall I do if I know for a fact that at the root of all human virtues lies the most intense egoism&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, seharusnya mereka memproduksi quotable magnet dengan kutipan itu. Agar dapat saya beli -dengan sedikit keberuntungan tentunya- dan saya tempel di tempat yang mudah terbaca oleh saya tiap kali saya merasa lelah. Agar saya dapat terus berjalan tanpa peduli arah dan tujuan. Agar saya dapat selalu paham bahwa sesekali, dengan porsi dan cara yang entah, manusia memang harus merasa tidak bahagia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>mawwar_berduri@yahoo.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rustyfatty</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 19:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[font]]></category>
		<category><![CDATA[typo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="245" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01-245x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="rustyfatty-01" title="rustyfatty-01" /></p>rustyfatty font by tups rustyfatty.ttf &#160;  or download it from &#62;&#62;&#62;&#62;&#62;   http://www.dafont.com/rustyfatty.font  &#60;&#60;&#60;&#60;&#60; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="245" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01-245x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="rustyfatty-01" title="rustyfatty-01" /></p><h1 style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-01/" rel="attachment wp-att-940"><img class="aligncenter size-full wp-image-940" title="rustyfatty-01" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01.png" alt="" width="475" height="580" /></a></h1>
<h1 style="text-align: center;"></h1>
<p style="text-align: center;"><strong>rustyfatty font by </strong><em>tups</em></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-ttf/" rel="attachment wp-att-943">rustyfatty.ttf</a></strong></h1>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"> or download it from</p>
<p style="text-align: center;">&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;   <a href="http://www.dafont.com/rustyfatty.font">http://www.dafont.com/rustyfatty.font</a>  &lt;&lt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-02-01/" rel="attachment wp-att-951"><img class="aligncenter size-full wp-image-951" title="rustyfatty-02-01" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-02-01.png" alt="" width="433" height="323" /></a><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MALAM MALAS SEEKOR KUCING</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 05:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[berto]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="210" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing-210x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kucing" title="kucing" /></p>Cerpen oleh Berto Tukan Seekor kucing mencuri dua ekor ikan lele yang kusantap beberapa jam lalu sehinga tersisalah lapar yang tak terperikan pada pukul 02.00 dini hari ini. Tak ada keramaian yang berarti di sekitar tempat tinggalku sehingga mencari makanan pada waktu seperti ini sungguh butuh usaha keras, jika tak mau disebut sia-sia. Kuburkanlah anganmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="210" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing-210x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kucing" title="kucing" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/kucing/" rel="attachment wp-att-934"><img class="size-full wp-image-934 aligncenter" title="kucing" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing.png" alt="" width="427" height="608" /></a></p>
<p><em>Cerpen oleh Berto Tukan</em></p>
<p>Seekor kucing mencuri dua ekor ikan lele yang kusantap beberapa jam lalu sehinga tersisalah lapar yang tak terperikan pada pukul 02.00 dini hari ini.</p>
<p>Tak ada keramaian yang berarti di sekitar tempat tinggalku sehingga mencari makanan pada waktu seperti ini sungguh butuh usaha keras, jika tak mau disebut sia-sia. Kuburkanlah anganmu bertemu sepiring nasi. Semangkuk indomie rebus pun terkadang menjadi komoditi berharga. <em>Double</em> indomie pasti lebih dari cukup jika demikian; terkadang kita harus belajar untuk tak memanjakan perut.</p>
<p>Angin malam biasa-biasa saja, langit malam pun tak mau kalah. Aku berjalan sendirian ke arah warung indomie. Gang malam hari di kampung ini pun biasa-biasa saja; dua ekor tikus gemuk nan sehat berkejar-kejaran di samping parit. Seekor yang lebih kecil—kau tentu saja tak akan menemukan dua makhluk hidup dengan kesamaan yang sangat di dunia ini; jika itu terjadi, percayalah matamu yang salah—meloncat dari samping parit ke pagar putih sebuah rumah berbatu bata hitam. Memanjat sedikit, ia kini mendekam di dalam pot putih, rumah sebuah  bunga palem kecil. Tikus yang lain dengan mata menyala mengikutinya. Mereka bergumul di sana; sebatang palem patah, bergelayutan, kehilangan keindahannya.</p>
<p>Aku berjalan terus. Semakin terbiasa engkau berjalan malam di tempat ini, semakin tahulah engkau bahwa dua ekor tikus yang tertangkap mata adalah petanda baik. Tinggal satu kelokan lagi dan sampailah di warung indomie tujuan. Bulan tak terlihat, apalagi galaksi Andromeda.</p>
<p>Hei, tahukah kau bahwa setiap kali memandangi langit malam yang kau lihat adalah hamparan masa lalu? Jarak setiap bintang oleh para astronot kita diberi satuan tahun cahaya. Tahun cahaya! Misalkan saja bintang yang tepat di atas kepalaku ini berjarak 1.000 tahun cahaya dari bumi. Nah, yang kulihat saat ini adalah cahaya yang terpancar dari bintang itu sejak 1.000 tahun yang lalu.</p>
<p>Hem, itu jaman ketika, kira-kira, di Eropa kekristenan tengah menjadi momok menakutkan bagi para pemikir bebas dan di Nusantara para pedagang Islam dari India tengah bercinta dengan gadis-gadis pribumi bergigi hitam berkulit legam. Mungkin saja, saat ini, bintang itu tengah hancur berkeping-keping lantaran sebuah perang saudara antar planet di tata surya asing itu. Mungkin saja. Dan dengan sedikit imajinasi tak penting maka aku akan membayangkan beribu tahun lagi makhluk yang tersisa di sana mencapai bumi. Betapa kecewanya mereka ketika menemukan kondisi bumi yang lebih menakutkan dari pada <em>The Book of Eli </em>atau <em>The Road. </em></p>
<p align="center"><em>***</em></p>
<p>Spanduk kampanye pemilihan presiden dua tahun silam yang sudah kumal jadi penutup jendela berterali kawat warung itu. Ketika masuk ke dalamnya, kudapati seekor kucing asik menyantap dua ekor ikan lele yang ditata rapi di piring putih. Si Kucing tak menyadari kehadiranku. Rupanya parfum yang kubeli dari tukang daging mantan majikan Jean-Baptiste Grenouille cukup mujarab. Ah, orang Perancis bodoh! Gadis perawan cantik delapan belasan tahun hanya diaromai tanpa ditiduri. Jarang kutemukan lelaki sebodoh dia.</p>
<p>Kuletakan pantat di samping Si Kucing. Bulu-bulu putihnya sedikit basah. Tercium aroma Lux bercampur susu basi dari sela bulu-bulunya.</p>
<p>“Hey, memang Mang Usman sudah <em>nambah</em> menu baru?”</p>
<p>“Oh tidak. Ini saya bawa dari rumah. Tak asik makan di rumah karena istri dan anak saya sedang karaokean.”</p>
<p>“Hem, ketahuan. Anda tipe kucing yang suka jajan.”</p>
<p>“Sayangnya, kami tak kenal uang. Jadi saya tak mengerti apa yang anda maksudkan dengan jajan.”</p>
<p>Mang Usman sudah muncul dari pintu belakang. Pembicaraan yang berpotensi perdebatan itu tak berlanjut; Mang Usman langsung menghantamkan gagang sapu ijuk ke arah Si Kucing. Kucing itu kabur. Ia melompat, sedikit menggelayut pada spanduk kampanye presiden kumal itu, lantas menyelip lewat kaki bangku dan menghilang lewat pintu warung samping kiri. Separoh lele kedua ditinggalkannya.</p>
<p>Tiba-tiba, keinginan untuk sakit kepala menghinggapiku.</p>
<p>Sambil membersihkan tulang-tulang lele yang berceceran di meja, Mang Usman coba mengajak bicara perihal Timnas yang tak juga mempersembahkan kebanggaan. Aku enggan menimpali. Bukan lantaran tak suka bola atau tak nasionalis, namun kehilangan dua ekor lele yang sudah berhasil masuk ke dalam perut masih merupakan pukulan telak di malam hari yang tak bisa dilupakan begitu saja.</p>
<p>Mang Usman tak mau menyerah.</p>
<p>“Eh, <em>tau ngga</em>. Ada tiga pemain lagi yang mau dinaturalisasikan. Aneh ya. Coba jaman 70-an dulu. Tinggal <em>taro</em> orang Papua Ambon bek, Jawa di tengah, sayap Sulawesi, depan Batak, <em>udah deh</em>. Menang kita.”</p>
<p>Mang Usman menatap dalam-dalam mataku yang mulai berat. Hah, begitu dengusku.</p>
<p>“<em>Lu</em> Ambon kan? Bisa bola dong?”</p>
<p>“<em>Ga. Dibolain</em> ia. Eh, mie goreng double-nya <em>cepatan dong.</em>”</p>
<p>Sehabis menyantap indomie, aku melangkah pulang. Sebatang Djarum Super untuk pagi yang menjelang cukup baik bagi otak yang buntu. Ternyata ia sama sekali tak membantu. Tetap saja otak ini buntuh; tak tahu apa yang harus dilakukan tubuh. Tidur? Mata belum lelah. Tak tidur? Tubuh terlampau ringkih untuk berjaga. Sedangkan kehilangan dua ekor lele yang telah kusantap masih saja menjadi pemecah batu yang menghentak-hentak di dalam kepala.</p>
<p>Ah yah. Berkunjung saja ke rumah kucing itu. Selain perdebatan yang terputus tadi bisa dilanjutkan, ada kemungkinan untuk meminta ganti rugi atas lele yang dicuri dan yang telah disantapnya tadi. Memang masih tersisa separoh yang ditinggalkannya di warung tadi. Namun kondisinya sudah tak laik untuk dikembalikan ke perut. Pertanyaan berikut adalah harus kemanakah kaki ini melangkah untuk menemukan rumah kucing itu?</p>
<p>Hem, tentu saja tak ada tetangga yang dengan rela menjawab pertanyaan itu baik-baik lantas tidak menyarankanku untuk pulang ke rumah dan mencoba tidur saja. Bisa jadi mereka membekali dengan dua tablet obat tidur pula.</p>
<p>Bayangkanlah diri anda ada pada posisi tetanggaku itu. Ketika anda tengah bercinta, tiba-tiba pintu depan diketuk dengan nada tergesa-gesa. Aku percaya, anda orang baik sehingga setelah mengenakan celana dan baju kaos, anda akan bergegas ke depan dan membukakan pintu. Dengan sedikit sebal yang terpancar dari mata dan garis bibir, anda lantas berkata, “ya, ada apa? Bisa dibantu?”</p>
<p>“Maaf, tahu kira-kira ke mana kakiku seharusnya melangkah sehingga kucing yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap tadi bisa kutemukan?”</p>
<p>Hem, aku tentu saja tidak bisa secara sepihak mengatakan bahwa anda akan membanting pintu dengan keras lalu berteriak dari dalam rumah demikian, “orang gila! Angkat kaki sekarang dari depan rumahku!”</p>
<p>Tidak. Ada baiknya kita membeberkan beberapa kemungkinan tanggapan anda.</p>
<p><em>Kemungkinan I</em>: Anda termasuk orang yang mau menyibukkan diri dengan hal seremeh apa pun meski itu sangat tidak menguntungkan anda bahkan merugikan. Jika demikian, anda pasti akan menyuruhku menunggu sebentar atau mempersilakanku masuk. Ah, mari kita ambil yang terakhir. Anda mempersilakanku masuk dan membuat dua gelas kopi. Setelah itu kita terlibat dalam perbincangan seru; entah tentang Kaum Ahmadiyah yang hidup dalam kecemasan tiap hari, entah kemungkinan pertarungan antara Sri Mulyani dan Ani Yudhoyono pada pemilihan presiden kali depan. Ternyata dua topik itu tidak membuat kita larut dalam perbincangan hangat; kita mungkin tipe kelas menengah kota yang apatis dengan politik dan merasa dengan pendapatan per bulan dan segala kemudahan dari instansi tempat kita bekerja kita sudah tak butuh manusia lain lagi untuk hal-hal yang penting.</p>
<p>Kita lantas berpindah pada <em>Let The Right One In</em> dan <em>Harry Potter </em>yang pada akhirnya membawa kita pada perbincangan seputar <em>Holly Grail </em>dan pemujaan setan di Bavaria.</p>
<p>Perbincangan tersebut membawa kita kembali memandang matahari yang selalu menanti pandangan kita kembali. Anda lantas tak masuk kerja dan setelah mempersilakan dengan sangat sopan sekali padaku untuk pulang, masuk lagi ke kamar dan kembali tidur. Lima menit kemudian anda sudah nyenyak lagi. Dan aku kembali berpikir tentang bagaimana cara menemukan alamat Si Kucing pencuri itu. Ternyata anda tak membantu apa-apa walau pun anda memang bisa dilabeli sebagai orang baik.</p>
<p><em>Kemungkinan II: </em>Anda tipe pekerja kantoran yang tak mau sedikitpun terganggu ritme kerjanya. Apalagi, kantor anda termasuk tempat bekerja yang tak mentolerir kemalasan pekerjanya. Namun sebagai pekerja sukses dengan segudang angan-angan akan menjadi tokoh masyarakat di perumahan yang bahkan banjir pun enggan melirik ini, anda dengan sangat sabar menenangkan kegondokan hati. Anda membuka pintu dengan perlahan, bertanya padaku tentang keperluan apa yang membuatku bertamu di dini hari ini. Aku tentu, demi menghormati sopan santun yang anda tampilkan, akan bertanya dengan penuh sopan santun apakah anda tahu ke mana harus melangkah agar bisa menemukan Si Kucing yang mencuri dua ekor ikan leleku. Dengan sopan anda menjawab tidak tahu dan menyarankanku untuk bertanya pada Mang Usman. Kita semua tahu, di jam seperti ini Mang Usman sangat senang mendapatkan teman bicara.</p>
<p><em>Kemungkinan III: </em>Bebunyi dengan irama SOS yang membahana menghatam pintu rumah anda. Bahkan Paul Lafargue sekalipun, jika ada di sana, pasti akan segera terbangun mendengarnya. Anda memakai celana cepat-cepat dan melangkah ke pintu depan, membukanya, memakiku sebagai orang yang tak tahu sopan-santun. Lantas, seribu kata kotor berhamburan bak buang air besar setelah dua belas jam ditahan. Sakit perutnya bukan karena sudah makan, justru karena terlambat makan.</p>
<p>Tak ada alasan untuk tak marah. Setelah puas, anda menutup kembali pintu dan kembali ke kamar tidur. Sebelum kepala kembali menyentuh bantal, bunyi lemparan batu diikuti jatuhnya kaca ke lantai menambah murka anda. Berjalan ke depan, sebuah batu kembali melayang ke kaca jendela. Lagi-lagi pecahlah kaca itu dan berhamburan di lantai ruang tamu. Anda membuka pintu hendak mengeluarkan sejuta kata kotor lagi—dalam beberapa film Hollywood tentang masa awal kehidupan orang Eropa di benua Amerika, adegan ini biasanya diikuti dengan seorang lelaki melangkah ke dinding dan mengambil senapan yang tergantung di sana—namun batu ketiga tepat mengenai dahi anda dan terjatuh tak sadarkan dirilah anda.</p>
<p>Begitulah. Tentu bukan tiga kemungkinan saja. Masih banyak lagi. Bahkan dari satu kemungkinan dari tiga kemungkinan di atas, bisa dibuat berbagai variasi lain. Aku tahu itu. Dan malam tidak lantas menjadi menyenangkan dan lantas Si Kucing pencuri hilang begitu saja dari kepalaku, tidak. Memang, tak ada yang bisa membantu di malam ini.</p>
<p>Batang kedua Djarum Super sudah mengabu di asbak. Filternya penyot dengan bara api yang hanya menunggu waktu untuk kalah. Menyedihkan. Lapar semakin menjadi, bayangan Si Kucing pencuri membuat mual namun perut yang tak terisi apa-apa membuat mual tak menjadi muntah. Rasa asing yang mencekam menghinggapi malam sedangkan bunyi rintik hujan di luar sana terasa di kulit bagaikan permukaan sandal reumatik yang dililitkan di sekujur tubuh.</p>
<p>Tom Waitz bernyanyi malas-malas tentang keinginannya berhenti bekerja sekarang juga. Ah, aku teringat kantor dan besok harus bekerja lagi. Tetapi bayangan Si Kucing pencuri yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap membuatku berpikir seribu kali untuk masuk kantor enam jam lagi. Hem, maka, sebelum kita benar-benar bertemu matahari, Si Kucing itu harus kutemukan. Ah, tak perlulah kau membantu. Aku sudah sangat senang menemukan seorang pendengar yang mau mendengar ocehanku. Kau tahu, tak ada kawanku yang sesabar dirimu menghadapi ocehan-ocehanku. Yah, barangkali kau juga sesakit aku.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Djarum Super batang ketiga bertengger di mulutmu kini. Dengan sedikit memicingkan mata, kau nyalakan geretan dan membakar ujungnya. Kau buka pintu kamar, turun dari lantai dua ke lantai satu. Tiga orang menatapmu curiga; yang satu di depan tivi, yang lainnya membolak balik koran terbitan tiga hari yang lalu, sedangkan yang terakir tengah meletakan gelas di samping tivi. Kau membuka pintu depan dan berjalan ke luar. Gerimis masih saja seperti tadi dan tubuhmu kini seperti ditusuk-tusuk garputala. Kau melangkah dan tiga orang yang menatapmu curiga mulai kasak kusuk; mungkin tengah membicarakanmu, mungkin menggosipkan tetangga sebelah.</p>
<p>Seakan malam ini akan segera berakir. Kaki melangkah perlahan-lahan. Yang kuharapkan, dua ekor tikus yang bermain-main di parit tadi bisa membantu menemukan alamat Si Kucing. Impian itu membuat aku berbelok ke arah kiri di pertigaan pertama yang kutemui. Zat cair dalam tubuh tak mau kaki melangkah perlahan-lahan. Oleh karenanya, ia mengirim tujuh pleton pasukannya ke kantong kemih. Frase paling indah tentang kenestapaan malam pun tak mampu membuatmu berjalan pelan. Rahang kau katupkan, tangan kau kepalkan. Enyahlah keinginan membalas dendam, walau pun lapar masih mengganggu ulu hati. Namun rongga kloset jongkok di toilet rumah menjelma surga tiba-tiba. Ini malam laknat karena kantuk tak juga muncul. Aku sadar, malam seperti ini adalah malam yang mesti dilalui entah setahun sekali entah dua tahun sekali.</p>
<p style="text-align: left;" align="right"><em>2011</em></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><a href="mailto:bertolambertus@yahoo.com">bertolambertus@yahoo.com</a></p>
<p align="right">
<p align="right">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>TOTO DAN SEBILAH KUJANG</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/toto-dan-sebilah-kujang/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/toto-dan-sebilah-kujang/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Nov 2011 06:00:35 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=927</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="273" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/toto-kujang-300x273.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="toto-kujang" title="toto-kujang" /></p>Toto melangkah dengan cepat melewati lorong-lorong kecil. Kakinya yang terlanjang menghantam dinding-dinding comberan. Matanya yang kendur ia pejamkan sesekali lalu kembali ia buka lebar-lebar demi menahan kantuk yang luar biasa. Tangan kirinya terkepal keras, tampak urat-urat tangannya terlihat begitu jelas. Mulutnya tak henti komat-kamit, entah racauan apa yang ia ucapkan, tidak terlalu jelas, namun ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="273" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/toto-kujang-300x273.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="toto-kujang" title="toto-kujang" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2011/toto-dan-sebilah-kujang/toto-kujang/" rel="attachment wp-att-928"><img class="aligncenter size-full wp-image-928" title="toto-kujang" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/toto-kujang.jpg" alt="" width="746" height="679" /></a></p>
<p>Toto melangkah dengan cepat melewati lorong-lorong kecil. Kakinya yang terlanjang menghantam dinding-dinding comberan. Matanya yang kendur ia pejamkan sesekali lalu kembali ia buka lebar-lebar demi menahan kantuk yang luar biasa. Tangan kirinya terkepal keras, tampak urat-urat tangannya terlihat begitu jelas. Mulutnya tak henti komat-kamit, entah racauan apa yang ia ucapkan, tidak terlalu jelas, namun ada aroma amarah yang tesulut di sana. Tangan kanannya mengepal erat sebilah Kujang, erat sekali, sampai-sampai tangan dan Kujangnya menjadi sebuah kesatuan mengeras dan membatu. Keringat yang sejak tadi mengucur di parit-parit dahinya ia abaikan. Bahunya mengeras. Tampak dendam telah melilit jiwa dan raganya, darahnya mendidih, napasnya memburu, haus, seakan-akan menghanguskan apa saja yang menghalanginya. Toto terus melangkah. langkah-langkah yang lebar ia hujam ke setiap detik-detik yang bergulir, menggelinding dihantam ketidaksabaran. Luka, ialah luka, apalagi yang lebih menyakitkan daripada sebuah luka. Luka yang terus memburu Toto dalam amarah, amarah yang terus menari di atas luka-luka yang ditorehkan orang yang sedang ia cari di sini, di kerumunan banyak orang, sebuah terminal kumuh di kota Majalengka.</p>
<p>Dua bulan yang lalu Toto masih tinggal di pesantren, tempat yang sama sekali berbeda dengan tempat asalnya, Terminal Bus. Masuk pesantren adalah pilihan Toto sejak ia keluar dari Lembaga Permasyarakatan dua bulan silam. Ia ingin benar-benar bertobat setelah kelam menjalani hari-harinya yang keras di tengah terminal. Semua kejahatan pernah ia lakoni, merampok, menjambret, menodong, bahkan membunuh sepertinya sudah menjadi hal yang biasa baginya, dan keluar-masuk penjara sudah sering kali ia alami. Toto memang benar-benar ingin insyaf. Baginya, tiada yang mampu mengemudikan hidupnya selain seseorang, yaitu ibu.</p>
<p>Toto yang kini menjalani hari-hari layaknya para santri yang lain dapat berubah sebegitu drastisnya tentu dikarenakan permintaan sang ibu yang tidak ingin melihat anaknya terus terpuruk dalam kekelaman. Siapakah yang menginginkan anaknya berkubang dalam kekelaman? Tentu tidak ada.</p>
<p>Selama di pesantren Toto memang tidak lantas langsung melahap dan mempelajari dan melahap ilmu-ilmu agama dari kitab klasik, karena baginya itu terlalu sulit, terlebih latar belakang dan orietasinya yang berbeda dengan santri-santri lain. Tidak lebih dari itu, Toto hanya menginginkan tempat yang tenang di mana ia dapat merenung dan bertobat dengan khusuk. Setiap malam Toto terjaga demi melaksanakan shalat Tahajud dan shalat Taubat. Tak jarang usai shalat Toto menitikkan air mata. Tampaknya kehidupan lamanya begitu kelam sehingga doa yang dipanjatkannya pun begitu dalam.</p>
<p>Dalam hal pergaulan Toto dikenal normal-normal saja, sama seperti santri-santri yang lainnya, walaupun tampang dan perawakannya menyeramkan tapi sesungguhnya ia memiliki perangai yang lucu dan humoris. Toto memang dikenal dengan perawakannya yang tinggi  besar, paras wajahnya yang beringas, dan tubuhnya yang dipenuhi tato. Siapa pun yang melihatnya dapat segera menghakimi orang macam apa dia.</p>
<p>Dari minggu ke minggu Toto menjalani hari-harinya yang baru, ia mulai berdaptasi dengan pola hidup lingkungan sekelilingnya. Kesegaran baru dalam menjalani hidup ia renguk penuh dengan penuh kebahagian, di sana di tempat anak-anak bangsa menimba ilmu. Toto benar-benar mengalami perubahan yang drastis, mungkin inilah yang disebut dengan konsekuensi dari sebuah perubahan.</p>
<p>Suatu hari ia menerima surat dari Uzlah Utini. Seorang gadis desa tempat Toto dilahirkan. Seorang yang selama ini menjadi peraduan hati dan jiwa Toto. Uzlah adalah orang kedua yang mampu mengendalikan Toto. Toto sumingrah. Dengan sedikit kikuk Toto membuka surat yang dikirimkan Uuz, nama panggilan kesayangan Toto pada Uzlah Utini kekasihnya. Senyum lebar tersungging di ujung lekuk bibir Toto kala mulai membaca surat. Namun lama kelamaan wajah Toto berubah drastis, dahinya merapat, alisnya naik, tangannya terkepal kuat dan napasnya memburu. Toto terlihat tidak mampu menahan amarahnya. Namun dengan penuh ketenangan ia mencoba untuk mengatur emosi yang semakin lama semakin memuncak, matanya nanar, begitu dalam dan jauh.</p>
<p>Toto bergegas mempersiapkan sesuatu seadanya, para santri tidak ada mencurigai tindak tanduknya ia begitu pintar menyembunyikan sesuatu dalam dirinya sehingga para penghuni asrama tidak tahu sama sekali apa yang ia rasakan. Dengan langkah-langkah besar Toto meluncur tajam ke jalan setapak di belakang pondok, dengan tergesa-gesa ia masuk ke ladang tebu untuk sampai ke jalan raya.</p>
<p>Sebuah terminal kumuh kini tepat di depan bola mata Toto. Ia mendatangi kerumunan orang-orang, matanya garang, tubuhnya kencang terpancang urat-urat yang keluar mengakar, orang-orang berhamburan. Matanya seperti radar memburu apa yang ia cari.</p>
<p>“Hai sini kau, anjing!” teriaknya kepada seorang laki-laki kurus penjual kacang goreng yang sejak tadi ketakutan.</p>
<p>“Di mana si jangkung?” teriak Toto.</p>
<p>“Saya nggak tahu!” jawab laki-laki tadi. Toto menyeringai. Orang-orang berhamburan. Disepaknya orang tadi laksana bola, Toto tidak tinggal diam ia terus memburu apa yang ia cari, sebuah hadiah yang ia idam-idamkan dari kabar yang menyesakkan. Menyesakkan jiwanya, raganya, dan seluruh hidupnya. Namun sampai detik itu, apa yang ia cari belum kunjung tampak di matanya. Toto masih tetap memburu, laiknya truk tronton yang sedang menghancurkan rumah-rumah bedeng kaki lima. Ia menggerus dan meluluhlantahkan semua yang ada di hadapannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mata Toto seakan menangkap isyarat. Sesuatu yang ia idam-idamkan, kini ia telah mendapatkannya. Lalu ia memburunya seperti hendak kiamat, tak ada waktu lagi, semua harus terselesaikan. Ia mengejar laki-laki berjaket lusu, seluruh wajahnya dipenuhi ketakutan, urat-urat di jidatnya keluar seperti menantang teriknya matahari. Sekuat mungkin ia lari. Lari dari kejaran Toto yang sudah berubah jadi budak amarah yang menyala-nyala. Padahal laki-laki itu sudah lari sekencang-kencangnya, namun Tuhan berkehendak lain, mangsa itu telah berada dalam cengkeraman sang pemburu, sedikit perlawanan hanya melukai tangan dan perut Toto, tidak masalah semuanya tidak berasa baginya. Kujang yang sejak tadi menghuni tangan Toto kini telah bersarang tepat di dada kiri laki-laki apes itu, bertubi-tubi Toto melepaskan amarahnya yang menyatu dengan rasa tega pada seonggok tubuh di hadapannya. Semua orang hanya terpaku, tak ada yang mampu berbuat apa-apa. Semua seakan bisu. Tidak lama tubuh malang itu terkapar bersimbah darah, ia sudah tidak berdaya, namun bagi Toto tubuh malang itu seakan masih menyembulkan rasa kebencian dan muak yang sangat dalam untuk dirinya. Tubuh yang malang. Begitu malang sampai taka da yang mengenali siapa seorang yang dibunuh itu. Toto bergegas pergi seperti hilang ditelan awan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sejak kejadian itu Toto menghilang entah ke mana, saat ini ia jelas ia kini menjadi buronan polisi atas pembunuhan seorang laki-laki di terminal. Tidak ada satu pun yang mengetahui ke mana Toto menghilang. Beberapa hari setelah kejadian semua orang mengenal Toto dimintai keterangan termasuk Kyai Mansyur pengasuh pondok pesantren tempat Toto menimba ilmu. Namun nihil, tidak ada yang mengetahui keberadaan Toto. Tiga bulan sudah Toto menghilang. Berita yang tadinya sempat santer di kalangan masyarakat umum khususnya di lingkungan pesantren seakan hilang ditelan bumi, sampai pada satu malam Toto datang ke pondok dengan tergesa-gesa. Tubuhnya berkeringat, napasnya tak beraturan, dari balik dedaunan pohon pepaya di belakang pondok Toto mencoba memanggil seseorang dengan berbisik lirih. Ahmad yang ternyata mendengar suara dari balik kegelapan ini mencoba menghampiri, ia memicingkan mata. Alangkah kagetnya yang dilihat ternyata Toto, orang yang selama ini menjadi topik pembicaraan yang tak sudah-sudah. Ahmad menghampiri Toto, ia sama sekali tidak melihat wajah ketakutan di mata Toto. Ia begitu tenang, namun ia tampak tidak memiliki banyak waktu. Ia menceritakan semua perihal peristiwa yang ia alami. Ia bahkan menceritakan detil setiap peristiwa yang ia alami. Kata-kata membuncah begitu saja bagaikan peluru yang tak henti-henti. Ahmad hanya mengangguk-angguk. Ia benar-benar terdiam dan sama sekali tidak tahu harus berkata apa. Toto tampaknya sudah selesai menyampaikan semuanya kepada Ahmad. Ia yang tak punya waktu banyak menepuk punggung Ahmad.</p>
<p>“Saya pamit kawan, saya titip Kujang ini, tolong rawat baik-baik, ini adalah pemberian ayah saya, saya tidak mau dipegang oleh orang yang tidak saya kenal. Terima kasih kawan semoga kita dapat bersua lagi” Toto hilang ditelan gelap, Ahmad cuma bisa terdiam sambil menggulung Kujang pemberian Toto dengan kain. Dalam benaknya ia tidak bisa berkata Toto telah melakukan yang benar atau yang salah.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Toto telah pergi, namun entah ke mana, tak ada lagi yang ia kasihi, karena yang ia kasihi telah pergi menghadap Tuhan walau dengan aib dan nista yang dibawa, ia bunuh diri namun itu bukan kehendaknya, kekasihnya dihamili oleh seseorang yang sangat dekat dengan dirinya, seseorang yang selama ini banyak mendapatkan pelajaran tentang bertahan hidup dengan kekerasan, kejahatan, dan kekejaman di terminal, seseorang yang selalu memanggil kakak kepada Toto. Seseorang yang mati terkapar bersimbah darah ditikam Kujang oleh kakaknya sendiri yang tak mampu menanggung malu dan aib adiknya sendiri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@hijrahahmad</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Untuk sahabatku Toto</p>
<p>Semoga kita dapat bersua kembali kawan!</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p>Hezra Ahmad</p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank">hezraahmad@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/toto-dan-sebilah-kujang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PADA SEBUAH RUANG</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/pada-sebuah-ruang/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/pada-sebuah-ruang/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 08:24:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=390</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="246" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/02/ruang-s-658x8001-246x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="ruang-s-658x800" title="ruang-s-658x800" /></p>Aku berjalan gontai, menerawang saat yang aneh hari ini, rokok di tangan kiriku mengepulkan asap ke mata, terasa pedih, kuusap sesekali mata yang perih sambil memaki liuk angin yang membawa asap itu ke mataku, kuhisap sekali lagi, lalu kulempar jauh-jauh dan kuhampiri puntungan itu untuk sekedar kuaniaya ia dengan sandal jepitku. Kutatap sekelilingku, kebun tanaman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="246" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/02/ruang-s-658x8001-246x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="ruang-s-658x800" title="ruang-s-658x800" /></p><p><a><img class="aligncenter size-full wp-image-796" title="ruang-s-658x800" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/02/ruang-s-658x8001.png" alt="" width="658" height="800" /></a></p>
<p>Aku berjalan gontai, menerawang saat yang aneh hari ini, rokok di tangan kiriku mengepulkan asap ke mata, terasa pedih, kuusap sesekali mata yang perih sambil memaki liuk angin yang membawa asap itu ke mataku, kuhisap sekali lagi, lalu kulempar jauh-jauh dan kuhampiri puntungan itu untuk sekedar kuaniaya ia dengan sandal jepitku. Kutatap sekelilingku, kebun tanaman milik Tuan Sugani memang sangat luas.</p>
<p>Mata ini terus berputar, mengikuti intruksi yang diberikan otak. Selintas aku melihat dua orang yang tampaknya sedang membicarakan sesuatu. Namun aku tak tahu dengan pasti siapa dua orang itu sebenarnya. Kucoba picingkan mata dan mengangkat satu persatu kakiku untuk melangkah, semakin lama tubuh dua orang itu semakin membesar di mataku. Kulihat salah satu dari mereka berdua mengacung-acungkan tangannya, seperti memarahi atau mengintrogasi orang didepanku.</p>
<p>Aku hafal betul bagaimana perasaan orang yang sedang diinterogasi, akupun jadi ingat ketika masih menjadi mahasiswa dulu, belum usai demonstrasi yang kami lakukan, kami digiring di bawa ke kantor polisi, diinterogasi habis-habisan, dan akupun tahu betul bagaimana perasaanku saat itu, mungkin saja orang yang ada di hadapanku ini merasakan hal sama. Namun Lamunanku tiba-tiba buyar ketika aku dapati kedua orang yang ada di hadapanku ternyata Tuan Sugani dan Ayahku sendiri.</p>
<p>Jantungku seakan berhenti ketika lagi kudapati orang berada di posisi terintrogasi itu adalah ayahku. Kepalanya tertunduk takut, tubuhnya coba ia tahan dengan gagang pacul yang bertumpu pada tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya ia lipat mencengkram erat tangan kanannya. Keringatnya mengucur deras, dahinya dikerutkan rapat-rapat, mirip parit-parit yang menampung air keringat dari batas kulit rambutnya. Bibirnya mengatup disembunyikan ke dalam mulut, mungkin saja kini bibir itu sedang membagi ketakutannya pada gigi-gigi, lidah dan air liur yang terus saja lari menuju tenggorokannya.</p>
<p>Ketakutan yang luar biasa yang pernah aku saksikan. Seketika darahku terasa mendidih, tubuhku menjadi panas, tatapanku berubah menjadi tajam, kupicingkan mataku seadanya, tanganku terkepal dengan sendirinya. Darahku semakin mendidih ketika aku melihat wajah ayah dihantam tangan kanan Tuan Sugani kuat-kuat.</p>
<p>Aku berteriak seadanya, dua orang dihadapanku kaget mendengar teriakanku. Aku gelap mata, kulangkahkan kaki dengan cepat, kuraih benda dari genggaman tangan kanan ayahku, begitu mudahnya benda itu terlepas, mungkin tangannya terlalu lemah, atau barangkali aku yang begitu kuat meraih benda itu. Tanpa pikir panjang, kuhantamkan benda itu kuat-kuat kearah kepala Tuan Sugani, ia menghindar seadanya, namun benda itu terlanjur tepat mengenai kepala bagian kanannya, ia terkapar kesakitan, ayah menahan tubuhku dari belakang, ia dekap kuat-kuat tubuhku yang terbakar emosi, kupalingkan wajahku, menatap sejenak wajah ayah, namun justru rasa benci yang aku rasakan, kubongkar sekencang-kencangnya lingkaran tangan ayah, begitu kuat, sekuat masa kaum buruh yang protes terhadap kapitalisme, fantasi perjuangan kaum proletar menghadapi das capital yang selama ini aku rasakan hanya ketika membaca buku-buku perlawanan, kita terasa nyata di relung-relung emosi jiwa yang membuncah, begitu membeludak, fantasi it uterus terus berlanjut saat kuhempaskan tubuhnya dengan punggungku, kubiarkan ia jatuh di atas tanah yang lembab, rasa hormat dan ibaku kini mungkin tak mampu menandingi tumpukan bara api yang menyala di rongga urat syaraf otakku.</p>
<p>Tuan Sugani, di mana dia? Tanyaku dalam hati, mataku liar mencari, dimana ia? Nah, di situ rupanya, tidak begitu jauh kudapati ia sedang terserok-serok berjalan dengan menyeret pahanya, kepalanya berlumuran darah segar, aku hanya tertawa kecil, kuburu ia dengan langkah yang santai, kau tak akan kemana-mana, gumamku dalam hati, kuhampiri ia sembari mengumpulkan seluruh tenaga di tanganku, kuangkat tinggi-tinggi benda di kedua tangan ku, kuhujami ia dengan kata-kata makian sejenak, lalu kuhantam kepalanya berkali-kali, teriakan dan percikan darah di sandalku membuat aku merasa tenang, dingin darah yang membutir di sekitar kakiku bagai embun pagi, ada getar kepuasan di sana, begitu menggebu-gebu, begitu mars, aku menikmati setiap detik engahan nafasnya yang semakin lama semakin hilang dibawa angin.</p>
<p>Kuhentikan perlakuan kejiku, kulempar jauh-jauh benda itu, kedua telapak tanganku merekah, menjadi begitu dingin tertiup angin, kuperhatikan wajah Tuan Sugani yang telah menjadi entah apa nama dan istilahnya, mungkin Bubur atau Perkedel, candaku dalam hati, yang pasti ia tak bergerak lagi, kusentuh tubuhnya dengan kaki untuk memastikan kalau ia benar-benar sudah tak bernyawa. Perlahan kutarik nafasku yang berat, bau anyir darah mampir di kedua lubang hidungku. Mampus kau! Makiku untuk terahir kali.</p>
<p>Tidak begitu lama tiba-tiba kepalaku tertimpa sesuatu. Seperti sebuah benda keras menghantam kepala bagian belakangku, keras sekali, aku terjatuh tersungkur ke tanah, hidung dan mulutku menghantam bumi, tanah-tanah kini menghuni sekitar mukaku, kuputar sedapatnya tubuhku yang tersungkur perlahan, aku ingin sekali mengetahui apa yang sebenarnya terjadi padaku, samar-samar kudapati wajah ayah yang beringas, telingaku kedap, nampaknya telingaku tak lagi berfungsi, kulihat ayah menggerakkan terus mulutnya, nampaknya ia sedang memakiku, fikirku. lalu ia mengangkat tinggi-tinggi benda di tangannya, dan menghantamkan benda itu berkali-kali ke arah kepalaku, berkali-kali, tiba-tiba semuanya gelap.</p>
<p>Mataku tiba-tiba saja terbuka, keringat hangat mengucur di seluruh tubuhku, sendi-sendi tulang seperti usai dipukuli, seperti biasanya kulirik samar jam dinding pemberian salahsatu partai tahun lalu, pukul satu pagi ucapku lirih, aku tatap langit-langit kamar, semuanya begitu samar, kuregangkan semua otot-ototku yang kaku, kuusap sisa keringat yang membanjiri kening dan pelipis mataku, kupejamkan kuat-kuat mataku, kucoba mengingat-ingat mimpi buruk yang terus saja berulang di malam-malamku, dalam hati aku hanya bisa bertanya-tanya, gerangan apa maksud mimpi yang selalu datang padaku.</p>
<p>Ayah, lagi-lagi aku mimpi bertemu mendiang ayah dan Tuan Sugani di kebunnya, kejadian itu seakan nyata dan benar-benar terjadi, bahkan kebencianku pada Tuan Sugani di dalam mimpi, masih saja terbawa saat aku terjaga. Aku bangkit seadanya, mulai kuburu sapu tangan yang biasa kugunakan untuk menyeka darah yang keluar dari hidungku setiap kali selesai bermimpi, dan aku tahu setelah ini pasti kepalaku sakit dan sialnya lagi aku takkan bisa memejamkan mata dan tertidur lagi.</p>
<p>Kulempar jauh-jauh sapu tangan simbahan darahku, kubanting kuat-kuat tubuhku ke atas kasur, kupandangi langit-langit yang sudah tak samar, kueja satu persatu kemungkinan yang akan terjadi, tentang sebuah misteri dan teka-teki, sambil tak sebentar menatap wajah keriput isteriku. Kekasih hati yang telah menjadi saksi beberapa puluh tahun lalu, betapa inginnya aku hidup bersamanya, kini janjiku yang usai mempersuntingnya adalah tiang lentur yang berdiri di antara hitam dan putih. Entah mengapa aku merasa selalu bahagia hidup dengannya, padahal selama hidupku, aku hanya mampu menghadiahkan seorang anak laki-laki dan pertengkaran-pertengakaran kecil.</p>
<p>Pada akhirnya aku harus menyakini, bahwa hidup adalah memilih. Jalan yang berliku adalah aturan baku, dan masing-masing orang harus melewati semua itu walaupun boleh memilih jalan apa saja untuk menjalani hidupnya.</p>
<p>Namaku Jurjani, mulanya aku adalah orang yang selalu dirundung keragu-raguan. Entah mengapa aku selalu terjebak di hari yang berlalu, hari ini dan hari yang akan datang. Aku dilahirkan seorang diri, tak mempunyai kakak dan adik, ayahku dulu seorang penjaga kebun milik Tuan Sugani, seorang kaya raya di desa kami. Ayah selalu memiliki keinginan untuk menyekolahkan aku setinggi-tingginya, mungkin lantaran aku anak semata wayangnya.</p>
<p>Ia selalu berharap aku takkan pernah merasakan hidup yang kini ia alami. Sikapnya selalu tegas padaku, terkadang ia dapat begitu saja marah besar kepadaku kalau aku melakukan kesalahan. Tadinya aku berfikir kalau ayah sama sekali menyesal mempunyai anak sepertiku, namun ibu selalu melarangku untuk berfikiran seperti itu, menurutnya apa yang ayah lakukan adalah semata-mata karena ia begitu sayang kepada anaknya, dan nasihat itulah yang selalu merebahkan emosiku yang deras seperti hujan menghujam bumi. Kuingat hal itu selalu ketika aku dan ayah bertengkar.</p>
<p>Semua kehendak ayah ternyata tak menjadi kenyataan, keinginan ayah dikalahkan garis hidupku yang ternyata hanya menjadi seorang penjaga karcis honorer di gedung museum perjuangan tua di pinggiran kota ini, kota dimana aku dibesarkan, kota yang selalu mengajarkan aku selalu bersikap was-was dan membuat kepercayaanku hanya kuberikan pada orang-orang yang tertentu yang kuanggap tidak membahayakanku.</p>
<p>Di gedung tua itu aku habiskan masa pengabdianku selama ini, namun entah mengapa orang-orang merasa enggan mengunjungi gedung itu, mungkin saja kini mereka merasa tak perlu mengenang sejarah, karena kehidupan yang mereka alami saat ini lebih berarti, dan mereka tak pernah merasakan pahit di masa lalu, mungkin. itu pikirku.</p>
<p>Pagi ini, sinar panas mentari menerobos di celah-celah rindang daun, aku memutuskan untuk tidak menjaga karcis hari ini, selain kondisi badanku yang kurang baik, hari ini aku ingin melepaskan ruang-ruang penat dalam kepalaku. Kupandangi halaman rumah dusun peninggalan almarhum ayah, tampak di sebelah kanan halaman terdapat tumpukan potongan-potongan kayu yang usai kupecahkan menjadi bahan bakar memasak di dapur, karena aku tahu menjadi budak minyak tanah sangatlah melelahkan, ditambah lagi aku tak mengenal bahan bakar gas, pernah sesekali kami diberi seperangkat kompor gas, dengan membayar sejumlah uang, namun isteriku terus saja mengeluh, karena ia sama sekali tidak mengerti bagaimana menggunakannya. Ya sudahlah akhirnya, benda itu kami jual kepada tetangga, tentu dengan harga yang berbeda.</p>
<p>Kutatap sebuah sumur tua dan kamar mandi yang hanya ditutupi dengan bilik bambu. Aku ingat sekali di sana Ibu memandikan aku setiap pagi dan sore. Aku jadi rindu Ibu, aku duduk di bangku panjang, di atasnya menjuntai tali-tali jemuran yang terpancang di kandang ayam, bau apek bekas-bekas kayu dan bau sampah yang habis dibakar oleh isteriku tadi pagi, membawa suara angin yang teduh di pelipis mata dan hidungku. Pagi ini terik, setelah sebelumnya hujan begitu deras.</p>
<p>Aku beranjak dari bangku panjang, kugapai sebilah kapak dan aku mulai memotong-motong kayu, sedangkan isteriku begitu asyik menampih beras. Kutatap wajahnya sejenak, belum kusapa ia rasanya hari ini, kubenarkan letak kaca mataku yang miring.</p>
<p>“Aku mimpi buruk lagi bu tadi malam.” kubuka pembicaraan dengan sisa rasa sakit di sekitar kepalaku.</p>
<p>“Lalu gara-gara mimpimu itu, kamu jadi tidak masuk kerja hari ini?” tanyanya. Aku hanya terdiam.</p>
<p>“Tentang bapakmu lagi pak?” tanyanya lagi sedikit enggan, mungkin sudah bosan, karena sudah berkali-kali.</p>
<p>“Aku masih heran bu, sebenarnya apa yang ingin disampaikan Tuhan lewat mimpi itu padaku.?” tanyaku serius.</p>
<p>“Apa mungkin tuhan menginginkan aku menjadi seorang pembunuh bu?” kataku lagi.</p>
<p>“Mana ada tuhan macam itu pak! kau berfikir tentang apa yang tak pernah difikirkan kebanyakan orang pak.”</p>
<p>“loh.. aku kan cuma tanya bu.. boleh kan ?”</p>
<p>“Ya, boleh tapi jangan tanyakan itu padaku&#8230;! aku kan buka paranormal!”</p>
<p>“Alah.. bilang saja kalau kamu malas bicara!”</p>
<p>“Dasar laki-laki ! bisanya cuma su’udzan! Terserahlah!”</p>
<p>Tampaknya Marwiyah sedikit marah padaku, aku hanya tertawa geli, beginilah keseharian kami, pertengkaran kecil bukan hal yang asing lagi bagi kami, namun tiba-tiba suasana menjadi beku, kami seakan sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing, ingin sekali aku bicara tentang banyak hal pada isteriku, namun aku yakin semua itu hanya berujung dengan perdebatan yang lucu. Namun bagiku semua itu harus aku lakukan, karena aku merasa sepi, dan hanya isteriku lah yang mampu membuncah rasa sepi itu. Perlahan kuhampiri tubuh bungkuknya, kuperhatikan setiap jengkal seonggok tubuh yang dulu kuidamkan, namun kini sudah tidak, bisikku dalam hati. Kusiapkan kata-kata untuk memulai pembicaraan.</p>
<p>“Ada kalanya manusia harus menerima dirinya sebagai makhluk yang sadar, bahwa dirinya itu tidak akan bisa sepenuhnya menjadikan apa yang dicita-citakannya dapat terwujud secara sempurna.” aku mulai percakapan itu setelah sejak tadi terdiam. Marwiyah Mendengarkan tidak serius, lalu sesekali memicingkan matanya cukup lama tapi tidak komentar. Aku melanjutkan ucapannya tanpa ada aba-aba dari siapa pun.</p>
<p>“Alam sengaja diciptakan oleh Tuhan, bukan untuk dikucilkan sebagai anugerah atau masalah. yang pasti, Dia hanya berupaya memfasilitasi ciptaannya yang diberi ruh itu, untuk berjibaku dengan alam tersebut, untuk hidup, berfikir, belajar dan pada akhirnya dia mampu menghormati makhluk yang lainnya.” lanjutku dengan nada yang berat, Marwiyah melirikku, lalu membunyikan suara dari tenggorokannya untuk isyarat.</p>
<p>“Perhormatan bukanlah apa yang selama ini menjadi tujuan dibuatnya dunia ini pak.” balas Marwiyah, ia menghentikan sejenak pekerjaannya lalu kembali bekerja.</p>
<p>“Terkadang perhormatan malah menjadi biang dari segala hal bentuk kesombongan dan dosa.” Lanjutnya. Aku tertawa kecil, sambil meledek. Karena mungkin sifat kelaki-lakianku yang agak sombong membuat segala pemikiran isteriku lucu di mataku.</p>
<p>“Mulutmu itu bu, hanya bisa mewakili pengalamanmu yang sekecil kelingking, bagaimana bisa kau berfikiran seperti itu?” Bantahku sedikit mengejek.</p>
<p>“Kau pikir pengalamanmu itu lebih dari sekedar bersandar pada papan sejarah dan makanan yang setiap hari kau makan dan membuatmu tetap hidup sampai saat ini?” Marwiyah nampaknya kesal.</p>
<p>“Kalau saja bukan takdir yang mempertemukan kita.” lanjutnya dengan nada kesal, awan hitam sejenak tepat berada di atas ubun-ubun kami berdua, kami menatap langit, namun hanya sebentar, sorot matahari kembali pada kami.</p>
<p>“Dasar cuaca! Tak jauh beda dengan hati!” ucapku sembari menurunkan kepala dari langit. Lalu mataku tertuju lagi pada wanita renta yang telah lama menapaki alur hidup sepiku.</p>
<p>“Bicara takdir bicara keihklasan bu, bagaimana bisa kau membicarakan takdir, tapi kau terus saja mengungkit-ungkit masakan dan makanan. Hah! hari ini baru kutemukan ada orang yang sudah dua kali salah berkata-kata.” Kembali Aku meledek.</p>
<p>“Kesalahan tidak bisa kamu robek dari kodrat manusia pak.” balas Marwiyah tambah kesal.</p>
<p>“Aku tau,” potongku.</p>
<p>“Kesalahan dan manusia itu, ada pada kertas yang sama, aku hanya geli saja melihat kau terus berlindung pada hal yang sukar dijelaskan, sudahlah, lagipula, antara potongan-potongan kayu ini dan berasmu itu bu, kan tak ada hubungannya, bukan begitu?” ucapanku sedikit memburu.</p>
<p>“Ah, kau mulai ngelantur lagi orang tua!” Marwiyah hanya menjawab dengan kesal. Ia tampak telah selesai menampih berasnya, ia kesal mendengar aku yang tertawa geli dan sesekali batuk, ia segera masuk ke dalam rumah lantaran tidak mau lagi berdebat denganku.</p>
<p>“Bu!” teriakku, kuhentikan pekerjaanku, kuletakan kaca mataku di atas kayu-kayu.</p>
<p>“Apa yang selama ini kita lakukan, adalah apa yang selama ini orang-orang cita-citakan, mereka bahkan tidak tahu, termasuk kita dulu, bahwa tujuan tidak harus sama dengan apa yang didambakannya.”</p>
<p>“Sudahlah, lain kali saja kita bicarakan itu, saat ini aku cuma <em>kebelet</em> mau banyak-banyak ibadah sama tuhan, malah kalau boleh aku mau sembahyang seharian penuh, biar pahalaku terus bertambah.” Katanya.</p>
<p>“Kamu itu bicara apa bu? orang itu harus bisa menyisakan tempat untuk hal-hal yang lainnya, kita harus memberi sedikit ruang untuk pekerjaan lainnya bu, contohnya, kalau kita makan terus, nggak minum, nggak tidur, nggak mandi, nggak ganti baju, nggak..”</p>
<p>“Mikir kaya kamu!” potong Marwiyah sambil mengeluarkan kepalanya dari jendela, lalu masuk lagi.</p>
<p>“Nah termasuk yang itu, maksudku nggak mikir! <em>Loh, loh, loh</em> aku kan mikir bu.” Aku nampak <em>linglung</em> dibuatnya. Marwiyah bicara dari dalam sambil keluar membawa segelas teh dan sepiring singkong.</p>
<p>“Aku juga tau pak, kita harus menyisihkan beberapa ruang untuk kepentingan yang lainnya, tapi aku takut umurku tak lama lagi pak.” menyodorkan kopi dan sepiring singkong, aku jadi berhenti memotong kayu.</p>
<p>“Umur adalah tenggang waktu yang dibatasi dengan yang namanya kematian oleh Tuhan pak!” Marwiyah melanjutkan.</p>
<p>“Manusia bahkan tidak pernah tau kabar tentang waktu itu pak! Manusia hanya diberi ruang kesadaran bahwa semuanya pasti akan mati, dan nyatanya lagi, manusia pasti akan menerima kepastian itu, tanpa harus tau kapan akan terjadi, hari ini, besok, lusa, bulan depan, tahun depan, atau entah kapan”. Kata-kata yang baru saja terlontar dari mulut isteriku tiba-tiba saja membekukan suasana, aku terdiam sejenak, dan tertegun melihat istriku sesekali melahap singkong.</p>
<p>“Ah! Sudahlah, hari hampir siang, aku mau masak dan sembahyang!” tegas Marwiyah sambil masuk ke dalam rumah. Aku Menahan nafas sejenak.</p>
<p>“Ya, ya, ya, kau harus masak bu, kau juga harus sembahyang. Ya, lakukanlah tugasmu bu! paling tidak&#8230;.”</p>
<p>“Paling tidak aku telah memberi ruang lain dalam hidupku dengan memasak untuk mu! Begitu kan maksudmu?” potong Marwiyah yang membalas ucapannya dari dalam. Aku tertawa.</p>
<p>“Paling tidak kini kau mengerti tentang sebuah penghargaan pada ruang-ruang yang lain bu.”</p>
<p>Aku terdiam sejenak sambil sedikit memikirkan kata-katanya yang sekilas nampak benar di ruang fikirku. Ah, aku memang laki-laki sombong, bisikku dalam hati, kusantap kopi dan singkong di hadapanku, sesekali kutatap kosong langit yang mulai silau. Kuhela nafas, tapi malah batuk. Di dalam benakku, usia senja adalah pemberhentian paling terakhir yang kusinggahi, bagiku waktu adalah rotasi roda yang terus berputar tanpa ujung, tanpa batas, waktu bahkan tidak pernah membagi rasa kasihannya pada siapapun yang tertinggal di putaran-putaran yang lalu. Waktu tidak akan pernah memberi kesempatan kedua, ketiga dan seterusnya pada siapa saja yang meremehkannya.</p>
<p>Tanpa sadar aku terus melakukan pengembaraan alam pikiranku, sesekali sedikit mempertanyakan diriku sebagai manusia, aku bermain-main di alam khayal. Bagiku, manusia hanyalah bayangan semu dari Tuhan, semakin ia menjauh dari Tuhan, maka semakin sedikit pula cahaya bayangan yang terpancar dari Nya, begitupun juga sebaliknya. Keberadaan manusia, sepenuhnya bergantung pada keberadaan sang Tuhan. Setelah lama aku termenung, aku dikagetkan oleh bunyi bel sepeda yang semakin lama semakin mendekat. Kubalik arah pandanganku dan kucari asal suara itu. Tiba-tiba saja suara itu semakin terdengar keras dan nampaklah seorang pengantar surat dengan sepedanya, turun dan menyapaku.</p>
<p>“Permisi pak, Apakah benar ini rumah bapak Hidayat?” Tanya pengantar surat, sambil melihat ke sekeliling depan rumah, Aku picingkan mata, lalu mengambil kacamatanya yang diletakan di atas kayu-kayu.</p>
<p>“Iya betul sekali, maaf, kebetulan saya Jurjani, ayah dari Hidayat, ada surat untuk anak saya atau..” Tanyaku.</p>
<p>“Oh, kebetulan sekali, rupanya alamat rumah bapak ini yang saya cari, sebentar pak.” pengantar surat membuka tas, mencari surat di dalamnya, Aku penasaran.</p>
<p>“Nah, ini dia suratnya! surat panggilan ke pengadilan.” ucapnya.</p>
<p>“Apa? pengadilan? Mungkin saya salah dengar, atau mungkin bapak salah membaca, coba ulangi lagi.” Aku kaget, pertanyaanku memburu.</p>
<p>“Surat panggilan pengadilan.” Pengantar surat membacanya lagi dengan lantang. Tiba-tiba aku panik, tubuhku gemetar dan seakan tidak bisa berkata apa-apa.</p>
<p>“<em>Astagfirullah</em>! memangnya anak saya salah apa pak? Anak saya tidak maling ayam <em>kan </em>pak? anak saya tidak garong <em>kan </em>pak? anak saya tidak pernah melawan pemerintah <em>kan </em>pak? anak saya..” Aku kalap, si Pengantar surat memotong.</p>
<p>“Saya tau, sabar dulu pak, biar saya jelaskan.” Pengantar surat tersenyum kecil lalu mencoba menenangkan aku yang sedang panik.</p>
<p>“Bapak, tidak semua orang yang dipanggil ke pengadilan itu, berarti ia terlibat kasus pidana pak, seperti yang bapak baru katakan tadi, bisa saja anak bapak dipanggil untuk hal yang lain misalnya..” Pengantar Surat menahan nafasnya.</p>
<p>“Misalnya apa pak?” Tanyaku memburu.</p>
<p>“Misalnya surat penghargaan dari pengadilan, diminta kesaksiannya untuk suatu kasus, atau apa saja pak.” tegas pengantar surat dengan tenang.</p>
<p>“Yang jelas, coba bapak buka dulu suratnya, <em>nah</em>! Kalau sudah dibuka, pasti itu akan lebih memperjelas, atas dasar apa anak bapak dipanggil ke pengadilan.”</p>
<p>Usai menyelesaikan kata-katanya nampaknya si pengantar surat ingin pamit, aku masih terdiam, seakan-akan penjelasan yang baru saja diutarakan si pengantar surat, tidak berarti apa-apa bagiku. Sejak tadi yang terlintas dalam fikiranku hanyalah jeruji besi, ruang sidang, hakim, jaksa, makanan yang tidak enak, terompet besar yang membangunkan para narapidana, toilet kotor, dan sekian banyak lagi kesengsaraan-kesengsaraan yang akan anakku dapatkan.</p>
<p>“Pak, pak, pak!” panggil si pengantar surat yang bingung melihatku mematung di hadapannya. Tiba-tiba saja aku tersadarkan.</p>
<p>“Baiklah kalau begitu pak, saya permisi, karena masih banyak surat lagi yang mesti saya sampaikan.” ucap si pengantar surat.</p>
<p>“Surat dari pengadilan juga?” tanyaku dengan nada yang memburu. Pengantar surat tertawa geli. Aku sama sekali tidak sadar kalau pertanyaan itu membuatnya tertawa. Aku jadi malu sendiri.</p>
<p>“Bapak ini bagaimana sih, saya ini pengantar surat dari kantor POS, bukan dari pengadilan” tegasnya masih dalam keadaan tertawa.</p>
<p>“Jadi isi tas saya ini penuh dengan berbagai macam surat dari siapa saja, untuk siapa saja, dan tentunya disampaikan hanya oleh saya pak!” Pengantar surat menaiki sepedanya, membunyikan belnya dan segera pamit kepadaku.</p>
<p>“Selamat tinggal pak tua! semoga kabar baik menyertai anda.” teriaknya lalu pergi. Aku hanya bisa melambaikan tangan yang kosong, aku masih merasa bingung.</p>
<p>“Terima kasih pak POS..” ucapku lirih tanpa sengaja, rasa panik masih mengepungku, kuperhatikan surat di tangan, keadaannya memang sudah tidak bagus lagi, nampaknya surat ini sudah lama berada di suatu tempat penampungan atau barangkali sudah lama berada di dalam tas si pengantar surat, tulisannya tidak terlalu jelas, sepertinya ada yang sedikit pudar, tapi yang jelas, nama dan alamatnya memang benar ditunjukan ke rumahku.</p>
<p>Ada apa sebenarnya ini? ucapku dalam hati. Ingin rasanya cepat-cepat kubuka isi surat itu, tapi belum sempat kubuka surat itu, dari kejauhan tampak seseorang datang dari arah yang bersamaan dengan kepergian si pengantar surat, sembari mengumpat, tampaknya baju sepatu dan tasnya kotor terkena cipratan air lumpur. Aku kaget dan cepat-cepat menyembunyikan surat itu.</p>
<p>“Tukang pos <em>Edan!</em>” umpat anak muda itu, tak lain dan tak bukan adalah Hidayat anak semata wayangku. Watak pemarahnya mungkin diwariskan dariku. Kuperhatikan tubuh anakku sendiri. Kusam, kurus kering.</p>
<p>“Punya mata, tapi tidak dipakai, <em>edan!</em>, dia pikir di dunia ini, dia yang paling penting dan berjasa!” kuperhatikan terus tingkah dan umpatannya, mungkin dia belum sadar kalau sedari tadi ada yang memperhatikan.</p>
<p>Dengan wajah yang lesu, ia memandangku. Tatapan sepadan dengan dendam, dengan kesinisan. Hatiku miris jadinya, kutahan seadanya, ingin sekali kuludahi mata tajam itu, tapi kutahan sebisanya, tidak lama ia pergi begitu saja dan masuk ke dalam rumah.</p>
<p>“Perusahaan apa lagi hari ini yang menolak lamaranmu, Hidayat?” Tanyaku.</p>
<p>“Bapak, apakah saya boleh sebentar istirahat dulu, sebelum menjawab pertanyaan bapak?” nadanya sedikit kesal.</p>
<p>“Hidup ini berjalan terus dengan keletihan yang tak terhingga, Hidayat. Tanpa istirahat! Aku tegaskan kata-kataku.</p>
<p>“Apakah kamu tidak malu. Mengatakan letih, lalu kau menyandarkannya pada kata istirahat?”</p>
<p>“Dan apakah kamu tau, apakah aku pernah menyerah?”</p>
<p>“Saya bukan  menyerah pak, saya cuma mau istirahat!”</p>
<p>“Istirahat yang kamu maksudkan adalah kata menyerah!”</p>
<p>“Saya ini manusia pak!”</p>
<p>“Apa bapak ini kamu anggap bukan manusia, <em>Hah</em>?<em> </em>Sejak dulu kita selalu hidup dengan apa adanya! Aku menyekolahkan kamu tinggi-tinggi bukan untuk mengeluh, letih dan menyerah!”</p>
<p>“Apakah bapak ingin aku menjadi robot?</p>
<p>“Robot bahkan lebih baik dari kamu!”</p>
<p>“Baik, kalau begitu, pergi saja ke toko, beli saja robot, dan puaskan hati bapak!”</p>
<p>“Lancang, omongan kamu Hidayat!”</p>
<p>“Bapak yang mulai!”</p>
<p>“Cukup! Minggat dari rumahku!” teriakku mulai naik pitam.</p>
<p>“Puaskan hatimu orang tua!”</p>
<p>Tiba-tiba Marwiyah keluar dari dalam rumah, ia masih lengkap mengenakan pakaian sembahyangnya.</p>
<p>“Sudah, sudah cukup!” Ucapnya sambil mendekap Hidayat.</p>
<p>“Semua urusan pasti ada jalan keluarnya, janganlah kita ini terus-terusan mau diperbudak oleh amarah!” lanjutnya.</p>
<p>“Bu, tolong kamu ajarin anakmu ini, aku tidak mau melihat anak ini lagi!” Aku kesal sejadinya, tak kuasa kutahan emosiku, aku putuskan untuk ke dalam rumah.</p>
<p>Panas tubuhku memuncak, dahiku berkeringat, aku hanya bisa mengepalkan tangan. Aku dan Hidayat anakku, memang sering bertengkar, hal ini berawal dari keinginanku untuk menyekolahkan Hidayat tinggi-tinggi dan mendapatkan pekerjaan yang layak untuknya, lantaran Hidayat belum mendapatkan pekerjaan setelah ia lulus sebagai sarjana hukum dari kuliahnya beberapa bulan yang lalu, aku jadi takut kalau nasibnya sama seperti mendiang ayahku dan aku. Memang aku pahami kenyataan pahit yang dialami oleh Hidayat bukanlah hal yang asing di negeri ini.</p>
<p>“Sudahlah Dayat..” ibunya coba menenangkan. Aku mendengarkan pembicaraan mereka dari balik jendela kamar. Marwiyah adalah satu-satunya orang yang mampu sedikit meredam amarahku. Apalagi kalau ia sudah mengeluarkan air mata. Rasanya aku ini kembali menjadi seorang bayi di matanya. Sedikit kutahan rasa kesalku. Kulanjutkan mendengar pembicaraan mereka.</p>
<p>“Jangan kamu kesalkan ucapan bapakmu itu, jaga emosi kamu, tidak baik marah-marah sama orang tua.”</p>
<p>“Bagaimana saya tidak marah bu? bapak selalu saja tidak mau mengerti keadaan anaknya, cari kerja tidak gampang bu, apalagi sekarang ijazah sarjana bukan lagi lembar keramat dan terhormat. Ijazah sarjana sekarang cuma ada di bawah tumpukan-tumpukan map paling bawah di meja perusahaan, malahan kadang-kadang belum sempat dibaca, sudah dilempar ke tong sampah.” Seperti petir samar suara itu masuk ke liang telingaku, sangat mengagetkan dan menusuk relung hati.</p>
<p>“Sudahlah Dayat, manusia itu <em>kan</em> hanya berusaha, tuhanlah yang menentukan segalanya. Lagipula, Tuhan itu tidak akan menguji umat-Nya, melebihi dari batas kemampuan yang dipunya. Lain hari kamu pasti akan mendapatkan pekerjaan asal kamu mau bersabar.” Aku tersenyum mendengar pembicaraan itu, aku seperti merasakan ada ketenangan dalam kata-kata itu.</p>
<p>“Manusia itu punya batas kesabaran bu, saya malah curiga sekarang, Tuhan memang sengaja hanya memberikan batas kesabaran yang tidak setara dengan ujian yang diberi untuk manusia.”</p>
<p>“Hei, tidak baik berburuk sangka sama Tuhan, <em>ah</em>, sudahlah, kamu mungkin sangat kelelahan hari ini.”</p>
<p>“Kenapa bajumu ini kotor sekali Dayat? sekarang kamu mandi, waktu sembahyang Dzuhur sudah dimulai sejak tadi.”</p>
<p>“Ayahmu hanya sedang kesal sekarang, jadi jangan kamu anggap ucapannya yang tadi” terus terang aku tersinggung mendengar perkataan Marwiyah, namun aku tahan seadanya. Kutarik nafas, mencoba untuk melupakan sejenak kata-kata itu.</p>
<p>“Pohon-pohon pasti akan merasa segar dan mampu untuk mengembangkan dirinya sendiri, setelah disiram dengan air. <em>Nah!</em> Begitupun juga halnya dengan manusia, Dayat, manusia juga butuh siraman-siraman untuk menjadikan dirinya mampu mengatasi setiap masalah yang membelitnya.”</p>
<p>“Lalu ia tumbuh dan mampu menyerap apa yang diajarkan oleh dunia ini” kata-kata Marwiyah semakin menarik aku dengarkan, aku jadi bingung jadinya, padahal belum kering kemarahanku pada Hidayat, namun kini seakan kejadian itu sudah lama sekali terjadi.</p>
<p>Baru ku sadar, kudapati sebuah amplop di tanganku. Aku baru teringat pada seorang Pengantar surat tadi. Kubuka perlahan surat yang masih aku anggap sebagai surat panggilan pengadilan itu. Kukeluarkan isinya. Dua lembar kertas putih. Kuambil kaca mata yang kuletakkan di atas meja kecil dekat radio tua milik ayahku dulu. Mulai kubaca huruf-huruf ciptaan komputer itu.</p>
<p>“Bu, kalau memang benar kata ibu, bahwa manusia itu harus belajar pada dunia ini, lalu apa yang akan kita dapatkan nanti, bila semua manusia nyatanya akan mati?” Tanya Hidayat. Aku membaca surat itu dengan seksama.</p>
<p>“Maksudku begini bu, kalau memang kita harus belajar pada dunia ini, lalu untuk apa pelajaran itu kita pelajari? Kalaupun untuk diajarkan lagi kepada orang lain, apakah kita punya cukup waktu untuk hal itu, sedangkan masa tenggang kehidupan yang diberi Tuhan kepada kita, belum jelas adanya?” lanjut Hidayat. Surat itu mengagetkanku. Jantung seakan terhenti. Lalu bergerak lagi dengan tempo yang sangat lambat sekali.</p>
<p>“Panggilan kerja?” teriakku dalam hati. Namun bibirku sama sekali tak bisa tersenyum. Hatiku berat. Kepalaku pening. Tak mampu aku membendung derasnya air mata dari mataku. Namun yang jatuh hanya tetesan-tetesan. Kemana yang lainnya? Apakah mereka langsung menuju relung hatiku? Tanyaku pada air mataku sendiri.</p>
<p>“Dayat, semua pelajaran yang kita dapatkan, adalah untuk memperbaiki diri kita sendiri dan orang lain. Kalau kita telah menjadi orang baik, hidup atau matipun, kita akan tetap menjadi sebuah pelajaran untuk orang lain, jadi jangan kamu khawatir pada batas kehidupan.” Kata-kata Marwiyah terdengar lebih lirih di telingaku. Kini dadaku terasa sesak. Jani telah mendapatkan pekerjaan. Ucapku dalam hati. Semua persendianku terasa linu. Aku tak bisa bergerak. Sementara air mata kini deras mengalir.</p>
<p>“Tapi bu, bagaimana kalau ketika kita sedang mempelajari dunia ini, tapi belum sempat menjadi orang baik, lalu ajal menjemput kita bu?” suara percakapan mereka terus kudengar. Aku ingin melangkah keluar. Aku ingin memanggil mereka. Aku ingin apa saja dengan mereka. Namun kesedihan menahan gerakku. Aku sekarat. Aku..</p>
<p>“Dayat, dayat..Tuhan itu maha adil dan maha tau.”</p>
<p>“Maksud ibu?”</p>
<p>“Maksud ibu adalah, paling tidak kamu itu sudah berusaha untuk belajar baik, dan itu salahsatu nilai tambah buat kamu di mata-Nya” selesai kata itu diucapkan, begitu kaget kudengar gemuruh dari ketinggian langit. Aku tak mampu lagi menahan semua ini. Tiba-tiba aku teringat Ayah, ia tersenyum padaku. Ayah datang padaku. Aku seperti menemukan telaga air di tengah gurun pasir panjang.</p>
<p>“Kau sama sekali tak membunuhku Jani.” Tiba-tiba sosok imaji ayah berkata-kata padaku.</p>
<p>“Yang kau bunuh adalah ketidaksiapanmu akan sebuah kenyataan.” Lanjut sosok itu.</p>
<p>“Yang kau bunuh adalah rasa ketidakinginan kamu melihat anakmu sengsara.” Begitu rindang kata-kata itu terdengar, lalu tiba-tiba semuanya redup, redup dan gelap.</p>
<p>Matahari bergeser ke arah timur, awan-awan melangkah zig-zag membentuk lukisan-lukisan sesaat, pohon-pohon bergesek dan sesekali terpaksa merunduk karna angin-angin nakal mendorongnya hingga memaksa pohon-pohon untuk <em>ruku’</em> untuk memberi penghormatan pada dunia.</p>
<p>Langit terik berubah menjadi kelam, awan-awan berkumpul membentuk lingkaran, membentuk labirin, angin bertiup kencang sekali, bumi bergetar, anak-anak kecil yang sedang asyik main bola, berlarian, memutuskan untuk pulang ke rumahnya masing-masing, kilat-kilat seperti retakan tembok, ada suara dari utara, dan bising dari arah selatan, kini timur tak lagi bercahaya, barat pun tak lagi gelap. Semuanya berbondong-bondong untuk pergi dan  merenungi rahasia-rahasia pada sebuah ruang, entah ruang apa itu. Dan akhirnya semuanya reda, dan reda, dan reda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p><span style="font-family: Times-Roman; font-size: small;">Hezra Ahmad</span></p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank"><span style="font-family: Times-Roman; color: #001ee6; font-size: small;"><span style="text-decoration: underline;">hezraahmad@yahoo.co.id</span></span></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/pada-sebuah-ruang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>@GEROBAK TEMPAT MATI</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/gerobak-tempat-mati/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/gerobak-tempat-mati/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 08 Nov 2011 06:39:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[pei]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=916</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="294" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/gerobak-294x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="gerobak" title="gerobak" /></p>Pemulung dilarang masuk, Koruptor jalan terus bebas hambatan!! Keringat asin bercampur dengan rasa lelah, tapak jejak kaki menyisahkan bekas mengelilingi Ibu kota. Kedua tungkai tangan tidak menengadah tapi sebaliknya berbalik ke belakang untuk meraih bahagia bersama bocah kecil cantik yang masih berumur enam tahun. Tangan kokoh menarik gerobak impian, tertawa mengejek laju jalan sang bapak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="294" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/gerobak-294x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="gerobak" title="gerobak" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2011/gerobak-tempat-mati/gerobak/" rel="attachment wp-att-917"><img class="aligncenter size-full wp-image-917" title="gerobak" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/gerobak.png" alt="" width="600" height="612" /></a></p>
<p><em>Pemulung dilarang masuk, Koruptor jalan terus bebas hambatan!!</em></p>
<p>Keringat asin bercampur dengan rasa lelah, tapak jejak kaki menyisahkan bekas mengelilingi Ibu kota. Kedua tungkai tangan tidak menengadah tapi sebaliknya berbalik ke belakang untuk meraih bahagia bersama bocah kecil cantik yang masih berumur enam tahun. Tangan kokoh menarik gerobak impian, tertawa mengejek laju jalan sang bapak di ikuti sang anak yang merengek di dalam gerobak ingin mendengarkan dongeng Aladin dan Sinbad. Laju alur ban selalu berpindah dari terowongan kecil, bantaran kali yang berbau busuk, sampai pinggiran perkampungan kumuh pemulung kaleng-kaleng bekas dan sampah plastik. Bila musim hujan datang, aroma terapi langsung menghampiri hidung dengan berbagai macam bau busuk, asam, anyir dan langsung membuat pusing kepala apabila kita menghirupnya terlalu lama. Pagi harinya matahari menyinari bagai bukit persembunyian para kuman, binatang kecil berwarna hijau yang mempunyai sungut  akan datang menghampiri setiap bilik gubuk kardus, menempel di tiap makanan dan luka  borok para pemulung pemilik gerobak impian.</p>
<p>Gerobak dorong eksekutif dengan roda dua dilapisi cat berwarna putih mengenai pinggiran ban.Warna sisi gerobak merah, kuning dan hijau. Papan triplek dan kardus sebagai pembatas antara dinding gerobak untuk penahan dingin dan bila hujan datang didalam gerobak tidak berbau karat. Aksesoris gerobak sungguh menarik bergelantungan sebagai hiburan bagi si kecil, boneka beruang, alat-alat masak, kipas angin bekas dan bermacam-macam wig rambut menjadi permainan si bocah perempuan. Lumayan bagus gerobaknya kalau saja dilihat dari jauh, bersih dan terang sekali warna cat-nya, seperti pengembara yang mencari kebahagiaan sementara dalam proses perubahan hidup yang lebih bagus atau cara kematian yang lebih baik. Sebagai bentuk perasaan sederajat untuk berkesempatan menghirup udara kebahagiaan yang sangat panjang waktunya.</p>
<p>Botol-botol plastic menjadi bahan interior ruangan gerobak 3X1,5 meter dan dibelakangnya terdapat plat nomor motor yang sudah di ubah angkanya menjadi huruf yang bertuliskan  B4501DEH(red.Jakarta asoi deh) lalu ada tulisan wong cilik. Merk-merk botol plastic menjadi pelajaran ingatan sejarah kehidupan tersendiri bagi si kecil, sungguh mengenaskan belajar membaca dari botol dan kaleng. Hingga tidak pernah melihat gambar presiden dan para menteri yang berkuasa atas hidupnya di negeri bernama Indonesia.</p>
<p>“Ayo jalan terus pak”teriak si kecil tersenyum cantik, sambil tertawa polos melihat ulah bapaknya yang sedang mengoyangkan pantatnya beraksi menarik gerobak. Melenggak lenggok ke kanan dan kiri seperti penyanyi dangdut. Suara nyanyian seadanya mengiringi langkah sang bapak menarik gerobak yang entah kemana tujuan akhirnya, mengajak dunia menjadi sahabat terbaik dalam hidup bukan sebaliknya berubah menjadi penjara kehidupan.</p>
<p>Kalau hari sedang beruntung, si kecil cantik akan mendapatkan boneka-boneka Barbie miss Universe yang sudah terendam banjir, bantal warna-warni dan perlengkapan makan. Biasanya barang-barang ini ditemukan di komplek perumahan Jakarta yang terendam banjir musiman. Kardus-kardus mie menjadi alas untuk berbaring tidur melihat jutaan bintang berkerlip, pertunjukan bagi pemulung yang bukan pengamat astronomi. Rintikan hujan merupakan berkah bagi bumi, panas matahari bersinar terang untuk berganti malam. Gerobak tua tetap merambat di kebisingan malam, saling berlomba dengan mobil dan motor memakai badan jalan untuk kesebuah tempat peristirahatan yang lebih baik agar tidak terkena hujan.</p>
<p>Sang bapak kesulitan menemukan tempat berteduh untuk menepi agar anaknya bisa tertidur lelap merasakan lelahnya perjalanan hidup mencari sampah metropolitan.Dia tidak bisa melanjutkan perjalanannya menuju base camp pemulung karena siang tadi ia mencari sampah di daerah barat Jakarta. Terowongan Grogol biasanya menjadi hotel peristirahatan sementara, kavling-kavling pemulung keranjang dan gerobak sudah berdiri sehabis adzan maghrib berkumandang. Mereka ada yang menjemur dan mencuci pakaiannya dan sebagian memisahkan sampah-sampah metropolitan untuk di tukarkan uang. Gerobak disandarkan ke dalam terowongan gelap, selimut terpal digunakan untuk menutupi atas gerobak dijadikan atap penutup. Sang bapak lantas melompat ke dalam gerobak berbagi tempat untuk terlelap bersama dengan si kecil.</p>
<p>“Tidurlah dengan sejuta impian anakku”</p>
<p>“Pejamkanlah matamu, banyak cahaya bintang yang dapat kau raih sayangku” sambil mengusap kening si kecil cantik yang sedang tertidur pulas mengeluarkan air liur membentuk noda-noda putih di badan boneka beruang.</p>
<p>Angin berhembus perlahan pada awalnya, lama kelamaan menjadi udara dingin yang tidak menyenangkan. Berhimpit sejajar mencari kehangatan malam, si kecil cantik terbangun oleh dinginnya malam.</p>
<p>“Bapak sayang, aku dingin”</p>
<p>“Bapak, aku dingin”</p>
<p>Terbangun sang bapak mendengar suara anaknya meminta.</p>
<p>“Anisa Sayang, bapak ambilkan kain sarung ya”</p>
<p>Bocah kecil cantik bernama Anisa, menganguk polos mengisyaratkan kepada sang bapak yang tampak pucat kekurangan tenaga, setelah seharaian menapaki jalan-jalan raya dan puluhan lampu merah juga bak sampah perumahan. Hanya selembar kain sarung berwarna biru kotak-kotak putih terselip rapi ditumpukan kardus mie instant, peninggalan dari almarhumah ibunda Anisa kecil. Ibunya meninggal 2 tahun yang lalu, menurut kisah sang bapak, ia meninggal karena sakit paru-paru yang sudah menyiksanya selama 3 tahun. Cuaca dingin dan kondisi kesehatan tubuh tidak dapat lagi mempertahankan roh yang bersemayam menemani raga yang lapuh karena penyakit.</p>
<p>Saat malam itu memang tidak bersahabat, hujan bertambah deras dan lebat,butitran air hujan berjatuhan mengenai bagian gerobak tua, tubuh Anisa kecil terasa panas sekali. Kepanikan dan ketakutan tersirat dengan jelas dari wajah pak Kardi, hati bertanya dengan logika. Ada apakah gerangan yang akan ia lalui untuk merasakan kehidupan berbeda. Cepat bertindak atau akan terlibat dengan perubahan nasib?.</p>
<p>“Anisa anakku, bapak akan mencari tempat yang lebih hangat untukmu sayang”sambil mengelap keringat yang menetes dari keningnya dan leher.</p>
<p>Bangkit dari ketakutan, bergerak menyelusuri dinginya malam agar tampak istana kehangatan bagi Anisa. Dia adalah harta keluarga pak Kardi yang paling berharga untuk menemani hidup berbagi suka dan duka, setelah itu gerobaknya yang tidak pernah mengeluh mendengarkan cerita hidupnya. Gerobak kayu seperti suara tank tempur memecah keheningan malam,laju ban karet roda dua yang berbenturan dengan batu jalanan menjadi tanda irama tersendiri di tambah lagi suara kaleng-kaleng yang bergelantungan di sisi gerobak, membuat Anisa tertidur pulas di dalam gerobak. Pak Kardi mencari kelompok cahaya terang, agak jauh lagi ia mendapatkan kerumunan pemulung yang sedang membuat api untuk menghangatkan badan sekaligus mengusir nyamuk. Lantas Pak Kardi menurunkan Anisa dari dalam gerobak dan membuat api kecil, berharap suhu badan anaknya menurun. Biasanya Pak Kardi hanya menepikan gerobak di pinggiran pohon asem dekat kali penghubung sawah perbatasan desa dan perkotaan. Sebelum ibunda Anisa meninggal, mereka mendirikan rumah kardus di bawah terowongan jalan tol jagorawi. Kalau malam hari datang, mereka mendapatkan kehangatan sedikit dari beton-beton penyangga jalan sebagai penahan angin.</p>
<p>Nyala api ungun menjadi hiburan bagi semua golongan umur pemulung, mereka disana dapat berkumpul dan berbagi makanan bersama teman-teman gerobak yang lain sehabis berjuang melawan hidup. Bocah-bocah kecil berlarian diantara orang dewasa yang sedang bercakap-cakap, beberapa anak besar berumur 8 tahun mencari kegiatan menghafalkan nyanyian untuk mengamen di jalanan dengan alat-alat musik sedapatnya yang mereka buat sendiri hingga mengeluarkan nada. Malam bertambah sunyi, satu persatu merebahkan tubuhnya beralaskan kardus, terbuai dalam dunia impian masing-masing.</p>
<p>Pagi hari mulai menampakan sinarnya, kendaraan di jalanan sudah ramai mengangkut penumpang yang ingin pergi ke pasar dan berangkat ke kantor. Gerobak perlahan-lahan bergerak menghilang menuju tempat pemukiman yang lebih mapan, berharap mendapatkan barang yang masih bagus untuk ditukarkan menjadi uang agar dapat makan untuk hidup. Pak Kardi menarik gerobaknya ke arah Rawamangun, dari tempatnya berangkat ia sampai kira-kira jam 13.00 wib. Keadaan Anisa bertambah buruk, suhu badannya tidak mengalami perubahan. Suara bising kota menambah lambat laju gerobak, langkah kaki berlomba dengan bayangan sinar matahari. Asap-asap kota menjadi aroma perangsang, debu jalanan menjadi masker awet muda.</p>
<p>“Bapak, Anisa minta minum air putih”Pak Kardi segera mengambil air putih dari samping gerobak.</p>
<p>“Minum yang banyak, Anisa sayang”</p>
<p>“Anisa mau main di taman kecil”</p>
<p>“Sebentar lagi kita berdua sampai disana”Pak Kardi kembali menarik gerobaknya menuju taman kecil.</p>
<p>Sebuah taman berumput hijau di tumbuhi bunga berwarna warni, berkembang merekah di pingiran pagar pembatas trotoar jalanan. Biasanya ada pohon palem menjuntai dihiasi lampu kecil berkelip-kelip, kalau siang hari tempatnya sangat sejuk. Banyak para pemilik gerobak merebahkan tubuhnya untuk melepaskan lelah.</p>
<p>Anisa terbangun dari mimpinya, dan berdiri di dalam gerobak.</p>
<p>Ia bercerita sendiri dengan bapaknya seperti mengigau, ia menceritakan bagaimana gerobak tumpangannya sekarang ini dapat terbang kemanapun Anisa inginkan. Sebuah gerobak kencana yang dihiasi bermacam-macam boneka cantik dan bantal-bantal warna-warni, baju-baju bagus yang berbau harum sudah siap berada di dalam gerobak. Anisa senang sekali menceritakan mimpinya itu kepada sang Bapak yang hanya menganguk menyakinkan bahwa Anisa akan mempunyai gerobak kencana setelah ia sembuh dari sakitnya.</p>
<p>“Nanti bapak tidak usah menarik Anisa lagi”</p>
<p>“Karena Gerobak Anisa bisa terbang mengeluarkan sayap putih yang besar”Katanya bersemangat menyakinkan bapaknya.</p>
<p>“Bapak hanya menceritakan dongeng saja buat Anisa”</p>
<p>“Iya sayangku Anisa, bapak akan bercerita sampai kamu tertidur”</p>
<p>Lalu Anisa terdiam kembali melihat laju jalan gerobak.</p>
<p>Gerobak tetap berjalan dengan kecepatan standar dalam keadaan jalanan yang cukup ramai. Sebentar lagi ia akan memasuki daerah pinggiran desa, jalan pintas yang paling dekat untuk menuju taman kecil.</p>
<p>Perjalanan tinggal beberapa kilo meter lagi untuk bersandar melepas lelah. Pak Kardi melewati sekolah SD lalu Anisa minta berhenti sejenak untuk melihat anak-anak seumurnya berlarian bermain di taman sekolah. Ia turun dari gerobaknya dan meminta pak Kardi menemaninya bermain ayunan. Canda tawa terpancar dari wajah cantik Anisa, hati sedih menghampiri perasaan Pak Kardi melihat anaknya begitu bergembira setelah tadi malam ia mengalami demam.</p>
<p>“Bapak, Anisa mau bermain disini terus”</p>
<p>“Nanti setelah kamu besar Anisa”</p>
<p>Setelah ia mulai bosan dengan permainan di taman sekolah, mereka melanjutkan perjalannya menuju taman kecil. Jalanan aspal mulai tampak terlihat, trek perjalanan bonus bagi Pak Kardi karena jalanannya lebih mulus dari pada jalan desa yang banyak batu, licin dan becek apabila hujan sudah membasahi daerah itu. Anisa melihat seorang penjual arum manis berwarna merah muda, sungguh mengoda ingin mencicipinya.</p>
<p>“Bapak, aku mau arum manis”katanya</p>
<p>“Kamu mau berapa arum manis Anisa”</p>
<p>“Satu saja yang warnanya ada dua macam”</p>
<p>Pak Kardi menghampiri tukang penjual arum manis yang kebetulan teman nobrolnya di taman kecil.</p>
<p>“Cak aku beli satu Arum manisnya untuk Anisa”</p>
<p>“Anisa ayo kesini”pinta Pak Rustam penjual arum manis.</p>
<p>“Anisa sedang sakit Pak Rustam”</p>
<p>“Sudah di bawa ke dokter Pak Kardi”</p>
<p>“Mana cukup uang saya untuk berobat”</p>
<p>“Nanti pasti juga sembuh, maklum penyakit anak jalanan”</p>
<p>“Bawa saja, arum manis ini untuk Anisa”</p>
<p>“Terima kasih Pak Rustam”</p>
<p>“Anisa, Pak Rustam kasih yang paling besar ya”sambil mengelus keringat yang ada di keningnya.</p>
<p>“Hore, hore, terima kasih Pak Rustam”</p>
<p>“Cepat sembuh cah ayu”</p>
<p>Mereka berdua dan gerobak impian kembali meneruskan perjalanan, sambil terceletuk sebuah nyanyian baru untuk Anisa dari bibir Pak Kardi menghibur.</p>
<p>“Cah Ayu makan arum manis”</p>
<p>“Selalu tersenyum di jaman krisis”</p>
<p>“Anisa sayang dalam hati bapak”</p>
<p>“Tidak bersedih juga menangis”Pak Kardi sambil memperlihatkan goyang pantatnya. Tawa keras Anisa membuat energi baru untuknya menghadapi absensi kehidupan.</p>
<p>“Bapak makan arum manis juga ya”sambil menyuapi Pak Kardi yang sedang menarik gerobak.</p>
<p>“Terimakasih cah ayu manis”sambil terus bernyanyi</p>
<p>“Anisa mau tidur ya Bapak”</p>
<p>“Nanti arum manisnya Anisa simpan dulu”</p>
<p>“Biar bisa dimakan di taman kecil”</p>
<p>“Anisa, sayang sekali sama bapak”sambil memeluk lehernya dan mencium pipi bapaknya.</p>
<p>“Bapak juga sayang sekali sama Anisa”</p>
<p>“Nanti pasti Anisa ketemu sama gerobak terbang”sambil bercerita sendiri</p>
<p>Hari ini begitu indah, semua mempunyai hal yang tidak terduga. Manusia hanya menjalani kehidupan tapi hanya Dia yang mempunyai kehendak untuk memutuskan. Perjalanan Pak Kardi dan Anisa sudah cukup jauh dari barat ke timur seperti arah mata angin yang ingin berhembus kemana saja. Setelah mereka berbagi canda dan tawa kebahagian, Anisa tertidur pulas di dalam gerobak. Sebentar lagi akan tampak deretan hijau di samping kali, sangat rimbun sejauh mata melihat. Laju langkah bertambah cepat menarik gerobak, perlahan tapi pasti akan bersandar. Sampailah mereka bertiga di taman kecil, Pak Kardi melepaskan pakaiannya yang penuh keringat dan menjemurnya dekat  pagar pembatas. Ia membiarkan Anisa tertidur hingga sore hari, lalu ia jalan ke warung untuk membeli nasi bungkus. Ketika lampu-lampu kota taman kecil sudah menyala, ia tidak melihat Anisa berlari menghampirinya. Gerobak tetap menepi pada posisinya tidak bergeser sedikitpun.</p>
<p>“Anisa, Bapak bawa nasi bungkus kesukaan kamu sayang”</p>
<p>Tidak ada jawaban dari dalam gerobak, hanya terdengar suara  pemulung lainnya yang sedang bercakap-cakap. Pak Kardi langsung berlari kearah gerobak dan mengendong Anisa keluar dari dalam gerobak.</p>
<p>“Anisa, ayo bangun sayang”</p>
<p>“Bapak bawa makanan, biar kamu cepat sembuh”</p>
<p>Terkejut Pak Kardi yang melihat anaknya sudah tergolek lemas di tanah pertiwi.</p>
<p>“Innanlilahi rojiuun”</p>
<p>“Semua kembali hanya kepada-Mu”</p>
<p>Pak Kardi menangis terisak-isak melihat putri kesayangannya telah meninggal. Semua teman-temannya hanya melihat dan turut berduka atas musibah yang dihadapinya, karena keadaan mereka tiap hari selalu melawan kondisi yang akan mereka alami kapanpun dan dimanapun untuk sebuah pengorbanan hidup yaitu kematian. Jenazah Anisa digendong dengan tangan penuh kasih sayang, ia berjalan menuju rumah-rumah besar untuk meminjam sedikit uang untuk biaya penguburan. Dari pagar  besi besar, sampai benteng batu semuanya terbisu tak berkata dan bertindak. Hanya lolongan anjing pengusir tamu yang menyambut, tanpa terasa Pak Kardi telah berkeliling jauh di seputar perumahan kota. Ia kembali menuju taman kecil dan menshalatkan puterinya dan membacakan doa agar ia bertemu ibunya di sorga dengan menaiki gerobak kencana impian Anisa.</p>
<p>Takbir adzan subuh mulai terdengar perlahan, hawa sejuk embun dari pepohona berjatuhan tertiup angin pagi. Bunga-bunga mengeluarkan aroma wangi, kembang kamboja jatuh berguguran. Jenazah Anisa dikuburkan di tempat impiannya taman kecil, Pak Kardi membungkusnya dengan kain sarung peninggalan Ibunda Anisa. Sebuah pemakaman sederhana yang dilakukan untuk penghormatan kepada Anisa tercinta, kuburan kematian tanpa batu nisan, identitas kelahiran, keturunan dan jaman. Tempat istirahat tidur panjang yang sangat nyaman, hanya diketahui sebatas cerita dari percakapan-percakapan pemulung gerobak tempat mati. Tanah Ibu Pertiwi lebih siap menerima dan mengenal siapa nama Anisa, seorang bocah perempuan kecil yang masih penuh canda dan tawa.</p>
<p>Hari terus berlalu, waktu tak terasa beranjak perlahan. Umur kehidupan semakin tua untuk tempat melepas semua lelah dan penat, tapi tidak putus asa. Pak Kardi tetap berjuang menjalani profesinya sebagai pemulung gerobak. Sebuah tempat kematian yang akan dijadikan tidur panjang!?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>@pay, menjangan no 25.</p>
<p>peybalibli@rocketmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/gerobak-tempat-mati/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>burung marah</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/mak-oret/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/mak-oret/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Nov 2011 05:34:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[komik]]></category>
		<category><![CDATA[mak oret]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=908</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="106" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/mak-oret-300x106.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="mak-oret" title="mak-oret" /></p>by Romy Ardiansyah romyar2008@gmail.com]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="106" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/mak-oret-300x106.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="mak-oret" title="mak-oret" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2011/mak-oret/mak-oret/" rel="attachment wp-att-909"><img class="aligncenter size-large wp-image-909" title="mak-oret" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/11/mak-oret-1024x361.jpg" alt="" width="1024" height="361" /></a></p>
<p>by Romy Ardiansyah</p>
<p>romyar2008@gmail.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/mak-oret/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

