<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>laritelanjang</title>
	<atom:link href="http://laritelanjang.net/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://laritelanjang.net</link>
	<description>berlari bertelanjang bersenang senang</description>
	<lastBuildDate>Tue, 01 May 2012 09:07:44 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
		<item>
		<title>Fragmen 4</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-4/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-4/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 10:29:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fragmen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1037</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="221" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same5-300x221.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="same5" title="same5" /></p>Lampu liontin menyalanyala menandakan dibukanya malam yang diterjang senyum paksa perempuanmalam//mama berkata ejalah setiap jengkal keagungan yang telah di berikan Tuhan padamu namun jangan sesekali menoleh dan torehkan kealpaan sebab sesekali engkau menengadahkan tangan sampai batas waktu yang tertentu maka kau akan meyakini bahwa suatu saat nanti kapalkapal akan berlayar menuju samudera biru//aku yang rapuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="221" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same5-300x221.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="same5" title="same5" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2012/fragmen-4/same5/" rel="attachment wp-att-1039"><img class="aligncenter size-large wp-image-1039" title="same5" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same5-1024x755.png" alt="" width="717" height="529" /></a></p>
<p>Lampu liontin menyalanyala menandakan dibukanya malam yang diterjang senyum paksa perempuanmalam//mama berkata ejalah setiap jengkal keagungan yang telah di berikan Tuhan padamu namun jangan sesekali menoleh dan torehkan kealpaan sebab sesekali engkau menengadahkan tangan sampai batas waktu yang tertentu maka kau akan meyakini bahwa suatu saat nanti kapalkapal akan berlayar menuju samudera biru//aku yang rapuh masih saja tersengal-sengal menyaksikan badutbadut yang bicara seenak corong atawa moncongnya// katakata mereka seperti menelanjangi dirinya sendiri, keluarganya serta anakanaknya yang padahal mereka tidak tahu apaapa lantaran kebodohannya//mulut mereka penuh sampah yang dihuni lalatlalat//mata mereka meradang menyaksikan dunia yang tak habishabisnya membuat mereka haus//menyaksikan sebuah keluarga bahagia mengelola pemerintahan bapakibu adikkakak anakcucu semuanya dipaksa rakus akan kekuasaan//aku hidup di atas tanah yang koyakmoyak oleh keserakahan wanitawanita cantik berhati busuk//ingin sekali aku mencopot otak para polisi yang membiarkan ketamakan dan kehinaan kemiskinannya dirobek oleh seorang gayus tambunan//walau aku tau mereka hanya terjebak dalam episode yang memilukan lantaran gaji mereka tak setanding dengan sampahberak para anjing koruptor yang disodorkan dengan mata melirik ke arah neraka yang menyalanyala//namun aku hanya binging lentaran sebab apa mereka menggadaikan pada iblis kehormatan yang diberikan Tuhan//</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p>Hezra Ahmad</p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank">hezraahmad@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-4/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fragmen 3</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-3/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-3/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Feb 2012 05:36:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fragmen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1032</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="221" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same-3-300x221.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="same-3" title="same-3" /></p>Kini aku yang usang melangkahkan ketiadaan dengan keadaan//orangorang datang dan menjilati kaki para pesohor seperti meniup balon yang retak lantaran dimakan usia//orangorang datang ke kantor dengan getaran mekanik di tubuh, hati, dan pikiran mereka// matanya seperti sorotan lampu sepuluh watt yang hampir redup lantaran terus diandalkan pada malam bahkan siang hari yang semakin lama semakin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="221" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same-3-300x221.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="same-3" title="same-3" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2012/fragmen-3/same-3/" rel="attachment wp-att-1034"><img class="aligncenter size-large wp-image-1034" title="same-3" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/same-3-1024x755.png" alt="" width="717" height="529" /></a></p>
<p>Kini aku yang usang melangkahkan ketiadaan dengan keadaan//orangorang datang dan menjilati kaki para pesohor seperti meniup balon yang retak lantaran dimakan usia//orangorang datang ke kantor dengan getaran mekanik di tubuh, hati, dan pikiran mereka// matanya seperti sorotan lampu sepuluh watt yang hampir redup lantaran terus diandalkan pada malam bahkan siang hari yang semakin lama semakin mirip dengan neraka jahanam yang penuh dengan setrikaan besar, tombak panas, dan pecut api sehingga sorotnya berkurang lantaran anak tetangga kasur terus merengek membangunkan malam dengan teriakan dan kencing bau lagi panas merobek dinding kesabaran seorang ayah//jantungnya seperti mesin yang terus dihantam oli bekas pemberian paksa oleh pasar anjinganjing kapitalis yang terus saja merobek kantong celanarakyat yang sudah kedodoran sejak zaman belanda, jepang sampai zaman anak cucu qarun dan cicitnya yang masih hidup, berniaga, berpolitik, dan makan enak sampai hari ini yang tanpa mereka sadari bahwa kotoran manusia telah menutupi wajah mereka yang selalu kehausan akan uang, uang, dan uang, sementara kakinya terus menginjakinjak harapan para pendahulu, tangannya terus memukul dan memalu pantatrakyat yang sudah lama luka sehingga tidak terasa sakit lagi//kakinya seperti rodaroda pembangunan yang terus saja menyeret sejarah kelam yang mustahil dan takkan bisa dihapuskan oleh siapapun kecuali cucukiayi yang punya penampilan demikian adanya namun otaknya sangat cerdas yang sangat disayangkan kini ia lebih memilih nete dalam rangkulan Tuhan sebab sudah terlalu lama ia jengah dengan negara kotor yang bau dan penuh tikus ini// tubuh manusia kini seperti dicambuki zaman, digunduli kenyataan//kemana hendak kemeja yang sempat menjadi andalan ketika shalat itu akan kuseka sedangkan awanpanas dan arwah marijan terus menghantui kita yang bengong di depan televisi, koran dan internet, kini kita mungkin baru sadar, gununggunung akan muntah, lautan akan meradang, bumi retak, membentuk guratan akar, muncrat gas panas, pohonpohon tumbang, sementara kemaksiatan terus berjalan, roda perekonomian terus berputar, tak peduli siapaengkau marijan, tak peduli siapa engkau yangkesakitan, disaat kita asyik makan, mereka lapar, saat kita asyik minum, mereka haus, saat kita asyik bicara, mereka merenung, saat kita asyik tertawa, mereka menangis, bersyukurlah, karena itu cara terkecil yang bisa kita lakukan untuk membuat-Nya tak bertambah murka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p>Hezra Ahmad</p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank">hezraahmad@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fragmen 2</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-2/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-2/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Feb 2012 15:21:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fragmen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1024</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="171" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameold2-300x171.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="sameold2" title="sameold2" /></p>Terompet kanakkanak jelajahi pasarmalam/keteduhan mempertimbangkan kemuraman bintang, awan-awan membentuk angkaangka jatah preman pasar pagi yang merauk rakus kemeja usang di samping keranda hari seperti binatang galak, lapar memang, namun semut yang sempat mengeja rincis hujan melakukan transaksi keuangan di mejameja kantor televisi dan radioradio lokal/ di pinggang titik kulminasi comberan katakata dari duaperempat irama subuh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="171" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameold2-300x171.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="sameold2" title="sameold2" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2012/fragmen-2/sameold2/" rel="attachment wp-att-1025"><img class="aligncenter size-large wp-image-1025" title="sameold2" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameold2-1024x584.png" alt="" width="717" height="409" /></a></p>
<p>Terompet kanakkanak jelajahi pasarmalam/keteduhan mempertimbangkan kemuraman bintang, awan-awan membentuk angkaangka jatah preman pasar pagi yang merauk rakus kemeja usang di samping keranda hari seperti binatang galak, lapar memang, namun semut yang sempat mengeja rincis hujan melakukan transaksi keuangan di mejameja kantor televisi dan radioradio lokal/ di pinggang titik kulminasi comberan katakata dari duaperempat irama subuh memeluk peluh para saudagar arab yang pergi sembahyang/calon istri banyak pintanya bisikku pada ronaldinho, henry, messi dan eto’o di layar besar rebut kemenangan kita, bisik nyamuk kali yang berak di lengan bagian kiri temanku yang kini tak memiliki pagi/bilakah memang antara ajal dan pengharapan tak bisa lagi kita bedakan dengan hukum dan kesamarataan, maka aku yang akan berkata pada mimpi inilah kami dengan keterbatasan mental dan keinginan karena selalu saja kami menginginkan sesuatu yang mudah, semudah berkata. berkata dengan semaunya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p>Hezra Ahmad</p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank">hezraahmad@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fragmen 1</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-1/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-1/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 09 Feb 2012 18:07:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>
		<category><![CDATA[fragmen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1017</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="171" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameoldstyle-300x171.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="sameoldstyle" title="sameoldstyle" /></p>hari ini aku melihat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh menghindar dari hujan, tapi aku malah lari mencari tempat yang basah terkena hujan/Ingin sekali aku mencopot otak tukang somay yang melintas di hadapanku lantaran bunyi kelakson pemilik mobil avanza bising menekuk telinga/Bulan malam nanti pasti bisu karena akan ada tai kucing yang dihinggapi lalat sore ini/Kemuraman [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="171" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameoldstyle-300x171.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="sameoldstyle" title="sameoldstyle" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2012/fragmen-1/sameoldstyle/" rel="attachment wp-att-1018"><img class="aligncenter size-large wp-image-1018" title="sameoldstyle" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/sameoldstyle-1024x584.png" alt="" width="717" height="409" /></a></p>
<p>hari ini aku melihat orang-orang berlarian mencari tempat berteduh menghindar dari hujan, tapi aku malah lari mencari tempat yang basah terkena hujan/Ingin sekali aku mencopot otak tukang somay yang melintas di hadapanku lantaran bunyi kelakson pemilik mobil avanza bising menekuk telinga/Bulan malam nanti pasti bisu karena akan ada tai kucing yang dihinggapi lalat sore ini/Kemuraman jiwa yang aku miliki saat ini ingin sekali aku gadaikan dengan seorang pelacur yang mangkal di pinggir mushola dekat warung ubi cilembu kampung jampang kali suren yang senantiasa menyambut orangorang PLN dengan golok dan linggis/malam suasana dingin mencaci selimut aku terkapar di rodaroda emanasi/ seperempat malam dan hujan entah kapan hendak meninggalkan petualangan hari-hari suci/Aku ingin sekali naik helikopter bisikku pada ember kosong yang ada di kepalaku, namun ibu hanya menjawab keinginanku dengan mengeja butiran pancasila di buku usang milikku sepuluh tahun yang lalu/kotoran kuda yang kemarin temanku masak menjadi capcay ternyata cukup membuat lidahku mengingat akan kekejaman yang dilakukan penghianat-penghianat jahanam di emperan kampus tempat bersekolah para rembulan dan anggur/lidah-lidah mereka bagai lidah anjing yang tidak bisa membaca huruf hijaiyah dan huruf-huruf kanji/Begitulah mereka memperlakukan orang-orang kesayangan tuhan dengan ketololan, bagaimana tidak? Sehabis asyik bercumbu dengan pasangan mereka masing-masing mereka tak pernah mandi junub sebagaimana yang kami lakukan sehabis mimpi atawa onani tanpa sabun karena harganya mahal semahal mimpi-mimpi yang tak pernah dikabulkan tuhan, entah mengapa dia begitu egois atau bahkan dia tersinggung karena setiap pembukaan pagi kami tak pernah hadir upacara seperti yang dilakukan oleh orangorang samping warung kerudung yang tetap buka warungnya walau kerusuhan bulan mei masih hangat dan baru saja dimulai/Kaleng susu bayi yang kami yakini sebagai sumber rejeki kini usang dilabrak even-even siang hari, karena malam tak lagi menjanjikan uang atau barangkali hanya sekadar makan pecel lele di warung cak agung depan gang masuk tempat anak-anak asuhan karlmax dan che guevara berkumpul dan pergi demonstrasi/andai saja ada flashdisk yang mampu menampung gerobak dalam fikiranku, jelas saja aku akan tanggalkan kemaluan dan kepalaku untuk sejenak karena dua hal itulah yang membuatku ingin bunuh diri.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://mullahijrah.blogspot.com" target="_blank">Mulla Hijrah</a></p>
<p>Hezra Ahmad</p>
<p><a href="mailto:hezraahmad@yahoo.co.id" target="_blank">hezraahmad@yahoo.co.id</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/fragmen-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;Who are you? What are you?&#8221;</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Feb 2012 04:06:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1009</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who-300x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="who" title="who" /></p>Dua minggu terakhir saya terbebani oleh beberapa pernyataan yang berkaitan dengan identitas kebangsaan. Pernyataan ini demikian menohok karena keluar dari beberapa kenalan baru yang non-Indonesia. &#160; Saya pun jadi teringat waktu masih sekolah dulu, mulai dari SD, SMP, sampai SMA, betapa saya -kita atau kami- terdoktrinasi nilai nilai pekerti yang konon adalah identitas bangsa Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who-300x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="who" title="who" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/who/" rel="attachment wp-att-1010"><img class="aligncenter size-full wp-image-1010" title="who" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/02/who.png" alt="" width="400" height="400" /></a></p>
<p>Dua minggu terakhir saya terbebani oleh beberapa pernyataan yang berkaitan dengan identitas kebangsaan. Pernyataan ini demikian menohok karena keluar dari beberapa kenalan baru yang non-Indonesia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Saya pun jadi teringat waktu masih sekolah dulu, mulai dari SD, SMP, sampai SMA, betapa saya -kita atau kami- terdoktrinasi nilai nilai pekerti yang konon adalah identitas bangsa Indonesia yang menganut budaya Timur. Sebut saja misalnya kejujuran, ramah tamah, toleransi, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, sopan santun, etika, dst. Nilai nilai ini biasanya diajarkan oleh guru saya pada pelajaran PMP/ PPKN, Bahasa Indonesia, Sejarah dan Sosiologi (SMA jurusan IPS). Maka tak heran, tolok ukur kenaikan kelas ada pada pelajaran pelajaran tersebut (biasanya ditambah juga pelajaran Agama, tapi saya tidak akan membahas itu), karena pelajaran mengenai identitas kebangsaan adalah penting.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dulu, saya suka sekali pelajaran pelajaran itu, bukan hanya karena mudah mendapat nilai yang bagus (walaupun hampir semua murid nyaris mendapat nilai yang sama: 8), tetapi sebagaimana juga anak anak pada umumnya, berbudi pekerti yang baik memang lebih mudah dijalankan sewaktu kecil. Saya bisa dengan mudah mempraktekkan ajaran guru saya maupun cerita dalam buku buku pelajaran. Jika Budi senang membantu bersih desa di lingkungan Desa Suka Makmur, maka saya pun kerap beberapa kali turut membantu gotong royong di komplek rumah saya. Jika ayah Budi kerap mendatangi rapat musyawarah desa, saya juga sering menerima undangan rapat Rt untuk orang tua saya. Intinya, waktu saya masih kecil, pendidikan nilai nilai itu terasa begitu nyata, alami dan penuh kesadaran, bukan hanya teori atau doktrinasi. Bagaimana pentingnya kejujuran, keramahtamahan, toleransi, gotong royong, musyawarah untuk mufakat, sopan santun dan etika, secara nyata diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari, yang pada saat itu bisa jadi cita cita menjadi bangsa yang bermartabat masih ada dalam diri setiap orang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Dua dekade telah berlalu, hanya dalam rentang waktu itu nilai nilai yang saya pikir telah tertanam dan berakar dengan kuat kini dipertanyakan. Bukan hanya oleh saya, tetapi juga oleh orang asing yang seringkali mendengar kebaikan orang Indonesia dari pengalaman orang orang yang pernah ke Bali (bisa jadi kebaikan adalah bagian dari pariwisata).</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Di lingkungan kecil saya, tempat dimana saya mengaktualisasikan diri, nilai nilai ini semakin tidak kentara. Suatu ketika kami membuat proyek yang berskala internasional, kami pun mengundang beberapa rekan dari berbagai negara di dunia. Terlepas dari persoalan klasik hingga moderen, proyek tersebut ternyata membuahkan satu masalah besar, yakni kekecewaan rekan rekan internasional tersebut terhadap sikap kami.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pernyataan pertama muncul dari seorang rekan asal Jepang, yang tidak habis pikir bagaimana orang Indonesia yang terkenal dengan keramahtamahannya bisa menjadi begitu tidak beretika dan tidak menghargai keberadaannya. Saat itu saya hanya bisa menjawab, bahwa yang ia temui disini adalah orang Jakarta, tidak berarti semua orang Indonesia seperti itu. Orang Jakarta mungkin sama halnya dengan orang orang di kota besar lainnya di seluruh dunia (meskipun saya sendiri kurang paham bagaimana sebenarnya orang orang di kota besar lain di seluruh dunia). Lantas pernyataan pernyataan lainnya pun bermunculan dari rekan rekan dari berbagai negara, masih seputar kekecewaan mereka terhadap kami. Mereka menyesali bagaimana kami tidak menghargai waktu, tidak menghargai komunikasi, tidak ringan tangan terhadap kesulitan mereka, tidak melibatkan mereka dalam pembahasan masalah dan mencari solusi, lamban menangani masalah, tidak dapat dipercaya, dan segalanya semakin memburuk dengan tidak ada satu kata maaf pun tersampaikan secara resmi dari pihak kami, yang mana sikap tersebut seperti pecundang di mata mereka. Karena sebagaimana acara yang berskala internasional, mungkin mereka mengharapkan kami bersikap layaknya representatif kolektif dari bangsa Indonesia yang terkenal dengan budi pekertinya yang baik itu. Terlebih lagi proyek yang kami jalani masih terkait dengan dunia seni dan budaya, maka pernyataan atau pertanyaan kritis perihal identitas kebangsaan pun menjadi mudah terlempar dari benak mereka sebagai penggiat seni dan budaya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Pertanyaan semacam &#8220;Who are you? What are you?&#8221; memang tidak pernah mudah untuk dijawab.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Menerima pernyataan dan pertanyaan mereka, saya lumayan tertohok, dan dengan insting kesoktahuan saya, saya berpikir mungkin ada baiknya kita membuat deklarasi.</p>
<p>&#8220;Kami orang Indonesia.</p>
<p>Dulu, saat kalian menyebut kami dengan sebutan negara berkembang yang menjadi bagian dari dunia ke-3, kalian akan mudah mengenali kami, kemanapun kami pergi dan dimanapun kami berada, melalui cara kami berpikir, berbicara dan bersikap. Kalian pelajari identitas kami melalui kebudayaan yang diturunkan oleh leluhur kami, dan kalian &#8216;menempatkan&#8217; kami di sisi Timur karena kulit kami sawo matang, dan kalian &#8216;melabeli&#8217; kami terbelakang karena saudara kami masih telanjang.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini, kami mengirim anak anak kami sekolah di luar negeri, kami pelajari bahasa persatuan kalian dan bahkan kami menguasai bahasa bahasa lain di dunia. Kami mengoleksi sepatu dan tas rancangan kalian, kami mampu membeli teknologi yang kalian buat. Kami berbulan madu keliling dunia dan memasang fotonya di akun Facebook kami. Kami mempelajari seni tinggi dan peradaban tinggi. Kami mengerti ilmu pengetahuan kalian dan mengadaptasikannya di tanah kami yang basah. Kami membangun gedung gedung tinggi dan mal mal untuk bersosialisasi atau sekedar mempraktekan budaya minum anggur dan kopi.</p>
<p>Ya, kami orang Indonesia, yang telah mampu bukan hanya merebut tetapi juga menyerap dengan seksama kebudayaan kalian dan apa yang kami kenali sebagai identitas kalian. Dan ya, sepertinya kami bangga menjadi ter-Baratkan atau ter-asingkan. Sepertinya kami bangga menjadi tercerdaskan dan berbicara mengenai kepintaran kami di ruang ruang publik. Sepertinya kepentingan kami jauh lebih penting ketimbang &#8216;gotong royong&#8217; sebagai label kekuasaan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mungkin, kami adalah bangsa yang dinamis, dan bukanlah pohon yang tertanam dan berakar kuat, yang tanahnya hancur oleh gempa bumi atau hanyut dalam lautan lumpur. Dalam tubuh kami mengalir darah darah biru sisa koloni, atau sekedar suntikan vitamin C agar kami menjadi putih dan enak dilihat.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, sepertinya kami merasa lebih baik seperti saat ini, bukan yang dicita citakan para guru SD kami beserta buku buku PMP/ PPKN. Kebebasan bagi kami adalah menjadi diri sendiri, kemerdekaan bagi kami adalah mencari identitas yang sejalan dengan jaman. Lalu kalian mempertanyakan dengan heran, bagaimana bisa kami semenjadi ini? Maka jawabnya, kenapa tidak?&#8221;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Krisis identitas, rasanya istilah itu begitu akrab ketika saya masih SMP dan hobi menonton MTv. Tapi sekarang istilah itu muncul lagi di benak saya saat menghadapi orang orang asing itu. Kekecewaan mereka mungkin saja hanya kepada beberapa gelintir orang yang mereka anggap tidak profesional (katakanlah, semuanya menjadi mudah tersampaikan dengan istilah tidak profesional, bukan perkara identitas kebangsaan). Tapi bodohnya saya, saya malah menganalogikan lingkungan kecil tempat saya mengaktualisasikan diri ini sebagai republik kecil, miniatur dari NKRI. Karena bukan tidak mungkin, gejala gejala itu juga terjadi di pelosok NKRI lainnya, sebagaimana sering saya lihat di televisi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Wahai Indonesia, siapakah kamu?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>mawwar_berduri@yahoo.com</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/who-are-you-what-are-you/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>lazyday</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 08 Jan 2012 04:14:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[FONT]]></category>
		<category><![CDATA[gambar]]></category>
		<category><![CDATA[typo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=1000</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="211" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday-211x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="lazyday" title="lazyday" /></p>&#160; font by tups click to download&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;&#62;lazyday.ttf or download at &#8212;    http://www.dafont.com/lazyday.font]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="211" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday-211x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="lazyday" title="lazyday" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/lazyday/lazyday/" rel="attachment wp-att-1001"><img class="aligncenter size-full wp-image-1001" title="lazyday" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/lazyday.jpg" alt="" width="595" height="842" /></a></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>font by tups</p>
<p>click to download&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;<a href="http://laritelanjang.net/2012/lazyday/lazyday-ttf/" rel="attachment wp-att-1002">lazyday.ttf</a></p>
<p>or download at &#8212;  <a href="http://www.dafont.com/lazyday.font">  http://www.dafont.com/lazyday.font</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/lazyday/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ketika Kakakku Kecelakaan</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 05 Jan 2012 03:54:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=995</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="300" height="194" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan-300x194.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kakak-kecelakaan" title="kakak-kecelakaan" /></p>Tahukah kalian berapa banyak orang baik hidup di dunia ini? Terlalu banyak untuk dihitung!   -Sherman Alexie     Beberapa tahun lalu di satu siang pada bulan Mei tahun 1998. Tubuh kakakku terpental sejauh lima meter setelah tertabrak sebuah mobil boks, di depan hidung ibuku. Aku baru saja pulang sekolah saat itu dan hendak mengganti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="300" height="194" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan-300x194.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kakak-kecelakaan" title="kakak-kecelakaan" /></p><p><a href="http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/kakak-kecelakaan/" rel="attachment wp-att-996"><img class="aligncenter size-full wp-image-996" title="kakak-kecelakaan" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2012/01/kakak-kecelakaan.png" alt="" width="800" height="519" /></a></p>
<p align="right"><em>Tahukah kalian berapa banyak orang baik hidup di dunia ini? Terlalu banyak untuk dihitung!</em></p>
<p align="right"><em> </em></p>
<p align="right">-Sherman Alexie</p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p align="center"><strong> </strong></p>
<p>Beberapa tahun lalu di satu siang pada bulan Mei tahun 1998. Tubuh kakakku terpental sejauh lima meter setelah tertabrak sebuah mobil boks, di depan hidung ibuku. Aku baru saja pulang sekolah saat itu dan hendak mengganti seragam merah putihku ketika kemudian terdengar pekik keras Ibu. Aku berlari ke pintu dan mendapati ibuku sedang menangis dalam pelukan seorang perempuan tetangga rumah. Ayah langsung melarikan tubuh kakakku ke Rumah Sakit dengan angkutan umum ditemani dua pria warga desa, sementara Santoso (kami kemudian memanggilnya Pak Santo), laki-laki keturunan Cina berusia 40 tahun pengendara mobil boks tersebut mengikuti dengan mobilnya dari belakang. Beberapa tahun kemudian ayahku kembali menceritakan, sesampainya mereka di Rumah Sakit, kakakku sempat dirawat di ruang UGD beberapa jam, kemudian dibawa ke ruang radiologi untuk difoto <em>rontgen</em> sebelum akhirnya ditempatkan di ruang perawatan biasa.</p>
<p>Berkali-kali Pak Santo meminta maaf atas tragedi tersebut. Sudahlah, sudah takdir, semuanya memang mesti terjadi, kata Ayah menanggapi permintaan maaf laki-laki itu.</p>
<p>”Sebaiknya Bapak cepat-cepat pergi sebelum polisi datang dan menambah ruwet urusan. Pergilah sekarang juga. Kami bisa mengurus semuanya.” Ayah berbicara seraya memandangi tubuh kakakku yang tak berdaya di atas ranjang perawatan. Namun Pak Santo tidak menghiraukan ucapan itu. Ia akan tetap berada di Rumah Sakit sampai keadaan lebih baik dan ia berjanji akan menanggung semua biaya perawatan. Mendengar perkataan itu, ayahku berpura-pura marah padanya dan mengatakan bahwa ia juga mampu untuk membayarnya. Tetapi lagi-lagi pria baik hati tersebut bersikeras dengan pendiriannya.</p>
<p>Sore harinya aku bersama Ibu menyusul ke Rumah Sakit. Kami mendapati Ayah didampingi oleh Pak Santo duduk di samping ranjang tempat kakakku terbaring tak sadarkan diri. Dua warga desa yang tadi ikut menemani ayahku ke Rumah Sakit sudah pulang. Setangah jam yang lalu, kata Ayah. Aku dan Ibu masuk, berdiri di samping ranjang, memandangi tubuh kakakku yang separoh tertutup selimut putih bergaris-garis biru. Di tangannya terpasang selang infus, dari hidung menjulur selang oksigen dan tangan kirinya terbalut kain kasa putih. Di tembok di atas kepalanya sebuah monitor terpasang: memperlihatkan garis-garis warna  hijau disertai bunyi monoton. <em>Tut..tut..</em>Sebuah televisi 17 inchi ditaruh di atas meja di samping ranjang.</p>
<p>Menjelang malam kami berempat duduk di teras belakang ruang perawatan. Ayah dan Ibu duduk di dekat pintu agar tubuh kakakku masih bisa diawasi. Dari pembicaraan mereka akhirnya aku bisa mengetahui kalau Pak Santo tinggal di Jakarta dan kebetulan sedang melintas di kota kami ketika akhirnya kemalangan itu terjadi.</p>
<p>Rumah tinggalku berada di pinggir jalan utama yang menghubungkan antara Jakarta dan Yogyakarta. Oleh karena itulah maka jalan raya di depan rumahku tidak pernah sepi dari lalu lintas kendaraan. Raungan truk-truk besar atau bus-bus antar kota selalu mengisi ruang tamu rumah. Ketika musim mudik menjelang lebaran tiba, aku biasa duduk di teras rumah bersama kakak, memandangi jalan raya yang dipadati begitu banyak kendaraan.</p>
<p>Malam itu akhirnya kami menjadikan teras Rumah Sakit tersebut sebagai tempat makan malam, dengan menu yang didapat ibuku dari kantin Rumah Sakit. Berempat kami duduk melingkar di atas lantai beralaskan tikar yang ibu bawa dari rumah tadi sore. Di depan kami masing-masing terdapat kardus putih berisi nasi, ayam goreng serta saus yang dikemas dalam plastik. Seperti yang biasa kami lakukan di rumah sebelum makan, kami memejamkan mata terlebih dahulu untuk berdoa di hati masing-masing. Pada kesempatan kali itu, aku tidak memejamkan mata, aku terpukau oleh cara Pak Santo yang menurutku saat itu aneh dalam melakukan ritual sebelum makan. Ia menggenggam telapak tangan beberapa saat di depan dada setelah itu menyentuhkan jemarinya ke jidat dan menyilangkan ke pundak kanan dan kiri. Dari situ pula aku kemudian memperhatikan warna kulitnya yang begitu putih dan matanya yang hanya seperti garis melintang di balik kaca mata serta rambutnya yang pasti selalu disisir rapi.</p>
<p>Selama beberapa saat tidak ada suara yang keluar dari mulut masing-masing karena disibukkan oleh makanan. Diam-diam aku selalu mencuri kesempatan untuk memandang ke arah Pak Santo, memperhatikan gerak-geriknya dengan seksama seolah sedang melihat jenis manusia aneh. Kadang tanpa disengaja tatapan kami bertemu, dan laki-laki itu akan tersenyum ke arahku hingga aku tertunduk malu.</p>
<p>Ibu hanya menghabiskan separuh makanannya, dan sisanya dilimpahkan kepadaku. Tidak begitu lapar, katanya. Aku menggeleng namun ia tetap membujukku dan  menyuapkan makanan itu ke mulutku.</p>
<p>Selesai makan. obrolan pun berlangsung.</p>
<p>“Aku memiliki seorang anak perempuan, baru dua tahun umurnya.” kata Pak Santo sambil mengelap jemarinya dengan tisu setelah ditanya ibuku tentang keluarganya. “Vina namanya.” Ia menghentikan ucapannnya dan menyeruput air mineral dari gelas plastik, lalu bangkit dan berjalan ke tepi lantai teras dan  menyiramkan sisa air mineral ke jari-jari bekas makan. Air bergemericik jatuh di atas rerumputan taman. Kemudian ia kembali ke tempat duduk semula dan mengambil dompet di kantong belakang celananya, mengeluarkan selembar foto berwarna yang masih terlihat jernih meskipun ada garis putih melintang di sudutnya karena bekas lipatan. Ia memperlihatkan foto itu kepada Ayah, kemudian Ibu mengulurkan tangan untuk melihatnya.</p>
<p>“Tidak ada suara yang lebih merdu di dunia ini daripada suaranya.” ucapnya dengan tersenyum lebar hingga memperlihatkan gigi-giginya yang putih. Kuperhatikan foto yang ada ditelapak tangan ibuku, gambar anak kecil berkulit putih bersih, memakai gaun putih dengan bagian bawah yang melebar seperti bunga mawar terbalik. Usianya mungkin 2 atau 3 tahun lebih muda dariku. Di bagian kepalanya diikat semacam kain tipis juga berwarna putih. Hampir tidak bisa dibedakan apakah ia malaikat kecil atau seorang anak manusia. Ia duduk di atas kursi kayu bergaya Jawa klasik. Tersenyum, matanya begitu sipit hingga kelihatan seperti sedang terpejam. Hidungnya mungil, pipinya bulat dan rambutnya hitam lurus diikat dengan pita di atas kedua telinga.</p>
<p>“Cantik sekali, Pak Santo. Anda sungguh diberkati.” puji ibuku.</p>
<p>“Terima kasih. Begitu pula kalian.” ucap Pak Santo sambil mengelus rambutku.</p>
<p>“O ya, maaf belum kenalan. Siapa nama kamu?” tanyanya padaku dengan lembut.</p>
<p>“Wulan.”</p>
<p>“Nama yang cantik sekali, secantik wajahnya. Kelas berapa?”</p>
<p>“Satu.” jawabku sambil mengangkat telunjuk di depan muka.</p>
<p>Kemudian kembali ia menghadap ke Ayah.</p>
<p>“Kalau yang itu, siapa namanya?” tanyanya sambil menunjuk ke arah kakakku.</p>
<p>“Lintang.” jawab Ayah.</p>
<p>”Ia kelas dua SMP sekarang.” sahut Ibu.</p>
<p>Pak Santo mengangguk. ”Seharusnya aku sudah memiliki dua anak,” ucapnya kemudian, “Anak pertamaku laki-laki. Namanya Daniel. Cuma sayang, ia ditakdirkan lain, hanya bertahan hidup selama enam jam selepas dari perut ibunya.”</p>
<p>”Maafkan kami.” kata Ibu.</p>
<p>“Tidak apa-apa.” kata Pak Santo menanggapi ungkapan bela sungkawa ibu.” Kalau masih hidup mungkin seusia anak ini.” Laki-laki itu menghadap ke arahku dan kembali mengelus rambutku.</p>
<p>Obrolan berlanjut ke masalah pekerjaan. Pak Santo bercerita bahwa ia memiliki toko alat-alat elektronik di Jakarta. Tidak besar tetapi lumayan ramai. Sementara itu ia juga menjadi pemasok dari salah satu produk elektronik di beberapa kota di luar Jakarta. Sewaktu kejadian kemarin, ia baru saja mengantarkan barang ke kantor agen di kota kami.</p>
<p>Terdengar pintu depan terbuka dari luar, lalu muncul di baliknya dua orang perawat; laki-laki dan perempuan, keduanya masih muda, memakai seragam putih bersih. Perawat laki-laki mendorong kereta tempat obat-obatan, berjalan di belakang perawat perempuan. Kami serempak bangkit dan masuk. Dua perawat itu berhenti di dekat ranjang yang ditempati kakakku, mempersiapkan suntikan dan membuka tutup botol berisi obat dan menyedot isinya dengan suntikan. Kami diam menyaksikan dua perawat itu bekerja; menyuntikan obat ke dalam selang infus dan mengusapnya dengan kapas yang telah dibasahi cairan alkohol. Kemudian mengulanginya lagi sampai tiga kali. Setelah semuanya selesai, mereka mengucapkan terima kasih dan keluar ruangan. Kami masih terdiam ketika perawat itu pergi. Ayah berjalan ke kamar mandi dan Ibu membetulkan selimut yang menutupi tubuh kakak sementara Pak Santo memandangi layar monitor yang hanya selalu menampilkan garis-garis.</p>
<p>Pukul setengah delapan kami kembali berkumpul di teras, kali ini teras depan ruang perawatan. Di depan kami terdapat taman yang tidak begitu luas dengan lampu berbentuk bulat menerangi tengahnya.</p>
<p>Meskipun disediakan kursi juga meja namun kami tetap memilih duduk di lantai, disamping karena kursi yang tersedia kurang mencukupi juga untuk memudahkan pengawasan terhadap tubuh kakakku. Aku duduk di pangkuan Ibu menghadap ke arah Ayah dan Pak Santo, menikmati elusan jemari Ibu di rambutku dan pelukan lengannya yang melingkar di perutku.</p>
<p>Seorang laki-laki sebaya dengan Pak Santo, yang dari tadi kulihat merenung sendirian di kursi teras ruang perawatan sebelah ruangan kakakku, datang menghampiri dan duduk bersama kami.</p>
<p>“Nampaknya masih sangat muda dia.” kata laki-laki itu sambil menunjuk ke arah kakakku, mencoba meleburkan diri dalam pembicaraan kami.</p>
<p>“Benar, kelas dua SMP.” sahut ibuku.</p>
<p>“Kelas dua SMP.” Laki-laki itu menggumam.”Masih sangat panjang jalan ke depan.”</p>
<p>Kami terdiam sesaat. Begitu juga laki-laki itu.</p>
<p>“Kecelakaan?” tanyanya kembali.</p>
<p>“Ya.” jawab Ayah. Sempat kulirik Pak Santo ketika ayahku menjawab pertanyaan laki-laki itu dan kulihat ada sorot penyesalan yang dalam di matanya.</p>
<p>“Siapa yang sakit, Pak?” tanya Ayah kepada laki-laki itu.</p>
<p>“Bapakku.” jawabnya.”70 tahun lebih usianya.”</p>
<p>“Sudah berapa hari dirawat?” tanya Ibu.</p>
<p>Laki-laki tersebut diam sejenak memikirkan sesuatu, ”Satu minggu.” jawabnya.</p>
<p>“Sakit apa?” kembali ayahku bertanya.</p>
<p>“Menurut dokter ada tumor kecil di dalam sini.” katanya sambil meraba lambungnya sendiri. ”juga ada luka dalam. Dan mungkin juga faktor keletihan setelah bertahun-tahun menjalani hidup.”</p>
<p>Ayah mengangguk pendek.</p>
<p>“Terlalu keras dia bekerja sewaktu mudanya dulu.” lanjut laki-laki itu.”Hingga sekarang tubuhnya ambruk.”</p>
<p>“Semoga lekas diberi kesembuhan, Pak.” ucap ibuku.</p>
<p>“Ya, terima kasih.” kata laki-laki itu. ”Aku pun sangat berharap begitu, diberi kesembuhan dan diberi kesempatan yang lama lagi untuk menjalani hidup. Inilah saat bagiku untuk menghapus dosa-dosaku. Bertahun-tahun aku tidak pernah mempedulikannya. Hidupku saat itu hanya untuk cita-cita diri sendiri. Aku begitu egois. Dan sekarang, aku sangat menyesal.”</p>
<p>“Usia 19 tahun aku pergi dari rumah.” Laki-laki itu mulai bercerita.”Tidak pernah memberi kabar atau menengok atau apapun. Aku benar-benar menghilangkan diri selama 9 tahun. Ketika usiaku mencapai 28, aku pulang. Itu pun hanya sebentar, hanya untuk urusan pernikahan, pernikahan yang hanya bertahan seumur jagung dan tak menghasilkan apa-apa selain kepedihan. Setelah itu kembali menghilang selama bertahun-tahun. Hingga ketika ibuku meninggal pun aku tidak tahu, kemudian adikku yang selama itu mengurusi orang tua, juga meninggal, pun aku tidak mengetahuinya. Baru sekitar satu bulan yang lalu aku tersadar, disadarkan oleh perasaan yang sangat sepi. Benar-benar sepi, baru kali itu aku mengalaminya dalam hidup. Lalu aku memutuskan untuk pulang.” ia menghembuskan nafas sejenak. ”Kudapati rumah sudah begitu usang, dan bapakku kelihatan jauh lebih tua dari yang aku bayangkan. Sejak kepergian adikku, ia hanya ditemani oleh seorang keponakan perempuan. Itu pun tidak setiap waktu, hanya saat-saat tertentu saja. Sejak kedatanganku kembali, semua tugas kuambil alih. Aku merawatnya dengan sepenuh hati. Aku selalu berharap semoga ia diberi umur panjang agar aku bisa mengurusnya lebih lama lagi. Satu bulan setelah aku di rumah, ia jatuh sakit dan mesti dirawat inap.”</p>
<p>Tidak ada kata lagi yang keluar dari mulut kami setelah laki-laki itu berhenti bercerita. Kami tenggelam dalam pikiran masing-masing. Di keremangan sudut-sudut taman dan teras ruang perawatan terlihat orang-orang sedang ngobrol. Di jalan di samping taman tiga perawat sedang mendorong ranjang yang ditempati seorang pasien.</p>
<p>Tiba-tiba terdengar erangan dari dalam ruangan. Kami spontan bangkit dan berjalan ke arah tubuh kakakku. Sementara kami masuk, laki-laki itu hanya berdiri di pintu selama beberapa saat, kemudian pergi. Di atas ranjang kepala kakakku menoleh ke kanan dan ke kiri seperti sedang ada mimpi buruk dalam tidurnya, dari mulutnya terus terdengar desahan. Baru saja Pak Santo hendak berlari keluar untuk memanggil perawat, kakakku kembali terdiam tak sadarkan diri.</p>
<p>Aku duduk bersama ibu di dekat pintu, sementara ayah dan Pak Santo duduk di kursi menyalakan televisi tanpa ada suara.</p>
<p>“Kalian carilah makanan ringan untuk kami,” suruh Ayah kepada Ibu, “juga kopi. Bapak mau kopi atau teh?” tanya ayahku kepada Pak Santo.</p>
<p>“Teh.” jawab laki-laki itu.</p>
<p>Aku berjalan tertatih di samping ibu menuju kantin. Melewati jalanan selebar tiga meter dengan tiang-tiang yang berjajar rapi di tepinya. Melangkah di antara pengunjung, perawat ataupun dokter yang memakai seragam warna putih. Melintas di depan pintu-pintu ruang perawatan dan menyaksikan tubuh-tubuh yang tertutup selimut putih terbaring di atas ranjang, hingga aku merasa begitu banyak orang sakit di dunia ini. Sementara ibuku terus berjalan seolah tidak peduli sama sekali dengan sekitarnya.</p>
<p>Tiba di kantin ibuku langsung menuju ke arah makanan yang berjajar di atas rak.</p>
<p>“Bu, Pak Santo lucu.” kataku.</p>
<p>“Lucu kenapa?” ia menyahut tanpa memalingkan wajahnya.</p>
<p>“Caranya berdoa sebelum makan begini.” Aku memperagakan apa yang kulihat ketika makan malam tadi.</p>
<p>“O.” Barulah saat itu ia berpaling dan tersenyum ke arahku.” Setiap orang bekerja dengan caranya sendiri-sendiri buat mencari uang. Begitu juga dengan berdoa.”</p>
<p>Setelah itu ia kembali tenggelam dalam kesibukannya memilih makanan; dua bungkus kacang goreng, dua bungkus kripik pisang, satu bungkus makanan ringan untukku, teh dan kopi yang masing-masing ditaruh di gelas plastik, lalu menyerahkan semuanya ke kasir kemudian keluar.</p>
<p>Ketika telah kembali di tempat kakakku berada, aku merasakan sesuatu yang ganjil melingkupi ruangan. Kakakku masih terbaring dengan posisi semula. Ayah dan Pak Santo sekarang berada lebih dekat dengan televisi yang volume suaranya telah sedikit diperbesar. Wajah mereka terlihat sangat tegang menatap layar tv yang sedang memperlihatkan gambar orang-orang berlari di tengah keremangan jalanan sambil membawa tongkat. Api berkobar dari ban yang dibakar di tengah jalan raya. Kaca-kaca gedung berantakan dan mobil-mobil telah berubah menjadi barang rongsok.</p>
<p>“Apa yang terjadi?” tanya ibuku yang ikut memperhatikan kejadian yang sedang ditayangkan di televisi.</p>
<p>“Ada kerusuhan di Jakarta.” jawab Ayah tanpa menoleh dari layar tv.</p>
<p>Di tengah-tengah kebisuan itu tiba-tiba kakakku kembali mengerang. Perhatian mereka teralihkan ke tubuh kakak, televisi langsung dimatikan. Kali ini erangannya lebih hebat, kepalanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri. Aku tak mampu untuk tetap berada di dalam ruangan. Aku berlari keluar dengan air mata yang tanpa sadar telah menetes di pipi. Terlihat Pak Santo juga berlari keluar ruangan untuk memanggil perawat. Beberapa saat kemudian kembali lagi bersama dua orang perawat di belakangnya.</p>
<p>Aku sudah tidak mempunyai keberanian lagi untuk masuk ruangan. Di teras ruang perawatan aku duduk menggenggam erat lengan kursi, mendengarkan erangan kakakku, mendengarkan isak tangis ibuku, mendengarkan suara sepatu perawat yang mengetuk lantai, mendengarkan denting botol obat. Seorang perawat laki-laki berjalan cepat keluar dari ruangan kakakku, dan berbelok ke sebuah gang. Tidak lama kemudian datang lagi diikuti seorang dokter laki-laki bertubuh agak gemuk.</p>
<p>Terdengar dari luar ruangan suara roda yang bergesekan dengan lantai. Dua orang perawat mendorong ranjang beserta tubuh kakakku ke satu tempat, dibantu oleh Pak Santo dan Ayah. Ibu meraih tanganku dan kami berjalan tertinggal beberapa meter di belakang rombongan. Sampai di ruang ICU, ranjang itu dimasukkan. Hanya ayah yang diperbolehkan menengok. Sementara ibu, Pak Santo dan aku disuruh menunggu di luar. Pak Santo nampaknya masih diliputi kecemasan oleh berita kerusuhan tadi. Ia memberitahukan kebetulan kerusuhan tersebut terjadi di daerah di mana ruko miliknya berada. Ruko tersebut selain untuk berjualan juga sebagai tempat tinggal, dan ia belum mengetahui kabar tentang keadaan istri dan anaknya saat ini. Kemudian ia berpamitan pada ibu untuk mencari telefon umum.</p>
<p>“Ya, cepat carilah kabar keluargamu.” kata Ibu.</p>
<p>Laki-laki keturunan Cina tersebut berjalan cepat meninggalkan kami berdua, menghilang di lorong bangunan. Terlintas bayangan di pikiranku seorang anak balita menangis dalam pelukan ibunya yang sedang dilanda ketakutan di sebuah ruangan dengan kaca-kaca hancur berantakan. Tak lama kemudian ayah muncul dari balik pintu dengan wajah lesu dan langsung ditanyai Ibu,”Bagaimana, Pak?”</p>
<p>Ayah merangkul pundak ibuku dan membimbingnya menuju kursi panjang di depan ruangan ICU.</p>
<p>“Kita tunggu keputusan Dokter.” jawab Ayah sambil menggenggam erat jemari Ibu.</p>
<p>Kami diam membisu beberapa saat hingga kemudian Ayah angkat bicara, ”Kalian pulanglah. Besok masih bisa kemari lagi. Tidak ada tempat istirahat di sini, jangan sampai kalian jatuh sakit.”</p>
<p>Akhirnya aku dan Ibu memutuskan untuk pulang malam itu. Sebelum pulang, ibu membawaku ke ruang perawatan semula untuk mengambil beberapa barang. Sementara ia sedang berada di dalam ruangan kosong tersebut, aku tetap berdiri di luar. Mencoba menghilangkan jenuh, aku berjalan-jalan hingga di depan pintu ruangan sebelahnya. Di situ aku melihat seorang pasien yang terbaring kaku, sementara dua orang perawat sedang mengikatkan kain putih di rahang pasien tersebut menuju atas kepala, setelah itu kedua lengannya dipertemukan di depan dada dan diikat di bagian pergelangan, terakhir kedua kakinya diikat di atas mata kaki. Kain batik warna coklat diselimutkan di sekujur tubuh pasien tersebut. Berdiri di sampingnya seorang laki-laki yang tadi sempat ikut ngobrol bersama Pak Santo dan orang tuaku tadi di teras ruang perawatan kakak.</p>
<p>Tanpa disadari Ibu telah berdiri di sampingku, memandangi ruangan yang sama dengan yang sedang kulihat. Pasien tersebut telah di tutup kain warna hijau setelah itu di dorong keluar, melintas di samping aku dan ibuku. Mengikuti di belakangnya laki-laki tadi dengan mata berair dan wajah lesu, berjalan tanpa menoleh ke arah kami.</p>
<p>“Ada apa dengan orang itu?” tanyaku pada Ibu menunjuk ke pasien yang tertutup kain warna hijau.</p>
<p>Ibuku hanya mengangkat bahu, ”tertidur mungkin.” katanya.</p>
<p>“Kenapa mesti diikat di bagian sini.” kataku sambil meraba rahang, pergelangan dan kaki. ”Kenapa mesti ditutupi kain?”</p>
<p>“Mungkin agak lama ia akan tertidur. Sudahlah, cepat kita pulang sebelum kemalaman.”</p>
<p>Di tengah perjalanan tiba-tiba aku membayangkan kakakku yang mesti diikat di rahang, di pergelangan tangan dan di kakinya kemudian ditutupi kain. Tubuhku gemetaran dan kugenggam erat-erat tangan ibuku. Terlintas kesadaran yang datang entah dari mana, aku bertanya dalam hati, apakah itu yang disebut dengan kematian? Rasa takut mulai menjalariku, bukan oleh kematian itu tetapi karena membayangkan kakakku akan menjadi seperti itu. Dan aku menangis.</p>
<p>Dua bayangan sekaligus datang silih berganti dalam perjalanan pulangku. Bayangan Kakak dan Vina, anak perempuan Pak Santo. Terngiang di telingaku anak perempuan itu terus saja menangis dalam dekapan ibunya, terperangkap di ruangan yang hancur berantakan.</p>
<p>Sampai di rumah, ibu menyalakan televisi dan menyaksikan berita kerusuhan yang semakin mengganas disertai dengan penjarahan toko-toko. Esok harinya ketika aku dan ibuku kembali ke Rumah Sakit, kami mendapati Pak Santo dengan muka pucat dan mata sembab. Sebentar ia duduk di kursi sambil memegangi rambutnya kemudian berdiri dan berjalan mondar mandir setelah itu kembali menempati tempat duduknya semula. Keluarganya tidak ada yang bisa dihubungi, kata Ayah, dan akses menuju Jakarta ditutup untuk sementara sehingga Pak Santo tidak bisa menjenguk keadaan anak istrinya dalam waktu dekat.</p>
<p>Jakarta berada dalam siaga 1. Gedung-gedung pertokoan terbakar, beberapa kendaraan di jalan raya hancur, penjarahan terjadi di mana-mana.</p>
<p>Menjelang siang, Pak Santo sudah tidak bisa lagi bertahan. Ia nekad untuk pulang saat itu juga, dan ayahku tidak mampu menahannya. Sebelum berangkat Pak Santo masih sempat berkata bahwa ia pasti akan menepati janjinya untuk menanggung semua biaya perawatan kakakku. Sudahlah, tidak usah dipikirkan, kami bisa mengurusnya sendiri, kata ayahku menanggapi ucapan Pak Santo.</p>
<p>Siangnya kami makan di depan ruang ICU. Seperti biasa duduk melingkar di atas tikar. Ibu sempat membeli makanan di jalan menuju Rumah Sakit tadi. Ayam goreng kecap, nasi dan jus mangga khusus untukku. Aku duduk merapat di samping Ibu. Mendadak melintas kerinduan pada sosok Pak Santo dan pada wajah anaknya di dalam foto kemarin. Selagi ayah dan ibu memejamkan mata untuk berdoa, aku menggenggam jemari tangan di depan dada beberapa saat kemudian menyentuhkan ke jidat dan menyilangkannya ke bahu kanan dan kiri. Aku berdoa untuk anak dan istri Pak Santo di Jakarta serta untuk keselamatan Pak Santo sendiri. Kemudian aku menutup mata, berdoa untuk kakak, untuk Ayah, Ibu dan Aku.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><span style="font-family: Arial; font-size: x-small;"><a href="mailto:miftahrahman12@yahoo.com" rel="nofollow" target="_blank">miftahrahman12@yahoo.com</a></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2012/ketika-kakakku-kecelakaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Quotable Magnet</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Dec 2011 03:29:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=980</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="226" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth-226x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="magnet-mouth" title="magnet-mouth" /></p>&#8220;Happiness is a journey, not a destination&#8230;&#8221; &#160; Demikian yang tertulis pada quotable magnet di hadapan saya. Isinya sederhana, malah akhir akhir ini saya sering membaca atau mendengar kalimat yang sama dimana mana. Mungkin, kesadaran tentang makna &#8216;kebahagiaan&#8217; sedang marak diminati. Lantas, apa benar kesadaran tentang makna &#8216;perjalanan&#8217; dan &#8216;tujuan&#8217; juga telah dan sedang diminati? [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="226" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth-226x300.jpg" class="attachment-medium wp-post-image" alt="magnet-mouth" title="magnet-mouth" /></p><div id="yui_3_2_0_1_1325039509373215"><a href="http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/magnet-mouth/" rel="attachment wp-att-981"><img class="aligncenter size-full wp-image-981" title="magnet-mouth" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/magnet-mouth.jpg" alt="" width="642" height="850" /></a></div>
<p><em>&#8220;Happiness is a journey, not a destination&#8230;&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Demikian yang tertulis pada quotable magnet di hadapan saya. Isinya sederhana, malah akhir akhir ini saya sering membaca atau mendengar kalimat yang sama dimana mana. Mungkin, kesadaran tentang makna &#8216;kebahagiaan&#8217; sedang marak diminati. Lantas, apa benar kesadaran tentang makna &#8216;perjalanan&#8217; dan &#8216;tujuan&#8217; juga telah dan sedang diminati?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Perjalanan&#8230;</p>
<p>Perjalanan seperti apakah yang sedang saya jalani saat ini? Mengutip sebuah judul film, saya namakan perjalanan ini &#8216;Lost in Translation&#8217;. Rasa &#8216;hilang&#8217; ini melebihi ketidakpahaman saya ketika saya berada di tengah tengah rekan kerja yang semua berbahasa Bali. Saya tidak habis pikir, bagaimana bisa ketika kita berbicara dengan bahasa yang sama dengan lawan bicara, tetapi seakan yang terdengar olehnya adalah hal yang sangat jauh dari maksud yang ingin disampaikan. Atau, sama sekali tidak terdengar. Bagaimana bisa komunikasi menjadi suatu hal yang sedemikian sulit di tengah kehidupan kota besar yang kaya teknologi dan arus deras informasi. &#8216;Mendengar&#8217; menjadi sebuah kata kerja yang sama efeknya dengan kata &#8216;menunggu&#8217;. Terlebih bagi orang yang selalu merasa dirinya tau. Pada akhirnya, bagi saya perjalanan &#8216;Lost in Translation&#8217; ini sungguh melelahkan, karena saya bagai berjalan tanpa arah, pun terarah perjalanan saya hanya berputar putar dalam sebuah kotak. Macam kecoak yang terperangkap di dalamnya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Tujuan&#8230;</p>
<p>Memang benar bahwa masing masing orang memiliki tujuan yang individual, tapi bukankah pada prosesnya semua berjalan bersama individu lain? Maka terjadinya friksi pasti tidak terhindarkan, demikian juga chaos. Demi tujuan yang ada di depan mata, saya menyaksikan terjadinya friksi hingga kekacauan seperti saat ini. Saya memilih diam, karena ketika tujuan sudah ditetapkan saya percaya bahwa ada sistem tertentu yang telah dibentuk dan akan melalui perjalanan dalam waktu tertentu untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan di awal. Maka saya berbahagia saja dengan perjalanannya, seperti kata kutipan di awal tadi. Tapi pada titik ini, detik ini, saya sudah muak dengan perjalanan ini. Tujuannya sudah sedemikian tidak jelas lagi.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Sepertinya saya sadar bahwa saya tidak sedang membangun sebuah istana dengan kartu kartu yang disusun sambil menahan nafas dan tangan yang gemetaran. Sepertinya saya sadar bahwa saya tidak sedang berkendara sendirian. Sepertinya saya sadar bahwa tujuan yang telah ditetapkan bersama dan mengikat saya untuk melalui perjalanan bersamanya akan menghadirkan kebahagiaan yang lain. Namun ketika saya juga sadar bahwa membangun kesadaran itu di antara orang orang yang tidak sadar adalah proses yang luar biasa sulit dan melelahkan, saya bahkan mempertanyakan kesadaran saya sendiri. Kekacauan ini -sepertinya- tengah menjelma menjadi semacam manic depression yang bersifat massive.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Terlepas dari tujuan menganalisa sebuah kutipan pada selembar magnet yang saya dapatkan bulan Oktober lalu, saya melihat kutipan lain yang lebih relevan. Saya lupa dari novel apa, kira kira begini kata si Dostoyevsky:</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>&#8220;But you&#8217;re a poet, and I&#8217;m a simple mortal, and therefore I will say one must look at things from the simplest, most practical point of view. I, for one, have long since freed myself from all shackles, and even obligations. I only recognize obligations when I see I have something to gain by them. You. of course, can&#8217;t look at things like that, your legs are in fetters and your taste is morbid. You yearn for the ideal, for virtue. But, my dear friend, I am ready to recognize anything you tell me to, but what shall I do if I know for a fact that at the root of all human virtues lies the most intense egoism&#8221;</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Ya, seharusnya mereka memproduksi quotable magnet dengan kutipan itu. Agar dapat saya beli -dengan sedikit keberuntungan tentunya- dan saya tempel di tempat yang mudah terbaca oleh saya tiap kali saya merasa lelah. Agar saya dapat terus berjalan tanpa peduli arah dan tujuan. Agar saya dapat selalu paham bahwa sesekali, dengan porsi dan cara yang entah, manusia memang harus merasa tidak bahagia.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<div>mawwar_berduri@yahoo.com</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/quotable-magnet/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>rustyfatty</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 25 Dec 2011 19:43:33 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[FONT]]></category>
		<category><![CDATA[font]]></category>
		<category><![CDATA[typo]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=939</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="245" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01-245x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="rustyfatty-01" title="rustyfatty-01" /></p>rustyfatty font by tups rustyfatty.ttf &#160;  or download it from &#62;&#62;&#62;&#62;&#62;   http://www.dafont.com/rustyfatty.font  &#60;&#60;&#60;&#60;&#60; &#160;]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="245" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01-245x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="rustyfatty-01" title="rustyfatty-01" /></p><h1 style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-01/" rel="attachment wp-att-940"><img class="aligncenter size-full wp-image-940" title="rustyfatty-01" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-01.png" alt="" width="475" height="580" /></a></h1>
<h1 style="text-align: center;"></h1>
<p style="text-align: center;"><strong>rustyfatty font by </strong><em>tups</em></p>
<h1 style="text-align: center;"><strong><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-ttf/" rel="attachment wp-att-943">rustyfatty.ttf</a></strong></h1>
<p>&nbsp;</p>
<p style="text-align: center;"> or download it from</p>
<p style="text-align: center;">&gt;&gt;&gt;&gt;&gt;   <a href="http://www.dafont.com/rustyfatty.font">http://www.dafont.com/rustyfatty.font</a>  &lt;&lt;&lt;&lt;&lt;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/rustyfatty-02-01/" rel="attachment wp-att-951"><img class="aligncenter size-full wp-image-951" title="rustyfatty-02-01" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/rustyfatty-02-01.png" alt="" width="433" height="323" /></a><strong></strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/rustyfatty/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>MALAM MALAS SEEKOR KUCING</title>
		<link>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/</link>
		<comments>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 14 Dec 2011 05:34:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Tups</dc:creator>
				<category><![CDATA[sastra]]></category>
		<category><![CDATA[berto]]></category>
		<category><![CDATA[cerpen]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://laritelanjang.net/?p=933</guid>
		<description><![CDATA[<p><img width="210" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing-210x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kucing" title="kucing" /></p>Cerpen oleh Berto Tukan Seekor kucing mencuri dua ekor ikan lele yang kusantap beberapa jam lalu sehinga tersisalah lapar yang tak terperikan pada pukul 02.00 dini hari ini. Tak ada keramaian yang berarti di sekitar tempat tinggalku sehingga mencari makanan pada waktu seperti ini sungguh butuh usaha keras, jika tak mau disebut sia-sia. Kuburkanlah anganmu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img width="210" height="300" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing-210x300.png" class="attachment-medium wp-post-image" alt="kucing" title="kucing" /></p><p style="text-align: center;"><a href="http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/kucing/" rel="attachment wp-att-934"><img class="size-full wp-image-934 aligncenter" title="kucing" src="http://laritelanjang.net/wp-content/uploads/2011/12/kucing.png" alt="" width="427" height="608" /></a></p>
<p><em>Cerpen oleh Berto Tukan</em></p>
<p>Seekor kucing mencuri dua ekor ikan lele yang kusantap beberapa jam lalu sehinga tersisalah lapar yang tak terperikan pada pukul 02.00 dini hari ini.</p>
<p>Tak ada keramaian yang berarti di sekitar tempat tinggalku sehingga mencari makanan pada waktu seperti ini sungguh butuh usaha keras, jika tak mau disebut sia-sia. Kuburkanlah anganmu bertemu sepiring nasi. Semangkuk indomie rebus pun terkadang menjadi komoditi berharga. <em>Double</em> indomie pasti lebih dari cukup jika demikian; terkadang kita harus belajar untuk tak memanjakan perut.</p>
<p>Angin malam biasa-biasa saja, langit malam pun tak mau kalah. Aku berjalan sendirian ke arah warung indomie. Gang malam hari di kampung ini pun biasa-biasa saja; dua ekor tikus gemuk nan sehat berkejar-kejaran di samping parit. Seekor yang lebih kecil—kau tentu saja tak akan menemukan dua makhluk hidup dengan kesamaan yang sangat di dunia ini; jika itu terjadi, percayalah matamu yang salah—meloncat dari samping parit ke pagar putih sebuah rumah berbatu bata hitam. Memanjat sedikit, ia kini mendekam di dalam pot putih, rumah sebuah  bunga palem kecil. Tikus yang lain dengan mata menyala mengikutinya. Mereka bergumul di sana; sebatang palem patah, bergelayutan, kehilangan keindahannya.</p>
<p>Aku berjalan terus. Semakin terbiasa engkau berjalan malam di tempat ini, semakin tahulah engkau bahwa dua ekor tikus yang tertangkap mata adalah petanda baik. Tinggal satu kelokan lagi dan sampailah di warung indomie tujuan. Bulan tak terlihat, apalagi galaksi Andromeda.</p>
<p>Hei, tahukah kau bahwa setiap kali memandangi langit malam yang kau lihat adalah hamparan masa lalu? Jarak setiap bintang oleh para astronot kita diberi satuan tahun cahaya. Tahun cahaya! Misalkan saja bintang yang tepat di atas kepalaku ini berjarak 1.000 tahun cahaya dari bumi. Nah, yang kulihat saat ini adalah cahaya yang terpancar dari bintang itu sejak 1.000 tahun yang lalu.</p>
<p>Hem, itu jaman ketika, kira-kira, di Eropa kekristenan tengah menjadi momok menakutkan bagi para pemikir bebas dan di Nusantara para pedagang Islam dari India tengah bercinta dengan gadis-gadis pribumi bergigi hitam berkulit legam. Mungkin saja, saat ini, bintang itu tengah hancur berkeping-keping lantaran sebuah perang saudara antar planet di tata surya asing itu. Mungkin saja. Dan dengan sedikit imajinasi tak penting maka aku akan membayangkan beribu tahun lagi makhluk yang tersisa di sana mencapai bumi. Betapa kecewanya mereka ketika menemukan kondisi bumi yang lebih menakutkan dari pada <em>The Book of Eli </em>atau <em>The Road. </em></p>
<p align="center"><em>***</em></p>
<p>Spanduk kampanye pemilihan presiden dua tahun silam yang sudah kumal jadi penutup jendela berterali kawat warung itu. Ketika masuk ke dalamnya, kudapati seekor kucing asik menyantap dua ekor ikan lele yang ditata rapi di piring putih. Si Kucing tak menyadari kehadiranku. Rupanya parfum yang kubeli dari tukang daging mantan majikan Jean-Baptiste Grenouille cukup mujarab. Ah, orang Perancis bodoh! Gadis perawan cantik delapan belasan tahun hanya diaromai tanpa ditiduri. Jarang kutemukan lelaki sebodoh dia.</p>
<p>Kuletakan pantat di samping Si Kucing. Bulu-bulu putihnya sedikit basah. Tercium aroma Lux bercampur susu basi dari sela bulu-bulunya.</p>
<p>“Hey, memang Mang Usman sudah <em>nambah</em> menu baru?”</p>
<p>“Oh tidak. Ini saya bawa dari rumah. Tak asik makan di rumah karena istri dan anak saya sedang karaokean.”</p>
<p>“Hem, ketahuan. Anda tipe kucing yang suka jajan.”</p>
<p>“Sayangnya, kami tak kenal uang. Jadi saya tak mengerti apa yang anda maksudkan dengan jajan.”</p>
<p>Mang Usman sudah muncul dari pintu belakang. Pembicaraan yang berpotensi perdebatan itu tak berlanjut; Mang Usman langsung menghantamkan gagang sapu ijuk ke arah Si Kucing. Kucing itu kabur. Ia melompat, sedikit menggelayut pada spanduk kampanye presiden kumal itu, lantas menyelip lewat kaki bangku dan menghilang lewat pintu warung samping kiri. Separoh lele kedua ditinggalkannya.</p>
<p>Tiba-tiba, keinginan untuk sakit kepala menghinggapiku.</p>
<p>Sambil membersihkan tulang-tulang lele yang berceceran di meja, Mang Usman coba mengajak bicara perihal Timnas yang tak juga mempersembahkan kebanggaan. Aku enggan menimpali. Bukan lantaran tak suka bola atau tak nasionalis, namun kehilangan dua ekor lele yang sudah berhasil masuk ke dalam perut masih merupakan pukulan telak di malam hari yang tak bisa dilupakan begitu saja.</p>
<p>Mang Usman tak mau menyerah.</p>
<p>“Eh, <em>tau ngga</em>. Ada tiga pemain lagi yang mau dinaturalisasikan. Aneh ya. Coba jaman 70-an dulu. Tinggal <em>taro</em> orang Papua Ambon bek, Jawa di tengah, sayap Sulawesi, depan Batak, <em>udah deh</em>. Menang kita.”</p>
<p>Mang Usman menatap dalam-dalam mataku yang mulai berat. Hah, begitu dengusku.</p>
<p>“<em>Lu</em> Ambon kan? Bisa bola dong?”</p>
<p>“<em>Ga. Dibolain</em> ia. Eh, mie goreng double-nya <em>cepatan dong.</em>”</p>
<p>Sehabis menyantap indomie, aku melangkah pulang. Sebatang Djarum Super untuk pagi yang menjelang cukup baik bagi otak yang buntu. Ternyata ia sama sekali tak membantu. Tetap saja otak ini buntuh; tak tahu apa yang harus dilakukan tubuh. Tidur? Mata belum lelah. Tak tidur? Tubuh terlampau ringkih untuk berjaga. Sedangkan kehilangan dua ekor lele yang telah kusantap masih saja menjadi pemecah batu yang menghentak-hentak di dalam kepala.</p>
<p>Ah yah. Berkunjung saja ke rumah kucing itu. Selain perdebatan yang terputus tadi bisa dilanjutkan, ada kemungkinan untuk meminta ganti rugi atas lele yang dicuri dan yang telah disantapnya tadi. Memang masih tersisa separoh yang ditinggalkannya di warung tadi. Namun kondisinya sudah tak laik untuk dikembalikan ke perut. Pertanyaan berikut adalah harus kemanakah kaki ini melangkah untuk menemukan rumah kucing itu?</p>
<p>Hem, tentu saja tak ada tetangga yang dengan rela menjawab pertanyaan itu baik-baik lantas tidak menyarankanku untuk pulang ke rumah dan mencoba tidur saja. Bisa jadi mereka membekali dengan dua tablet obat tidur pula.</p>
<p>Bayangkanlah diri anda ada pada posisi tetanggaku itu. Ketika anda tengah bercinta, tiba-tiba pintu depan diketuk dengan nada tergesa-gesa. Aku percaya, anda orang baik sehingga setelah mengenakan celana dan baju kaos, anda akan bergegas ke depan dan membukakan pintu. Dengan sedikit sebal yang terpancar dari mata dan garis bibir, anda lantas berkata, “ya, ada apa? Bisa dibantu?”</p>
<p>“Maaf, tahu kira-kira ke mana kakiku seharusnya melangkah sehingga kucing yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap tadi bisa kutemukan?”</p>
<p>Hem, aku tentu saja tidak bisa secara sepihak mengatakan bahwa anda akan membanting pintu dengan keras lalu berteriak dari dalam rumah demikian, “orang gila! Angkat kaki sekarang dari depan rumahku!”</p>
<p>Tidak. Ada baiknya kita membeberkan beberapa kemungkinan tanggapan anda.</p>
<p><em>Kemungkinan I</em>: Anda termasuk orang yang mau menyibukkan diri dengan hal seremeh apa pun meski itu sangat tidak menguntungkan anda bahkan merugikan. Jika demikian, anda pasti akan menyuruhku menunggu sebentar atau mempersilakanku masuk. Ah, mari kita ambil yang terakhir. Anda mempersilakanku masuk dan membuat dua gelas kopi. Setelah itu kita terlibat dalam perbincangan seru; entah tentang Kaum Ahmadiyah yang hidup dalam kecemasan tiap hari, entah kemungkinan pertarungan antara Sri Mulyani dan Ani Yudhoyono pada pemilihan presiden kali depan. Ternyata dua topik itu tidak membuat kita larut dalam perbincangan hangat; kita mungkin tipe kelas menengah kota yang apatis dengan politik dan merasa dengan pendapatan per bulan dan segala kemudahan dari instansi tempat kita bekerja kita sudah tak butuh manusia lain lagi untuk hal-hal yang penting.</p>
<p>Kita lantas berpindah pada <em>Let The Right One In</em> dan <em>Harry Potter </em>yang pada akhirnya membawa kita pada perbincangan seputar <em>Holly Grail </em>dan pemujaan setan di Bavaria.</p>
<p>Perbincangan tersebut membawa kita kembali memandang matahari yang selalu menanti pandangan kita kembali. Anda lantas tak masuk kerja dan setelah mempersilakan dengan sangat sopan sekali padaku untuk pulang, masuk lagi ke kamar dan kembali tidur. Lima menit kemudian anda sudah nyenyak lagi. Dan aku kembali berpikir tentang bagaimana cara menemukan alamat Si Kucing pencuri itu. Ternyata anda tak membantu apa-apa walau pun anda memang bisa dilabeli sebagai orang baik.</p>
<p><em>Kemungkinan II: </em>Anda tipe pekerja kantoran yang tak mau sedikitpun terganggu ritme kerjanya. Apalagi, kantor anda termasuk tempat bekerja yang tak mentolerir kemalasan pekerjanya. Namun sebagai pekerja sukses dengan segudang angan-angan akan menjadi tokoh masyarakat di perumahan yang bahkan banjir pun enggan melirik ini, anda dengan sangat sabar menenangkan kegondokan hati. Anda membuka pintu dengan perlahan, bertanya padaku tentang keperluan apa yang membuatku bertamu di dini hari ini. Aku tentu, demi menghormati sopan santun yang anda tampilkan, akan bertanya dengan penuh sopan santun apakah anda tahu ke mana harus melangkah agar bisa menemukan Si Kucing yang mencuri dua ekor ikan leleku. Dengan sopan anda menjawab tidak tahu dan menyarankanku untuk bertanya pada Mang Usman. Kita semua tahu, di jam seperti ini Mang Usman sangat senang mendapatkan teman bicara.</p>
<p><em>Kemungkinan III: </em>Bebunyi dengan irama SOS yang membahana menghatam pintu rumah anda. Bahkan Paul Lafargue sekalipun, jika ada di sana, pasti akan segera terbangun mendengarnya. Anda memakai celana cepat-cepat dan melangkah ke pintu depan, membukanya, memakiku sebagai orang yang tak tahu sopan-santun. Lantas, seribu kata kotor berhamburan bak buang air besar setelah dua belas jam ditahan. Sakit perutnya bukan karena sudah makan, justru karena terlambat makan.</p>
<p>Tak ada alasan untuk tak marah. Setelah puas, anda menutup kembali pintu dan kembali ke kamar tidur. Sebelum kepala kembali menyentuh bantal, bunyi lemparan batu diikuti jatuhnya kaca ke lantai menambah murka anda. Berjalan ke depan, sebuah batu kembali melayang ke kaca jendela. Lagi-lagi pecahlah kaca itu dan berhamburan di lantai ruang tamu. Anda membuka pintu hendak mengeluarkan sejuta kata kotor lagi—dalam beberapa film Hollywood tentang masa awal kehidupan orang Eropa di benua Amerika, adegan ini biasanya diikuti dengan seorang lelaki melangkah ke dinding dan mengambil senapan yang tergantung di sana—namun batu ketiga tepat mengenai dahi anda dan terjatuh tak sadarkan dirilah anda.</p>
<p>Begitulah. Tentu bukan tiga kemungkinan saja. Masih banyak lagi. Bahkan dari satu kemungkinan dari tiga kemungkinan di atas, bisa dibuat berbagai variasi lain. Aku tahu itu. Dan malam tidak lantas menjadi menyenangkan dan lantas Si Kucing pencuri hilang begitu saja dari kepalaku, tidak. Memang, tak ada yang bisa membantu di malam ini.</p>
<p>Batang kedua Djarum Super sudah mengabu di asbak. Filternya penyot dengan bara api yang hanya menunggu waktu untuk kalah. Menyedihkan. Lapar semakin menjadi, bayangan Si Kucing pencuri membuat mual namun perut yang tak terisi apa-apa membuat mual tak menjadi muntah. Rasa asing yang mencekam menghinggapi malam sedangkan bunyi rintik hujan di luar sana terasa di kulit bagaikan permukaan sandal reumatik yang dililitkan di sekujur tubuh.</p>
<p>Tom Waitz bernyanyi malas-malas tentang keinginannya berhenti bekerja sekarang juga. Ah, aku teringat kantor dan besok harus bekerja lagi. Tetapi bayangan Si Kucing pencuri yang mencuri dua ekor ikan lele yang sudah kusantap membuatku berpikir seribu kali untuk masuk kantor enam jam lagi. Hem, maka, sebelum kita benar-benar bertemu matahari, Si Kucing itu harus kutemukan. Ah, tak perlulah kau membantu. Aku sudah sangat senang menemukan seorang pendengar yang mau mendengar ocehanku. Kau tahu, tak ada kawanku yang sesabar dirimu menghadapi ocehan-ocehanku. Yah, barangkali kau juga sesakit aku.</p>
<p align="center">***</p>
<p>Djarum Super batang ketiga bertengger di mulutmu kini. Dengan sedikit memicingkan mata, kau nyalakan geretan dan membakar ujungnya. Kau buka pintu kamar, turun dari lantai dua ke lantai satu. Tiga orang menatapmu curiga; yang satu di depan tivi, yang lainnya membolak balik koran terbitan tiga hari yang lalu, sedangkan yang terakir tengah meletakan gelas di samping tivi. Kau membuka pintu depan dan berjalan ke luar. Gerimis masih saja seperti tadi dan tubuhmu kini seperti ditusuk-tusuk garputala. Kau melangkah dan tiga orang yang menatapmu curiga mulai kasak kusuk; mungkin tengah membicarakanmu, mungkin menggosipkan tetangga sebelah.</p>
<p>Seakan malam ini akan segera berakir. Kaki melangkah perlahan-lahan. Yang kuharapkan, dua ekor tikus yang bermain-main di parit tadi bisa membantu menemukan alamat Si Kucing. Impian itu membuat aku berbelok ke arah kiri di pertigaan pertama yang kutemui. Zat cair dalam tubuh tak mau kaki melangkah perlahan-lahan. Oleh karenanya, ia mengirim tujuh pleton pasukannya ke kantong kemih. Frase paling indah tentang kenestapaan malam pun tak mampu membuatmu berjalan pelan. Rahang kau katupkan, tangan kau kepalkan. Enyahlah keinginan membalas dendam, walau pun lapar masih mengganggu ulu hati. Namun rongga kloset jongkok di toilet rumah menjelma surga tiba-tiba. Ini malam laknat karena kantuk tak juga muncul. Aku sadar, malam seperti ini adalah malam yang mesti dilalui entah setahun sekali entah dua tahun sekali.</p>
<p style="text-align: left;" align="right"><em>2011</em></p>
<p style="text-align: left;" align="right"><a href="mailto:bertolambertus@yahoo.com">bertolambertus@yahoo.com</a></p>
<p align="right">
<p align="right">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://laritelanjang.net/2011/malam-malas-seekor-kucing/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

